Le Grande Mosquee De Paris

Mencapai lokasi Grande Mosquee de Paris, baik dari stasiun subway Place Monge atau stasiun subway Cansier-Doubenton, kurang lebih sama jaraknya. Dengan peta atau Global Positioning System (GPS) digenggaman saya, jika ditarik garis lurus ketiga titik itu, mirip segitiga sama sisi. Waktu tempuhnya sekitar limabelas menit dengan berjalan kaki menurut perkiraan.

Dibawah langit mendung diselingi kelap kelip bintang gemintang yang mulai redup, saya menyusuri jalan menuju Rue de Coutrefages, untuk sebuah misi yang mungkin tidak terpikirkan banyak orang ketika pertama kali menginjak Perancis, untuk berjamaah Subuh disebuah situs masjid terbesar di kota yang terkenal dengan ikon menara Eiffelnya.

www.adelays.com

Screen Shot 2015-08-23 at 10.28.21 PM

Agak nervous sebenarnya, menyusuri daerah yang asing dan baru sekali saya kunjungi, pada pagi-pagi buta. Toko-toko dan bar di sekitar Place Monge yang lebih dekat dengan hotel tempat saya menginap, baru saja tertidur lelap. Sebagian kota ini mulai mendengkur, walaupun sejauh kaki ini melangkah masih ada satu dua toko di pinggiran jalan sedang berbenah untuk tutup.

image

Sambil menyusuri jalan yang sepi ditemani lolongan anjing, kami mengingat-ingat situs-situs terkenal yang tersebar di seantero kota yang dikenal dengan julukan City of Lights . Saya berjalan ditemani rekan saya, seorang laki-laki yang bersama-sama berangkat dari Jakarta.

Sepanjang perjalanan kami berbincang membandingkan situs ini dengan situs-situs lainnya seperti Muuse de Louvre, museum pusat yang terkenal sejagat dengan lukisan Monalisa nya, Ada juga Cathedrale Notre-Dame sebuah gereja tersohor tempat dinobatkannya Napoleon Bonaparte, seorang Jenderal perang terbesar sebagai Kaisar. Kami sepakat, mungkin Grande Mosque ini belumlah “apa-apa”terkenalnya, apa lagi jika dibandingkan dengan Menara Eiffel atau Arc de Triumph yang legendaris.

Seorang bersepeda terlihat memarkirkan kendaraannya memasuki gerbang besar kompleks bangunan Masjid. “Assalamualaikum”, sapa seorang dari balik kegelapan ketika kami sampai. Pintu kayu besar dan megah yang merupakan bagian dari komplek bangunan yang sepintas menyerupai puri ini, memang tidak terlalu akrab dengan penerangan. Ia kemudian menunjukkan arah ke bangunan utama masjid, sebelum saya menjawab salamnya.

Waktu belum genap menunjukkan pukul 6.30 pagi, adzan subuh masih belum berkumandang, sang surya pun belum menampakkan cahayanya. Jam buka paling awal dari situs resminya: http://www.mosqueedeparis.net adalah baru akan dibuka jam 11.00 siang untuk kunjungan. Tetapi untuk sholat subuh, secara khusus gerbang dibuka pukul 6.30 untuk melakukan sholat berjamaah itu.

image

Berbeda dengan di negara kita yang malam dan siangnya relatif sama, musim dingin di Eropa memang lebih banyak malamnya jika dibandingkan siang, dan waktu pukul 6.30 di Paris ini , sama gelapnya dengan pagi-pagi buta dini hari di Jakarta. Mentari baru akan mengintip menerangi bumi diatas pukul 7 pagi.

Saya lebih dulu menuju tempat wudhu yang terletak di belakang kompleks bersama dua orang muslim lainnya yang datang bersamaan, sementara rekan saya langsung menuju masjid untuk duduk sambil menunggu masuknya waktu subuh.

Screenshot_2014-11-30-05-27-06

image

Jama’ah yang hadir memang tidak penuh mengisi seluruh ruangan. Kondisinya kurang lebih mirip seperti waktu-waktu subuh di beberapa masjid di Jakarta. Dapat mengisi lebih dari 4 shaf di masjid ini, tetap saja di luar dugaan saya, karena ini adalah masjid di tengah-tengah gemerlapnya kota mode papan atas dunia, bernama Paris.

Setelah menggenapkan cita-cita berjama’ah yang akhirnya terlaksana, sebenarnya kami berencana berkeliling sekitar kompleks yang menurut sejarah telah dibangun sejak tahun 1926 ini.
image
image

Sayangnya, bangunan yang dibangun atas prakarsa masyarakat muslim sebagai penghormatan atas pejuang-pejuang muslim di Perancis yang ikut berpartisipasi dalam Perang Dunia (PD) pertama, masih gelap gulita.

Bagian taman, dan sekitarnya yang pernah menjadi kolam sebagai ciri-ciri masjid di Timur Tengah dan Afrika Utara terutama tempo dulu, belum dapat menampakkan daya tariknya.

Setidaknya, saya ikut mengagumi semangat perjuangan kaum muslim yang ikut membantu dalam perjuangan di Perang Dunia (PD) II. Umat Islam di Paris kembali berperan dalam menyembunykan dan menyelamatkan pembantaian suatu ras yang hendak diberangus oleh tentara Nazi saat itu. Bangunan ini kembali menjadi saksi sejarah yang cukup penting dalam sejarah umat manusia.

image

Walaupun, Ia (masjid ini) memang bukanlah “tandingan” Masjidil Haram di Kota Makkah yang mana orang sholat disana pahalanya berlipat 100 ribu kali dibandingkan masjid-masjid lain di dunia ini.

Ia juga bukan Masjid di Kota Madinah yang pahalanya jika sholat disana diberikan ganjaran 10 ribu kali seperti riwayat hadist. Tapi tetap saja saya dan rekan saya ini memiliki kebanggaan tersendiri pernah sholat di Masjid yang syarat sejarah.

Selain komplek Grande Mosquee yang terbilang cukup tua itu, memang bukan saingan jika disejajarkan dengan sejarah kuno lokal lainnya, tapi masjid yang letaknya kurang lebih 2 km di tenggara Muuse du Louvre, atau 4 km dari Eiffel Tower, Paris tetaplah menarik perhatian dan menjadi kunjugan wisatawan dari berbagai Negara.

Perancis, diluar dugaan saya ternyata telah disirami cahaya keIslaman jauh sejak sebelum didirikannya monument masjid ini. Napoleon sang raja, menurut beberapa sumber sejarah, telah memeluk agama Islam walaupun kebenarannya masih dipedebatkan oleh banyak kalangan.

image

Ditulis oleh Eramuslim,com, salah satu referensi, Napoleon disebut dalam harian resmi Prancis, Le Moniteur Universel (terbit dalam kurun 1789-1868) Napoleon memeluk Islam tahun 1798 atau 23 tahun sebelum kematiannya. Pengantar lainnya adalah media Genuine Singapore tahun 1936, yang menuliskan bahwa Napoleon mengagumi Islam dan memeluk agama Islam sebelum meninggal.

Selain itu, buku sekaligus film “99 Cahaya di Langit Eropa” juga menceritakan ide Napoleon dalam meletakkan bangunan-bangunan bersejarahnya dalam satu garis lurus ke arah timur dimana Ka’bah berada.

https://youtu.be/8j81Uv6pX5o

Klik ke gambar diatas, atau ke alamat ini : https://youtu.be/8j81Uv6pX5o

Dimulai dari Gerbang Kemenangan atau bangunan Arc de Triomphe yang mengarah ke timur. Champ Elysees menunjuk ke arah Obelisk Monument, Museum Louvre, dan terakhir adalah Arc de Triomphe du Carrousel yang diatasnya terdapat symbol patung prajurit dengan kereta kudanya. Semuanya berada satu garis yang benar benar lurus menunjuk ke timur yang jika ditarik garisnya akan mengarah ke Ka’bah. Film itu menceritakan ide Napoleon setelah sang kaisar melakukan ekspansi ke Mesir.

Sejarah menuliskan bahwa kedatangan Napoleon dari Perancis ke Mesir melalui Alexandria, membawa pasukan militer dan juga sipil dengan misi khusus. Ia membawa misi ilmiah dengan 167 orang ilmuwan yang terdiri dari 4 bidang utama yaitu:

  1. Ilmu pasti,
  2. Ilmu alam,
  3. Ilmu ekonomi politik, dan
  4. Seni sastra yang disebut dengan Institute d’Egypte.

Kegagalan Napoleon menguasai secara penuh Mesir berakibat Perancis harus berhadapan dengan kekuatan Inggris sebanyak dua kali. Keduanya gagal beruntun sampai pada akhirnya mengakhiri kariernya sebagai Kaisar Perancis.

Obrolan kami saat kembali dari Grande Mosque ini, menjadi napak tilas sekaligus mengingatkan kembali tentang cahaya keIslaman yang ada di Perancis bahkan jauh sebelum perang dunia pertama meletus. Mungkin saja penaklukan Mesir membawa hikmah lain yang diperoleh dari Institute d’Egypte, dilanjutkan PD I dan PD II menjadikan Paris memiliki  Grande Mosquee , sebagai monumen yang tidak kalah besarnya.

Advertisements

3 Responses to “Le Grande Mosquee De Paris”

  1. Subhanalloh…. Adelays berkesempatan mendirikan sholat subuh di Le Grande mosque Paris, pasti menjadi pengalaman hidup yang sangat berkesan yaa. Tuisannya juga sangat menginspirasi 🙂

  2. Wah… rupanya mas adelays ini ingin membuktikan langsung tempat” yg ada didlm film “99 cahaya dilangit eropa” hehehe…
    Foto” perjalanan dokumentasi diparis keren” bingit tuh mas adelays…
    Teteup diupdate yah mas adelays utk next tripnya…
    keren&sukses

  3. baru lihat di postingan & film aja belum pernah berkunjung ke masjidnya:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: