Menunggu Godot Menuju Surabaya

Salah Satu Gerbong Argobromo Anggrek. Diambil dengan Kamera BB Onyx

Kereta api jurusan Jakarta – Surabaya Turi yang aku tunggu, seharusnya sepuluh menit lagi berangkat. Waktu telah menunjukkan pukul 9.20 pagi. Namun tanda-tanda persiapan yang biasanya diikuti oleh kesibukan calon penumpang yang hilir mudik berebutan di pintu masuk kereta, kuli-kuli angkut yang centang perenang menguasai peron bagai belut licin yang lincah tak kulihat aktivitasnya.

Besi tua yang teronggok manis di jalur satu berbentuk gerbong diam seribu-bahasa. Mati seolah tak bernyawa. Bentuknya serupa gerbong yang telah melewati masa-masa keemasannya.

Bertuliskan Argobromo disamping kiri pintu keluar, dan Anggrek dibagian atasnya. Bagian jendelanya berwarna hitam legam tak terawat dan berjamur dikelilingi korosi besi berkarat. Rupanya bagian gerbong kereta itu tidak seluruhnya berkarat seperti itu. Bagian coach lainnya ada yang tampak seperti baru.

Aku bertanya pada sesosok pemilik tubuh berseragam satpam berjenis kelamin wanita, berwajah gempal yang mondar mandir didepanku dengan keheranan. “Apa betul kereta ini Argo Bromo Anggrek?”

“Benar”. jawabnya tegas. “Kereta masih menunggu jalurnya aman dan harus ke Manggarai untuk dibersihkan dulu sebelum berangkat ke Surabaya”, ujarnya menambahkan.ย Alamak, sudah jam berapa ini, kereta masih harus mengalami sejumlah prosedur sebelum ditumpangi.

Terbayang dalam benakku perjalanan PP gambir manggarai yang memakan waktu sedikitnya 20 menit. Belum lagi upacara sapu jagat alias membersihkan lantai kereta dengan sapu , membalikkan arah tempat duduk setiap gerbongnya, serta berbagai ritual pembersihan lainnya, belum lagi pengecekan kelayakan jalan setelah sebelumnya berlari dan terus berlari mengejar waktu.

Seandainya ia seekor kuda penarik delman tidakkah beristirahat sejenak untuk sekedar menurunkan tensinya setelah seharian terus berlari? Tidakkah ada kuda lain untuk menggantikan jam biologisnya untuk beristirahat?

“Toa” telah menjadi trademark pengeras suara kali ini mbeleber tak karuan seperti speaker pecah yang hampir tak jelas pengumuman apa yang umbarnya.ย Tertangkap sedikit pesan melalui daun telingaku yang telah ditambahi penguat sinyal macam fungsi antene parabola dengan kedua belah tanganku yang ditempelkan ke daun telinga untuk sekedar menguatkan sinyal kata pengumuman itu.

Hanya permohonan maaf tanpa penyesalan yang keluar dari corong toa yang terdengar. Permohonan itu bagai seorang yang bertobat ala tobat sambal. Bertobat tapi tapi berbuat lagi, terus dan terus terjadi.

Keterlambatan kereta bukan cuma sekali ini terjadi, karena alasan apapun. Tak terkecuali kepergianku saat peak season kali ini, yang bersamaan dengan liburan sekolah yang sedang hangat-hangatnya menjadi headline news kalau itu surat kabar.

Dalam pada itu, kantuk kemudian menyergapku tanpa kompromi, laksana polantas yang melihat pengendara sepeda motor saat berhenti di traffict light tanpa helm SNI, tiba-tiba menyergap dalam penantian. Tanpa batas kepastian, kantuk itu lalu sedikit terabaikan saat Gambir TV, – menampilkan Shakira dengan “Waka-Waka”nya.

Semilir angin bercampur deru dan debu KRL silih berganti menemani kantuk yang semakin menyergapku. Entah berapa lama penantian tanpa kepastian itu membuahkan sesuatu. Kudapati diriku kembali mendengar Shakira untuk entak keberapa kalinya. Serta-merta lokomotif memperlambat kecepatan untuk menaikkan penumpangnya. ย Terjaga dalam penantian tak mengenal akhir.

Waktu telah menunjukkan pukul sebelas kurang sepuluh menit. Rupanya penantian itu tidaklah sia-sia belaka. Harapanku semakin nyata, karena kereta itu akhirnya datang untuk menjemputku menuju Surabaya.

Advertisements

53 Responses to “Menunggu Godot Menuju Surabaya”

  1. Anna Althafunnisaa Reply July 12, 2010 at 5:52 am

    Tulisannya bagus banget deh Mas Adelays.
    Anna jadi terkagum dengan sorotan bahasanya yang indah.

    Semoga selamat perjalanannya dan harus banyak sabar dalam sebuah penantian yang menjadi titik ujian dari Sang Pencipta.

    “InnaAlloha ma’a shobiriin.”

  2. Saya sangat “masuk” ke cerita ini, mungkin karena mengetahui keseluruhan pernik ceritanya.. you delivered it well ^^,

  3. Hehe… jangankan KA, pesawat aja kadang telat ๐Ÿ˜€

  4. Postingannya terpotong ya?

  5. Halo Adelays, postingnya menarik. Keseharian yang sering saya temui juga kalo naik kereta api dari Bandung ke Surabaya atau sebaliknya… ๐Ÿ™‚
    Kereta Argo atau Turangga, akhir-akhir ini cenderung tepat waktu. Entah kebetulan atau memang sudah melakukan reformasi, saya tidak tahu ๐Ÿ˜›

  6. penantian tanpa kepastian heheh, suka kalimat yg ini ๐Ÿ™‚

  7. ah itu mah udah biasa mas…
    kalo ontime malahan jadi aneh deh..hihihi…
    *penuh sarkasme*

  8. Mas adelay..
    Membaca tulisanmu serasa membaca karya sastra.. Keep write a great story.. I’ll waiting and read your posting..

  9. dikemas dengan bahasa yang menarik… Nice Post.. ๐Ÿ™‚

  10. Ukh…sirik dengan gaya penulisan bahasanya….:D
    Belajar di mana?
    he he he he

    Jadi inget pas pertama naik KA, dari St. Gambir ke St. Kota Baru, jadwal jam setengah 6(kalau g salah) berangkat jam setengah 8 mlm, mana sendirian..pingin nangis tapi tak apalah akhirnya jadi suka naik KA ๐Ÿ™‚

    • Hai Pendarbintang,
      Gaya penulisan bahasanya datang sendiri setelah baca-baca banyak blog orang dan buku-buku. Kayaknya gaya penulisan kedepan agak berubah dari sebelumnya. Aku lagi coba dengan gambar yang lebih sedikit, karena menulisnya dimana saja dengan Blackberry , nggak kayak dulu yang nulisnya harus di depan PC.

      Kok aneh Pendarbintang naik kereta dari St. Gambir ke St. Kota Baru ? Kota , Jakarta Kota kah ?

      • Dari Jakarta ke Malang ๐Ÿ™‚

        Hm….begitu yah? dengan blackberry bisa menulis di mana aja n kapan aja….

        Inspirasi emang datangnya kapan aja….

      • Begitulah Pendarbintang,
        Postingan saya berikutnya juga sudah masuk draft saat saya tulis di Kereta Gajayana saat kembali ke Jakarta Stasiun Gambir dari Malang Kota Baru.

      • Dulu saat blm bekerja blm banyak pikiran dan beban, sama bunda di suruh nyapu pun aku selalu nyakuin bolpen ama kertas..karena terkadang saat nyapu tiba-tiba inspirasi datang….

        Tapi, dulu suka nulis puisi gitu….

        Dasar tukang ngayal, kata kakakku!

        ๐Ÿ˜€

      • Wits.. Pendarbintang… bener-bener rajin.
        Dulu waktu belum demen nulis blog, waktu kopdar ama seorang penulis blog aku selalu melihat dia selalu siap dengan kertas dan pensil / ballpoint.
        Mungkin kira kira begitulah dirimu ya… hihihi…

      • Ha ha ha ha

        Oya, tapi itu dulu….

        sekarang sey…yah menulis hanya sebagai therapy aja ๐Ÿ™‚

      • Wah.. bikin penasaran aja.. Menulis bisa sebagai therapy…???

  11. seperti cerpen di koran2, tulsanya enak bgt ๐Ÿ™‚

    btw, nunggu kereta bete banget yah..

  12. Mas sebuah tulisan yg ‘cerdik dan menarik … walau terkantuk-kantuk … hehehe … ๐Ÿ˜›

  13. menunggu…membosankan memang,.tapi bisa jadi sebuah cerita yang enak di baca oleh seorang Adelay,hehehehe.keren mas! ๐Ÿ˜›

  14. Klo di Jakarta menunggu kereta terlambat biasa ya Mas Adelays..
    Beda, klo di Sby, justru keretanya yang nunggu penumpang.. ๐Ÿ™‚

  15. Ya begitulah public service di negara kita. Hem…h!

  16. Wah…. lagi di tanah air toh rupanya…

    Aku jadi ingat saat-saat masih di Jakarta. unutk mudik ke Jogja mengandalkan kereta api juga… bedanya aku naik KA taryek Gambir – Jogja. Dan berkali-kali juga harus menunggu, karena jadwal kereta terlambat lagi dan lagi… ๐Ÿ˜ฆ

  17. Om Adelay…. saya sekeluarga juga pernah ngalami yang kaya’ gini.. cuman waktu itu udah berangkat dari Gambir.. wah tepat waktu nih pikiran saya.. eh.. sampe di Manggarai… ganti lokomotif…. lokomotif barunya belum siap (lagi dibikin kali ya..he..he.he..) .. alhasil 2 jam juga kami nunggu di Manggarai… tiwas udah seneng kalo keretanya tepat waktu….he..he..he..

    • Oalah Om Fred’s,
      Ternyata pengalamannya lebih pahit lagi toh.. sudah berangkat tiwas seneng eh. malah ganti loko di manggarai…
      Hmmmm…. lumayan juga tuh ..

  18. Padahal naik KA mengasyikkan..cuma lambatnya itu lho..maklum relnya juga cuma satu tapi dipakai oleh banyak kereta.

    • Kalau di Malaysia, untuk tujuan KL-Bandara KLIA jalurnya sendiri-sendiri. Jadi keterlambatannya bisa diantisipasi.
      Sebenernya nggak harus jalur sendiri sih… Penghambatnya yang harus diminamilisir, seperti jalur perlintasan kereta yang melayang sehingga tidak berebut tempat dengan jalan raya.

  19. wah, aku udah lama gak naik kereta, mas ade…
    jd udah lupa gmn rasanya….hehehhe
    tp kyknya gak cm pagi ajah deh…
    dulu aku prnh naik kereta api pas malam jg telat…hohoho
    btw, mas ade ke sby koq gak ksh kbr siyh?
    tau gt kan kita bisa ktm……hihihi

  20. penggunaan istilahnya bagus. suka banget sama tulisannya

  21. saking asiknya membaca tulisan ini, jadi lupa kalau ini adalah pengalaman mu ya De.? ketika mengalami keterlambatan naik kereta ke surabaya.

    duh, nikmatnya membaca tulisan yg mengalir begitu saja kata demi kata.
    salam

  22. Ngomongin kereta, jadi ingat terakhir kali naik kereta tahun lalu waktu liburan bersama keluarga ke Pulau Jawa

  23. kayanya gaya bahasa adelay agak berbeda dengan sebelum2nya…
    ehm…. ada keinginan untuk membuat blog baru dengan konten dan gaya bahasa yang berbeda? ๐Ÿ˜€

    • Betul quinie. Kamu cerdas dan kritis. Two thumbs up. Memang lagi coba gaya yang baru. Tapi ngga bikin blog dg konten berbeda. Cuma categoriesnya aja yang berbeda. Ada lagi yang cukup mencolok perbedaannya selain gaya bahasa. Apakah itu??? Bisa tebak ngga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: