Den Haag, Sepenggal Kharisma Magistrat

image

Waktu pada jam tangan saya , menunjukkan pukul sembilan pagi. Hari Jum’at, 5 Desember 2014. Baru saja saya berpisah dengan Dila, sahabat saya di Negeri Belanda yang baik hati menemani perjalananan saya di kota hukum ini. Ia bersama rekan-rekan mahasiswa Indonesia  setia menemani dan memberi arahan petunjuk tempat-tempat bersejarah di Den Haag, Netherland (Dilla , Dani & Firdhan cs. Thanks berat atas hospitalitynya) .
image

Saya sendiri begitu menikmati suasana didepan Willemspark, sebuah taman yang indah yang sangat nyaman untuk memandang salah satu sudut kota ini. Menikmati pagi di depan danau dan ditemani kicauan burung-burung yang sedang mencari makan.
image

image

Matahari yang mulai bersinar, sedikit menghangatkan suhu udara yang masih mendekati titik beku yang sudah saya antisipasi dengan pakaian yang tebal, penutup kepala serta telinga untuk menambah kehangatan tubuh ini.

Tiada beban rasanya mengunjungi kota yang menjadi bagian dari sejarah kelam bagi Indonesia dimasa lalu. Saya cukup bersemangat untuk merekomendasikan kota yang baru saya datangi pertama kali ini.

Sebagaimana kota-kota di Jawa seperti Jogjakarta, Disini bersepeda merupakan hal yang jamak. Sepertinya bersepeda merupakan simbol penyatuan warga. Bersepeda lah yang membuat perbedaan warna kulit, ke sukuan, agama, ras dan antar golongan menjadi kabur tak berbekas.

image

Vreidespalais

Kalau ada kesempatan mengunjungi tempat yang dianggap çool yang penuh  penuh kedamaian seperti yang dimaksud diatas itu, boleh jadi datanglah ke Vredespaleis, atau Istana Perdamaian .
image

Di tanah ini, terbangun kota yang kemudian menjadi cikal bakal aturan hukum Indonesia di masa lalu, Den Haag, Negeri Belanda.

Saat ini pun aturan hukum Indonesia masih banyak yang mengacu kepada kitab hukum Belanda dimasa lalu. Tidak heran, karena kita memang pernah dijajah Belanda selama 3.5 abad.

image

Mungkin kalau bukan magistrat / ahli hukum di abad ke 16 Hugo de Groot, rasanya belum tentu ada orang lain yang membuat fondasi hukum semesta yang kemudian menjadikan Belanda menjadi ikon tata hukum dunia termasuk ke Indonesia.

Mengenal lebih jauh dari sebuah sumber, ternyata kota ini juga dijuluki : ‘Widow from Hindie‘ yang berarti Janda dari Hindia Belanda. Sejarah penyebutannya berawal karena banyak pendatang dari Indonesia yang pergi ke Den Haag karena menghindari masalah politik atau pajak zaman kolonial.

Willemspark

Kharisma Den Haag sebenarnya tidak sendirian didominasi oleh Vreidespaleis, karena di sebelah timur gedung bersejarah tersebut berdiri icon Den Haag lainnya. Seperti halnya Jakarta yang memiliki Monumen Nasional di Jakarta Pusat, taman di Den Haag juga memiliki bentangan area yang khas.

Ke Den Haag ini saya sengaja mampir ke Willemspark, taman itu disebutnya. Ditengah bentangan oval taman ini, berdiri sebuah monumen Plein 1813.

image

Saya menatap dengan mesin waktu dan terbang ke tahun 1863, saat berakhirnya pendudukan Napoleon Bonaparte di tahun itu.

Terbayanglah suka citanya masyarakat Belanda saat itu, menyambut kembalinya William I sang raja dari pengasingan. Inilah saat-saat yang dikenang oleh Bangsa Belanda merdeka dari tangan Perancis. Itulah sebabnya taman ini disebut dan dinamai Willemspark.

Belanda bagi saya,  memiliki dua hal yang terngiang dalam kepala. Pertama, sebagai negeri Sepakbola yang hebat. Dan  yang ke dua adalah negeri sejarah dengan beragam suka dukanya, termasuk penjajahan dan segala keputusan internasionalnya bagi Indonesia.

Rasa nasionalisme dan patriotisme untuk mengangkat derajat bangsa seperti mereka, kemudian membangkitkan gairah saya untuk berdiri dari duka koloni penjajahan Belanda walaupun saya tidak mengalaminya secara langsung.
image

Namun siapa sangka, ternyata Istana Perdamaian ini pada akhirnya tidak meninggalkan kenangan manis yang sesungguhnya. Walaupun sejarah sempat berpihak kepada Indonesia saat perundingan ‘Konferensi Meja Bundar’ yang merupakan saat-saat bersejarah penyerahan Indonesia dari Negeri Belanda.

Tempat ini kemudian membawa kisah pahit lagi, lantaran sejarah kembali menyalak dari Vredespalais. Mahkamah Internasional, menorehkan sejarah dengan memutuskan kepulauan Sipadan-Ligitan dihapuskan dari peta Republik Indonesia beberapa tahun yang lalu.

Den Haag tetap memiliki kharisma magis sekaligus magistraat bagi saya.

http://adelays.com

Advertisements

4 Responses to “Den Haag, Sepenggal Kharisma Magistrat”

  1. Ďen haag kota yang manis dan tenang yaa dan berkesan damai dan bersahabat, jauh dari hiruk pikuk dan kebisingan kota mana pula banyak bangunan bersejarah yang berdiri megah dan anggun…..

  2. Sejujurnya, foto dan ketikan mas adelays yang di posting ini sangat mengesankan. Membaca tulisan mas menceritakan tentang sejarah penjajahan Belanda atas Indonesia memang benar2 masa lalu yang pantas jadi pelajaran untuk generasi muda.

    Foto bangunan-bangunannya sangat klasik. Oh ya, memang tulisan Melayu/Indonesia itu ditulis sama di lantai seperti peace/keamanan, damai dan lainnya atau sengaja menuliskannnya?

    Saya suka foto Dee Haag @ 7.30 pagi itu. Tampak hening suasana paginya. Warna ungu/indigo pada bangunan itu karena pantulannya kan ?

    Teman-teman mas di sana tentu sangat gembira menyambut kedatangan mas dan pastinya banyak tempat bersejarah dikunjungi bila ada yang menunjukkan jalannya ya….

    Boleh tau apakah memang memilih tempat tersebut atau hanya kebetulan sampai di sana ?

    Terus menulis mas. Dan salut buatmu, mas Adelays.

    • Terima kasih Khusnul . TUlisan itu (peace / Keamanan) adalah memang apa adanya diatas lantai. Dan ditulis dalam berbagai bahasa. Saya ke Den Haag memang sengaja, karena bermaksud mengambil barang/ koper yang saya titipkan pada rekan2 saya yang baik disana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: