Kerja Bakti

Hidup terkadang tidak selalu adil dihadapan seseorang. Saya ceritakan kisah seorang  Mahdal, yang kebetulan mengalami batu sandungan dalam perjalanan kariernya.

Senyum masih terlihat di raut wajah Mahdal saat  awal menerima telpon dari koleganya yang berbeda departemen, di seberang telepon.

“Jadi dokumen penilaian kepegawaian saya dikembalikan, mbak ?” Tanya Mahdal meyakinkan. 

“Siapa aja dari 7 orang yang dokumennya dikembalikan ?”, Mahdal menyelidik .

“Oooh, jadi hanya saya. Kalau begitu tolong sampaikan form penilaian saya yang sudah ditandatangani pimpinan ke SDM project, tapi tolong berikan saya copynya”.

Raut mukanya mulai menunjukkan perubahan. Senyum yang tadinya merekah itu kini mulai terlihat datar. Senyum lebar sesaat sebelum menerima telepon yang diselingi candaan ringan, kini lenyap dalam sekejap setelah gagang telepon berwarna hitam pekat diletakkan ke tempatnya.

Percakapan singkat itu memberi arti yang mendalam bagi Mahdal, karena pekerjaannya selama ini menjadi tidak berarti pada ‘rapor’ kepegawaiannya. Project tempatnya bekerja tiada mengalokasikan dirinya didalam struktur, padahal hasilnya atau yudisiumnya “Memuaskan”.

Kerja Bakti (illustrasi) pic taken from google ponpesfauzulmuslimin.blogspot.com

Kerja Bakti (illustrasi) pic taken from google ponpesfauzulmuslimin.blogspot.com

Sementara unit asli tempat ia bernaung yaitu unit atau Departmen Budget tidak pula dapat menyisipkan kontribusi dirinya di struktur penilaian yudisiumnya tidak lebih baik dari penilaian project, yaitu  standard.

Ia kemudian teringat segala jerih payahnya membantu pekerjaannya di project. Sebuah project Rekonsiliasi berskala besar dan multiyears. Memperjuangkan segala sesuatunya sampai lebih dari yang lain demi mencapai Key Performance Indicator (KPI) yang diharapkan.

KPI adalah target nilai rapor Mahdal yang ia miliki di dua tempat, satu di Project, satu lagi di unit asli tempat dia bekerja. Keduanya masih satu perusahaan, namun berada di dua gedung yang berbeda.

Hebat betul Mahdal ini, menjadi manusia super dengan penghasilan single, pikir saya ketika suatu masa dia menceritakannya kepada saya. Di unit asalnya, dia adalah pegawai aktif definitif, sedangkan di projectnya ia berstatus full time member.

Masih belum hilang dalam ingatannya ketika terjadi konflik kepentingan. Ia harus memilih project atau unitnya saat kedua-duanya membutuhkan kehadirannya. Itu pun bukan sekali-dua kali, tetapi puluhan kali.

Dalam lamunannya hal ini sebenarnya sudah disadari oleh Mahdal saat mengemban tugas dari seorang bossnya yang mengamanatkan pekerjaan itu, padahal pekerjaan yang diterimanya bukanlah untuk posisi setingkat manajer, tidak tanggung-tanggung satu level, dua level diatas posisi Mahdal saat itu.

Satu hal positif yang saya tangkap saat berdiskusi dengannya adalah, dirinya selalu mampu mengembangkan pola pikir keseimbangan yang disebut-sebutnya “Yin” dan “Yang”. Dalam perspektif pemikirannya, boss yang memberinya tugas itu diterjemahkan secara “yin” dan “yang” itu.

“Yin”-nya adalah ia dipercaya mampu menjadi penghubung antara dua departemen yang sering berbeda pendapat. Masih dalam kerangka positif, dirinya dianggap memiliki kepemimpinan yang baik dan membutuhkan jam terbang pembuktian untuk membuktikan unsur leadership yang lebih dalam lagi.

“Yang”-nya menurut Mahdal boss nya punya kesibukan yang padat, sehingga kalau dianggap enggan bisa saja ia memilih untuk tidak terlibat proyek yang memiliki tingkat keberhasilan yang belum jelas, apalagi bukan inisiatif internal. Saya hanya melempar senyum ketika dia mengemukakan berbagai pembuktian atas teorinya.

Kerja Bakti (pic taken fr google karikatur kartun indoesia)

Kerja Bakti (pic taken fr google karikatur kartun indoesia)

Saking semangatnya, dia kemudian kembali menceritakan betapa kecewa kontribusinya di Tim tidak tercatat, yang menurutnya dapat terjadi karena :

1.     Relationship

  1. Relationship antara dua entity SDM terhitung biasa-biasa saja untuk tidak mengatakannya renggang, dalam hal ini SDM Project dan SDM unit.
  2. Relationship antara dua entity level atas yang juga biasa-biasa saja, dalam hal ini di project dan di unit sehingga menyebabkan  masyarakat bawah merasakan imbas yang boleh jadi, bias.

2. Sinkronisasi

  1. Belum cukupnya sinkronisasi antar entity baik dari SDM sampai level atas yang merupakan ujung tombak organisasi sehingga yudisium pegawai setiap unit tidak bisa saling update apabila ada pegawai yang multijobs.
  2. Belum diaturnya secara jelas tugas dan tanggung jawab project .
  3. Belum adanya tenggat waktu khusus untuk para staf yang melakukan pekerjaan yang terintegrasi dengan unit lain ataupun multi unit.

3.     TimeLine

  1. Perbedaan Timeline dalam mensubmit ke system aplikasi penilaian . Unit telah lebih dulu, sementara project masih panjang birokrasinya sehingga penyetoran penilaian terjadi ditenggat.
  2. Lambatnya birokrasi di unit in charge.

Sekarang, semua sudah jelas bagi Mahdal. Kontribusinya selama satu tahun belakang ini tidak diakui di dua tempat, alias kerja bakti semata. Ia adalah korban raksasa entity yang mempekerjakannya, memerah setiap butir keringat tanpa penghargaan yang memadai bagi keringatnya.

Keringatnya menjelma menjadi tetesan air yang membuatnya pedih tidak saja di mata, tetapi juga relung hatinya.

Yudisiumnya terkatung-katung seperti pahala ibadah puasa di Laumahfudz yang terombang ambing belum dapat diterima,  lantaran zakatnya belum dibayarkan. Terbelenggu! Tidak masuk, tidak pula kembali kepada pelakunya.

Apa yang dialami Mahdal kemudian saya jadikan bahan renungan, karena hal itu bisa saja terjadi dimana saja terhadap siapa saja.

Advertisements

8 Responses to “Kerja Bakti”

  1. Cerita ini sangat dekat dengan keseharian para pekerja kantoran, terutama pekerja yg sering dianggap punya ‘multi-talenta’ utk menyelesaikan pekerjaan yang spesifik. Betapa rasa kecewa yang begitu dalam yang dialami oleh Sdr. Mahdal juga dapat saya rasakan. Sesaat membuat berpikir jikalau mengalami hal serupa, apakah akan berusaha memperjuangkan kembali apa yang seharusnya sudah menjadi hak kita, atau merelakannya lepas begitu saja krn ada hal2 yang memang tidak bisa kita ubah, suatu pilihan yang sangat sulit. Jika ternyata kondisinya tidak seperti harapan, tetap semangat, pasti banyak hikmah dan pelajaran dibalik pengalaman yang berharga mahal ini.

    • Memperjuangkan kambali sudah terlambat. Raksasa melawan semut ini mengingatkan saya pada Film David vs Goliath atau Cicak vs. Buaya. Semua ada masanya. Roda berputar, kadang diatas terkadang ada dibawah.

  2. semoga Mahdal tidak menjadikan ini batu sandungan untuk kemajuannya… dan semoga ini dapat menjadi bahan renungan buat kita semuanya… TFS 🙂

  3. kerja bakti lingkungan bersi bebas dari penyakit 🙂 terimakasih postingannya

  4. Penafsirannya rumit tapi merupakan “Fakta Nyata” hehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: