Mitos Siak

image

Saat tulisan ini dibuat, masyarakat Indonesia sedang hiruk pikuk merayakan pesta demokrasi yang serempak dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia Rabu 9 April 2014. Sementara yang di luar negeri, sudah lebih dulu dilakukan hari minggu yang lalu.

Saya menulis ini bukan untuk menunjukkan ujung jari kelingking yang berwarna keunguunguan sebagai tanda telah melakukan pemilihan umum legislatif, karena tidak memilihpun juga bisa memberi tanda itu.

Buat saya, euphoria itu masih kalah dengan demam saya atas kunjungan saya ke Kota Pekanbaru yang selama saya berada disana, alhamdulillah cerah, tidak terkepung asap.

Sebelum masuk pada topik posting, saya coba cerita sedikit hal lucu yang dialami, saat salah seorang yg bersama saya dan telah berdinas disana selama lebih dari dua tahun, mengagumi keindahan lagit Pekanbaru. Padahal buat saya, hal itu rata-rata saja seperti di Jakarta.

Sejenak kemudian baru bisa dimengerti, keindahan langit itu adalah barang `mewah` disana, lantaran berminggu-minggu yang lalu Pekanbaru selalu diliputi asap, sampai wabah penyakit ISPA (Infeksi Saluran Akut Pernafasan) membuncah.

Hmmm…ya ya ya….

image

Tidak ada hubungannya dengan hal itu, tetapi mulai masuk ke topik utama. Sehari setelah kunjungan, tidur malam yang belum pernah ketemu dengan kualitas tinggi karena kesibukan-kesibukan kerja, terganggu lagi oleh mimpi buruk.

Waktu sudah menunjukkan pukul 00.05, Kepala yang sudah beralaskan bantal belum genap 5 menit menghuni kasur tiba-tiba seperti diguncang seperti gempa kuat yang mampu membuat badan ini  bergetar.

Seuatu seperti hendak masuk kedalam tubuh, tidak terlihat apapun kecuali hal abstrak berdurasi sekitar 1 menit yang nampak dominan berwarna hitam putih dan kuning berbentuk garis lurus dan lengkung tak berpola.

Kepala ini seperti dipaksakan memakai helm yang kecil dan ditekan dengan keras dan diguncang-guncang, sampai saya berteriak ‘Keluar!, Keluar!” Dan serta merta membaca ayat Kursyi sampai selesai.

Sesaat kemudian saya terbangun, mengucap istighfar, membaca surah Annas dan Alfalaq, meminum segelas air putih dan membaca Alfatihah sebelumnya.

Ketika hal itu menjadi bahan diskusi saya dengan orang-orang terdekat, banyak spekulasi bermunculan.
Ada yang bilang kalau mimpi buruk juga bunga tidur.

Teori ini segera saya sanggah, bunga kok nggak enak, biasanya bunga kan indah dan wangi tapi yang terjadi kali ini bunganya buruk dan tidak sedap, setidaknya membuat kaget.

Sang pengusul teori lincah menjawab, kan ada bunga bangkai rafflesia arnoldi yang bentuknya tak beraturan dan baunya tidak sedap. Mimpimu ini adalah mimpi buruk itu, sanggahnya.
Hahahaahh…. tawa memecah diskusi.

Pendapat kedua, mengungkap kalau saya mungkin belum berdoa sebelum tidur. Pendapat ini pun saya sanggah, karena Doa Bismikallahumma ahya wa bismika amuut , telah membingkai tidur saya yang kelelahan karena perjalanan saya ke Pekanbaru sebelumnya.

Pendapat ketiga, mengungkap adanya Mitos Siak.  Pengungkap teori ini menceritakan angkernya Sungai Siak yang membelah kota Pekanbaru lantaran tayangan Dunia Lain di salah satu televisi swasta di Indonesia, Trans7.

Sungai Siak adalah salah satu sungai terdalam di Indonesia, yang dapat dilayari kapal-kapal besar seperti kapal tangker. Panjangnya lebih dari 500 km, dan memiliki lebar 100 – 150 m.

image

Tidak hanya itu, sungai ini memiliki bahaya yang cukup perlu diwaspadai terutama ketika muncul pusaran air tiba-tiba yang kekuatannya dapat menenggelamkan perahu.

Terlebih lagi ada mitos yang beredar bahwa ketika pusaran air Sungai Siak menenggelamkan korbannya muncul penampakan buaya putih di sekitar pusaran tersebut. Keangkerannya membawa sebuah petunjuk akan betapa banyaknya makluk-makhluk halus yang mengganggu manusia.

Wallahu A’lam bissawab.

Saya kemudian bertanya apa hubungannya mitos itu dengan saya, jawabannya makhluk-makhluk itu ada yang ikut pulang bersama dan mengganggu saya kemudian hari.

Freeze…

Pikiran ini melayang sejenak… pikiran ini kemudian melayang pada ikutnya makhluk itu pada penerbangan saya yang biayanya tentu tidak murah, saya membayar sejumlah uang sementara ‘ia’ dengan enaknya nebeng saya sampai Jakarta.

Tawa saya kemudian meledak kembali membayangkan penerbangan gratis yang dilakukannya…. hahahahaaa…..

Audzubillahiminasysyaitonirrojiim…
Saya berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk…..

Hmmm dibandingkan dengan mitos yg menyeramkan seperti itu, secara pribadi saya lebih setuju dengan pendapat adik saya bahwa mitos Siak Inderapura -nama lengkap sungai yang diambil dari sebuah kerajaan Siak Inderapura yg juga masih dicari kebenarannya- adalah barang siapa meminum air Siak, niscaya ia akan kembali suatu saat nanti.Entah untuk urusan kantor, kunjungan pariwisata, atau bisnis lainnya.

Hmmmm… benarkah?

Advertisements

3 Responses to “Mitos Siak”

  1. Hehehehehe….ceritanya lucu serem” enak tuh 🙂 yah percaya atau tdk, tapi kita hrs percaya bahwa mahluk kasat mata itu ada mas. Tapi kalo mas adelays sampe balik lg kesana apalagi tinggal disana, nanti blognya semua isinya uka-uka deh :)) sukses terus yah mas semua isi blognya….caaayyyooooo

  2. Mudah-mudahan nggak sampe ke situ yah emerald. hehehe….

  3. saya malah baru denger mitos ini hehe
    tapi saya sendiri percaya kalau makhluk halus itu benar adanya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: