Kaiten Sushi

20131124-195000.jpg
Saya berjalan dilengangnya jalan panjang berliku Ryoan-ji, menyusuri pinggiran jalan sambil berusaha memahami detak kota Kyoto di sore hari.

Meresapi daya tarik kota ini secara perlahan, menikmati sinar keemasan yang membias dibalik bangunan perumahan yang tidak tinggi menjulang.

Satu dua mobil atau bis melintas di jalan, frekuensinya tidak padat, cenderung sepi, menarik nafas panjang pun tetap segar rasanya.

20131124-195035.jpg

Langkah-langkah kecil ini sesungguhnya menyesuaikan denyut kota yang berjalan teratur, sampai akhirnya langkah yang dimulai dari Kinkaku-Ji ini berhenti di sebuah bangunan. Bertingkat dua, bertuliskan  ‘Kaiten Sushi’, sebuah restoran sushi  yang terletak di sisi kiri perjalanan menuju Ryoan-Ji.

Saya kemudian disambut pegawainya yang ramah dalam bahasa yang kurang lebih berarti selamat datang, di lantai 2 setelah menaiki lift. Uniknya, bagian bawah restoran ini bisa dimanfaatkan untuk parkir mobil, sebuah pemikiran efisien yang mulai dicontoh dibeberapa pasar swalayan di Indonesia.

20131124-195103.jpg

Restoran Jepang yang satu ini terbilang pintar dalam memanage restoran dengan melibatkan bantuan pelanggannya. Ada beberapa trik cerdik tanpa membuat pelanggan merasa diperintah untuk membantu.

Di kebanyakan restoran biasa di Indonesia, setelah membayar kita bebas melenggang keluar tanpa perlu membereskan piring kotor bekas makanan, apalagi mengantarnya ke dapur untuk mencuci piring.

Sementara di  Singapura,  di beberapa restoran cepat saji seperti BK atau MD misalnya,  pelanggan meletakkan nampan bekas alas makannya ke suatu meja setelah membuang sampahnya ketempat sampah.

Entah berapa lama mengedukasi  masyarakat agar memiliki kesadaran seperti itu. Positifnya, kegiatan itu mungkin memberi manfaat pada overhead cost  yang berujung pada kompetitifnya harga produk yang ditawarkan lantaran dapat menekan biaya pegawai.

Food court di Jerman bahkan ada yang menerapkan refund charge bagi pelanggannya yang mau mengembalikan peralatan makan yang sudah dipakai.  Pihak restoran mengembalikan sejumlah yang yang sengaja dibebankan pada saat pertama kali membayar dan dikembalikan jika pelanggannya mengembalikan peralatan makannya.

20131124-195332.jpg

20131124-195504.jpg

Resto ini memiliki mekanisme yang terbilang kreatif. Kalau restoran Padang menyajikan makanan yang disajikan dipamerkan di etalase depan, restoran ini menyajikannya etalase di setiap samping meja tamu.

Mereka memiliki  conveyer belt, semacam ban berjalan yang menyajikan sushi yang harganya 100an Y, relatif terjangkau dan siap diambil. Sesuai dengan promo yang terpampang diboard mereka.

Bagi yang tidak familiar dengan tulisan Jepang dan menghendaki sushi yang lebih spesifik, dapat memesan dari layar yang tersedia di setiap meja. Sebaiknya mengecek dulu harganya karena pesanan spesifik biasanya harganya juga berbeda dari standard.

Tidak saja cara penyajiannya yang kreatif, cara membersihkan piringnya pun unik sekaligus cerdik. Karena setiap nampan yang sudah digunakan tersedia sebuah chute box dibawah layar yang siap mengantarkan piring bekasnya ke dapur.

20131124-195541.jpg

Lebih dari itu, mereka melengkapi daya tarik untuk anak-anak untuk membantu meletakkan piring dengan sebuah permainan sederhana tapi interaktif.

Setiap lima piring bekas pakai itu pelanggan berhak memainkan sebuah game pada layarnya. Pemenangnya berhak mendapatkan hadiah kecil-kecilan bagi yang beruntung memilih tiga gambar yang sama pada layar.

Tidak sampai disitu saja, pada saat akan membayar, mereka pun sudah tau berapa banyak makanan sushi yang sudah kita habiskan dan harus kita bayar dari setiap meja. Restoran ini benar-benar memanjakan pengunjung dari sisi harga, pelayanan, khususnya bagi orang-orang yang buta bahasa dan tulisan Jepang sekalipun.

Hmmm…. asal jangan sampai buta angka juga yach… salah-salah bisa berurusan dengan Koban (polisi) karena kurang bayar lantaran nggak ngerti angka….. Nggak sampe segitunya juga siih…

20131124-195614.jpg

Advertisements

5 Responses to “Kaiten Sushi”

  1. Heehee pertamax ngga yaa? Ciyee oleh2 dari Jepang lagi rupanya niiii, restonya seru, unik, cumaa kepingin taau, cita rasa makanannya gimanaa, enaaak jugaaa yaaa, sayangnya saya bukan penggemar sushi-sushi an, tapii jadi kepingin coba juga gimana rasanya sushi , tengkyuu ceritanyaa

  2. Waahh… sekali muncul topiknya mengenai restoran sushi eeeemmmm jadi laper neh… 🙂
    Sprt restoran dijepang atau dinegara lain menurut aku masyarakatnya sudah terbiasa utk hidup mandiri, mereka membeli tanpa hrs diladenin o/ penjualnya sedangkan disini pembeli adalah raja.
    Yah… Mudah2an kedepannya kita semua tdk mempunyai pemikiran sprt itu lg pembeli adalah raja.
    Ditunggu cerita berikutnya yah :)) sukses terusss…….mas adelays

    • Sekarang, sudah banyak juga tempat makan yang memanfaatkan conveyor belt. Hal yang bagus buat pengunjung restoran sushi adalah dari sisi harganya yang terjangkau, biasanya mahal.

  3. iyah benar sudah banyak bahkan warung makan pinggir jalan saja juga ada yang menggunakan makanan ini.. nyami sushi sushi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: