Golden Pavilion

20130215-054757.jpg
Wisatawan mancanegara menyebutnya “Golden Pavilion” atau Pavilion Emas, lantaran bangunan kuil sederhana ini lantai 2 dan lantai 3 nya dilapisi oleh lembaran-lembaran tipis emas murni. Ia, menjadi unik karena keemasannya ini. Karena uniknya, saya meletakkannya dalam prioritas tertinggi kunjungan saya di Jepang. Alasan lainnya, karena lokasi saya menetap sementara di Kota Kyoto tidak begitu jauh keberadaannya dengan lokasi Kinkaku Ji berada.

Golden Pavilion dikenal oleh masyarakat Jepang sebagai Kinkaku Ji atau resminya Rokuon Ji. Bangunan kuil dengan lapisan emasnya sendiri baru establish tahun 1955, setelah dibakar oleh biksu fanatiknya tahun 1950. Lapis emasnya terinspirasi oleh bangunan kuil serupa bernama Ginkaku Ji atau dikenal dengan Silver Pavilion.

Jepang, utamanya Kyoto, selalu punya cara unik mengembangkan pariwisata budaya tradisionalnya dengan mengedepankan tradisinya yang kental. Kyoto memiliki ruang yang dikenal luas oleh wisatawan mancanegara dengan keragaman warisan budayanya, tidak saja warisan budaya Jepang, tapi juga warisan budaya dunia.

20130215-090915.jpg
Mungkin bagi yang datang ke Jepang dan mengenal Jepang pertama kali, terlanjur membayangkan modernisasi Tokyo sebagai ibukotanya, tapi tidak dengan Kyoto. Ia seperti telah didaulat menjadi miniatur Jepang yang dipertahankan seperti masa lalu.

Kinkaku Ji menjadi saksi sekaligus bukti otentik kekuatan Jepang masa lalu yang dipertahankan walaupun telah habis dibakar. Jepang bahkan menyulapnya sekaligus membuat mata dunia terbelalak dengan emas yang berkilauan.

Walaupun untuk memasuki area Kinkaku Ji ini perlu untuk membayar sejumlah Yen, ironisnya para pengunjung tidak diperbolehkan memasuki bagian dari kuil yang sangat dijaga ‘keemasan’nya. Di Lantai 1, memang belum memiliki lapisan emas, tetapi didalamnya terpampang patung Shaka Budha dan Shogun Ashikaga Yoshimitsu terpampang dan dapat dilihat langsung dari luar lantai 1. Lantai 2 nya disimpan samurai namun seluruhnya tertutup lembaran emas sampai ke lantai 3.

20130215-093656.jpg

Dipandang dari mana saja, kuil ini memiliki daya tariknya sendiri. Gambar-gambar yang saya capture dari berbagai angle menjadi saksi betapa keindahannya mampu ditangkap dari berbagai sisi. Tidak saja angle favorite dari pintu masuk, bahkan dari sisi belakang tempat pintu keluar ia tetap ‘menyilaukan’.

Tak pelak hal ini menjadikan bangunan kuil ini menjadi sasaran incaran fotografer untuk diabadikan gambarnya. Incaran penikmat seni atas keindahan fisik bangunannya. Juga incaran setiap pengunjung akan keindahan viewnya. Karenanya Kinkaku Ji menjadi top picks papan atas pengunjung mancanegara termasuk saya.

20130215-101925.jpg

Kesan dan Pesan saya setelah mengunjungi kuil ini : Belum ke Kyoto, kalau belum berkunjung ke Kinkaku Ji. Atau versi lebaynya : Belum benar-benar ke Jepang kalau belum tau Kinkaku Ji. Bener nggak ya ???

Buktikan aja sendiri……

20130215-102322.jpg

Advertisements

6 Responses to “Golden Pavilion”

  1. Hai… aku tunggu2 ternyata keluar juga tulisannya mas adelays :). Aku membaca dan melihat foto yg diambil oleh mas adelays seorang penulis sekaligus fotografer yg handal aku hanya bisa berkata “Subhanallah” kuilnya indah betul sepertinya letak posisi kuil dipinggir danau yah? Hebat org2 jepang ini bisa melestarikan kebudayaannya, mudah2 kita juga bangsa indonesia bisa melestarikan budaya bangsa kita sendiri. Mas adelays aku lupa kenapa foto dokumentasi utk didlm kuil itu tidak ikut dishare juga yah?
    Terima kasih ditunggu tulisannya lg yah mas 🙂 caayyyoooo….

    • Emerald, kuil itu tidak dibuka untuk umum didalamnya, demi keamanan dan kebaikan bersama untuk menjaga keutuhan kuil itu. Mengingat lantai dua dan tiga nya yang berlapiskan emas.

      Terima kasih, Emerald. Mudah2an dapat menginspirasi dan membawa manfaat untuk pariwisata Indonesia sebagai inspirasi.

      Amiin…

  2. Thank you for bring the beauty of Golden Pavilion here ….

  3. Selalu saya kagum melihat kegigihan Jepang mempertahankan yang tradisional menjadi daya tarik wisata. Modern bukan berarti menghilangkan akar budaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: