Travelling ke Langit. Bagaimana Mungkin?

Aliimran190

Kalau travelling keluar negeri, sudah banyak backpackers melakukannya. Keluar planet bumi pun, sudah banyak astronot melakukannya. Tetapi diperjalankan ke langit, apalagi ke langit ke tujuh dan kembali lagi dengan selamat ke bumi?  Hanya satu orang yang pernah melakukannya.

Yaitu Rasulullah Muhammad SAW.

Kisah perjalanan Isra’ Mi’raj Rasulullah ini , dikisahkan dalam buku “Terpesona di Sidratul Muntaha” karya Agus Musthofa (AM), seorang Sarjana Teknik Nuklir lulusan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Buku ini adalah series ke tiga Diskusi Tasawuf Modern setelah “Pusaran Energi Ka’bah” dan “Ternyata Akhirat tidak Kekal” yang diterbitkan pada tahun 2004.

Di buku setebal 288 halaman ini, AM mencoba menganalisis bagaimana kemungkinan secara ‘aqli’ tubuh seorang manusia dapat diperjalankan dengan kecepatan tinggi  dalam perjalanan ‘Isra’ melalui rentang jarak 1500 km  dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha secepat kilat tanpa merusak fisiknya.

Untuk menjadikannya mungkin, AM menyebutkan tubuh manusia harus melalui proses “annihilisasi”, yaitu sebuah proses menihilkan (meniadakan) materi, dan diubah menjadi cahaya. Tubuh manusia yang terbentuk dari partikel-partikel  atom berupa proton dan elektron diubah menjadi  dua buah sinar gama, melalui anti-proton, dan anti-elektron, dengan energi masing-masing 0,511 MeV dan 938 MeV.

Hal tersebut menunjukkan bahwa materi dapat diubah menjadi cahaya , sehingga jarak 1500 km tersebut dapat ditempuh hanya dalam  0,005 detik saja. Jika diandaikan, ia mengambil contoh proses transformasi seorang awak dalam film STAR TREK, yang dapat berpindah tempat hanya dalam sekejap mata.

Kecepatan cahaya itu saja,  belum cukup untuk menembus alam semesta yang luasnya mungkin lebih dari 30 Miliar tahun cahaya. Bagaimana mungkin ber-“mi’raj” melampaui sebuah ruang dengan kecepatan cahaya yang  sedemikian ‘lambat’ hanya dalam satu malam mencapai langit ke 7?

So, please… Leave your comment… 🙂

Advertisements

21 Responses to “Travelling ke Langit. Bagaimana Mungkin?”

  1. Hiks, pengen nangis bacanya….betapa ALLAH itu maha kuasa memperjalankan hambaNYA…

    Terima kasih untuk pencerahannya mas, dan terima kasih juga saya dapat info tambahan nih tentang buku, terus terang saya baru baca nih ada buku Pak Agus Musthofa ini. Kapan2 harus berburu nih ke toko buku…:)

  2. itulah kekuasaan Allah semoga , suatu saat bisa terungkap secara Ilmiah .Amien

  3. Assalaamu’alaikum

    Jarak manusia antara manusia hanya dipisahkan dengan ruang waktu dan tempat yang berlainan. namun kita masih bertemu dan berpandang dari jauh dengan hati yang masih lagi dapat berkomunikasi walau tidak berbicara. itulah jarak penglihatan kita, bertumpu pada satu fokus yang sama, bertemu pada titik yang sama, berkongsi dalam banyak hal yang sama. namun ramai yang tidak mengetahuinya melainkan sedikit. Kita semua berkongsi alam jagat dan Bima Sakti yang sama.

    Subhanallah wal hamdulillah… cerita tentang langit… pengkisahan yang menarik dan mencerahkan apabila hikmah itu dikutip dan dikongsikan bersama. Tajuk buku “terpesona di Sidratul Muntaha” cukup mengesan dan mencuri hati untuk dibaca…. terima kasih Adelay, walau ringkas kongsiannya, pengertian itu yang mesti kita kutip.

    Bersamaan dengan buku yang telah saya baca ” Qishatul Khalq: Rahsia Penciptaan Dari ‘Arasy ke Bumi” berhubung dengan perjalanan Israk Rasulullah saw dari bumi Makkah al-Mukarramah ke Masjidil Aqsho di bumi Palestin dalam jarak lebih kurang 1200 km – 1500km dalam masa yang singkat hanya melalui satu malam telah mendapat bantahan dari kaum Arab apabila rasulullah saw menjelaskan kedudukan peristiwa tersebut.

    Bantahan ini berlaku kerana menurut kaum Arab yang mempunyai tradisi musafir tahunan ke Syam ketika itu berhubung dengan jarak 12oo km tersebut mengambil masa satu bulan perjalanan untuk sampai dari bumi Makkah ke bumi Syam (Palastin)

    Perjalanan yang singkat tersebut membuktikan bahawa akal manusia tidak terjangkau untuk mencapai keyakinan hatinya (iman) jika tidak disertai dengan ilmu logik atau mantiq bagi mnjelaskan perkara-perkara tersebut.

    Hal yang sama juga berlaku kepada kisah penghantaran singahsana Ratu Balqis di Yaman ke Istana Kerajaan Nabi Sulaiman yang mengambil masa mengikut kecepatan Ifrit dalam setengah hari dan dua bulan dengan jarak 2,400 km oleh perjalanan manusia untuk mendatangkan singgahsana itu ke hadapan nabi Sulaiman.

    tapi pada kenyataannya, singgahsana itu telah di bawa ke hadapan Nabi Sulaiman dengan sekelip mata sahaja iaitu lebih kurang 5 saat atau 486km/saat. Singgahsana itu telah didatangkan dengan “perintah”.para mufassirin bersepakat bahawa singgahsana itu didatangkan melalui DOA, bukan dibawa oleh manusia. Ashif Barkhia (hamba Allah yang berdoa) telah berdoa kepada Allah swt dengan NAMA-NYA YANG AGUNG.

    Di sinilah buktinya , betapa hitungan kecepatan perintah yang turun dari ‘Arasy ke bumi dan kemudian kembali lagi ke sana mengambil tempoh dalam satu hari bersamaan 14,000,000: 8 (perjalanan sehari) bersamaan = 1.7500,000 km/jam iaitu 29,167km / minit atau 486km/saat.

    Menurut Ibnu al-munzir dan ibnu al-hatim meriwayatkan dari ibnu al-Abbas tentang firman Allah:”…….. jarak antara langit dan bumi mengambil masa 500 tahun perjalanan” …… tebal setiap bumi adalah 500 tahun perjalanan, tebal setiap langit adalah 500 tahun perjalanan. Jarak antara satu bumi ke bumi yang lain adalah 500 tahun perjalanan. Manakala jarak antara langit ke tujuh dengan ‘Arasy Allah adalah 36,000 tahun perjalanan. itulah penafsiran dari firman Allah swt ” Dalam sehari yang kadarnya 50,000 tahun”.

    Oleh itu, tidak dapat disangkal bahawa perjalanan Rasulullah saw adalah perjalanan rutin mengikut kecepatan masa yang ditentukan oleh Allah swt melalui bukti yang dijelaskan dalam dalil naqli dan dalil aqli.

    Alhamdulillah, cerita-cerita fiksyen sains yang kita tonton hari ini merupakan ilmu yang diperolehi oleh barat setelah mereka mengambil (mencuri) segala khazanah ilmu Islam di saat kejatuhan pemerintahan Kerajaan Islam di Baghdad… yang menjadikan barat, golongan yang berilmu dan menguasai ilmu melebihi orang Islam yang satu ketika dulu pernah mendominasi kehebatan ilmu ini.

    Apa yang boleh kita ambil dari iktibar peristiwa perjalanan dari bumi ke bumi dan bumi ke langit adalah IMAN + TAQWA + KEYAKINAN = KECINTAAN PADU KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA

    Harap Adelay sudi menerima sedikit tambahan ilmu dari kongsian bacaan saya ini. maaf ya… seperti menulis di laman sendiri pula… inda apa kan.. :D. Salam mesra dan salam ramadhan buat sahabat yang baik.

    • Waalaikumsalam mbak Siti,
      Terima kasih telah mampir dan memberikan komentar yang sangat mendetail tentang tulisan saya yang sederhana. Rupanya apa yang kita baca insya allah sama-sama memperluas wawasan kita yang sangat terbatas atas pengetahuan tentang alam semesta dan isinya.

      Memang ilmu manusia sangat terbatas, lama-kelamaan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sedikit demi sedikit hal itu dapat kita fahami secara keilmuan. Mudah2an dengan terkuaknya hal2 tersebut akan semakin mempertebal iman dan taqwa kita kepada sang Kaliq.

      Amin ….

  4. Assalamu’alaikum,
    Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, Allah Maha Kuasa Atas segala sesuatu. Tidak perlu pembuktian secara ilmiah, tidak perlu memikirkan prosesnya. Allah SWT mampu berbuat segalanya, yg tidak mampu dilakukan manusia, jangan pernah menyangsikan itu, karena itu bagian dari keimanan. (Dewi Yana)

    • Waalaikumsalam Mbak Dewi Yana.
      Sukeses dengan penerbitan bukunya yach.. Insya allah akan saya cari bukunya di Gramedia bulan Oktober yang akan datang.
      Saya bangga mendapat komentar dari seorang penulis yang berbobot.
      Btw, kalau berkenan silakan mbak Dewi Yana mengikuti postingan saya dengan judul yang sama (part 2).
      Terima kasih telah mampir.
      Wassalamualaikum.

    • sorry pls delete the first one, I didnt realise I havent deleted the unnecessary words..

      totally agreed mbak.. mencari “prove” hanya bagi hati yg tidak yakin… semoga segala amalan kita diterima dan dijauhi daripada sifat riya… Amin..

      • Thanks KemBaYaU.
        Setuju, kita wajib mengimani Allah tanpa harus melakukan “prove”, sesuai dengan rukun iman yang pertama.
        Mungkin saja, apa yang ditulis dalam buku ini bukanlah untuk melakukan prove terhadap isra’ dan mi’raj nya Rasulullah, tetapi sebagai bagian dari meraih petunjuk Allah karena manusia adalah makhluk Allah yang memiliki Akal dan fikiran, seperti picture diatas dan yang tercantum dalam surah Ali Imran ayat 190, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal

  5. Subhanallah…dan terbukti lagi dengan adanya teknologi sekarang sis.Seperti radio,TV,telpon dan internet.

  6. aku menunggu jilid duanya mas. ditunggu kedatangannya

  7. Subhanaallah, betapa besar kekuasaan Allah…
    Makin exist di bulan Ramadhan yach.. hehe.. semakin banyak memberi manfaat dan pencerahan. di tunggu postingan berikutnya…

  8. ternyata implementasi kecepatan cahaya udah dari jaman isra miraj nabi muhammad SAW ya…

  9. subhanallah … bagi Allah segalanya mudah, memberangkatkan Nabi SAW tanpa mengubah materi juga bisa terjadi, atas izin dan kehendak yang maha menentukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: