Archive by Author
Adelays-Ducati Spain

Menyalip di Tikungan

image

Sumber.: Google

GP Qatar menampilkan Valentino Rossi sebagai juara dalam perhelatan perdana MotoGP tahun 2015. Walaupun tenaga motor Yamaha tunggangannya terlihat kurang kompetitif dibandingkan Ducati saat berada di trek lurus, Rossi sangat mumpuni di tikungan. Aksi overtake Rossi di tikungan merupakan kelihaian yang menjadi daya tarik MotoGP, karena selalu dilakukan dengan bersih, dan aman serta tidak pernah sekalipun mencelakai lawan.

image

Sumber Google

Menyalip di tikungan dalam sebuah perlombaan balap adalah hal yang lumrah dilakukan. Aksi membalap dan saling salip-menyalip sah-sah saja asal  baik dan tidak melanggar aturan balap yang diatur oleh Dorna, pelaksana pertandingan motoGP dunia. Semua dilakukan karena perspektif mengejar keunggulan terbaik dan sportif, dan berkelas.

image

Sumber: Google

Rekan saya Andi Syahputra yang kebetulan bertemu di area parkir ketika datang ke kantor menceritakan hal yang sama terkait keahlian Rossi memotong di tikungan. Ia mengidolakan pembalap dengan sebutan VR46 itu.

Ketika bercerita, ia menambahkan kisah menyalip di tikungan Rossi itu dengan saat perjalanannya ke kantor. Laju motornya dipotong di tikungan tepat sebelum berbelok ke kantor, sehingga ia terpaksa mengerem mendadak sampai hampir jatuh.

Aksi menyalip dan memotong ditikungan yang diceritakan Andi tentu berbeda dengan balapan, karena di luar aksi balapan, urusan potong memotong  sangat membahayakan bagi pengandara lainnya. Balapan bukan di arena balap dapat berakibat fatal tidak saja bagi kedua pihak yang terlibat, tetapi juga orang lain yang berada di sekitar tempat kejadian.

Rekan saya Andi menyambung kisah menyalip di tikungan dengan pengalaman pribadinya dengan sahabat dan teman-temannya. Tetapi Menyalip di tikungan yang dimaksudnya kali ini lebih tepat disebut  “menelikung”. Sebuah kegiatan yang pengertiannya hampir sama namun merupakan bahasa ironi untuk ter’begal’nya sebuah kepercayaan.

Menelikung yang dilakukan oleh orang-orang dekatnya ini terjadi di lingkungan didekat rumahnya oleh sahabat-sahabat yang dipercayainya sendiri, oleh orang-orang yang dikenalnya baik selama ini, oleh orang-orang yang selama ini tidak pernah disakiti hatinya baik lahir maupun bathin, oleh orang yang selama ini selalu bersama-sama dengannya, orang-orang yang setiap hari diluangkan waktu nya bersama-sama dengannya, oleh orang-orang yang dekat rumah didalam hatinya.

Andi yang saya kenal adalah seorang yang sangat santun dalam bertutur kata, maupun bertindak. Senyum yang ditunjukkannya saat bertemu terlihat mengandung kegetiran yang terpancar dari raut mukanya lantaran telikungan sahabat yang selama ini tidak dikhawatirkannya.

Saya yang berempati memahami pengalaman Andi mencoba meramaikan hatinya dengan berbasa basi menawarkan bantuan. Ia hanya tersenyum dan mengatakan: “Terima kasih, tidak perlu”. Baginya,  menelikung ini justru disikapinya secara positif yang diterjemahkan sebagai petunjuk, seperti apa seusungguhnya kualitas kawan-kawan yang berada disekitarnya.

Baginya,  seorang sahabat sejati, orang yang memiliki ‘kelas’ persahabatan seperti “saudara” ,  pasti tidak akan sanggup mencelakai hati sahabatnya, rekannya atau orang-orang yang berada dalam ring satu kehidupannya.

image

Sumber Google

Baginya nyata, bahwa hikmah telikung-menelikung yang ditunjukkan kepadanya adalah petunjuk untuk menunjukkan siapa sahabat sejati yang sesungguhnya. Bukan sahabat semu yang tampak akrab dalam pergaulan sehari-hari, tapi bertopengkan kepalsuan pangkat dan jabatan.

Ia pun menutup obrolan kecil kami dengan satu referensi sahabat ideal versi Andi dengan mengutip AlAshr ayat ketiga. “Watawa shaubil Haq, Watawa saubishshobr”. Sahabat yg baik adalah sahabat yang mampu mengingatkan dalam kebenaran /kebaikan dan saling mengingatkan dalam kesabaran.

Thanks Andi…..

Hidup yang Singkat

Waktu telah menunjukkan pukul delapan malam, saat tahlilan ba’da Isya itu dimulai. Udara cerah dan baik membuat langit di kota Depok itu sangat bersahabat untuk mendatangkan puluhan jema’ah Masjid ke rumah Almarhum Bapak Soeprapto.

Undangan telah disampaikan secara lisan  dari sohibul bait kepada pengurus masjid siang harinya, untuk datang dan mengenang meninggalnya  40 hari yang lalu. Secara tradisi, tahlilan 40 hari atas meninggalnya saudara kami ini diperingati sebagai bagian untuk  memperingati dan mendoakan agar beliau diterima di sisi Allah SWT, di ampunkan kesalahan-kesalahannya dan dilapangkan kuburnya.

Saya tenggelam dalam bacaan Surat Yasin secara bersama-sama,   yang biasa dibacakan untuk mengenang orang yang meninggal dunia. Berbagai situasi cara membaca surat ini tidak luput menjadi perhatian. Mulai dengan alqur’an besar, alquran kecil yang disiapkan khusus untuk tahlilan, bahkan ada juga yang sudah hafal diluar kepala. Saya sendiri tetap -seperti biasa- mengandalkan gadget dengan aplikasi Alqur’an dibacaan surat ini.

Lebih dari sekedar cara membacanya yang sempat terekam dalam benak ini, sebenarnya berbagai hikmah yang dikandung ketika hadir dalam tahlilan itu kembali mengingatkan saya akan hidup ini. Betapapun hidup ini telah berlalu, nyatanya kini kita telah berada pada suatu titik, di hari ini, jam ini, menit ini dan detik ini yang tanpa disadari kita telah hidup puluhan tahun yang lalu.

Melampau masa-masa bayi yang buaian orang tua tidak pernah kita ingat kecuali melihatnya dalam sebuah rekam jejak foto, masa kanak-kanak yang penuh keceriaan bermain dengan luasnya cara pandang tentang dunia yang menyenangkan dari kacamata anak-anak. Tumbuh remaja menjadi seorang yang dewasa, menjadi mapan sebagai seorang dewasa dan seterusnya,  yang akhirnya mengantarkan kita saat ini. Saat membaca tulisan ini.

Betapa hidup ini ternyata telah dilalui dengan begitu cepat. Otak kita bahkan hanya sanggup mengenangnya sebagai bagian masa lalu, seolah-olah baru saja berlalu kemarin. Bahkan bagian masa lalu itu seolah baru saja berlalu beberapa detik yang lalu, betapapun jauhnya masa lalu itu, lima tahun yang lalu, sepuluh, duapuluh dan seterusnya.

Sejarah makhluk hidup nyatanya telah berlangsung berabad-abad yang lalu, beribu-ribu tahun yang lalu, mungkin berjuta-juta tahun yang lalu. Ternyata kita hanyalah hidup di sebagian kecil stereotip waktu di bumi Allah yang pun itu masih sementara, dan ternyata pun itu sebentar.

Masih dalam rentang waktu yang sama, dalam bacaan surat Yasin dalam genggaman, sesaat  pikiran ini melayang pada sebuah profil message dari seorang teman dalam Blackberry Messengernya :

“Jangan Khawatirkan Rezekimu, Karena Allah Sudah Menjaminnya untuk yang Hidup. Khawatirkan Amalanmu karena Allah tidak Menjamin Masuk Surga”.

Sang mati , dan semua yang telah meninggalkan dunia -yang ternyata sebentar itu-,  hanya berhak atas tiga “royalti” reward ketika sudah tiada. Royalti amalan itu masih akan terus menambah pundi-pundi pahalanya ketika sudah tiada :

  1. Amal Jariyah yang Ia Lakukan di dunia.
  2. Ilmu yang Bermanfaat.
  3. Doa dari Anak yang Sholeh.

Tanpa itu, manusia mati hanya bongkahan mayat yang kemudian tinggal tulang . Tidak melawan ketika dipukul, tidak marah ketika dihina, tidak malu ketika tak berbusana, tidak bergeming ketika diganggu, tidak dapat lagi melakukan tindakan apapun. Tidak dapat lagi berbuat baik untuk sesama, tidak dapat beramal ketika punya uang banyak walaupun ikhlas se ikhlas-ikhlasnya, dan tidak dapat melakukan tindakan korektif apapun untuk memperbaiki hidupnya lagi.

Yang masih hidup di dunia ini,

yang masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri,

-yang nyatanya- hidup ini hanya sebentar.

Bacaan Yasin itu mendekati selesai. Surat yang selalu dibacakan dalam tahlilan pun akhirnya menemui akhir nya di ayat ke 83 yang saya baca. Yang hidup masih punya waktu, pada hidup yang nyatanya singkat ini.

Welcome to The “M” Club, Buddy.

Odra memandangi dengan penasaran  sebuah daftar peringkat bocoran list nama lima orang temannya, yang dianggap berperingkat terbaik. Ia menimbang-nimbang strength and weakness  nama orang yang tercantum dalam daftar itu, sambil menyerengitkan dahi, berpikir keras mencari pembenaran. Rasa penasarannya berangsur-angsur menjadi nervous .

Ternyata tidak ketika masa sekolah saja Odra merasakan betapa nervous nya menantikan penilaian resmi dari jerih payah bekerja selama satu periode. Kalau dulu, hasil itu diterima dalam bentuk raport siswa yang diserahkan pihak sekolah kepada orang tua, kali ini akan diserahterimakan dari atasan langsung kepada pegawainya

Bulan Pebruari inilah masa penilaian pegawai di perusahaan Odra, tempat ia bekerja. Musim dimana semua lini pegawai dalam organisasi itu mulai deg-degan dengan hasil penilaian kerja selama satu tahun berlalu. Hasil penilaian masing-masing yang akan diterima dalam selembar kertas Surat Keputusan (SK) Yudisium.

Implikasi lembar penilaian itu, tidak hanya tercermin di dalam curriculum vitae (CV),  lebih dari itu, akan berpengaruh terhadap standar renumerasi, dari perspektif finasial. Nyatanya hal inilah yang menjadi roh paling menentukan mengapa yudisium ini sangat dinantikan.

Bagi Odra, –yang memiliki sejumlah anak buah-, mengenal dan mengetahui keunggulan anak buah Odra secara akurat, adalah prioritas jika dibandingkan dengan yudisiumnya pribadi. Tentu, ini bukan berarti penilaian Odra sendiri tidak penting, tetapi karena informasi atas kinerja anak buah Odra kurang lebih diperjuangkan oleh sang Odra. Sedangkan penilaian Odra sendiri, “nasib” nya lebih banyak ditentukan oleh atasannya.

Performance Appraisal vs Performance Management

Mengenal secara baik apa yang dilakukan mereka tentu tidak mudah, bagi Odra, bosnya bahkan siapapun tanpa alat bantu, apalagi kalau penilaiannya hanya mengandalkan metode Performance Appraisal. Performance Appraisal adalah metode penilaian yang menilai kinerja pegawai pada akhir periode tertentu saja, misalnya satu tahunan atau enam bulanan, quartalan yang banyak menggunakan daya ingat penilai , mengandalkan feeling dan sangat rentan lupa.

Ankita Agarwal dalam sebuah aritkel onlinenya di projectguru.in menuliskan konsep yang lebih baik tentang menilai Performance pegawai yang disebut Performance Management.

Ankita menulis Performance Management berarti : ”Proses kontinu dari pengidentifikasian, pengukuran dan pengembangan performance individu dan alligment performance dengan tujuan strategi organisasi.

Harus ada cara yang akurat mengukur secara kontinu seperti yang dituangkan teori “performance management”. Ia adalah metode yang dapat mengukur kinerja dan hasil secara lebih mendetail dan dalam periode yang lebih ketat.

Summary absensi adalah salah satu contoh kecil saja penerapan teori performance management, dimana catatan pegawai yang terlambat, sakit, izin tercatat dengan baik secara harian dan direview pada akhir tahun. Semua orang tahu apa reward & punishment atas atas keterlambatan, ketidak hadiran tanpa keterangan dan lainnya.

The elements of performance management system cycle includes:

  • Setting of objectives.
  • Measuring the performance.
  • Feedback of performance results.
  • Reward system based on performance outcomes
  • And amendments to objectives and activities.

12

Selayaknya kinerja pegawai dapat didekatkan pada konsep Performance Management, tidak hanya absensi yang merupakan contoh kecil, tetapi semua catatan kinerja dan kendala yang objectives nya telah ditentukan.

Dengan cara itulah kinerja rekan-rekan dapat lebih dinilai mendekati akurat, sehingga pengukuran penilaian mereka lebih fair ditentukan siapa saja kandidat penilaian yang memperoleh nilai : Sangat Memuaskan, Memuaskan (M), Baik (B), atau Cukup (C).

Sisanya hanya tinggal menyampaikan strength and weakness masing-masing anak buah Odra itu kepada komite penilaian, dibanding-bandingkan, dengan peers nya, karena jumlahnya terbatas. Diterima ? syukur Alhamdulillah. Tidak diterima lantaran kalah bagus dengan yang lainnya, juga tidak apa-apa.

Hal ini harus dilakukan mengingat jumlah pegawai yang mendapatkan nilai tertinggi jumlahnya terbatas dan diatur khusus.

Sayangnya konsep performance management ini belum diterapkan di semua lini, dominasi masih dipegang oleh faham performance appraisal, yang bukan tidak mungkin terjadi juga terhadap penilaian Odra sendiri, belum lagi masalah dominasi, superioritas dan inferioritas suatu unit terhadap unit lainyya di dalam organisasi yang mungkin berpengaruh didalamnya.

Bukan rahasia rekan-rekan operation yang bekerja dengan sisdur berulang akan kalah kinclong rekan-rekan yang menghasilkan output baru yang populer dalam yudisium, padahal mereka juga memiliki peran penting dalam sebuah organisasi.

Analogi lainnya dapat digambarkan dengan permainan dalam team sepakbola. Bukankah kesuksesan team sepakbola yang berhasil memenangkan sebuah kejuaraan tidak saja disebabkan oleh tajamnya striker, tapi juga kuatnya pemain tengah dan pertahanan yang baik oleh pemain belakang dan goal keeper.

Odra pun siap, kalau ia mendapatkan tantangan dan dengan senang hati memberikan dan mempresentasikan daftar log book sejumlah project yang telah dicapainya selama satu musim penilaian. Ia sejauh ini belum yakin apakah manajemen yang menilainya telah lengkap memahami apa yang dikerjakan bersama teamnya. Ia pun sejauh ini belum mendapat informasi bagaimana standard penilaiannya dijlankan. Ia sepertinya yakin bahwa  management by feeling masih berperan super dominan khusus dalam level dirinya .

Nampaknya ia tidak mengeluh akan hal tersebut, yang terpenting baginya seluruh informasinya telah disampaikan. Penilaian atas dirinya sepenunhnya diserahkan kepada pimpinannya. Selebihnya pertanggungjawaban penilaian tersebut menjadi pertanggungjawaban antara atasannya dengan “Atasannya” lagi suatu saat kelak.

Strength vs Weakness

Putu Krena seorang praktisi HR Departement sebuah perusahaan di Jakarta menyampaikan bahwa seorang Leonel Messi (pemain bola dari Argentina)  yang nota bene telah berkali-kali meraih berbagai penghargaan atlit terbaik dunia sepanjang karir sepak bola nya pun membutuhkan seorang coach untuk tampil baik dalam sebuah tim.

Coach nya saat ini di klub raksasa Barcelona: Luis Enrique (yang juga pemain sepak bola bagus juga di zamannya), masih kalah raihan prestasinya jika dibandingkan Messi. Tapi Messi tetap saja membutuhkan pelatih untuk tampil semakin baik dalam bermain sepak bola di FC Barcelona. Rivalitas sepak bola Catalan dengan tim-tim Liga Spanyol seperti Real Madrid, Atletico Madrid dan lain-lain sangat ketat dan selalu berkembang.

Kalau sekelas Messi saja membutuhkan evaluasi pelatih untuk berkembang, tentu pengembangan bagi seorang pegawai yang telah mendapatkan yudisium juga perlu didisampaikan strength dan weaknessnya, sehingga bagi seseorang yang achieve target, dapat mempertahannkannya. Sedangkan bagi yang masih berada dibawahnya agar mengetahui dimana area improvementnya.

Gambaran evaluasi tersebut juga disampaikan oleh Desi Anwar dalam bukunya “Simple Life”. Desi menuliskan dalam sebuah babnya tentang kekuatan memuji. Memuji yang dimaksud disini adalah mengutarakan strength dan weakness secara seimbang.

Saat ia berumur 11 tahun dan baru saja tinggal di kota London Inggris, nilai-nilai pelajarannya -yang tentu saja berbahasa Inggris-, masih jauh dari memuaskan alias jatuh.

Namun buku evaluasi raport didalam kolom lainnya ada berisi komentar para gurunya, Desi Anwar mendapati tulisan pada kolom kata-kata terkait positif atas area improvement yang positif seperti:

“Desi berusaha keras”,

“Punya banyak potensi”,

“Teruskan upaya yang sudah bagus ini”.

Masih ada kata-kata positif lainnya didalam buku itu.

Desi Anwar:

Kini saya seiring bertanya-tanya apa yang akan terjadi bila para guru itu hanya meilai saya dari ulangan-ulangan saya terdahulu, mencoret nama saya karena angka-angka perolehan saya yang buruk, dan memberikan komentar-komentar yang bersifat mengecam bahwa saya tidak bisa mengejar ketertinggalan saya dari teman-teman sekelas dan betapa penguasaan bahasa Inggris saya menghalangi kemajuan saya. Mungkin saya tidak akan terlalu bersemangat memperhatikan rapor saya kepada orang tua dan berisiko kena teguran mereka. Mungkin saya tidak akan menikmati sekolah dan belajar sama sekali.

Dalam kondisi Odra, nyatanya ia lah  yang harus bertanya sendiri kepada atasannya atas strength & weakness nya itu. Ia akhirnya menutup catatan yang ditulisnya dengan pensil berjudul “M Club” itu dengan kalimat “Welcome to the M Club, Buddy”. Sebuah daftar hasil kinerja dengan penilaian “Sangat memuaskan“ dan “Memuaskan” yang Odra sendiri tidak ada didalamnya.

Praha, Antara George dan Charles

image

“George”, begitu dia menyebutkan namanya.

Sebenarnya ia memiliki nama lain (nama keluarganya) yang kurang akrab di telinga saya ketika pengemudi taksi itu memperkenalkan namanya dalam perjalanan saya menuju airport. Saya hendak meninggalkan Praha, ibukota Rep. Czech dan akan bertolak ke Paris, Perancis.

Di dalam taksi yang interiornya terbilang bagus dan bersih ini saya pun kemudian mengetahui bahwa jenis sedan taksi yang saya tumpangi  ini adalah mobil bermerk Skoda, hasil kerjasama pabrikan Czech dan Jerman sebuah kendaraan yang belum pernah saya naiki sebelumnya.

Mengenal taxi driver yang terbilang keren kalau dibandingkan dengan penampilan para sopir di Jakarta, sebenarnya saya sempat menahan diri untuk banyak banyak bicara. Penampilannya dengan kacamata hitam pekat, dibalut jaket warna hitam yang ketat laksana detektif di film besutan eropa “Taxi” membuat pencitraan atas dirinya teramat ‘dingin’.

Tetapi setelah beberapa kalimat kami lontarkan, kebekuan itu akhirnya meleleh. George dan saya akhirnya menikmati perbincangan seputar perjalanan saya di Rep. Czech.

image

Sebagaimana layaknya seorang backpackers, sebenarnya saya lebih suka menggunakan transportasi yang lebih merakyat sepeninggal saya dari apartemen budget yang saya tinggali menuju bandar udara. Namun dibawah suhu dingin 2 derajat Celcius, ditambah cuaca mendung dan gerimis sudah mulai turun, akhirnya saya memilih naik taksi plus mengejar waktu yang cukup sempit menuju airport.

Sambil duduk tenang dibelakang pengemudi taksi,  menikmati hangatnya suhu didalam taksi yang memang dibuat hangat,  saya membagi pandangan ke luar jendela. Terbersit kekaguman saya pada kota kecil di belahan Eropa Timur ini.

image
image

George mengiyakan, ketika saya bercerita bahwa Praha adalah kota yang kalau ditelusuri,  cukuplah dengan jalan kaki dan beberapa titik naik trem. Tidak dibutuhkan bus semacam Hop On Hop Off untuk menjelajahinya.

Ia pun kemudian mengomentari  bahkan menjadi penunjuk jalan dadakan di setiap tempat saya lalui , seperti Charles Bridge yang saya sambangi tadi malam, sebuah jembatan  621 M dan lebar 10 M yang melintas diatas sungai Vlatava Praha yang konon dianggap sebagai jembatan ghotic bersejarah terindah di dunia.

image

Kesan eksotis memang sangat dominan jika kita perhatikan Charles Bridge yang sudah dibangun sejak abad ke 14 itu. Sejarah mencatat, sebenarnnya jembatan itu pernah diberi nama lain seperti Kemenny atau Prazsky Bridge, tapi sejak 1870 an akhirnya Charles Bridge lah yang dipakai sebagai nama jembatan, yang menjadi penghubung penting antara Kastil Praha dan Old Town.

image

Tidak berhenti sampai disitu George sang taxy driver bercerita, kota Praha yang terkenal dengan kristal svarovsky nya ini mengandalkan Charles Bridge sebagai salah satu unggulan pariwisata terdepan dengan beberapa catatan spesifik dibawah naungannya.

Saya hanya mem’batin’ dalam hati,  rupanya orang Czech ini mirip-mirip dengan orang Jawa yang percaya dengan primbon-nya untuk merencanakan atau membangun sesuatu dikaitkan dengan tanggal-tanggal yang dianggap baik.  Lantaran jembatan  yang batu pertamanya diletakkan oleh Raja Charles IV dibangun pada waktu yang sangat tertentu dan spesifik, yaitu 9 Juli 1357 tepat pukul 05.31.

image

image

Angka-angka itu dianggap sebagai waktu yang sangat baik dan disukai oleh Kaisar Romawi yang dipercaya membawa kekuatan bagi jembatan ini. Percaya ataupun tidak memang jembatan ini beberapa kali mendapat hantaman banjir yang begitu kuat sampai merusakkan tiga pilarnya di penghujung abad ke 15 (akhir 1490 an).

Bukan itu saja, Masyarakat Czech seakan diberi pembuktian lagi, saat kekuatan Charles Bridge  diuji lagi oleh pemberontakan yang merusakkan beberapa pilarnya. Belum lagi, pendudukan Swedia di sebelah barat sungai Vltava yang juga menyebabkan tidak saja rusaknya jembatan tetapi juga dekorasi patung-patung disekitar jembatan yang sekarang sudah digantikan oleh replika.

image

George sang taxi driver.. rupanya selain pengemudi yang baik, juga guide yang baik dan memiliki pengetahuan yang luas akan sejarah negerinya. Sebelum taksi itu melambat, dia menambahkan bahwa replika patung yang asli itu dipamerkan di Lapidarium, Musium Nasional di Praha.

Ceritanya yang panjang lebar selama kurang lebih 30 menitan itu akhirnya diakhiri oleh sampainya saya di Ruzyne, Bandar Udara International satu-satunya di Praha yang diberi nama seorang politisi ternama di Czech , mantan presiden, penulis sekaligus filusuf Vaclav Havel.

image

image

image

Saya sempat berkelakar sebelum membayar ongkos taksi sebesar 30 Euro dengan satu lelucon,  ketenaran Charles Bridge hanya dapat ditandingi oleh Martina Navratilova, seorang petenis kondang yang merupakan mantan ratu tenis dunia yang berasal dari Czeckoslovakia, nama negara ini sebelum ‘bercerai’ masing-masing menjadi Republik Czech dan Slovakia.

George yang ramah itu hanya menjawab dengan senyum, sambil berjabat tangan tanda saya berterima kasih atas keramahannya pada traveler seperti saya. Sayangnya saya lupa menanyakan siapakah nama Charles yang akhirnya menjadi nama Jembatan yang sampai sekarang sudah mendunia itu…

Hmmm.. anyway.. Thanks George…

image

image

image

Córdoba, Keren Abis

www.adelays.com

Selain Mezquita, di Cordoba Masih Banyak Peninggalan Budaya Lain dari Sejarah Islam dan Kristen

 

Córdoba, tentu tidak hanya berisi tentang Mezquita yang terkenal itu. Sejarah peradabannya menjadi maju, telah melalui jalan panjang. Kekaisaran Romawi pun pernah berkuasa sampai disini sejak abad pertama. Namun setelahnya, Cordoba boleh saya katakan ‘baru’ memulai kebangkitannya ada kebudayaan Islam masuk. Abdurrahman Addakhil atau Khalifah Abdurrahman I Memimpin Cordoba mulai tahun 756 H.

Sebelumnya, Cordoba dikuasai sekte-sekte kecil kaum barbar yang menguasai daerah yang terpecah belah. Kepemimpinan khalifah demi khalifah akhirnya tergantikan kaum Kristen sejak abad ke 15 sampai sekarang. Tak heran, peninggalan budaya Islam dan Kristen menghiasi kekayaan budaya di Córdoba.

Walaupun kota ini ‘hanya’lah bagian kecil dari Andalusia, yang merupakan salah satu Spain region, tetapi warisan budayanya begitu unik karena memiliki perpaduan budaya Eropa yang diwakili oleh Spanyol dan Mediteranian hasil pengaruh Islan di timur tengah.

Masih ada 37 kota lain dibawah wilayah besar Andalusia yang serupa dengan Córdoba, antara lain: Seville, Malaga, Huelva, Almeria dan lain sebagainya. Sungguh, tak terbantahkan Córdoba memiliki begitu kaya peninggalan budayanya di Andalusia ini.

Perjalanan saya yang sederhana dalam lingkup waktu, biaya, fisik dan mental ini, tentu tidaklah dapat dikatakan mewakili sekian keragaman budaya tersebut. Tapi setidaknya para pelancong blog ini, dapat merasakan sebagian kecil jendela dunia melalui perjalanan ini.

Satu kalimat saya tentang kota kecil di Andalucia Spain buatnya adalah : “Córdoba, Keren Abis”.

www.adelays.com

Khalifah Pertama Cordoba adalah Abdurrahman I atau Abdurrahman Addakhil yang mempersatukan Cordoba yang sebelumnya terpecah belah

 

Roman Temple

Romawi Pernah Menguasai Cordoba. Peninggalan Romawi ini merupakan Peninggalan era Kaisar Claudius di abad Pertama (41 – 54) yang didedikasikan untuk kultus kekaisaran di Pusat Kekaisaran Roma.

image

image

Menjadi Traveller di Cordoba, Tidak Ada Salahnya Menggunakan Hop on Hop off. Dengan Biaya 18 Euro, keliling dengan Bis akan terasa lebih efisien. Ada dua macam bis, yaitu bis kecil dan bis tingkat. Rutenya masing-masing berbeda-beda.

 

image

adelays.com

Roman Style Bride yang berdiri diatas Sungai Guadalquivir

 

image

Menara Ini dibangun Pada Abad ke 12 untuk melindungi Jembatan Roman yang Berdiri diatas Sungai Guadalquivir. DInyatakan sebagai monumen sejarah pd tahun 1931 dan bersama Jembatan Roman mendapat Hadiah Warisan Budaya Nostra Award dari Uni Eropa tahun ini 2014

 

image

Salah Satu Gereja Tertua di Cordoba yang Dibangun Pada Abad ke 13. Menjadi Monumen Nasional sejak 1931.

 

image

Monumen yang dibangun diatas Sebuah Bangunan Islam Sebelumnya dan Berdiri di Abad 15

 

image

Mozaik Mihrab Mezquita

image

Waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi, matahari pagi belum menyinari jendela Hotel Los Patios, tempat saya menginap. Subuh pun belum tiba, karena Subuh baru masuk pukul 6.44 menit. Saya tak sabar lagi untuk masuk ke dalam Mezquita yang bersejarah itu.

image

Pagi pun menjelang. Mezquita, dibuka untuk umum pukul 08.30 – 09.30. Periode satu jam disesi pertama ini free of charge, namun setelahnya (mulai pkl. 10.00) dikenakan biaya 8 Euro setiap hari kecuali hari Minggu, karena dipergunakan untuk kebaktian.

image

Nama Mezquita yang berarti masjid, tetap dipertahankan walaupun kini berfungsi sebagai cathedral. Di taman kompleks Mezquita, saya melihat kebun pohon jeruk yang berada di sekitar taman sedang berbuah.Walaupun buahnya sudah matang, tidak satu pun penunjung berusaha memetik buah itu.

Kebanyakan dari mereka termasuk saya langsung menuju bangunan utama cathedral. Seorang penjaga memberikan kode untuk melepaskan topi yang saya pakai ketika hendak masuk.Inilah saat-saat yang saya tunggu-tunggu kemarin. Tak percaya rasanya menyaksikan secara langsung, bangunan yang berabad-abad lalu sejak 787 M  sudah difungsikan sebagai masjid.

image

Ketika masuk ke ruangan utama hampir di setiap sudut terdapat benda-benda, lukisan dan peninggalan yang merupakan saksi bisu sejarah peradaban gedung ini saat  pertama kali dibangun berfungsi sebagai gereja. Namanya gereja Visigoth st. Vincent.

image

image

image

Suara alat musik organ membahana seantero ruangan. Sayangnya saat sesi pertama ini dibuka, aktivitas kebersihan dengan mesin-mesin pembersih lantai sedang dilakukan didalam gedung itu,  sehingga tidak semua tempat bebas untuk ditelusuri, sampai saya berjalan menuju tengah bangunan.

Disitulah saya menemukan altar utama cathedral yang megah dan menjadi sumber suara piano yang sejak tadi saya dengar.  Tempat aktivitas gereja dilakukan kembali sejak direbut kembali oleh tentara kristen pada abad ke 16.

image

Tidak puas sampai disitu, saya memandang ke sisi lain bagian yang mempertahankan keaslian ornamen-ornamen khas budaya keislaman dari timur tengah, sambil menyentuh pilar-pilar yang merupakan pengembangan masjid yang dilakukan oleh Khalifah Bani Umayyah Abd Arrahman I.

image

Saya seperti terhubung dengan masa itu.

Situasi Hening kali ini menjadi pembeda… Suara organ rupanya mengalami jeda. Keheningan menguasai ruang cathedral yang pernah mengalami pengembangan lagi pada masa  Khalifah Al Mansur Ibn Amir (987) dengan membangun penghubung dengan istana Cordoba, Andalusia.

Tidak puas sampai disitu, rasa penasaran tetap menggelitik pikiran, karena  lokasi mihrab masjid yang sangat penting dan menjadi aktivitas utama imam saat solat berjamaah di Masjid Agung Cordoba, (begitu dulu nama masjid ini disebutnya) belum juga ditemukan.

image

Setelah berbalik arah,  barulah dari kejauhan tampak pagar ruangan yang bertujuan untuk tidak didekati dalam jarak tertentu. Disitulah letak mihrab (tempat imam) yang dicari-cari.Itulah tempat sang Imam Masjid Jami’ Cordoba menghadap ke kiblat. Tempat ini menjadi memoir terpenting.

Saya terkesima.. terharu, speechless belasan ribu km jaraknya dari Jakarta, akhirnya sampai juga menyaksikan pusaran energi Islam yang menjadi kejayaan di benua Eropa di masa lalu. Cordoba adalah Ibukota sebuah pemerintahan Islam di Eropa yang terbesar pernah ada di Eropa.

Tempat inilah yang menjadi top destination saya dibawah Pusaran Energi Ka’bah selain haji ataupun umroh.

Saya pun kemudian ‘terbang’ ke masa kejayaan Islam berabad abad yang lalu pernah dilakukan disini. Menerawang dalam  hiruk pikuknya aktifitas ibadah di Masjid Jami’ Cordoba untuk sholat, kegiatan syiar Islam sampai pengadilan syariah selama beberapa abad lamanya.

image

Selanjutnya kejayaan Islam di Andalusia Raya mengalami kemunduran dan kekalahan demi kekalahan sampai kepemimpinan terakhir yang bertahan sampai 1 April 1487 .

Sumber-sumber dari berbagai literatur menyatakan, bahwa hari itu adalah saat-saat dimana  umat Islam yang kalah dari peperangan yang tersisa, diberikan kesempatan untuk meninggalkan Spanyol dengan aman melalui pelabuhan Granada.

image

Namun apa hendak dikata, justru pembohongan yang terjadi. Granada Andalusia menjadi  ladang pembumihangusan bagi siapapun yang hendak pergi. Pelabuhan dibakar, orang-orangnya pun dibantai.

Inilah sebuah tragedi yang peringati dan dijadikan bahan kelakar “April Fool Day” / “April Mop”  yang latarbelakangnya  ternyata begitu tragis.

image

Di abad moderen ini pun, sempat terjadi sebuah tragedi di depan mihrab tahun 2010 lalu, dimana terjadi ketegangan antara pihak keamanan setempat dengan 8 dari 118 orang turis dari Austria  yang menggelar sajadah dan melakukan sujud di depan mihrab ini.

Akhirnya pengadilan pidana Cordoba, tanggal 4 Feb 2013 lalu memutuskan vonis bebas kepada mereka. Tempat ini dianggap sebagai fasilitas publik yang telah menjadi milik bersama dan telah menjadi UNESCO World Heritage.

image

Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 09.20 dimana pihak keamanan setempat, telah memberi aba-aba kepada para pengunjung  untuk meninggalkan ruangan.

Sambil melangkah keluar, ingatan  dalam ruang memori saya  terlintas sebuah adegan dalam film: 99 Cahaya di Langit Eropa ketika tokoh utama di film itu yaitu Hanum Salsabiela bersujud di depan mihrab ini,

Hmmmm.. Mihrab Mezquita dalam Memori. Sebuah kilas balik kisah kejayaan dan senja kala bagi sebuah mihrab  di Cordoba, Andalusia.

image

Mezquita itu, Kini Didepan Mata

image

Kereta api Renfe tujuan akhir Sevilla yang saya tumpangi dari Barcelona merapat pk.20.30 di stasiun Cordoba, Andalusia.

Sudah cukup malam untuk Eropa di musim dingin pada umumnya. Suasana penerangan stasiun yang temaram membuat saya sedikit ragu untuk melanjutkan perjalanan dengan bis umum..

Tetapi setelah menanyakan ke bagian informasi, dan mendapat kepastian masih adanya kendaraan umum, akhirnya saya mantap untuk menumpang bis no.3 dan turun di San Fernando, sebuah pemberhentian terdekat dengan Cardinal Herero, tempat saya akan bermalam. Hanya dibutuhkan 1.2 Euro untuk menumpang bis ini. Jauh dekat tarifnya sama.

Kota kecil ini terletak di Tenggara Madrid ibu kota Spanyol. Secara geografis Cordoba berada di kaki bukit Siera de Montena sangat apik, dan tidak terlalu ramai.  Lalu lintas nya tidak terlalu padat, orang-orangnya lalu lalang dengan santai tidak terlihat kesibukan yang berlebihan, seperti di kota-kota besar pada umumnya. 
image

Menuju San Fernando ternyata diluar dugaan saya. Jalan-jalan besar yang sedari tadi menghiasi perjalanan bis yang saya tumpangi ini menuju jalan satu arah mulai memasuki lorong jalan-jalan berbatu. Relatif sempit untuk ukuran bis kebanyakan. Jalan-jalan berblok batu yang tertata rapi menjadi pemandangan unik yang semakin mencengangkan perjalanan saya.

Beberapa daerah sempit itu ternyata tidak sepi, tetapi dipadati oleh banyak orang yang memadati bar-bar dan tempat hang-out yang tersebar di beberapa lokasi. Tidak ada mall-mall besar atau gedung-gedung menuju San Fernando.
image

GPS dari gadget yang saya pegang akhirnya menunjukkan lokasi tersebut dan saya turun berjalan kaki. Suhu sejuk 13 derajat celcius tidak membuat langkah menjadi berat karena ketika turun dari bis memanggul barang.

Saya kembali melihat beberapa orang melintas di tengah temaramnya kota kecil disamping sebuah sungai kota ,  sambil berolahraga.  hal ini kemudian mememberikan kepada saya kesan kehidupan yang memiliki  work life balance, yaitu keseimbangan pekerjaan dan kehidupan pribadi yg baik.
image

Rasa aman menyelimuti perjalanan di kota ini. Cordoba segera menjadi favorit saya dalam sekejap.

Sesaat kemudian tibalah saya pada sebuah gerbang yang bermandikan cahaya kuning keemasan mengakhiri remang-remang jalan yang sedari tadi menghiasi ibu kota.

Saya mematung diri, terdiam tak percaya.

image

image

Bahkan setelah melihat GPS di gadget saya sekalipun. Inilah rupanya jalan penghubung menuju Cardinal Herero yang saya tuju. Di depan saya telah berdiri tembok bangunan megah Gerbang The Mezquita yang ditayangkan dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa. 

Subhanallah !!! Salah satu bagian Kisah film yang inspiratif itu, sebuah gedung yang memiliki perjalanan sejarah panjang sejak abad ke 8 itu kini berada langsung tepat didepan mata saya.

Sesaat kemudian terdengar lonceng dari menara. Waktu kini telah menunjukkan pukul 22.00. Tak sabar rasanya menunggu esok saat dibukanya pintu gerbang utama kompleks Mezquita dan memasuki bangunan utama pukul 08.30.

Mezquita… Adelays coming.
image

Renfe vs Shinkanshen

image

Senyum simpul terkulum dibibir saat teringat masa kecil saya naik kereta api bersama orang tua, untuk pertama kalinya.

Jangan membandingkan hal-hal yang berlebihan tentang kereta masa lalu itu, karena kondisinya jauh jika dibandingkan dengan kereta masa kini.

Tidak saja fisik keretanya, tetapi juga suasananya yang hiruk pikuk saat naik kereta menjelang lebaran, berdesak desakan dengan peluh, berebutan tempat duduk sampai berlebihan muatan.

Berpuluh tahun kemudian, saya beruntung menikmati kemajuan teknologi perkereta apian di negeri orang. Saat posting ini ditulis saya berada dalam kereta api cepat bernama Renfe.
image

Renfe AVE (Alta Velocidad Española) atau berarti Spanish High Speed dimiliki oleh 100 persen pemerintah Spanyol. Spanyol memiliki satu lagi maskapai kereta api yang diperasikan oleh swasta, yaitu Alvia.

Beberapa tahun sebelumnya, saya juga beruntung pernah merasakan kereta super cepat buatan Jepang, dalam perjalanan selama dua jam antara Osaka – Tokyo, Shinkansen .

Hal yang menarik bagi saya untuk tidak tidur dalam kereta Renfe yang saya tumpangi dari Barcelona menuju Cordoba ini, adalah mencermati berapa kecepatan terbaik yang dapat ditempuh oleh kereta ini.
image

Waktu tempuh perjalanan dari Barcelona Sants sampai stasiun Cordoba memakan waktu 4 jam 40 menit.

Kecepatan tertinggi yang dicapai menuju Camp de Tarragona (pemberhentian pertama) adalah 294 km/ jam. Kecepatan 300 km/jam baru dapat ditembus antara Lleida  menuju Zaragoza.
image

image

image

Kecepatan ini tentu tidak dipertahankan terus, namun disesuaikan dengan situasi dan kondisi rel yang boleh jadi memang sudah sedemikian baiknya sampai kota itu.

Selepas Zaragoza kereta mulai sedikit bergetar. Kecepatan kereta yang demikian tinggi ini membuat telinga menjadi tersumbat karena tekanan udara yang tidak cukup kedap dari luar.
Tak Heran pihak Refne menyediakan fasilitas handsfree gratis untuk mendengarkan berbagai channel yang disediakan untuk memanjakan telinga.

image

Rupanya handsfree ini menjadi kebutuhan yang cukup penting, karena perjalanan kereta kecepatan tinggi ini ditandai dengan kejadian-kejadian tekanan tinggi berikutnya.Begitu pula dengan getaran-getaran kereta yang terbilang cukup dominan.
Tahun 2013 yang lalu, kereta Renfe Jurusan Madrid mengalami anjlok dan menimbulkan puluhan korban jiwa.
image

Membandingkannya dengan Shinkansen (yang dalam bahasa Jepang berarti peluru), hal tersebut terasa berbeda karena Kereta Jepang berlalu tanpa hal-hal yang saya sebutkan itu. Sementara dari sisi kecepatan, Shinkansen mampu mencapat top speed di 443 km/jam. Selama puluhan tahun beroperasi, walaupun dari sisi top speed Shinkansen masih dapat ditandingi oleh kereta buatan China, namun Shinkansen belum sekalipun mengalami kecelakaan berarti.

Getaran berarti tidak terasa dalam Shinkansen, begitu juga tekanan udara yang memekakkan telinga. Kenyamanan perjalanan lebih banyak diperoleh disini.
image

Jepang dan Eropa diikuti oleh China dan Korea menjadi kompetitor utama perlombaan adu mumpuni kecepatan kereta yang dikembangkan oleh masing-masing negara.

Teknologi yang dikembangkannya pun tidak lagi melulu menggunakan rel konvensional. Ada juga kereta yang dikembangkan Jerman yang menggunakan teknologi Maglev atau Magnetic Levitation.

Bagi konsumen seperti saya, keselamatan dan kenyamanan menggunakan transportasi publik seperti kereta, adalah hal yang berada paling diatas hal-hal lainnya.

Renfe 0 – Shinkansen 1.
image

Den Haag, Sepenggal Kharisma Magistrat

image

Waktu pada jam tangan saya , menunjukkan pukul sembilan pagi. Hari Jum’at, 5 Desember 2014. Baru saja saya berpisah dengan Dila, sahabat saya di Negeri Belanda yang baik hati menemani perjalananan saya di kota hukum ini. Ia bersama rekan-rekan mahasiswa Indonesia  setia menemani dan memberi arahan petunjuk tempat-tempat bersejarah di Den Haag, Netherland (Dilla , Dani & Firdhan cs. Thanks berat atas hospitalitynya) .
image

Saya sendiri begitu menikmati suasana didepan Willemspark, sebuah taman yang indah yang sangat nyaman untuk memandang salah satu sudut kota ini. Menikmati pagi di depan danau dan ditemani kicauan burung-burung yang sedang mencari makan.
image

image

Matahari yang mulai bersinar, sedikit menghangatkan suhu udara yang masih mendekati titik beku yang sudah saya antisipasi dengan pakaian yang tebal, penutup kepala serta telinga untuk menambah kehangatan tubuh ini.

Tiada beban rasanya mengunjungi kota yang menjadi bagian dari sejarah kelam bagi Indonesia dimasa lalu. Saya cukup bersemangat untuk merekomendasikan kota yang baru saya datangi pertama kali ini.

Sebagaimana kota-kota di Jawa seperti Jogjakarta, Disini bersepeda merupakan hal yang jamak. Sepertinya bersepeda merupakan simbol penyatuan warga. Bersepeda lah yang membuat perbedaan warna kulit, ke sukuan, agama, ras dan antar golongan menjadi kabur tak berbekas.

image

Vreidespalais

Kalau ada kesempatan mengunjungi tempat yang dianggap çool yang penuh  penuh kedamaian seperti yang dimaksud diatas itu, boleh jadi datanglah ke Vredespaleis, atau Istana Perdamaian .
image

Di tanah ini, terbangun kota yang kemudian menjadi cikal bakal aturan hukum Indonesia di masa lalu, Den Haag, Negeri Belanda.

Saat ini pun aturan hukum Indonesia masih banyak yang mengacu kepada kitab hukum Belanda dimasa lalu. Tidak heran, karena kita memang pernah dijajah Belanda selama 3.5 abad.

image

Mungkin kalau bukan magistrat / ahli hukum di abad ke 16 Hugo de Groot, rasanya belum tentu ada orang lain yang membuat fondasi hukum semesta yang kemudian menjadikan Belanda menjadi ikon tata hukum dunia termasuk ke Indonesia.

Mengenal lebih jauh dari sebuah sumber, ternyata kota ini juga dijuluki : ‘Widow from Hindie‘ yang berarti Janda dari Hindia Belanda. Sejarah penyebutannya berawal karena banyak pendatang dari Indonesia yang pergi ke Den Haag karena menghindari masalah politik atau pajak zaman kolonial.

Willemspark

Kharisma Den Haag sebenarnya tidak sendirian didominasi oleh Vreidespaleis, karena di sebelah timur gedung bersejarah tersebut berdiri icon Den Haag lainnya. Seperti halnya Jakarta yang memiliki Monumen Nasional di Jakarta Pusat, taman di Den Haag juga memiliki bentangan area yang khas.

Ke Den Haag ini saya sengaja mampir ke Willemspark, taman itu disebutnya. Ditengah bentangan oval taman ini, berdiri sebuah monumen Plein 1813.

image

Saya menatap dengan mesin waktu dan terbang ke tahun 1863, saat berakhirnya pendudukan Napoleon Bonaparte di tahun itu.

Terbayanglah suka citanya masyarakat Belanda saat itu, menyambut kembalinya William I sang raja dari pengasingan. Inilah saat-saat yang dikenang oleh Bangsa Belanda merdeka dari tangan Perancis. Itulah sebabnya taman ini disebut dan dinamai Willemspark.

Belanda bagi saya,  memiliki dua hal yang terngiang dalam kepala. Pertama, sebagai negeri Sepakbola yang hebat. Dan  yang ke dua adalah negeri sejarah dengan beragam suka dukanya, termasuk penjajahan dan segala keputusan internasionalnya bagi Indonesia.

Rasa nasionalisme dan patriotisme untuk mengangkat derajat bangsa seperti mereka, kemudian membangkitkan gairah saya untuk berdiri dari duka koloni penjajahan Belanda walaupun saya tidak mengalaminya secara langsung.
image

Namun siapa sangka, ternyata Istana Perdamaian ini pada akhirnya tidak meninggalkan kenangan manis yang sesungguhnya. Walaupun sejarah sempat berpihak kepada Indonesia saat perundingan ‘Konferensi Meja Bundar’ yang merupakan saat-saat bersejarah penyerahan Indonesia dari Negeri Belanda.

Tempat ini kemudian membawa kisah pahit lagi, lantaran sejarah kembali menyalak dari Vredespalais. Mahkamah Internasional, menorehkan sejarah dengan memutuskan kepulauan Sipadan-Ligitan dihapuskan dari peta Republik Indonesia beberapa tahun yang lalu.

Den Haag tetap memiliki kharisma magis sekaligus magistraat bagi saya.

http://adelays.com