Singapore Halal Culinary: Episode Makanan Indonesia

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung” , sebuah ungkapan peribahasa yang kurang lebih artinya: Di manapun kita berada, kita harus menyesuaikan diri dengan adat-istiadat yang berlaku di daerah tersebut. Tampaknya hal itu tidak berlaku buat saya. Tapi ups…., bukan berarti adat istiadat yang dilanggar, tapi ini hanyalah soal makanan… (plesetan, nih…). Dimana bumi dipijak.., disitu kuliner dijunjung…

Pernahkah anda membayangkan betapa was-wasnya mencari makanan yang halal saat bepergian? Mencoba makanan disuatu daerah yang asing apakah diluar kota maupun diluar negeri memang menyenangkan, tapi berhati-hati-lah. Masih di Singapura, negeri yang makanannya selalu membuat pelancong muslim seperti saya merasakan betapa makanan halal menjadi issue yang perlu dipertimbangkan. Begini ceritanya…

Once upon a time ,  ketika sedang jalan-jalan pagi menyusuri hangatnya pagi kawasan Somerset beberapa tahun yang lalu. Jejak langkah kaki ini terhenti oleh kerumunan beberapa orang yang sedang membeli roti sandwich dan susu kedelai dari sebuah mobil toko. Saya kemudian berniat membayar sejumlah uang dalam dollar singapura untuk membeli roti sandwich ayam,  sambil ‘iseng-iseng’ bertanya kepada penjualnya :

Adelays : “Any pork sandwich ?”

Penjual  : “Sure, this one “.

Sambil sang penjual menunjukkan deretan sandwich yang penampilannya tidak jauh berbeda dengan chicken sandwich yang saya pilih, serta merta saya membatalkan transaksi dengan alasan tak dapat membedakan mana pork sandwich dan mana chicken sandwich. Itu adalah kisah singkat yang menjadi pelajaran untuk kemudian berhati-hati memilih makanan, apalagi makanan tanpa sertifikasi halal.

Berbekal pengalaman diatas, perjalanan kuliner Adelays kali diwarnai kehati-hatian terhadap makanan. Sebisa mungkin saya memilih tempat makan yang sudah mendapatkan label sertifikasi halal resmi dari pemerintah Singapura. Adalah Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS) sebagai lembaga resmi pemerintah yang didirikan tahun 1968 lah yang  mengeluarkan sertifikasi yang dalam bahasa Melayu disebut dengan “Sijil” itu.

Makanan Tradisional Indonesia.

Perut tradisional saya yang beberapa waktu diisi dengan kuliner negeri jiran ini akhirnya rindu juga dengan makanan tradisional Indonesia. Saat itu saya sedang berada di daerah Centerpoint, sebuah daerah di Singapore yang masih merupakan kawasan Orchard Road yang dekat dekat stasiun MRT somerset@313.

Saya bergerak menuju Lucky Plaza yang sebenarnya lebih cepat dicapai melalui stasiun MRT Orchard.  Kalau malas ber MRT ria, jalan kaki saja sekitar 5 – 10 menit sambil sightseeing Orchard Road. Bagi sightseer yang mau cari tahu informasi atau maps dan segala sesuatu tentang Singapura, dapat mampir di Singapore Visitor Center yang berada satu sisi dengan tujuan wisata kuliner saya kali ini Ayam Penyet Ria @ Lucky Plaza.

Saat saya ke Restoran makanan khas Indonesia yang berada di Orchard Road level #4-26/27 Lucky Plaza, Singapore 307506  ini, waktu menunjukkan pukul 10.45 dan belum dibuka.  Resminya baru buka jam 11.00, tapi karena keramahan stafnya saya dipersilahkan duduk dan memilih hidangan dari daftar menu walaupun belum dapat order makanan sampai waktunya. Pegawai restoran ini rata-rata bisa berbahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Makanan khas Indonesia dan makanan lainnya di Singapura untuk kelas restoran  seperti ini terbilang relatif mahal. Rata-rata satu menu makanan plus drinking water (bukan air mineral, lho..) bisa menghabiskan S$ 8 sekali makan atau kurang lebih Rp. 56.000 kalau dengan kurs Rp. 7000. Sebagai gambaran detilnya adalah SGD 6.5 untuk ayam penyet dan nasi, SGD 1.5 untuk air minum 600 ml.  Itu sudah standard nya. Kalau mau pesan lebih.. ya silakan menghitung cermat  sebelum kaget waktu membayarnya nanti.

