Shinkanshen is a Monument

Shinkanshen (Adelays.com)

Shinkanshen (Adelays.com)

Hati ini cukup dibuat galau, saat waktu menunjukkan pukul 13.15 menit waktu Osaka, padahal keberangkatan Kereta Shinkanshen yang akan saya naiki baru berangkat pukul 13.33 waktu setempat. Menaiki peron dengan sedikit terburu-buru ini bukan tanpa alasan. Hal itu terjadi karena transportasi di Jepang, apapun jenisnya adalah transportasi yang sangat menghargai waktu.

Seorang teman saat dijumpai selepas Sholat Ied di Kyoto International Community House pagi hari , berpesan untuk mencadangkan waktu lebih untuk persiapan sebelum menaiki kereta tercepat di Jepang. Pasalnya, kalau schedule keberangkatan kereta adalah 13.33, maka artinya 13.33:00 kereta itu sudah melesat dari peron. Sudah duduk manis ditempat yang sudah dipesan.

Teman saya itu menyadari sepenuhnya kultur dunia perkereta apian di Indonesia sebagai basis saya, dimana ketepatan waktu masih menjadi barang langka. Kalau berangkatnya tepat waktu, kedatangannya boleh jadi terlambat, tidak terbayang kalau berangkatnya saja sudah terlambat.

Kekhawatiran itu sedikit mereda, manakala terlihat line kereta Shinkansen jenis Nozomi yang akan saya tumpangi di jalur 2, masih belum datang. Nozomi adalah suatu jenis kereta tercepat dari Shinkansen lainnya yaitu, Hikari dan Kodama. Rentang kota Kyoto – Tokyo yang berjarak 513 Km akan ditempuh selama 2 jam 18 menit dengan Nozomi, sudah termasuk pemberhentian di kota Nagoya dan Shin-Yokohama. Sementara dengan Hikari perjalanan ditempuh dengan 2 jam 49 menit.

Shinkanshen Ticket Kyoto - Tokyo (Adelays.com)

Shinkanshen Ticket Kyoto – Tokyo (Adelays.com)

Menunggu kereta datang, saya pandangi tiket yang dibeli beberapa saat yang lalu di kantor JR ticketing, sambil membandingkan harga tiket dan jenis kereta dan layanan yang diberikan. Terbayang harga tiket Nozomi dengan resereved seat dan non reserved, yang hanya selisih tidak begitu significant. Shinkansen menyediakan gerbong khusus untuk non reserved, dengan perbedaan harga yang tidak terlalu jauh dari harga 13.500 Yen (sekitar Rp. 1.660.000). Rasanya layanan tanpa pesan nomor tempat duduk ini cocok bagi orang yang bepergian sendiri tanpa barang bawaan yang banyak.

Serta-merta kamera yang terselip di pinggang ini gatal menunggu perannya mengabadikan moment kereta yang lamat-lamat berganti mengisi peron datang dan pergi. Sinar matahari siang yang menerobos masuk dari langit, sedikit menghangatkan badan dari dingin yang mulai menggigit pagi 9 derajat, dan siang yang 15 derajat Celcius, saat itu. Memudahkan diafragma lensa kamera jenis pocket yang saya pakai dengan hasil maksimal.

Jadwal Shinkanshen (Adelays.com)

Jadwal Shinkanshen (Adelays.com)

Ketika gambar diperoleh, tidak terlihat kerumunan para calon penumpang yang biasa ditemui ala Stasiun Gambir saat saya menaiki kereta terbaik jenis Argo Anggrek jurusan Jakarta – Surabaya. Tidak pula ada juru bantu yang mengumumkan melalui corong “Toa” yang memberikan penjelasan mana gerbong kepala, dan mana gerbong buntut yang begitu penting buat penumpang itu. Laki-perempuan, tua-muda, dewasa-anak-anak, sudah well educated dengan cukup melihat ke lantai, disitulah gerbong akan bersemayam sementara waktu.

Tarikan nafas pertama saat pertama kali duduk di kereta ini mengiringi dimulainya perjalanan pukul 13.33:00 detik di jam tangan saya ketika berangkat , hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk menaikkan penumpang, memberi waktu penumpang untuk duduk, meletakkan barang bawaan diatas bagasi yang ada diatas kepala. Perpaduan kedisiplinan penumpang dan ketepatan waktu yang sangat luar biasa menyebabkan semuanya dapat berjalan dengan baik.

Gerbong Shinkanshen (Adelays.com)

Gerbong Shinkanshen (Adelays.com)

Tidak terdengar suara rel berderak-derak tanda tarikan lokomotif yang akrab dengan telinga Made in Indonesia saya. Tidak pula terdengar melodi indah ala sambungan rel yang menjadi trade mark kereta apapun yang pernah saya tumpangi, apatah itu kereta Argo, kereta bisnis, Kereta Rel Diesel (KRD), Kereta Rel Listrik (KRL) ataupun satu lainnya yang pernah menjadi kisah perkeretaapian yang pernah juga saya tumpangi diantara sambungan gerbongnya, yaitu kereta barang.

Kantuk pun mulai menyergap. Tenang bagai air yang mengalir melintas daerah membelah Jepang diantara perjalanan Kyoto menuju Tokyo. Satu-satunya hentakan yang tidak terlalu dominan adalah saat Shinkanshen datang dari arah yang berlawanan. Awalnya saya sempat kaget saat kelebatan itu tapi lama-lama terbiasa juga, terjadi bagai malaikat, berbayang putih dan sangat cepat.

Gerbong Belakang Shinkanshen (Adelays.com)

Gerbong Belakang Shinkanshen (Adelays.com)

Kelebatan itu mengakrabi saya untuk tetap terjaga memperhatikan awak Shinkanshen yang begitu ramah melayani penumpang. Saking ramahnya, setiap seorang awak melalui pintu masuk ataupun hendak melalui gerbong lainnya, mereka selalu menunduk untuk memberikan hormat kepada seluruh penumpang , tidak terkecuali security Shinkanshen, awak yang berjualan makanan atau minuman.

Seolah tidak ingin rugi dengan jasa angkutan ini, saya memutuskan untuk menjelajahi gerbong demi gerbong di belakang saya. Gerbong no. 14 yang saya tumpangi ini adalah dua gerbong terdepan sebelum lokomotif, sehingga kaki ini lebih tertarik untuk melangkah ke belakang, untuk membuktikan informasi yang tertera bahwa digerbong belakang ada rangkaian khusus restorasi, komunikasi dan berbagai fasilitas lainnya. Toilet berbagai jenispun tersedia.

Kagum dengan berbagai fasilitasnya, saya kemudian berdecak kagum, lantaran inilah menurut saya angkutan kereta api ternyaman yang pernah saya rasakan. Bukan saja nyaman, tapi juga mampu menjadi substitusi pendukung angkutan selain pesawat terbang di negara super sibuk dan termahal di dunia ini.

Pramugari Ramah Shinkanshen (Adelays.com)

Pramugari Ramah Shinkanshen (Adelays.com)

Mereka (layanan kereta ini) mampu menempatkan diri diantara kereta lain yang lebih lama, bis dengan jarak sama namun harus ditempuh melalui 8 jam perjalanan, pesawat yang mungkin hanya satu jam sudah sampai namun membutuhkan biaya mencapai 25.000 yen. Tidak sampai istilah kata ‘jeruk makan jeruk’ seperti di Indonesia, yang harga jasa penerbangannya sudah overlaping harga jasa perjalanan dengan kereta api.

Hembusan nafas saya terakhir didalam kereta ini tepat dengan janji kedatangan kereta yang hanya terlambat dalam hitungan detik ini. Kaki kanan saya diiringi dengan ucapan basmalah, menginjakkan kaki di stasiun JR Tokyo untuk melanjutkan perjalanan menuju Shinjuku dan Shin Okubo.

Gerbong Layanan Shinkanshen (Adelays.com)

Gerbong Layanan Shinkanshen (Adelays.com)

Jepang memang unik, ketika ibukota sebuah negara sibuk berlomba-lomba membangun monumen pencakar langit sebagai icon suatu negara, tidak demikian halnya dengan Jepang. Sebut saja Menara Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia, Menara 101 tertinggi ke dua dunia di Taipei, Taiwan, atau Gedung tertinggi di dunia Burj al Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab. Tokyo boleh jadi “hanya” punya Tokyo Tower yang bentuk bangunannya mirip Menara Eifel itu. Atau menara alam yang tidak dibuat oleh manusia yaitu Gunung Fuji.

Bagi Jepang, Tokyo sebagai ibukota terbilang padat dan sempit tidak perlu mendirikan monumen adu tinggi, walaupun saya yakin teknologi Jepang mampu mewujudkannya. Bandar udara saja, sudah ‘menumpang’ di pinggir laut dengan urukan tanah sebagai dasarnya. Itupun mereka menghadapi masalah penurunan dasar tanah sebagai pijakannya, beberapa cm setiap tahunnya. Belum lagi gempa berkekuatan tinggi dan efek tsunaminya yang bisa dikatakan sering menerpa Jepang.

To me, Shinkanshen (bullet train 275 mph)  is a monument. Shinkanshen is #3 fastest train in the world.

Shinkanshen Fare

Shinkanshen Japan Fares

Advertisements

19 Responses to “Shinkanshen is a Monument”

  1. Oh my God… mbacanya jadi ikutan merinding, ikutan seneng, gimana rasanya naik kreta di negeri orang yang dinobatkan jadi kreta tercepat nomor 3 di dunia, waaw, amazing, awesome… napas pasti ikut berhenti sejenak waktu kreta tinggal landas… kereeeenn abiiissss

  2. Tidak ada kata lain selain kereeen… banget sistem perkeretaapian diJepang..kalau kereta api di negara kita seperti itu mungkin aku dan mas Adelays tidak akan mikir 2x untuk bepergian keluar kota naik kereta api, betul kan mas?hehehe..

    Karena kalau aku rasa sebenarnya ada sensasi keasyikan sendiri apabila kita bepergian dengan menggunakan kereta api..sensasi yang susah diungkapkan dengan kata-kata.. 😀
    tapi kalau kereta api jenis tersebut dimiliki Indonesia maka, akan ada persaingan seru nih antara kereta api dengan pesawat dari segi harga dan pelayanan..ya tidak apa-apa si asal masih mengandung persaingan yang sehat dan tidak merugikan penumpang selaku konsumen pengguna jasa transportasi..

  3. keliatan ya di sana kereta apinya beda jauh dengan negara kita. bersih dan kincong gitu lantainya

  4. Secara keseluruhan saya memuji penulisan mas sekarang. Dikemas dengan menarik dari setiap plot yang dikisahkan. Saya lihat semakin hari mas sudah semakin banyak perbendaraan kata yang disusun dengan bahasa yang mudah difahami. Salut. Membacanya, saya seperti terbawa dalam keadaan mas mengejar waktu di sana.

    Rakyat Jepang sudah dibiasakan dan didisiplinkan dengan ketepatan waktu. Hal ini bukan mudah untuk ditanamkan jika tidak ada pendidikan sejak kecil. Jalan-jalan di negara yang bukan mayoritas beragama Islam seperti Jepang atau Korea yang menerapkan disiplin tinggi dan hidup dengan teknologi tinggi, memberi kita peluang untuk menilai diri sendiri dan belajar banyak dari budaya positif dari negara yang kita kunjungi.

    Pengalaman seperti yang mas lalui memberikan nilai positif untuk memberikan hal positif dalam hidup mas. Kadang-kadang jadi malu dengan kita orang yg mengaku Islam dengan surat yang diturunkan surah al-Asr, banyak yang tidak menepati waktu dalam banyak hal dalam kehidupan ini. Ternyata seolah mereka yang mengamalkan surat tersebut dari kita. Sungguh mengagumkan, apa yang dapat dicontoh dari hal positif orang-orang Jepang ini.

  5. Subhanallah… Inilah kereta tercepat itu ya…
    Salut banget dengan teknologi mereka yang tinggi, dibarengi dengan kesadaran masyarakatnya akan kedisiplinan…

  6. Betapa mengagumkan Jepang ini. Salut buat tulisan mas Adelay. Berkunjung setelah lama gak mampir. Sukses selalu.

  7. salut buat jepang krn monumennya yg fungsional, tdk hanya utk tontonan, tp sesuai kebutuhan..
    banyak sekali pelajaran yg bs diambil dr shinkanshen ini, smg nilai2nya bs kita terapkan di negri tercinta ini,

  8. Hanya bisa menghela nafas, saking kagumnya dengan semua yang ditulis disini sekaligus membayangkan kereta api argo yang suka saya naiki juga, Adelays…
    Trima kasih sudah berbagi cerita ya, selama ini saya hanya pernah mendengar shinkanshen yang terkenal itu, tapi detail di dalamnya, saya baru lihat dari foto-foto disini. Bersih luar biasa ternyata!
    😀

  9. Tōkyō Metro seri 6000 ( bahasa Jepang :(東京地下鉄6000系 Tōkyō Chikatetsu 6000-kei)) adalah unit kereta rel listrik buatan Jepang . KRL ini dibeli dari perusahaan Tokyo Metro. Saat ini sudah ada 8 set yang didatangkan ke Indonesia, yaitu 6106F, 6107F, 6112F, 6115F, 6123F, 6125F, dan 6126F, di mana belum lama ini telah tiba rangkaian 6113F dan 10 unit lainnya. Pada saat percobaan, KRL ini dijalankan dengan 10 gerbong, namun dalam pengoperasiannya hanya berjalan 8 gerbong saja karena terbatasnya panjang peron dan daya listrik. Semua set di bawah perawatan Dipo Depok.

  10. Benar-benar mengagumkan. Disiplin bagi mereka sudah habit, sehingga membuat sesuatu lebih mudah. Kalau di kita ada kereta cepat kayak begini dengan tenggat waktu naik/turun yang ketat dijamin penumpangnya 90% ketinggalan, 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: