Archive by Author

Malu Bertanya, Sesat di Praha

 

2e128451552f4b01a2dedc568008fe06

Caramel Machiato

Secangkir Caramel Machiato , menemani saya menyepi di Václavské náměstí 813/57, lokasi kedai kopi terkenal  yang tak jauh dari Hlavni Nadrazi, stasiun kereta api utama di kota Praha, Republik Ceko.

Thomas, sang manajer toko berbaik hati menawarkan susu panas dengan rasa kopi ringan dan sirup karamel di atasnya, membuai kehangatan kopi-susunya mengajak saya melupakan bekunya udara di luar toko yang kurang bersahabat.
Continue reading

Pesan WA untuk Sahabat SAM

image

Temen2 SAM yg sy sayangi.. (ciieh.  disayangii.. )Hari ini adalah hari terakhir sy di SAMers, dulunya kelompok SAN1ers.
Continue reading

Review: Novel Pulang

sinopsis-novel-pulang-tere-liye

“Pulang” menceritakan kisah Bujang sebagai tokoh sentral. Sesuai dengan judulnya, novel ini berkisah tentang liku-liku Bujang sejak kepergiannya dari kampungnya, malang melintang puluhan tahun dalam “shadow economy” sampai akhirnya kembali ke kampung halaman. Satu lagi terbit novel dari salah satu karya novelis paling produktif di negeri ini.

Continue reading

Le Grande Mosquee De Paris

Mencapai lokasi Grande Mosquee de Paris, baik dari stasiun subway Place Monge atau stasiun subway Cansier-Doubenton, kurang lebih sama jaraknya. Dengan peta atau Global Positioning System (GPS) digenggaman saya, jika ditarik garis lurus ketiga titik itu, mirip segitiga sama sisi. Waktu tempuhnya sekitar limabelas menit dengan berjalan kaki menurut perkiraan.

Dibawah langit mendung diselingi kelap kelip bintang gemintang yang mulai redup, saya menyusuri jalan menuju Rue de Coutrefages, untuk sebuah misi yang mungkin tidak terpikirkan banyak orang ketika pertama kali menginjak Perancis, untuk berjamaah Subuh disebuah situs masjid terbesar di kota yang terkenal dengan ikon menara Eiffelnya.

Continue reading

Our Humble Airport is Soeta

“For sure, it’s a big a big airport , built during our former President Soeharto, but now is more like a bus station. People are freely come inside and out as long you know the “people”.”

Hari ini, sy mengantar adik yg selesai mudik lebaran di Jakarta sampai di pintu keberangkatan. Biasanya sih lebih jauh keluar masuk bisa sampai ruang tunggu boarding pesawat, heehheeehe …

Situasi mudik lebaran H + 7 sudah mencapai puncaknya, mengingat besok yang sekolah dan bekerja sudah mulai masuk normal dari libur panjang lebaran 2015.

Bandara ini memang sudah mulai berbenah dengan menambah terminal 3 untuk menjawab tantangan kebutuhan, tapi dibandingkan bandara lain di kota-kota besar Indonesia, spt.Kualanamu, Hasanudin, Juanda hitungannya masih ketinggalan.

Lebih dari itu Soeta juga sedang menambah layanan terintegrasi lainnya untuk mengejar ketertinggalannya dengan Negri Jiran Malaysia yang KLIA 2 nya baru beroperasi. Lebih jauh lagi dengan Changi Singapore, Incheon Seoul yang langganan juara standard layanan bintang tertinggi versi SkyTrax.

Semoga cepet selesai yaa..

Adelays.com – at Soekarno Hatta Airport Int’l Departures

View on Path

Korelasi Sempurna

Masjidil Harom by Adelays.com

Masjidil Harom by Adelays.com

Kalau kita mempercayai sebuah kebetulan di muka bumi ini, mungkin itu karena kita tidak mengetahui bahwa sebuah kebetulan pun ada takdirnya.

Belum lengkap iman seorang muslim manakala ia belum mampu meng-iman-i takdir baik dan takdir buruk, karena bagi seorang muslim, takdir baik & buruk merupakan salah dua dari enam rukun iman.

Awalnya sulit dipercaya, ketika saya kemudian menyadari bahwa sedang menjalankan rukun umroh, dengan mengganti pakaian Ihrom diatas pesawat, di atas kota Yalamlam 3 Maret 2015.

Yalamlam adalah sebuah daerah yang menjadi batas diatas Yaman perbatasan dengan Arab Saudi. Batas (miqot) ini menjadi daerah yang merupakan garis start jama’ah dari Indonesia yang akan memasuki kota Makkah untuk melakukan ibadah Umroh / Haji.

Rencana perjalanan spiritual sampai berangkat ini, telah mengalami pasang surut waktu. Mundur ke April, tapi tiba-tiba maju.  Akhirnya mendapat konfirmasi berangkat menggantikan jama’ah yang kena musibah sakit pada awal Maret. Saya segera menyelesaikan segala persyaratan dokumen dan vaksinnya hanya kurang lebih seminggu sebelum terbang,

Masjid Nabawi by Adelays.com

Masjid Nabawi by Adelays.com

Bagi siapa yang punya cukup dana, belum tentu dana yang cukup berarti segalanya lancar dengan jaminan uang yang berlimpah. Ada-ada saja cobaan yang datang menghampiri kita. Tentu peristiwa itu bukan kebetulan, melainkan sebuah  takdir atas panggilan Nya. Ini adalah sebuah fakta kalau Ia sudah berkehendak, Kun Fayakun proses yang hampir mustahil pun terkabul, toh ‘panggilan’ itu bukan masalah ketersediaan dana semata.

Yang sudah memiliki perizinan dan dokumen lengkap, belum tentu urusan keluarga dan duniawinya lancar, karena urusan duniawi sangat banyak bentuknya, urusan rumah tangga,  pekerjaan, biaya hidup yang ditinggalkan dan lain lain.

Pekerjaan di belahan bumi kita mencari nafkah boleh jadi menjadi pemberat langkah bagi sesiapa yang tidak ikhlas. Tidak ikhlas, lantaran banyaknya kesempatan yang akan terlewatkan saat tidak berada di tanah air yang harus direlakan terbang bersama debu di tanah harom.

Bentuk ikhlas itu misalnya, dengan hati yang lapang menerima sebuah keputusan yang telah ditetapkan ketika berada di tanah suci, walaupun keputusan itu tidak populer. Apapun yang diputuskan,  diterima dengan legowo. Tidak Ada sedikit pun terbersit niat  untuk mengubah-ubah keputusan, apalagi meng-overwrite Suatu Keputusan  yang sudah keluar, dengan yang baru. Diterima saja secara baik, itulah salah satu contoh ikhlas.

Kesuksesan dunia untuk menggapai ambisi, kadang tidak linier dengan ketaatan pada Nya. Sukses, kalau ukurannya adalah tercapainya ambisi hati dan materi, nyatanya bagi kebanyakan muslim mereka tidak lantas bisa beribadah kesana berkali-kali.

Masjid Nabawi by Adelays.com

Masjid Nabawi by Adelays.com

Orang yang taat kepada sang khaliq, sholat tidak pernah tertinggal, khatam alquran berkali-kali, tetapi tidak kelihatan gaul, tidak  populer dan tidak terlihat bergelimang harta, namun bisa berkali-kali bersimpuh kepada-Nya didepan Ka’bah untuk memohon keridhoan Nya.

Kejadian-kejadian yang kita lewati sampai menuju takdirnya tetap menyimpan misteri, seandai kita tidak berhasil menerjemahkan detail maksud Nya, itu karena Blue Print Tuhan terlalu megah bagi manusia.

Kitalah yang merasakan kualitas sukses atau tidak, bahagia atau tidak dengan keadaan yang kita miliki sekarang. Sukses atau bahagia dengan ambisi yang dicapai itu, hanyalah yang bersangkutan yang mengetahui kualitas isi didalamnya, apakah bahagia atau tidak.

Kehidupan di akhirat kelak, lebih memiliki korelasi sempurna, yang tidak akan tertukar atas perilaku kita di dunia.  Tidak, sekali lagi tidak akan tertukar. Tidak pula ditukar-tukar, apalagi menukar-nukar yang sudah ditetapkan.

Sungguh,  jauh panggang dari api.

Adelays-Ducati Spain

Menyalip di Tikungan

image

Sumber.: Google

GP Qatar menampilkan Valentino Rossi sebagai juara dalam perhelatan perdana MotoGP tahun 2015. Walaupun tenaga motor Yamaha tunggangannya terlihat kurang kompetitif dibandingkan Ducati saat berada di trek lurus, Rossi sangat mumpuni di tikungan. Aksi overtake Rossi di tikungan merupakan kelihaian yang menjadi daya tarik MotoGP, karena selalu dilakukan dengan bersih, dan aman serta tidak pernah sekalipun mencelakai lawan.

image

Sumber Google

Menyalip di tikungan dalam sebuah perlombaan balap adalah hal yang lumrah dilakukan. Aksi membalap dan saling salip-menyalip sah-sah saja asal  baik dan tidak melanggar aturan balap yang diatur oleh Dorna, pelaksana pertandingan motoGP dunia. Semua dilakukan karena perspektif mengejar keunggulan terbaik dan sportif, dan berkelas.

image

Sumber: Google

Rekan saya Andi Syahputra yang kebetulan bertemu di area parkir ketika datang ke kantor menceritakan hal yang sama terkait keahlian Rossi memotong di tikungan. Ia mengidolakan pembalap dengan sebutan VR46 itu.

Ketika bercerita, ia menambahkan kisah menyalip di tikungan Rossi itu dengan saat perjalanannya ke kantor. Laju motornya dipotong di tikungan tepat sebelum berbelok ke kantor, sehingga ia terpaksa mengerem mendadak sampai hampir jatuh.

Aksi menyalip dan memotong ditikungan yang diceritakan Andi tentu berbeda dengan balapan, karena di luar aksi balapan, urusan potong memotong  sangat membahayakan bagi pengandara lainnya. Balapan bukan di arena balap dapat berakibat fatal tidak saja bagi kedua pihak yang terlibat, tetapi juga orang lain yang berada di sekitar tempat kejadian.

Rekan saya Andi menyambung kisah menyalip di tikungan dengan pengalaman pribadinya dengan sahabat dan teman-temannya. Tetapi Menyalip di tikungan yang dimaksudnya kali ini lebih tepat disebut  “menelikung”. Sebuah kegiatan yang pengertiannya hampir sama namun merupakan bahasa ironi untuk ter’begal’nya sebuah kepercayaan.

Menelikung yang dilakukan oleh orang-orang dekatnya ini terjadi di lingkungan didekat rumahnya oleh sahabat-sahabat yang dipercayainya sendiri, oleh orang-orang yang dikenalnya baik selama ini, oleh orang-orang yang selama ini tidak pernah disakiti hatinya baik lahir maupun bathin, oleh orang yang selama ini selalu bersama-sama dengannya, orang-orang yang setiap hari diluangkan waktu nya bersama-sama dengannya, oleh orang-orang yang dekat rumah didalam hatinya.

Andi yang saya kenal adalah seorang yang sangat santun dalam bertutur kata, maupun bertindak. Senyum yang ditunjukkannya saat bertemu terlihat mengandung kegetiran yang terpancar dari raut mukanya lantaran telikungan sahabat yang selama ini tidak dikhawatirkannya.

Saya yang berempati memahami pengalaman Andi mencoba meramaikan hatinya dengan berbasa basi menawarkan bantuan. Ia hanya tersenyum dan mengatakan: “Terima kasih, tidak perlu”. Baginya,  menelikung ini justru disikapinya secara positif yang diterjemahkan sebagai petunjuk, seperti apa seusungguhnya kualitas kawan-kawan yang berada disekitarnya.

Baginya,  seorang sahabat sejati, orang yang memiliki ‘kelas’ persahabatan seperti “saudara” ,  pasti tidak akan sanggup mencelakai hati sahabatnya, rekannya atau orang-orang yang berada dalam ring satu kehidupannya.

image

Sumber Google

Baginya nyata, bahwa hikmah telikung-menelikung yang ditunjukkan kepadanya adalah petunjuk untuk menunjukkan siapa sahabat sejati yang sesungguhnya. Bukan sahabat semu yang tampak akrab dalam pergaulan sehari-hari, tapi bertopengkan kepalsuan pangkat dan jabatan.

Ia pun menutup obrolan kecil kami dengan satu referensi sahabat ideal versi Andi dengan mengutip AlAshr ayat ketiga. “Watawa shaubil Haq, Watawa saubishshobr”. Sahabat yg baik adalah sahabat yang mampu mengingatkan dalam kebenaran /kebaikan dan saling mengingatkan dalam kesabaran.

Thanks Andi…..

Hidup yang Singkat

Waktu telah menunjukkan pukul delapan malam, saat tahlilan ba’da Isya itu dimulai. Udara cerah dan baik membuat langit di kota Depok itu sangat bersahabat untuk mendatangkan puluhan jema’ah Masjid ke rumah Almarhum Bapak Soeprapto.

Undangan telah disampaikan secara lisan  dari sohibul bait kepada pengurus masjid siang harinya, untuk datang dan mengenang meninggalnya  40 hari yang lalu. Secara tradisi, tahlilan 40 hari atas meninggalnya saudara kami ini diperingati sebagai bagian untuk  memperingati dan mendoakan agar beliau diterima di sisi Allah SWT, di ampunkan kesalahan-kesalahannya dan dilapangkan kuburnya.

Saya tenggelam dalam bacaan Surat Yasin secara bersama-sama,   yang biasa dibacakan untuk mengenang orang yang meninggal dunia. Berbagai situasi cara membaca surat ini tidak luput menjadi perhatian. Mulai dengan alqur’an besar, alquran kecil yang disiapkan khusus untuk tahlilan, bahkan ada juga yang sudah hafal diluar kepala. Saya sendiri tetap -seperti biasa- mengandalkan gadget dengan aplikasi Alqur’an dibacaan surat ini.

Lebih dari sekedar cara membacanya yang sempat terekam dalam benak ini, sebenarnya berbagai hikmah yang dikandung ketika hadir dalam tahlilan itu kembali mengingatkan saya akan hidup ini. Betapapun hidup ini telah berlalu, nyatanya kini kita telah berada pada suatu titik, di hari ini, jam ini, menit ini dan detik ini yang tanpa disadari kita telah hidup puluhan tahun yang lalu.

Melampau masa-masa bayi yang buaian orang tua tidak pernah kita ingat kecuali melihatnya dalam sebuah rekam jejak foto, masa kanak-kanak yang penuh keceriaan bermain dengan luasnya cara pandang tentang dunia yang menyenangkan dari kacamata anak-anak. Tumbuh remaja menjadi seorang yang dewasa, menjadi mapan sebagai seorang dewasa dan seterusnya,  yang akhirnya mengantarkan kita saat ini. Saat membaca tulisan ini.

Betapa hidup ini ternyata telah dilalui dengan begitu cepat. Otak kita bahkan hanya sanggup mengenangnya sebagai bagian masa lalu, seolah-olah baru saja berlalu kemarin. Bahkan bagian masa lalu itu seolah baru saja berlalu beberapa detik yang lalu, betapapun jauhnya masa lalu itu, lima tahun yang lalu, sepuluh, duapuluh dan seterusnya.

Sejarah makhluk hidup nyatanya telah berlangsung berabad-abad yang lalu, beribu-ribu tahun yang lalu, mungkin berjuta-juta tahun yang lalu. Ternyata kita hanyalah hidup di sebagian kecil stereotip waktu di bumi Allah yang pun itu masih sementara, dan ternyata pun itu sebentar.

Masih dalam rentang waktu yang sama, dalam bacaan surat Yasin dalam genggaman, sesaat  pikiran ini melayang pada sebuah profil message dari seorang teman dalam Blackberry Messengernya :

“Jangan Khawatirkan Rezekimu, Karena Allah Sudah Menjaminnya untuk yang Hidup. Khawatirkan Amalanmu karena Allah tidak Menjamin Masuk Surga”.

Sang mati , dan semua yang telah meninggalkan dunia -yang ternyata sebentar itu-,  hanya berhak atas tiga “royalti” reward ketika sudah tiada. Royalti amalan itu masih akan terus menambah pundi-pundi pahalanya ketika sudah tiada :

  1. Amal Jariyah yang Ia Lakukan di dunia.
  2. Ilmu yang Bermanfaat.
  3. Doa dari Anak yang Sholeh.

Tanpa itu, manusia mati hanya bongkahan mayat yang kemudian tinggal tulang . Tidak melawan ketika dipukul, tidak marah ketika dihina, tidak malu ketika tak berbusana, tidak bergeming ketika diganggu, tidak dapat lagi melakukan tindakan apapun. Tidak dapat lagi berbuat baik untuk sesama, tidak dapat beramal ketika punya uang banyak walaupun ikhlas se ikhlas-ikhlasnya, dan tidak dapat melakukan tindakan korektif apapun untuk memperbaiki hidupnya lagi.

Yang masih hidup di dunia ini,

yang masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri,

-yang nyatanya- hidup ini hanya sebentar.

Bacaan Yasin itu mendekati selesai. Surat yang selalu dibacakan dalam tahlilan pun akhirnya menemui akhir nya di ayat ke 83 yang saya baca. Yang hidup masih punya waktu, pada hidup yang nyatanya singkat ini.

Welcome to The “M” Club, Buddy.

Odra memandangi dengan penasaran  sebuah daftar peringkat bocoran list nama lima orang temannya, yang dianggap berperingkat terbaik. Ia menimbang-nimbang strength and weakness  nama orang yang tercantum dalam daftar itu, sambil menyerengitkan dahi, berpikir keras mencari pembenaran. Rasa penasarannya berangsur-angsur menjadi nervous .

Ternyata tidak ketika masa sekolah saja Odra merasakan betapa nervous nya menantikan penilaian resmi dari jerih payah bekerja selama satu periode. Kalau dulu, hasil itu diterima dalam bentuk raport siswa yang diserahkan pihak sekolah kepada orang tua, kali ini akan diserahterimakan dari atasan langsung kepada pegawainya

Bulan Pebruari inilah masa penilaian pegawai di perusahaan Odra, tempat ia bekerja. Musim dimana semua lini pegawai dalam organisasi itu mulai deg-degan dengan hasil penilaian kerja selama satu tahun berlalu. Hasil penilaian masing-masing yang akan diterima dalam selembar kertas Surat Keputusan (SK) Yudisium.

Implikasi lembar penilaian itu, tidak hanya tercermin di dalam curriculum vitae (CV),  lebih dari itu, akan berpengaruh terhadap standar renumerasi, dari perspektif finasial. Nyatanya hal inilah yang menjadi roh paling menentukan mengapa yudisium ini sangat dinantikan.

Bagi Odra, –yang memiliki sejumlah anak buah-, mengenal dan mengetahui keunggulan anak buah Odra secara akurat, adalah prioritas jika dibandingkan dengan yudisiumnya pribadi. Tentu, ini bukan berarti penilaian Odra sendiri tidak penting, tetapi karena informasi atas kinerja anak buah Odra kurang lebih diperjuangkan oleh sang Odra. Sedangkan penilaian Odra sendiri, “nasib” nya lebih banyak ditentukan oleh atasannya.

Performance Appraisal vs Performance Management

Mengenal secara baik apa yang dilakukan mereka tentu tidak mudah, bagi Odra, bosnya bahkan siapapun tanpa alat bantu, apalagi kalau penilaiannya hanya mengandalkan metode Performance Appraisal. Performance Appraisal adalah metode penilaian yang menilai kinerja pegawai pada akhir periode tertentu saja, misalnya satu tahunan atau enam bulanan, quartalan yang banyak menggunakan daya ingat penilai , mengandalkan feeling dan sangat rentan lupa.

Ankita Agarwal dalam sebuah aritkel onlinenya di projectguru.in menuliskan konsep yang lebih baik tentang menilai Performance pegawai yang disebut Performance Management.

Ankita menulis Performance Management berarti : ”Proses kontinu dari pengidentifikasian, pengukuran dan pengembangan performance individu dan alligment performance dengan tujuan strategi organisasi.

Harus ada cara yang akurat mengukur secara kontinu seperti yang dituangkan teori “performance management”. Ia adalah metode yang dapat mengukur kinerja dan hasil secara lebih mendetail dan dalam periode yang lebih ketat.

Summary absensi adalah salah satu contoh kecil saja penerapan teori performance management, dimana catatan pegawai yang terlambat, sakit, izin tercatat dengan baik secara harian dan direview pada akhir tahun. Semua orang tahu apa reward & punishment atas atas keterlambatan, ketidak hadiran tanpa keterangan dan lainnya.

The elements of performance management system cycle includes:

  • Setting of objectives.
  • Measuring the performance.
  • Feedback of performance results.
  • Reward system based on performance outcomes
  • And amendments to objectives and activities.

12

Selayaknya kinerja pegawai dapat didekatkan pada konsep Performance Management, tidak hanya absensi yang merupakan contoh kecil, tetapi semua catatan kinerja dan kendala yang objectives nya telah ditentukan.

Dengan cara itulah kinerja rekan-rekan dapat lebih dinilai mendekati akurat, sehingga pengukuran penilaian mereka lebih fair ditentukan siapa saja kandidat penilaian yang memperoleh nilai : Sangat Memuaskan, Memuaskan (M), Baik (B), atau Cukup (C).

Sisanya hanya tinggal menyampaikan strength and weakness masing-masing anak buah Odra itu kepada komite penilaian, dibanding-bandingkan, dengan peers nya, karena jumlahnya terbatas. Diterima ? syukur Alhamdulillah. Tidak diterima lantaran kalah bagus dengan yang lainnya, juga tidak apa-apa.

Hal ini harus dilakukan mengingat jumlah pegawai yang mendapatkan nilai tertinggi jumlahnya terbatas dan diatur khusus.

Sayangnya konsep performance management ini belum diterapkan di semua lini, dominasi masih dipegang oleh faham performance appraisal, yang bukan tidak mungkin terjadi juga terhadap penilaian Odra sendiri, belum lagi masalah dominasi, superioritas dan inferioritas suatu unit terhadap unit lainyya di dalam organisasi yang mungkin berpengaruh didalamnya.

Bukan rahasia rekan-rekan operation yang bekerja dengan sisdur berulang akan kalah kinclong rekan-rekan yang menghasilkan output baru yang populer dalam yudisium, padahal mereka juga memiliki peran penting dalam sebuah organisasi.

Analogi lainnya dapat digambarkan dengan permainan dalam team sepakbola. Bukankah kesuksesan team sepakbola yang berhasil memenangkan sebuah kejuaraan tidak saja disebabkan oleh tajamnya striker, tapi juga kuatnya pemain tengah dan pertahanan yang baik oleh pemain belakang dan goal keeper.

Odra pun siap, kalau ia mendapatkan tantangan dan dengan senang hati memberikan dan mempresentasikan daftar log book sejumlah project yang telah dicapainya selama satu musim penilaian. Ia sejauh ini belum yakin apakah manajemen yang menilainya telah lengkap memahami apa yang dikerjakan bersama teamnya. Ia pun sejauh ini belum mendapat informasi bagaimana standard penilaiannya dijlankan. Ia sepertinya yakin bahwa  management by feeling masih berperan super dominan khusus dalam level dirinya .

Nampaknya ia tidak mengeluh akan hal tersebut, yang terpenting baginya seluruh informasinya telah disampaikan. Penilaian atas dirinya sepenunhnya diserahkan kepada pimpinannya. Selebihnya pertanggungjawaban penilaian tersebut menjadi pertanggungjawaban antara atasannya dengan “Atasannya” lagi suatu saat kelak.

Strength vs Weakness

Putu Krena seorang praktisi HR Departement sebuah perusahaan di Jakarta menyampaikan bahwa seorang Leonel Messi (pemain bola dari Argentina)  yang nota bene telah berkali-kali meraih berbagai penghargaan atlit terbaik dunia sepanjang karir sepak bola nya pun membutuhkan seorang coach untuk tampil baik dalam sebuah tim.

Coach nya saat ini di klub raksasa Barcelona: Luis Enrique (yang juga pemain sepak bola bagus juga di zamannya), masih kalah raihan prestasinya jika dibandingkan Messi. Tapi Messi tetap saja membutuhkan pelatih untuk tampil semakin baik dalam bermain sepak bola di FC Barcelona. Rivalitas sepak bola Catalan dengan tim-tim Liga Spanyol seperti Real Madrid, Atletico Madrid dan lain-lain sangat ketat dan selalu berkembang.

Kalau sekelas Messi saja membutuhkan evaluasi pelatih untuk berkembang, tentu pengembangan bagi seorang pegawai yang telah mendapatkan yudisium juga perlu didisampaikan strength dan weaknessnya, sehingga bagi seseorang yang achieve target, dapat mempertahannkannya. Sedangkan bagi yang masih berada dibawahnya agar mengetahui dimana area improvementnya.

Gambaran evaluasi tersebut juga disampaikan oleh Desi Anwar dalam bukunya “Simple Life”. Desi menuliskan dalam sebuah babnya tentang kekuatan memuji. Memuji yang dimaksud disini adalah mengutarakan strength dan weakness secara seimbang.

Saat ia berumur 11 tahun dan baru saja tinggal di kota London Inggris, nilai-nilai pelajarannya -yang tentu saja berbahasa Inggris-, masih jauh dari memuaskan alias jatuh.

Namun buku evaluasi raport didalam kolom lainnya ada berisi komentar para gurunya, Desi Anwar mendapati tulisan pada kolom kata-kata terkait positif atas area improvement yang positif seperti:

“Desi berusaha keras”,

“Punya banyak potensi”,

“Teruskan upaya yang sudah bagus ini”.

Masih ada kata-kata positif lainnya didalam buku itu.

Desi Anwar:

Kini saya seiring bertanya-tanya apa yang akan terjadi bila para guru itu hanya meilai saya dari ulangan-ulangan saya terdahulu, mencoret nama saya karena angka-angka perolehan saya yang buruk, dan memberikan komentar-komentar yang bersifat mengecam bahwa saya tidak bisa mengejar ketertinggalan saya dari teman-teman sekelas dan betapa penguasaan bahasa Inggris saya menghalangi kemajuan saya. Mungkin saya tidak akan terlalu bersemangat memperhatikan rapor saya kepada orang tua dan berisiko kena teguran mereka. Mungkin saya tidak akan menikmati sekolah dan belajar sama sekali.

Dalam kondisi Odra, nyatanya ia lah  yang harus bertanya sendiri kepada atasannya atas strength & weakness nya itu. Ia akhirnya menutup catatan yang ditulisnya dengan pensil berjudul “M Club” itu dengan kalimat “Welcome to the M Club, Buddy”. Sebuah daftar hasil kinerja dengan penilaian “Sangat memuaskan“ dan “Memuaskan” yang Odra sendiri tidak ada didalamnya.