Di Seratus Hari Itu …

Buku Wartawan NU Itu

Berselang 100 hari sudah,sejak akhir Nopember 2009 Pak Said Budairy wafat, saat saya menghadiri peringatan mengenang beliau pada Minggu, 14 Maret 2010 yang lalu. Tetapi kenangan terhadap seseorang yang saya sebut sebagai ‘Pakde’  -walaupun  sebelumnya tidak saya pahami silsilahnya secara detail ini-, tidaklah surut.

Walaupun doa-doa yang dipanjatkan untuk beliau sudah berlalu, semangat untuk tetap hadir walaupun datang terlambat pukul 11.30 karena  ada pekerjaan yang harus ditangani di kantor sejak pagi hari , tidak pula memupuskan niat saya ke acara yang direncanakan dimulai sejak pukul 10.00 ini.

Seorang kerabat dekat almarhum sedang memberikan  speech , saat saya memasuki pintu sebuah ruangan bagian masjid  Diknas diatas hamparan karpet yang berlokasi bilangan Gatot Subroto, disamping gedung Balai Kartini, Jakarta.

Saya baru benar-benar baru mulai ‘konsen’ mendengarkan apa yang disampaikan oleh kerabat almarhum lainnya Pak Slamet Effendi Yusuf. Mengawalinya dengan salam kepada para hadirin, Pak Slamet Effendi terlihat beberapa saat tak sanggup melanjutkan kata-kata-nya, dan mengulanginya lagi sampai beberapa kali sambil mengusap mata.

Slamet Effendi Yusuf

Pak Slamet Effendi yang kemudian secara lancar menyampaikan sambutannya.

Para hadirin termasuk saya, dapat merasakan betapa kesan terhadap almarhum Pak Said sangatlah mendalam. Para Hadirin tenggelam dalam emosi beliau  dalam keheningan. Semua mata memandang Pak Slamet Efendi yang kerap berusaha melanjutkan kata-katanya namun beberapa kali selalu gagal, karena sedih mengharu biru.

Inside

Dalam pidatonya yang khidmat itu, akhirnya keingintahuan terhadap rasa haru beliau benar-benar terjawab. Pak Slamet Effendi Yusuf-lah yang menjadi salahsatu teman almarhum terutama diawal perjuangan. Suka duka telah dilalui bersama dalam pekerjaan. Almarhum merupakan senior sekaligus boss dan sahabat yang baik. Kini Pak Slamet Effendi setiap kali masuk ke tempat kerjanya kantor MUI pusat lantai 4, selalu berhenti sejenak memandang sebuah tempat duduk yang telah kosong disamping meja kerjanya, yang tidak akan pernah lagi dihadiri oleh Pak Said.

Pak Said nge-blog

Profesi jurnalis yang ditekuninya menuntut Pak Said untuk selalu up to date terhadap berbagai informasi dan fasilitasnya. Dalam era informasi yang selalu berkembang pesat seiring dengan tuntutan zaman, Pak Said diusianya yang sudah tidak muda lagi tetap update. Atas minatnya yang tinggi terhadap perkembangan teknologi informasi, sebelum meninggal bahkan beliau masih menjabat sebagai Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi MUI periode 2005 – 2010.

Pak Said Profil Blog di Blogspot

Tidak itu saja, Pak Said diusianya yang sudah berkepala tujuh bahkan juga menuangkan buah pikirannya dan memiliki sebuah blog  di blogspot beliau yang ber tag-line:

M A N U L A – Dengan Cara ini Saya Mensyukuri Usia Lanjut,

Ia berpesan dalam profile-nya: “Melalui blog ini ingin mensyukuri usia lanjut dengan cara berbagi pengalaman. Makanya akan senang sekali kalau orang-orang muda mau bertegur sapa.

Ah… Jika saja saya sudah aktif nge-blog saat itu, mungkin saja saya bisa jadi rajin menjadi komentator setia-nya. Yang sudah tua aja bisa aktif sharing di dunia per-blog-an apalagi yang muda….

Pak Karim ketika berpidato mewakili pihak keluarga

Acara ini kemudian ditutup dengan ramah-tamah dan makan siang bersama setelah sambutan terakhir dari pihak keluarga yang disampaikan oleh Pak Karim Murtadho dan ditutup doa yang dibawakan oleh Ustadz Muhaimin dari Perguruan Tinggi Ilmu alQur’an (PTIQ).

Ustadz PTIQ Muhaimin Zen (tengah) memimpin doa

Buku biografi

Dalam kesempatan ini, keluarga almarhum membagikan sebuah buku biografi yang berjudul “Muhammad Said Budairy, Wartawan NU itu…“.  Buku yang dibagikan secara gratis untuk para hadirin itu diterbitkan pada bulan ini, Maret 2010 oleh Yayasan Saifuddin Zuhri berisi 359 halaman.

Buku karya tim penulis :

  1. Ali Zawawi
  2. Hadi Rahman
  3. Hamzah Sahal
  4. Ahmad Syahrir,

Lukman Hakim Saifuddin

dikawal oleh editor:  Lukman Hakim Saifuddin, seseorang yang mulai berkecimpung sebagai kader NU sejak tahun 1985 sebagai wakil sekretaris LKKNU. Aktif sebagai kader PPP dan kini menjadi Ketua DPP PPP periode 2007 -2012, sertaterpilih menjadi anggota DPR sejak 1997 – sekarang. Saat ini, beliau juga menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI periode 2009 – 2014. Yang paling penting adalah, Pak Lukman adalah sosok yang dekat baik ketika masih hidup dengan Pak Said, maupun ketika telah wafat dengan keluarga Pak Said. Saya melihat Pak Lukman selalu hadir dalam setiap aktifitas saat penguburan, 7 hari, 40 hari bahkan 100 hari-nya Pak Said hari Minggu yang lalu.

Tanda Tangan Lukman S, ketika menandatangani Buku

Dalam buku itu juga ditulis  bahwa almarhum adalah  seorang  kader NU yang puluhan tahun telah malang melintang dalam dunia jurnalisme ini, adalah sosok pribadi yang oleh mantan Menteri Penerangan RI era Pak Harto, H.Harmoko, sebagai seorang yang “Pendiam, tapi tak pernah diam”.

Kelak dari buku ini baru saya ketahui antara lain, beliau:

  1. Pernah menjabat sebagai Staf Khusus Wakil Presiden RI (2001-2005)
  2. Pernah aktif sebagai anggota Lembaga Sensor Film (LSF) sejak 1999-2003 dan sebagai Wakil Ketua Komisi Pemantauan LSF 1999 – 2002.
  3. Seorang Ketua Komisi Informasi Komulikasi dan Informasi MUI yang menurut Johan Tjasmadi telah berhasil :
  • Menggugah awareness dari pengelola stasiun televisi bahwa siaran televisi mereka diawasi.
  • Dalam era-nya berhasil menggiring masyarakat untuk menolak film-film negatif dari bioskop, seperti film “Buruan Cium Gue” , ML (Mau Lagi) dll.
  • Tidak disadari oleh beliau bahwa kritisi dan perubahan yang dilakukan dapat menggiring layar kaca yang didominasi oleh sinetron kekerasan dan berbau seks vulgar , bergerak menjadi sinetron khusus yang patut dipuji terutama dibulan suci Ramadhan.

Didalam buku yang terdiri dari delapan bab tersebut, terdapat tulisan dari berbagai macam kalangan antara lain :

  • Kesaksian sahabat dari lingkungan NU
  • Kesan-kesan para rekan kerja dari lingkungan media
  • Kesaksian para kolega dari lingkungan MUI
  • Kesan para kolega dari lingkungan LSF
  • Kenangan putra putri dan menantu yang ditulis oleh :

Hisyam Said (Kiri)

  1. HM. Bashori Alwi Murtadho (pamanda, sekaligus saudara sesusuan)
  2. Eliza Said (putri kedua)
  3. Hisyam Said (putra ketiga),
  4. Syahrizal Syarif (Menantu, dari putri keempat)

Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal yang baru diketahui setelah membaca buku ini. Alhamdulillah dalam kesempatan ini , editor dari buku biografi  “Wartawan NU itu…” ini, berkenan membubuhkan tandatangannya dalam acara yang menurut versi saya, saya sebut “Di Seratus Hari Itu...”

Terima kasih  Pak Lukman H Saifuddin… Terima kasih pihak keluarga atas undangannya, bukunya, dan terima kasih semuanya. Doa saya untuk Pak Said, semoga dilapangkan kuburnya, diterima segala amal baktinya dan diampunkan segala kesalahannya. Amiin ya robbal alamiin.

Advertisements

62 Responses to “Di Seratus Hari Itu …”

  1. keduaaax….==>nitip lapak gaan…www.perdanabagus.tk

  2. Allahummaghfirlahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu’anhu wa akrim nuzulah wawassa’mudkhalah…

  3. Hehe… baru kenal nama beliau disini nih 🙂
    Ini sekalian aku mau ngenalin http://kakaakin.info/
    Kalo sempat, mampir ya…

  4. Orang yang baik selalu meninggalkan kesan yang mendalam bagi mereka yang ditinggalkan

    • SekolahCikal,
      Terima kasih telah bertandang kemari.
      Begitulah seorang yang pergi manakala ia telah menorehkan sejarah yang baik ketika ia hidup di dunia.

  5. Siti Fatimah Ahmad Reply March 18, 2010 at 2:01 pm

    Assalaamu’alaikum

    Ini kali kedua membaca tulisan 100 hari kematian selepas Bapak Gusdur yang lalu. Bagi saya, sambutan 100 hari yang dipaparkan Adelays di ruang maya ini memberi satu pengetahuan baru kepada saya berhubung dengan budaya yang diamalkan di negara Indonesia.

    Berbeza dengan di Malaysia (lebih dekat kepada tempat saya), sambutan 100 hari kematian seseorang sama ada mereka itu terkenal atau orang biasa, tidak ada sambutan acara sedemikian.. hanya jemputan untuk majlis tahlil, bacaan doa dan jamuan sahaja.

    Menatap foto Pak Said Budairy pada buku biografi beliau, terkenang dengan wajah tulus Bapak HAMKA, seorang tokoh ulama tersohor Indonesia dan nusantara. Mudahan roh beliau dilimpahi kemuliaan di sisi Allah atas segala usaha dan jasa yang disumbangkan kepada masyarakat dan pembangunan intelek rakyat Indonesia dalam menyebarkan maklumat yang bermanfaat semasa memegang jawatan sebagai wartawan dan jawatan-jawatan lain sehingga usia panggilan Ilahi.

    Secara personal, saya sangat mengkagumi individu yang punya wawasan tinggi dan cekal dalam memberi khidmat untuk kepentingan manusia sejagat.

    Tahniah Adelays… cara pembahagian ilmu seperti ini (melalui tulisan dan foto) dapat memberi gambaran sebenar sesebuah peristiwa yang mungkin menjadi satu sejarah masa depan. Bagi saya Adelays telah menyumbangkan satu jasa yang cemerlang dalam membidik hati manusia lain untuk mengenang sumbangan insan yang berhati mulia sebagai kenangan abadi yang tak terlupakan.

    Salam mesra dari saya di Sarikei, Sarawak, MALAYSIA.

    • Waalaikumsalam Mbak Siti Fatimah,
      Terima kasih telah menorehkan komentar yang detil.

      Di Indonesia, banyak yang memperingatinya sekaligus mendoakan almarhum sampai 100 hari wafatnya seseorang, bahkan ada yang sampai 1000 harinya. Tetapi ada juga yang hanya tiga hari diawal wafatnya.

      Walaupun ada yang mempertanyakannya, bagi saya mendoakan almarhum hal tersebut baik-baik saja dan tidak mempertentangkannya. Maka sayapun datang.

      Wassalam.

  6. menyapa ade di sini… ^^

  7. Allahumagh firlahu warhamhu…

    Terimakasih udah mengenalkan sosok ini pada saya. Baru denger kali ini sih… mungkin bisa menjadi inspirasi saya 🙂

  8. seseorang terlihat kesuksesannya setelah menutup mata utk selamanya.
    bagaimana orang2 yg ditinggalkan merasa begitu kehilangan dan dari kehilangan itu terciptalah sebuah buku ttg almarhum yang semoga dapat menjadi pemicu semangat dan motivasi bagi generasi muda berikutnya.
    Semoga Beliau diterima disisiNYA sesuai dengan amal ibadahnya,amin.
    salam

    • Bunda,
      Terima kasih. Pastinya keluarga dan sanak saudara dan kerabat yang ditinggalkan merasakan kehilangan yang sangat atas sosok beliau.

      Terima kasih atas doanya, semoga didengar oleh Allah SWT. Amiin

  9. Betapa bahagianya orang yang sudah meninggal tetapi masih diingat persahabatannya, jasa-jasanya di kemudian kelak…

    Doa saya untuk Pak Said juga… Insya Allah dilapangkan kuburnya. Amin.

  10. Assalamu’alaikum, walaupun sudah tiada, orang yang baik akan selalu dikenang dan akan selalu ada dihati orang2 yg mencintai dan menghormatinya (Dewi Yana)

  11. saya idem dengan jawaban atas saya ini heheh

    blogwalking berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya
    salam blogger
    maksih
    😀

  12. blogger jg ya rupanya pak said. salut dah. diusia yg sudh lanjut masih saja membagikan ilmu yg ada pd dirinnya..

    moga amal dan ibadahnya diterima disisiNya dan dosannya diampuni Allah.. 😀

  13. Almarhum H.M Said Budairy baru saya kenal sosoknya dari posting Adelay ini, tapi sungguh, keteladanan almarhum layak menjadi panutan kita dalam menjalin silaturahmi dan berprestasi.
    Semoga almarhum mendapat tempat terbaik disisi-Nya. Amin.

  14. orang besar seperti beliau pastilah telah memberi banyak terang pada sesama
    semoga arwah beliau damai di sisi Sang Maha Segala

  15. Gila, ga nyangka gue: sewaktu masih hidup, Pak Said Budiary juga bikin blog,, Mantap!!! Gue baru tau gara-gara baca ni blog!
    Nice info, Gan!

    btw, foto-fotonya keren ya..!

  16. Hi Manshurzikri…
    Salam kenal. Btw, Manshurzikri kenal sosok beliau sebelumnya ???

    Btw, Tq atas commentnya

  17. hm… adelays kayanya sering diundang untuk acara2 100 harian, 1000 harian…
    apa di kartu nama dikau tertulis spesialis peliputan event2 tsb? 😀

    pakabar?

    • Hi Quinie,
      Iya sering diundang. Dan acara undangannya itu diangkat di blog, gitu aja sih sebenernya.

      Hehehe. kartu nama ? nggak ada pake acara ditulisin spesial peliput event2 kek gitu.

      Alhamdulillah kabar baik Quin..

  18. haduch aku malah nda tau beliau punya blo9..

    ikut mendoakan..

  19. ade….saya tak kenal siapa beliau tapi Ade menulisnya dengan sangat bagus….
    Semoga Allah menempatkan beliau ditempat yg indah sesuai dengan amal ibadahnya
    amin

  20. Orang baik selalu meninggalkan kesan yang baik. Semoga Allah menempatkan ditempat yang indah, amin.

  21. setelah membaca tulisan mas aku makin mengerti akan hakekat orang ikhlas dan orang sabar.

    salam hangat

  22. siang… 🙂 sehat mas….mudah2an selalu dalam lindungan Alloh SWT 🙂

  23. Do’a untuk beliau … kelapangan dan kedamaian

  24. salam juga buat bang Lukman H.S

  25. Waitin for somtin new 🙂

  26. mas adelay, apa kbr?
    msh dlm suasana berkabung ya?
    turut berduka cita ya, mas…
    semoga arwah beliau diterima di sisi-Nya…. 🙂

  27. begitulah orang baik.
    walau udah mati masih selalu dikenang.
    semoga itu terjadi pada kita semua sahabat 🙂
    Amiiin.

  28. fhiiuh.. so sad, aku baru mengenal beliau disini. Thanks m’adelays yang telah mengenalkanku dengan beliau disini. even we will meet face to face. tp insyaAlloh akan bertemu dalam do’a. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: