Menyalip di Tikungan

image

Sumber.: Google

GP Qatar menampilkan Valentino Rossi sebagai juara dalam perhelatan perdana MotoGP tahun 2015. Walaupun tenaga motor Yamaha tunggangannya terlihat kurang kompetitif dibandingkan Ducati saat berada di trek lurus, Rossi sangat mumpuni di tikungan. Aksi overtake Rossi di tikungan merupakan kelihaian yang menjadi daya tarik MotoGP, karena selalu dilakukan dengan bersih, dan aman serta tidak pernah sekalipun mencelakai lawan.

image

Sumber Google

Menyalip di tikungan dalam sebuah perlombaan balap adalah hal yang lumrah dilakukan. Aksi membalap dan saling salip-menyalip sah-sah saja asal  baik dan tidak melanggar aturan balap yang diatur oleh Dorna, pelaksana pertandingan motoGP dunia. Semua dilakukan karena perspektif mengejar keunggulan terbaik dan sportif, dan berkelas.

image

Sumber: Google

Rekan saya Andi Syahputra yang kebetulan bertemu di area parkir ketika datang ke kantor menceritakan hal yang sama terkait keahlian Rossi memotong di tikungan. Ia mengidolakan pembalap dengan sebutan VR46 itu.

Ketika bercerita, ia menambahkan kisah menyalip di tikungan Rossi itu dengan saat perjalanannya ke kantor. Laju motornya dipotong di tikungan tepat sebelum berbelok ke kantor, sehingga ia terpaksa mengerem mendadak sampai hampir jatuh.

Aksi menyalip dan memotong ditikungan yang diceritakan Andi tentu berbeda dengan balapan, karena di luar aksi balapan, urusan potong memotong  sangat membahayakan bagi pengandara lainnya. Balapan bukan di arena balap dapat berakibat fatal tidak saja bagi kedua pihak yang terlibat, tetapi juga orang lain yang berada di sekitar tempat kejadian.

Rekan saya Andi menyambung kisah menyalip di tikungan dengan pengalaman pribadinya dengan sahabat dan teman-temannya. Tetapi Menyalip di tikungan yang dimaksudnya kali ini lebih tepat disebut  “menelikung”. Sebuah kegiatan yang pengertiannya hampir sama namun merupakan bahasa ironi untuk ter’begal’nya sebuah kepercayaan.

Menelikung yang dilakukan oleh orang-orang dekatnya ini terjadi di lingkungan didekat rumahnya oleh sahabat-sahabat yang dipercayainya sendiri, oleh orang-orang yang dikenalnya baik selama ini, oleh orang-orang yang selama ini tidak pernah disakiti hatinya baik lahir maupun bathin, oleh orang yang selama ini selalu bersama-sama dengannya, orang-orang yang setiap hari diluangkan waktu nya bersama-sama dengannya, oleh orang-orang yang dekat rumah didalam hatinya.

Andi yang saya kenal adalah seorang yang sangat santun dalam bertutur kata, maupun bertindak. Senyum yang ditunjukkannya saat bertemu terlihat mengandung kegetiran yang terpancar dari raut mukanya lantaran telikungan sahabat yang selama ini tidak dikhawatirkannya.

Saya yang berempati memahami pengalaman Andi mencoba meramaikan hatinya dengan berbasa basi menawarkan bantuan. Ia hanya tersenyum dan mengatakan: “Terima kasih, tidak perlu”. Baginya,  menelikung ini justru disikapinya secara positif yang diterjemahkan sebagai petunjuk, seperti apa seusungguhnya kualitas kawan-kawan yang berada disekitarnya.

Baginya,  seorang sahabat sejati, orang yang memiliki ‘kelas’ persahabatan seperti “saudara” ,  pasti tidak akan sanggup mencelakai hati sahabatnya, rekannya atau orang-orang yang berada dalam ring satu kehidupannya.

image

Sumber Google

Baginya nyata, bahwa hikmah telikung-menelikung yang ditunjukkan kepadanya adalah petunjuk untuk menunjukkan siapa sahabat sejati yang sesungguhnya. Bukan sahabat semu yang tampak akrab dalam pergaulan sehari-hari, tapi bertopengkan kepalsuan pangkat dan jabatan.

Ia pun menutup obrolan kecil kami dengan satu referensi sahabat ideal versi Andi dengan mengutip AlAshr ayat ketiga. “Watawa shaubil Haq, Watawa saubishshobr”. Sahabat yg baik adalah sahabat yang mampu mengingatkan dalam kebenaran /kebaikan dan saling mengingatkan dalam kesabaran.

Thanks Andi…..

Advertisements

6 Responses to “Menyalip di Tikungan”

  1. Wah cerita di arena balap motor bisa berkaitan dengan kehidupan pribadi, saya salut dengan teman Adelays yang masih bisa mengambil hikmah dari semua perbuatan tidak baik org lain-yg adalah sahabatnya sendiri- terhadap dirinya sebagai sebuah peringatan untuk melihat mana yang benar tulus menjaga sebuah persahabatan.

  2. persahabatan harus di jaga jangan di nodai dengan kebohongan ya apalagi sampai menelikung

  3. Mas Adelays, bagus ceritanya.. Terlebih moral story-nya. Watawa shaubil haq, watawa saubishobr. Mudah-mudahan kita digolongkan sbg bagian dr sahabat yt demikian yaa.. Amiin ya Rabb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: