
Salah Satu Gerbong Argobromo Anggrek. Diambil dengan Kamera BB Onyx
Kereta api jurusan Jakarta – Surabaya Turi yang aku tunggu, seharusnya sepuluh menit lagi berangkat. Waktu telah menunjukkan pukul 9.20 pagi. Namun tanda-tanda persiapan yang biasanya diikuti oleh kesibukan calon penumpang yang hilir mudik berebutan di pintu masuk kereta, kuli-kuli angkut yang centang perenang menguasai peron bagai belut licin yang lincah tak kulihat aktivitasnya.
Besi tua yang teronggok manis di jalur satu berbentuk gerbong diam seribu-bahasa. Mati seolah tak bernyawa. Bentuknya serupa gerbong yang telah melewati masa-masa keemasannya.
Bertuliskan Argobromo disamping kiri pintu keluar, dan Anggrek dibagian atasnya. Bagian jendelanya berwarna hitam legam tak terawat dan berjamur dikelilingi korosi besi berkarat. Rupanya bagian gerbong kereta itu tidak seluruhnya berkarat seperti itu. Bagian coach lainnya ada yang tampak seperti baru.
Aku bertanya pada sesosok pemilik tubuh berseragam satpam berjenis kelamin wanita, berwajah gempal yang mondar mandir didepanku dengan keheranan. “Apa betul kereta ini Argo Bromo Anggrek?”
“Benar”. jawabnya tegas. “Kereta masih menunggu jalurnya aman dan harus ke Manggarai untuk dibersihkan dulu sebelum berangkat ke Surabaya”, ujarnya menambahkan. Alamak, sudah jam berapa ini, kereta masih harus mengalami sejumlah prosedur sebelum ditumpangi.
Read more…