Hidup yang Singkat

Waktu telah menunjukkan pukul delapan malam, saat tahlilan ba’da Isya itu dimulai. Udara cerah dan baik membuat langit di kota Depok itu sangat bersahabat untuk mendatangkan puluhan jema’ah Masjid ke rumah Almarhum Bapak Soeprapto.

Undangan telah disampaikan secara lisan  dari sohibul bait kepada pengurus masjid siang harinya, untuk datang dan mengenang meninggalnya  40 hari yang lalu. Secara tradisi, tahlilan 40 hari atas meninggalnya saudara kami ini diperingati sebagai bagian untuk  memperingati dan mendoakan agar beliau diterima di sisi Allah SWT, di ampunkan kesalahan-kesalahannya dan dilapangkan kuburnya.

Saya tenggelam dalam bacaan Surat Yasin secara bersama-sama,   yang biasa dibacakan untuk mengenang orang yang meninggal dunia. Berbagai situasi cara membaca surat ini tidak luput menjadi perhatian. Mulai dengan alqur’an besar, alquran kecil yang disiapkan khusus untuk tahlilan, bahkan ada juga yang sudah hafal diluar kepala. Saya sendiri tetap -seperti biasa- mengandalkan gadget dengan aplikasi Alqur’an dibacaan surat ini.

Lebih dari sekedar cara membacanya yang sempat terekam dalam benak ini, sebenarnya berbagai hikmah yang dikandung ketika hadir dalam tahlilan itu kembali mengingatkan saya akan hidup ini. Betapapun hidup ini telah berlalu, nyatanya kini kita telah berada pada suatu titik, di hari ini, jam ini, menit ini dan detik ini yang tanpa disadari kita telah hidup puluhan tahun yang lalu.

Melampau masa-masa bayi yang buaian orang tua tidak pernah kita ingat kecuali melihatnya dalam sebuah rekam jejak foto, masa kanak-kanak yang penuh keceriaan bermain dengan luasnya cara pandang tentang dunia yang menyenangkan dari kacamata anak-anak. Tumbuh remaja menjadi seorang yang dewasa, menjadi mapan sebagai seorang dewasa dan seterusnya,  yang akhirnya mengantarkan kita saat ini. Saat membaca tulisan ini.

Betapa hidup ini ternyata telah dilalui dengan begitu cepat. Otak kita bahkan hanya sanggup mengenangnya sebagai bagian masa lalu, seolah-olah baru saja berlalu kemarin. Bahkan bagian masa lalu itu seolah baru saja berlalu beberapa detik yang lalu, betapapun jauhnya masa lalu itu, lima tahun yang lalu, sepuluh, duapuluh dan seterusnya.

Sejarah makhluk hidup nyatanya telah berlangsung berabad-abad yang lalu, beribu-ribu tahun yang lalu, mungkin berjuta-juta tahun yang lalu. Ternyata kita hanyalah hidup di sebagian kecil stereotip waktu di bumi Allah yang pun itu masih sementara, dan ternyata pun itu sebentar.

Masih dalam rentang waktu yang sama, dalam bacaan surat Yasin dalam genggaman, sesaat  pikiran ini melayang pada sebuah profil message dari seorang teman dalam Blackberry Messengernya :

“Jangan Khawatirkan Rezekimu, Karena Allah Sudah Menjaminnya untuk yang Hidup. Khawatirkan Amalanmu karena Allah tidak Menjamin Masuk Surga”.

Sang mati , dan semua yang telah meninggalkan dunia -yang ternyata sebentar itu-,  hanya berhak atas tiga “royalti” reward ketika sudah tiada. Royalti amalan itu masih akan terus menambah pundi-pundi pahalanya ketika sudah tiada :

  1. Amal Jariyah yang Ia Lakukan di dunia.
  2. Ilmu yang Bermanfaat.
  3. Doa dari Anak yang Sholeh.

Tanpa itu, manusia mati hanya bongkahan mayat yang kemudian tinggal tulang . Tidak melawan ketika dipukul, tidak marah ketika dihina, tidak malu ketika tak berbusana, tidak bergeming ketika diganggu, tidak dapat lagi melakukan tindakan apapun. Tidak dapat lagi berbuat baik untuk sesama, tidak dapat beramal ketika punya uang banyak walaupun ikhlas se ikhlas-ikhlasnya, dan tidak dapat melakukan tindakan korektif apapun untuk memperbaiki hidupnya lagi.

Yang masih hidup di dunia ini,

yang masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri,

-yang nyatanya- hidup ini hanya sebentar.

Bacaan Yasin itu mendekati selesai. Surat yang selalu dibacakan dalam tahlilan pun akhirnya menemui akhir nya di ayat ke 83 yang saya baca. Yang hidup masih punya waktu, pada hidup yang nyatanya singkat ini.

Advertisements

5 Responses to “Hidup yang Singkat”

  1. Bener banget mas adelays hidup ini singkat dan harus dimanfaatkan dgn sungguh” utk beribadah dan beramal, krn kita hidup didunia ini sebentar banget yg kekal dan abadi hanya diakhirat nanti. Mudah”an diakhir hidup kita tergolong kedlm org” yg khusnul khotimah Aamiin YRA

  2. yang masih hidup di dunia ini, yang masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri… dan berbuat baik sebanyak-banyaknya…

  3. semoga kita bisa memanfaatkan waktu yag ada ya

  4. yang paling dekat dg kita sesungguhnya adalah kematian ya, mas. Yuk skrg kita perbanyak amalan untuk menambah bekal kita nanti setelah mati

  5. Refleksi pada diri saya juga, Adelays…trima kasih sudah diingatkan kembali bahwa hidup itu memang sekedar ‘numpang lewat’, yang abadi hanyalah Da, Sang Pemilik Kehidupan itu sendiri…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: