Archive by Author

Amazing Klingking Beach

@ Klingking Beach Nusa Penida, Bali

Ngga pake banyak kata-kata, karena nggak bisa berkata-kata. Ini pantai indah banget. Bagi yang baru kali ini melihatnya, betul-betul baru kali ini ya.. bukan yg baru lihat dengan mata kepala sendiri tapi udah pernah lihat dari medsos… Bener-bener keindahan alam Indonesia di Nusa Penida ini bikin berdecak kagum…

Pikiran yang terlintas tuh bisa kaya gini :
Kok bisa ya ada pantai terbentuk seperti ini , kelingking. Kalau menurut saya sih.. bukan mirip kelingking, tapi tangan dan jempol.

Trus… gimana ya bisa bikin alam kaya gini amazingnya… FYI, kita berada di ketinggian , sambil melihat kebawah.. ternyata yang dipantai dan dibawah itu ada orang yang kelihatan kecil banget… berarti ini komposisinya jauh dari pandangan kita. Kecillll banget rasanya sayah berada dihadapan yang menciptakan “lukisan alam ini”.


Foto itu diambil dari tebing yang tidak lebar dari salah satu spot paling bagus, dengan kamera GoPro Hero5 yang sebenernya lebih tepat dan lebih bagus kalau dipakai untuk action cam.

Bibir ini bertasbih, bertahmid sambil melangkah kembali menuju mobil untuk menikmati keindahan alam Nusa Penida Lainnya.

Angel Billabong

– at Nusa Penida

BALI

BNI46, Mari Pulang

Menikmati keanggunan gedung ini….
Sesaat sebelum pulang … – at BNI 46

View on Path

What a Secret Life

Yang pernah liat “The Secret Life of Pets (2016)” movie, pasti tau…

Betapa bahagianya “pesta” saat tuannya pergi meninggalkan mereka untuk berkerja…

Once upon a time…
Di ruangan ini….
Justru kebalikannya..

Long weekend 3 hari, menenteramkan mereka dalam dehidrasi berkepanjangan…

Jangankan air sebagai syarat kehidupan….

Pendingin ruangan dan sinar matahari pun menjadi benda mahal yang teramat mewah…

Menjeritpun tiada yang tahu…
Berteriakpun tiada yang mendengar…

Jerih payahnya bertahan…
adalah berhibernasi menunggu,
Sampai ada setetes air dari sesiapa yang memperhatikan.

What a secret life …
😔😔😔 – at Work on long weekend holiday

Menggapai Berkah

Mungkin dia lelah….
Mencari nafkah..
Beratap langit…
Beralas tanah …

Semoga usaha & lelahmu …
Tak hanya mencapai hasil …
Tapi menuai manfaat …
Lebih dari itu berkah …

#thesoulofspeaking
#hasilmanfaat
#manfaatberkah

Packpoint & Loungebuddy

Sambil menunggu penumpang yang lain boarding dan memasukkan barang bawaannya di dalam kompartemen didalam pesawat Airbus A330 300 Garuda Indonesia GA409 Denpasar-Jakarta, satu postingan lagi deh.
Mudah-mudahan bermanfaat .. 😊.

Yang suka bepergian, boleh coba salah satu dari dua aplikasi ini. Dua2nya juga OK, khususnya pengguna setia android yang pemakainya paling banyak. Untuk yang loyal dengan Apple boleh dicoba juga, mudah2an ada.

Lumayan buat mengasistensi rencana travelling kita ke berbagai tempat.
1. Packpoint.
2. Loungebuddy.

Recommended dan selamat mencoba. – at Ngurah Rai International Airport (DPS).

Koper, Ransel, lalu Apalagi ?

Sambil menunggu boarding dan “mencicipi” kemegahan Terminal 3 Ultimate Bandar Udara Sukarno Hatta yang baru. bolehlah posting sedikiiit aja tentang tas bawaan para pelancong yang melintas di depan rana mata dari kacamata paket bawaan mereka.

Pecinta koper,
biasanya mewakili traveler yang mengutamakan kemapanan berkemas, terkesan lebih rapi. Ada sebagian pencinta koper beranggapan, saat-saat terbaik menggunakan ransel sudah lewat dan paling pas jaman sekolah / kuliah dulu.

“Supporter” ransel,
mewakili pejalan yang praktis, siap mau dibawa kepantai ataupun gunung. Tampilannya lebih terlihat kasual.

Bagi saya,
kedua-keduanya terpilih. Ditambah balutan sepatu “Rockport” untuk memanjakan kaki yang handal di dua ‘alam’ : formil dan semi santai.

Karena,
alasnya dipadu karet empuk casual sport yang nyaman, hasil “kawin silang” dengan adidaya pabrikan Adidas yang telah teruji dua tahun diajak menjejaki tujuan domestik dan mancanegara, namun masih tetap saja fit sampai hari ini.

Betul,
karena perjalananan saya kali ini bukan hendak pelesir, melainkan dinas, maka selain persiapan pakaian, sepatu pun harus siap dengan kondisi: SIAGA atau tetap FUN untuk jalan.

So, let’s go: Ransel, Koper dan Rockport, kita boarding ! – with Putu Agus Arthaman at Ultimate T3 Soekarno-Hatta Int’l Airport

Soul… oh Soul

Suatu hari, datanglah seorang pembeli yang meminta disajikan makanan yang sama dengan apa yg saya makan, lantaran ia melihat betapa nikmatnya makanan yang sedang disantap. Ia tidak menyebutkan lagi makanan apa yang ingin dipesannya, yang penting sama. Lebih dari itu, ia langsung memesan dua porsi termasuk satu bungkus lagi untuk dibawa pulang, seraya berkata “Pasti enak nih makanannya, mas aja lahap makannya”.

Ketahuilah, bahwa apa yang ia lihat itu sesungguhnya adalah karena ia melihat saya begitu menjiwai “rasa” pada makanan yang disantap, sekaligus berhasil memberikan “jiwa” pada cara menyantap makanan, sehingga orang lain menjadi terbawa situasi bahkan terinspirasi ingin ikut memakannya.

Sesaat setelah makanan yang disajikan itu dicicipinya, ia tidak menduga makanannya ternyata tidak selezat yang ia bayangkan. Betapapun tinggi harapan Ia lupa, bahwa kelezatan makanan yang sesungguhya terletak pada makanan itu, bukan pada cara orang lain menyantapnya. “Jiwa” yang masuk pada cara makan, ternyata telah menjadikan sebuah peran menjadi lebih hidup.image

Jika pembeli makanan kedua lebih jeli untuk merasakan dulu dengan memesan satu porsi saja, penghayatan peran ini tidak menjadi kisah memilukan, meninggalkan makanan berupa pesanan lebih sertaporsi bungkus untuk dibawa pulang, yang semua ia tinggalkan karena kesal seperti orang patah hati.

Itulah dahsyatnya soul atau rasa yang berhasil ditransfer kepada lawan bicara, audience, atau orang lain. Pengaruhnya dapat menyebabkan penonton dapat menangis tersedu-sedu atau bahkan tertawa terbahak2 padahal pemirsa tahu ini rekayasa belaka ketika menonton pertunjukan.

Di dalam Soul of Speaking (SoS) Institute, menekankan rasa / soul kedalam sebuah aktivitas -utamanya speaking– adalah azas yang wajib dijunjung tinggi.

wp-1463157784539.jpeg

Betapapun pahitnya rasa yang kita alami, namun proses rasa yang sedang kita jalani, WAJIB dinikmati baik itu rasa negatif berupa sakit, marah , kesal, sampai rasa positif berupa gembira, riang dan lain sebagainya.

Founder Soul of Speaking Institute, Rani Badri Kalianda mengatakan, sebelum menyampaikan soul itu, kita harus menumbuhkan rasa cinta, rasa respect atau menghormati secara total didalam diri kita, memaafkan orang lain dan berterima kasih atas kebaikan yang diberikan orang lain tersebut atas apapun yang dilakukannya kepada kita, baik maupun buruk.

Tahapan untuk menumbuhkan rasa cinta itu, adalah dengan membuang jauh-jauh segala perasaan negatif yang menghinggapi diri kita. Teknik ini disebut dengan istilah Ho Op atau Ho Oponopono.

Hooponopono diadopsi dari bahasa hawai yang berarti lupakan kenangan, hiduplah dengan inspirasi. Kenangan seringkali menjadikan kita tidak mampu untuk move on menjadi orang yang baru, selalu tertarik untuk tenggelam dimasa lalu yang kelam atau kelabu.

Cinta dapat diselaraskan dengan cara memberi keseimbangan, yaitu menghilangkan energi negatif menjadi energi positif sehingga terjadi keseimbangan di titik nol. Melenyapkan perkataan negatif yang lahir dari jiwa yang negatif menjadi perkataan positif dan lahir dari jiwa yang positif.

photogrid_1463156292273.jpg

Kecintaan itu berarti rasa ikhlas, dengan semangat untuk memberi, namun tak mengharapkan sesuatu apapun kembali.

“Bukankah dalam banyak hal, kita tidak pernah mengungkit-ungkit lagi sampah rumah yang kita buang ke TPSA (Tempat Pembuangan Sampah Akhir) lagi, setelah merelakannya untuk dibuang ? Begitulah kaidah ikhlas yang sesungguhnya”, sambung Bang Rani, begitu ia akrab di sapa.

Menjadi piawai dalam mengolah rasa dengan teknik tertentu yang diajarkan dalam SoS Institute, memang membutuhuhkan latihan yang kontinu, jelas Juwita Maharani, salah satu fasilitator yang setia mendampingi peserta didik selama dua hari kelas Soul of Speaking for Star. Workshop yang digelar di Jakarta 11 -12 Mei 2016 mengajarkan berbagai teknik-teknik penyampaian yang merupakan perpaduan antara Mind, Body dan Soul.

Menariknya, workshop komunikasi verbal dan non berbal ini menggabungkn tiga disiplin ilmu dalam satu teknik yaitu Theater, Jurnalistik dan Psikologi. Teater, memang menjadi disiplin ilmu yang dominan diajarkan di Sos Institute ini , selain Jurnalistik dan Psikologi.

Tidak heran berbagai teknik penekanan kata dalam dunia teater, diajarkan oleh Iwan Ridwan salah satu praktisi theater yang juga merupakan fasilitator andalan Soul of Speaking Institute.

Tidak itu saja, pengolahan vokal semakin menambah kaya ilmu Soul of Speaking seperti diperkenalkan pada workshop basic berjuluk “Star” ini. Agar pengucapan yang kita lakukan dapat jelas diterima oleh lawan bicara kita, vokal perlu dilatih untuk mengucapkan vokal tertentu seperti huruf Rr dalam variasi dan penekanan yg berbeda, lanjut Inta Amilia seorang fasilitator yang juga berprofesi sebagai pengacara muda.

Selain itu, imajinasi tidak kalah pentingnya juga dikembangkan dalam kelas, mengingat kita perlu berfikir secara out of the box agak kita dapat keluar dari kungkungan pikiran yang membatasi kita, membelenggu kita, ujar Achmad Kholil praktisi dan fasilitator lainnya.

Sungguhpun luas ilmu yang disampaikan, optimismeuntuk menguasai ilmu Soul of Speaking ini harus diciptakan, karena landasan yang diajarkan , terpapar jelas. Harapan ke depan, adalah meningkatkan accument atas hal-hal yang dipelajari menjadi praktek yang dapat memberikan manfaat yang luas bagi orang lain.

Workshop ini saya nilai sangat bermanfaat bagi berbagai kalangan yang memahami betapa pentingnya soul dalam berbicara untuk meraih kesuksesan, kebahagiaan dengan lingkungan terdekat yakni keluarga, dunia pekerjaan dan segala sesuatu yang baik bersama orang lain agar memperoleh manfaat yang besar.

20160512_122047.jpg

Penyelenggaraannya sendiri sudah bejalan sangat baik, dan lebih baik lagi apabila antusiasme pertanyaan peserta dapat difasilitasi dalam interaksi tanya jawab dalam durasi yang lebih panjang, karena hausnya peserta dalam menggali ilmu soul of speaking ini menyebabkan para peserta merasa kekurangan waktu padahal durasi yang disediakan telah dioptimalkan, padat dan efektif.

Last but not least, semakin sempurna dan bermanfaat apabila menyediakan feedback untuk insight penyelenggara bagi peningkatan kualitas workshop dimasa yang akan datang.

Terakhir.. bagi pembaca yang ingin maju dan menggali ilmu soul of speaking lebih mendalam, jangan menyianyiakan waktu lebih lama lagi untuk mengunjungi situsnya http://www.soulofspeaking.com dan mendaftar diri anda.

image
image

Continue reading

KLM vs Garuda

KLM vs Garuda.

Dua maskapai ini sama- sama member of Skytrax. Sama-sama bukan budget Air yg serba irit, tapi baru saja onboard sudah terasa perbedaan auranya.

3 perbedaan yang dpt penumpang awam seperti saya rasakan antara lain adalah:
1. Hiburan di setiap kursi sudah available sejak penumpang masuk. Garuda baru on setelah mengudara.

2. KLM, tidak ada petugas yg membantu menunjukkan lokasi tempat duduk, kalaupun ada hanya didepan pintu masuk saat menentukan di row mana kita masuk. Garuda yang ramah, bukan tidak mungkin diantar sampai depan seat.

3. Kompartemen diatas tempat duduk tempat menyimpan barang, tidak harus dibantu pramugari. KLM serba mandiri > 80 persen penumpang menutup kompartemen sendiri.

Selanjutnya.. ?
Itu dulu beda KLM mewakili budaya west yg mengutamakan kemandirian VS Garuda mewakili east yg mengutamakan keramahan.
Penerbangan akan segera dimulai.

Bismillahi majreha wa mursaha.

View on Path