Walaupun  jauh dari Indonesia, ternyata rasa makanan yang dihidangkan betul-betul tidak mengecewakan, bahkan saya nilai lebih lezat dan gurih jika dibandingkan  restoran dengan nama frenchise yang sama di Jakarta. Tentu saja ini hanyalah penilaian saya seorang penikmat makanan yang bukan ahli kuliner. Penasaran ingin mencoba ?

Posting kali ini hanyalah salah-satu pengalaman wisata kuliner masakan tradisional Indonesia di Singapura. Ikuti perjalanan wisata kuliner halal Adelays dalam posting-an lainnya untuk Hidangan “Madura’s”,  berikutnya.

Advertisements

82 Responses to “Singapore Halal Culinary: Episode Makanan Indonesia”

  1. ketigaaaaaaaax

  2. eunak tenan keknya… aq suka yang ayamnya saja… (siapa yg mo kasih?!) emang kalau makan kudu yang halal, biar mantabz tuh kualitas yg bakal dihasilkan…

  3. Whoaaaa, enak sekali yaaa berwisata kuliner, ikut duunk!! :). Saya sangat salut pada orang-orang yang peduli terhadap kehalalan makanan yang akan dimakan, karena tidak sedikit juga orang yang cuek akan hal ini.

    Tidak perlu jauh-jauh keluar negeri, lahwong di negeri sendiri aja masih ada aja tuh yang belum dapat sertifikasi halal dari MUI. So dimanapun itu kita harus selalu ingat, pertama sekali pastikan dulu HALAL atau tidak sesuatu yg akan kita makan, baru deh nyam nyam nyam…:D

  4. membacanya saja sudah bikin gw LAPEEEERRRRR…..hahahhaha. Nice post….

  5. ikan apa tuh ya?kok mirip ikan lele.Selamat berkuliner bro..

  6. sudah lama juga saya ngak makan ayam penyet, kebetulan restoran ayam penyet ria di kota saya sudah pindah ngak tau kmn. kl bawal dan lele penyet gmn rasanya yach….

    lam kenal ya mbak…

  7. weew.. ada jg ya makanan indonesia disana..

    lihat gambarnya jd laper.. gmn rasannya ya???? :mrgreen:

  8. Ayam Penyet Ria itu langganan saya waktu masih tinggal di Medan… 😉
    Di Spore kemaren, cuma lewat doang (karena odah bosen waktu di Medan dulu…hehehe) dan kita makan pecel, bakso plus ayam kremes di food court Lucky Plaza…uenaknya…apalagi yang jual juga ngomongnya ada logat Jawa gitu…wah, makin yakin deh makannya 😛
    Oya, label halalnya gitu ya, baru tau… 😦

    • Iya.. Memang di Lucky Plaza Ayam Penyet Ria itu ada dua.. satu yang di foodcourt, satu lagi yang di lantai 4.
      Kalo yang di foodcourt sudah buka lebih awal jam 10 kalo nggak salah.
      Lebih luas yang di lantai 4, yang sekarang udah perluasan lagi..
      Yep.. begitulah label halal yang tercantum di restoran itu…

  9. wah seneng banget punya teman2 blogger yang ada diluar negeri, seprti mbak sunflo yang di saudi arabia, mbak fety di tokyo dan sekarang singapore
    sil jadi merasakan langsung apa yang diceritakan..

    makasih cerita2nya mas..

  10. wah ternyata masakan indonesia bisa nyampe singapura…. rada beda sama menu penyet disini ya… kalau digambar kaya ada kremesnya….

  11. keliatannya delicious… bikin lapar, ternyata di singapore ada juga ayam penyet ria ya mas

  12. Ayam penyet makanan kesukaan saya dan suami tuh. Baik sakali Mas memperhatikan kehalalan makanan. Kita yang di Indonesia saja harus teliti akan kehalalan makanan, apalagi di negeri lain yang notabene Islam bukan mayoritas.

  13. Tapi dulu waktu saya masih tinggal di Batam kabarnya MUIS Singapore sangat memperhatikan kehalalan makanan untuk Muslim?!

  14. Kalo di LN emang kudu ati2, btw crtax detil sekali, ehehe, nice post. .

  15. Assalaamu’alaikum Adelays

    Didoakan sihat dan ceria selalu. Rasa kagum dan terpegun membaca isian kandungan wisata Adelays secara terperinci semasa mencari makanan halal di Singapura. Satu pengalaman indah dan berpengetahuan untuk dikongsikan bersama dengan khalayak pembaca agar berhati-hati dalam perjalanan mencari bakal perut yang perlu diisi di negara-negara yang minoritinya Muslim. Penulisannya semakin hebat dan penuh dengan perincian info yang berkesan. pasti tidak ada yang tersesat kalau mengikuti saranan perjalanan Adelays ini.

    Keperihatinan negara sekular Singapura tentang sijil halal tidak dapat disangkal lagi kerana kedekatannya dengan Malaysia yang sudah tentunya dulu pernah berada di bawah payung kerajaan Malaysia ketika penyatuan 16 September 1963 telah memberi sentuhan kepada kepekaan tentang makanan halal yang perlu disahkan oleh sebuah jawatankuasa majlis ugama.

    Melihat foto ayam penyet mengingatkan pengalaman saya merasai hidangan ayam penyet di Restoran Ayam Penyet : Simply The Best, sebuah restoran Indonesia milik Ibu Nur di Seksyen 15, Bandar Baru Bangi beberapa bulan yang lalu. Ahh…. cukup menggigit mata dan hati sehingga membuat saya menangis… walau pedas yang teramat sangat, saya tetap juga merasainya bagi kali yang ke tiga dan keempat…. ayamnya sedap, rangup dan lembut setelah dipenyekkan.

    Tapi kok, kenapa lele dan bawalnya seperti tidak dipenyetkan ya…. pasti kalau penyekkanya kuat akan merosakkan tekstur isi dan aromanya. Untuk lele penyet tentu sekali saya tidak akan merasainya sampai bila-bila kerana saya tidak sukakan ikan tersebut. Tapi bawal.. saya cukup menyukainya terutama bawal putih. Nanti saya akan cuba merasai penyet ikan pula.

    Adelays… Tahniah dengan petikan lensa mantap yang difokuskan kepada makanan yang disajikan. Apa Adelays pesan semua makanan tersebut ? Alangkah menarik lagi kalau ada foto minumannya, biar sepasang deh Adelays…. boleh juga tahu minuman kegemaran Adelays ? atau hanya minum air bening aja nih.. 😀

    Saya amat tertarik dan kagum dengan ketajaman warna pada foto-foto makanan Adelays di atas. Apa sudah diedit ya dengan menggunakan perisian PhotoShop atau PhotoStudio 5.5.? Mana satu yang Adelays guna pakai untuk menampakkan penataan cahaya yang jelas dan sungguh harmoni rona warnanya.

    Sekarang ini dalam beberapa waktu bagi pengisian waktu libur (cuti), saya sedang berusaha untuk mempelajari dan meneroka sendiri perisian PhotoStudio 5.5. Sepertinya sangat bagus dan menarik untuk diteruskan. Cuma lambar sedikit kerana belum memahami konteks isinya. Mudahan dengan ilmu tersebut, saya akan dapat menghasilkan foto yang diambil, nampak lebih hidup dan menarik jika dilihat. TAHNIAH Adelays! Tidak sabar untuk membaca pengalaman wisata dan menatap foto-foto seterusnya.

    Salam mesra dan salam hangat selalu dari saya di Bandaraya Kuching, Sarawak, MALAYSIA.

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb
      Terima kasih atas komentarnya yang seperti biasa detil dan lengkap.
      Rupanya atas dasar sejarah masa lalu dimana Singapura dan Malaysia pernah satu, menjadi latar belakang kuatnya Sijil.
      Ayam penyet ala ‘Ria’ memang tidak dipenyetkan, beda dengan ‘Simply The Best’ dan produk-produk lainnya.

      Foto minumannya memang tidak sempat saya ambil gambarnya, hanya yang utama saja makanan utama. Kalau sambalnya lumayan pedas.
      Untuk kremesnya sangat gurih sekali.

      Editing saya lakukan untuk cropping dan pada bagian adjustment saturation. Editing saya lakukan menggunakan Adobe Photoshop CS4.

      Salam dari Jakarta.

  16. Jam segini belum sarapan baca ulasan kuliner. Wah jadi semakin nafsu, nih!

  17. *langsung pengen nyari ayam penyet untuk makan siang* 🙂
    Sampai sekarang aku masih mikir2 kalo diajak ke Bali, gimana kuliner halalnya disana ya???

    • Kakaakin,
      Bali , termasuk daerah yang perlu diwaspadai terutama untuk makanan halal.
      Boleh jadi makanannya tidak mengandung daging babi, tapi siapa tahu minyaknya atau cara membersihkannya yang digabungkan dengan jenis peralatan lain yang belum tentu terjamin kehalalannya….

  18. Ayam penyet Ria adalah salah satu makanan yang terkenal di Singapura dan Malaysia, milik orang Indonesia. Saya pernah lihat di Kick Andy, Ibu Ria hadir diwawancarai. Merantau ke batam awalnya, hingga kini sudah memiliki gerai ayam penyet di puluhan kota…

  19. WoooWW!!!!!!
    Sip markosip… Enak teunanaNnnn..
    :mrgreen:

  20. foto2 hidangan penyet di atas membangkit selera, dan pengalaman kuliner ini mengingatkan pada postingan SFA yang mencoba masakan Indonesia di Malaysia … ya hidangan penyet ini.

    Pengalaman di atas tentu berguna dan informatif, untuk hati2 dalam menentukan makanan di suatu tempat yang kita tahu warganya memakan yang bagi umat Islam dinyatakan haram.

    Pernah juga mendengar cerita teman, saat sudah habis dimakan dan kemudian tahu apa yang dimakan tersebut ternyata makanan yang diharamkan ….. duh gimana jadinya.

    • Bang Ben…
      Posting Mbak SFA dari Bangi juga membuat saya ingin mencoba langsung Ayam Penyet dalam variasi yang berbeda.
      Tapi Bangi belum sempat saya sambangi, karena kota itu masih harus ditempuh sekitar 45 menit dari Kuala Lumpur.

      Kalau ke Bangi , saya jadi ingin terus ke kota Kajang, sebuah daerah yang terkenal dengan Sate nya , yaitu Sate Kajang dari Malaysia.

      Pelajaran dari pengalaman adelays, mudah2an bisa menjadi inspirasi untuk berhati2 bagi pembaca muslim yang memakan makanan yang belum jelas halal – haram nya.

  21. ehmnmnn enak buanget mas…lezat nian lihatnya
    jadi laper nih..

    salam hangat.

    • Salam hangat Juga Mas Andioka… Apakabar?
      Semakin membuat kepingin berarti gambar/ postingannya semakin berhasil ….
      Saya tunggu postingan2 berikutnya dari Mas Andioka.

  22. wahkapan ya bisa ke singapure?

    • Kalau mau murah meriah, pergi ala backpackers aja mas Roffy…
      bisa lewat batam dan naik Ferry ke Singapura.
      Jangan lupa daftar NPWP biar free biaya fiskalnya.

  23. waah ga ada kuliat ayampenyet ria itu di orchard road kemaren hehheee
    salam kenal juga adelaysss

  24. waaahh…pasti manteph ne rasonyo… 😀

  25. Pejwan….
    :p

    klo pergi tu bawa oleh2 toh mas….
    jgn cma fotonya tok…

    kok ga ada adel penyet ya?
    ga seru nih….
    😀

  26. apdet…apdet….apdet… :mrgreen:

  27. Ayam penyet ini kok jadi menggoda ya…?
    Pagi-pagi…di Bandung nggak ada cabangnya lagi 😉
    Bikin posting lagi dong tentang hal-hal menarik disana 😛

  28. Hmmm bener kata Ratu, ternyata jepretannya jempolan. Sanggup mengeluarkan air liur saya slurup *lho aku malah ngomongin fotonya rek*

    • @ dodi : quinie gitcu loch

      @ adelays : dodi juga doyan poto2 loh… ehm.. dakuh juga suka sih, tapi jadi modelnya ajah 😀
      btw, jadi dateng ke amprokan blogger tanggal 6-7 maret kan?

      kayanya dikau blom daptar deh :D. ayooo donggg ikutan… sekalian kopdarannn… bawa kameranya yak…

      • Blom daftar quinie, sorry banget masih ada kerjaan yang blom kelar. Pingin banget gabung ama blogger bekasi. Tar kalo udah pasti barudeh adelays daftar, hiks.

    • Wah, thanks banget dapet komen positif dari seorang webmaster sekaliber http://dhodie.com. Jadi tambah semangat euy…

  29. Ayam penyetnya belum terganti ya???

  30. Assalamu’alaikum, kalau diluar negeri kita memang harus cermat dan hati2 mencari makanan yang halal. Kelihatannya enak tuh, jadi pingin coba.. (Dewi Yana)

  31. haduuuuuuuuuuuuh laper deh jadinya liat foto ayam penyet`nya.. 🙂

  32. makanan asli singapure y? ato dari indonesia?

  33. hehehe… komennya rameeee… :mrgreen:

  34. kalau pergi keluar negeri, memang bagi kita yg muslim ,acara cari makanan halal yg penting diketahui lokasinya ya De.
    terimakasih utk sharingnya, walaupun perut jadi keroncongan lihat makanan2 lezat disini 😀
    salam.

  35. Jika sedang tugas ke LN yang menjadi masalah adalah soal makanan halal.
    Kadang sulit juga mencarinya, terpaksa makannya itu-itu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: