ภาษาไทย (Phasa Thai)

Welcome to Songkhla

Hikmah Ramadhan turun dimanapun di belahan bumi ini termasuk di Hat Yai City, itulah yang saya rasakan di sebuah kota paling berkembang di Propinsi Songkhla, Thailand Selatan. Ramadhan tahun lalu ini membawa hikmah tersendiri, selain karena suasana yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, travelling dalam bulan puasa ini menjelajahi daerah yang berpredikat travel warning karena konflik etnis dan keagamaan.

Adalah Yala, Pattani, dan Narattiwat daerah konflik etnis keagamaan yang diberitakan diberbagai media sebagai daerah konflik, adalah juga merupakan bagian dari Thailand Selatan.  Dalam sebuah  perundingan, sejarah masa lalu mencatat,  pemerintah kolonial Inggris menyerahkan secara sepihak Pattani kepada Siam. Secara Etnis, mayoritas masyarakat Pattani adalah Melayu dan beragama Islam,  lebih dekat dengan budaya Malaysia. Sampai sekarang, Pattani bergejolak untuk memerdekakan diri dari Thailand.

Dari Kuala Lumpur (KL), Hat Yai City bisa dicapai dengan kereta api maupun bis. Ada beberapa jenis kereta api yang merupakan kerja sama dari kedua negara, salah satunya adalah  Senandung Langkawi (Malaysian Railways) ,  kereta api  kompartemen yang tempat duduknya dapat diubah menjadi tempat tidur bertingkat. Menggunakan kereta api ini waktu tempuh antara KL – Hat Yai City memakan waktu belasan jam.

Konsortium Bas Ekspres

Saya mencatat beberapa armada bis yang melayani rute KL – Hatyai, yaitu Sri Maju Express Bus dan Konsortium Bas Ekspres. Hanya dengan membayar tiket RM 65 perorang, Konsortium Bas Ekspres yang berangkat jam 10 Malam dari depan Terminal Puduraya terbilang mewah. Selain itu lebih cepat dari kereta api (yaitu 8 – 9 jam saja) . Ongkos yang dibayar sudah termasuk  fasilitas DVD, MP3 dengan headphone setiap tempat duduk dan snoozer seat yang dapat direbahkan hampir horizontal dengan sandaran kaki. Tapi sayang, di bis ini tidak ada toilet. Jadi pintar-pintarlah mengatur ‘irama’ input-output makanan dan minuman.

Sebelum memasuki pintu perbatasan dengan Thailand, bis beristirahat di Bukit Kayu Hitam, ditempat pemberhentian bis umum sekitar pukul 4.00 dini hari . Disini, paspor dikumpulkan kepada awak bis untuk dibantu melengkapi data. Waktu luang ini dapat dimanfaatkan penumpang, untuk makan sahur bagi muslim yang berpuasa dan sholat subuh atau sekedar ke toilet ataupun menukar  Baht di money changer.

Rehat Bis

Kurang dari pukul 6, rombongan bis bergerak menuju garis akhir perbatasan Malaysia. Seluruh penumpang bis turun untuk menyerahkan departure card dan cap paspor. Bis sudah menunggu menuju perbatasan Thailand yang terlihat dalam jarak pandang hanya beberapa ratus meter saja.

Kembali turun dari bis untuk pemeriksaan keimigrasian di perbatasan masuk Thailand. Akhirnya paspor saya diberikan cap, dan diizinkan masuk oleh pejabat keimigrasian Sadao.Thailand…. I’am Coming…!

From Sadao To Hat Yai

Tampaklah di kanan kiri saya,  tulisan-tulisan yang tidak umum bagi yang bukan orang Siam yaitu:  ภาษาไทย (phasa thai, yang artinya “bahasa rakyat Thailand”). Dari Sadao, bis meluncur menuju base camp nya di Hat Yai City kurang dari satu jam .

Advertisements

16 Responses to “ภาษาไทย (Phasa Thai)”

  1. Sedikit tambahan jika ingin berkunjung ke Hat Yai melalui Malaysia(Kedah). Umumnya petugas imigrasi sedikit mempersulit yang ingin keluar masuk dalam tempo cepat (kurang dari 1 hari : Malaysia – Thailand – Malaysia), sebab banyak pekerja yang memanfaatkan keluar dari Malaysia cuma untuk memperpanjang izin kerja (tanpa visa). Jadi bagi yang ingin malancong ke Hat Yai (backpackers) lebih di anjurkan untuk menginap setidaknya satu hari.

  2. matawang thailand baht 🙂

    I totally despise bus without toilets… I was in agony last time when I took the bus from cairo to hurgada… hehehe masalahnya macet…

  3. Siti Fatimah Ahmad Reply August 28, 2009 at 9:22 pm

    Assalaamu’alaikum..

    Terlebih dahulu saya ingin mengucapkan terima kasih kerana sudi link kan laman saya di laman saudara, saya amat menghargainya. saya pun melakukan yang sama juga di blog roll saya.

    Satu penulisan yang indah berhubung dengan pengalaman yang dilalui akan menjadi kenangan kekal untuk masa akan datang. Untungnya kita rajin menulis sesuatu perkara tentang kehidupan kita. pasti generasi akan datang berterima kasih kerana mendapat info tersebut yang suatu hari nanti bakal menjadi dokumen sejarah.

    Photo-photonya indah dan sangat menarik. Mungkin kerana penataan cahaya yang kurang sesuai dengan sudut yang diambil menyebabkan gambar tersebut nampak kabur atau resolusinya rendah dan jika dibesarkan menjadi pecahan kaca…Cuma photo paling atas sahaja yang saya boleh bagi markah tertinggi…he..he…maaf saudara Adelay…panjang pula komentarnya. Secara percuma aja tanpa bayaran….

    Mungkin boleh ditambah sedikit tentang khidmat tandas awam. Kebanyakan stesen minyak di Malaysia menyediakan perkhidmatan tandas awam. Manakala stesen minyak Petronas (baik yang dimiliki oleh kaum Melayu, Cina, India, Iban dan lain-lain bangsa), satu-satunya menyediakan mussolla untuk kemudahan mereka yang musafir di seluruh negeri di Malaysia.

    Saya hanya sekadar sampai di Bukit Kayu Hitam (Kedah) dan pekan kecil sempadan Thailand berhampiran dengan post kastam(tidak ingat nama pekan itu) di Bukit Kayu Hitam dengan bayaran RM10.00 seorang secara berkumpulan (satu bas 30 orang). Ternyata barang jualannya sangat murah dan tidak dinafikan juga akan meningkat mahal jika tidak tahu berbahasa Thailand.

    Seronok dapat mengembara melihat bumi Allah yang Maha Luas ini. Tentu sekali senang jika meninggalkan dunia nanti…he..he… kerana dunia ini sudah dilalui dengan penuh kesyukuran sebagai tanda kagum kepada pencipta Yang Maha Perkasa. Salam mesra dan Salam Ramadhan yang mulia.

    • Wa’alaikumsalam,
      Terimakasih atas komentarnya yang menarik dan dapat berbagi pengalaman untuk pembaca semua.

      Mudah-mudahan informasi yang Mbak bagi / share dapat pula menambah wawasan pembaca terutama yang ingin melakukan perjalanan yang sama dengan yang kita lalui.

  4. Siti Fatimah Ahmad Reply August 29, 2009 at 1:27 am

    Maaf, saudara Adelay. hmmm…..sekarang photonya sudah sangat jelas berbanding tadi, mungkin disebabkan masalah energi pada komputer saya yang tidak kuat. Sekarang sudah pagi….jelas sekali bahawa photo-photo yang tadinya tidak mencapai penglihatan yang memuaskan sudah begitu cantik dipandang. Tahniah…kerana photo-photo yang menarik sekali. Selamat berpuasa.

    • Mbak Siti,
      Foto-foto itu diambil, untuk berbagi view atas apa yang saya jalani.

      Mungkin saja kualitasnya kurang, karena pencahayaan dan waktu yang terbatas untuk mengambil gambar, menyebabkan gambarnya kurang menarik.

      Mudah-mudahan gambar tersebut dapat menjadi pemandu yang baik, untuk menguatkan gambaran yang saya tuliskan.

      Terimakasih atas input yang berharga ini.

      Wassalam.

  5. hm… good pictures 🙂
    *bingung mo komen apa, abisnya belom pernah kesana*

  6. Beberapa kali makan di Mi Thai di Jakarta yang mengklaim sebagai South Thai cuisine resto dan cocok sih di lidah .. aslinya makanan daerah Thai Selatan itu memang enak ya mas ? ….

    • Memang aslinya enak banget Mbak Shinta, entah karena kebetulan pas makan ditempat unggulan atau karena memang rata-rata kualitasnya baik.

      Next posting, juga akan cerita tentang makanan di Thailand Selatan, insya allah dalam minggu ini.

      So, ‘Stay Tune’.

  7. For What It's Worth Reply September 1, 2009 at 9:40 pm

    When I was a student in Kedah, Sadao was my food haven. The sour and spicy food really suits my Indonesian tongue. Moreover, the view of the city, where cables of electricity haphazardly hanging everywhere, just reminded me of Jakarta. ^_^

    Hatyai is a great shopping place. Too bad that the t-shirts I bought there are now easily available in Blok M. So much for bringing souvenirs from Thailand… 😛

    • Surprisse … !
      Hello Miss Rita, long time no see, how are you , nice to meet you here 🙂
      You didn’t tell me that you studied in Kedah, before. I agree with you. When I was there (Sadao),
      I saw cables of electricity haphazardly hanging everywhere. The cables remind me @ Glodok , hehehe.

      Keep in touch , Rita 🙂

  8. jalan2 kesana juga ya 😉
    asyikk loh disana…tomyam disana euunaaakkkk!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: