Archive | General RSS feed for this section

LDR

image

Saturday Night @ Pekanbaru

Rani yang berada di satu unit dengan saya di kantor pusat Jakarta, punya pacar bernama Andri yang ditugaskan di Pekanbaru. Sehari bertugas disana, Andri diperkenalkan dengan seluruh jajaran staf di Pekanbaru, tidak saja dengan satu unit yang ditempatinya tetapi seluruh back office, bahkan  yang berada di dua gedung kantor yang berbeda.

Suatu hari Rani berkata kepada saya :

Dapat salam dari Pak Yohan”.

Waalaikumsalam…” saya menjawab salam yang disampaikan Rani. Pesan itu adalah amanat dari Andri. Saya pun  tersenyum simpul.

Senyum yang agak saya tahan-tahan itu bermaksud, jangan sampai senyum itu berubah wujud menjadi tawa. Ternyata, hal itu membuat Rani bingung. Ia pun berpikir sambil menerka-nerka. Wajahnya seakan penuh tanda tanya. Mau tertawa kok nggak ada yang pantas ditertawai. Mau bertanyapun sepertinya  ia malu.

Rani pun berlalu…..

Rani & Andi

Rani & Andri

Selain Rani , ada rekan saya lainnya yang juga menjalin hubungan jarak jauh, namanya Nirwan. Kebetulan ia juga memiliki hubungan  dengan seseorang nun jauh di ibukota Propinsi Riau itu.

Cerita LDR ini belum akan jelas sejelas jelasnya kalau tidak diberikan pemahaman, apa sebenarnya kepanjangan LDR di posting kali ini. Sebagian yang lebih akrab dengan dunia finance dan investasi mengarahkan pengertian singkatan itu lebih banyak ke  Loan to Deposit Ratio daripada Long Distance Relationship.

Yap… Kita memang sedang tidak  membicarakan seluk beluk rasio kredit dengan dananya terkait likuiditas. Dengan demikian maka Loan to Deposit Ratio, tidak lagi relevan untuk kisah antara Rani melawan Andri, dan Nirwan melawan seseorang.

Singkat cerita, dua hari kemudian saya bertanya lagi kepada Rani tentang :  apakah Andri sudah bertemu dengan Pak Yohan.

Jawabannya sudah, tapi hanya sekali ketika perkenalan itu. Artinya belum bertemu lagi sejak pertemuan pertama dulu.

Berbekal inisiatif dan keinginan menyampaikan kebenaran, akhirnya saya tunjukkan Display Picture (DP) di BlackBerry Messenger (BBM) yang ditampilkan oleh orang yang dimaksud sebagai Pak Yohan. Karena saya memiliki keyakinan, diantara seluruh staf yang entah jumlahnya puluhan atau ratusan dikenalkan kepada Andri,  tidak akan mudah sang Andri mengingat siapa Pak Yohan yang dimaksud.

Yoan

DP BB Yoan

Setelah DP BBM itu dilihat dan dipahami oleh Rani, gelak tawa akhirnya memecah keheningan sore hari itu . Ia akhirnya menyadari dari profil BBM tersebut, bahwa orang yang selama ini disebut Pak Yohan adalah seorang wanita bernama Yoan … Sekaligus pendamping Nirwan.

 Oalah….Jangan lupa ya Rani, update status ke sang Andri.

Bukan iPad Obama

Obama-Pidato di UI; Sumber Detik.com

Obama-Pidato di UI; Sumber Detik.com

-Kata Pengantar-

Posting ini adalah tulisan yang sudah lama mengendap di Draft, namun belum sempat diselesaikan karena kesibukan yang sedang menjadi-jadi. Seyogyanya posting ini published tidak lama saat Obama datang ke Indonesia.

Sellyana Astri, CEO, Founder sekaligus pemilik situs sellyanastri.net mengirim pesan kepada saya untuk segera mem-posting tulisan baru. Saya katakan kepadanya bahwa sebenarnya banyak tulisan saya yang ‘nongkrong’ di draft dan belum published. Entah kapan draft-draft yang berserakan itu diangkat derajatnya ketempat yang lebih terhormat yaitu “publish”. Tulisan ini adalah salah satu posting yang akhirnya coba saya angkat atas dorongan rekan saya tersebut.

Membaca tulisan lama ternyata menggelikan juga buat saya.. Sambil membaca tulisan lama ini, saya terkekeh-kekeh sendiri.. ternyata dulu itu (sampai sekarang mungkin juga) saya begitu narsisnya… Antara lain karena narsis karena bangga punya iPad 1 bekas (yang sekarang sudah “terbang” ke Jawa Timur bersama pemiliknya yang baru).

Tulisan ini 98% asli, 2 persen hanya penyesuaian dengan sedikit editing ditambah sisipan gambar seperlunya..Tanpa berpanjang lebar mari kita saksikan posting lawas yang berjudul “Bukan iPad Obama”. 

Bukan iPad Obama

Obama boleh saja mampu menjadi wacana di berbagai media publik hari Selasa 9 Nopember 2010 yang lalu, saat  melawat  ke  Jakarta. Ia juga sempat membuat ‘freeze‘ berita meletusnya Gunung Merapi yang lebih dulu menjadi headlines. Bukan itu saja, kedatangannya juga  membuat “Pak Beye” (Sebutan Wisnu Nugroho untuk Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono)  yang sedang ‘mondok’ di Yogyakarta bersama derita pengungsian Gunung Merapi,  kembali mukim ke Jakarta,  tepat sehari sebelum kedatangan pemimpin AS pertama berdarah Afrika Amerika yang dilantik menjadi Presiden 2009 lalu.

Saking hebohnya,  tidak banyak orang yang peduli, bahwa bersamaan dengan kedatangan Obama ada Presiden dari negara lain yang datang mengunjungi Indonesia. Dialah Pemimpin Austria, sebuah negara di Eropa yang kedatangannya kurang mendapat porsi pemberitaan di media. Tidak saja kurang, sebagian besar rekan2 saya ketika ditanya tidak tahu kapan kedatangan Presiden Austria, Heinz Fischer itu.

Formasi Polisi; adelays.com

Formasi Polisi; adelays.com

Hiruk pikuk Obama sang pemimpin negara adidaya, sang pemimpin negara kapitalis penghasil iPad itu sedang menikmati hidangan kenegaraan dan mencicipi nasi goreng, krupuk, emping, bakso bersama Pak Beye dalam jamuan makan malam bersama sepasang first lady dari kedua negara Michelle dan Bu Ani.

Saat itu iPad yang saya gunakan tengah menghasilkan draft posting menari-nari diatas keyboard touch screen khas Apple, yang walaupun “Design by Apple in California, tapi assembled in China”, setidaknya begitulah yang tertulis di bagian bodi belakang produk yang saya beli dari seorang rekan, dengan alasan ingin upgrade ke 64GB 3G itu.

Benda ini sedang berada dititik terdekatnya dengan seorang  pemimpin negara tempat produk ini diciptakan dan dikembangkan.

“Obama nggak bakalan suka iPad”

celetuk seorang teman saat kami menunggu sambil kebetulan lembur kantor di sebuah gedung yang dapat belihat lewatnya rombongan Obama berlalu untuk menginap di Hotel Shangrila, dan mengisinya dengan seloroh yang berkaitan dengan Barry – sebutan Obama kecil –

Teman:  “Asal tahu saja ya.. Obama lebih suka Blackberry” . Kemudian ia menimpalinya lagi sesaat kemudian, “Alasannya karena black adalah warna kulitnya, sedangkan Barry yang merupakan plesetan Berry adalah nama kecil sang Obama”.

Penjagaan Ketat; adelays.com

Penjagaan Ketat; adelays.com

Penjagaan Ketat

Pagi hari, Obama berencana mengunjungi tempat2 yang telah dijadwalkan, kegiatan tersebut memacetkan daerah sekitar Hotel Shangrila dan Jakarta pada umumnya. Rekan2 yang kurang beruntung karena berangkat agak siang, punya pengalaman yang kurang menggembirakan. Nirwan misalnya, ia terpaksa harus berlari karena aparat polisi sedang bersiap men-steril-kan jalan memintanya bergegas lewat, tidak hanya harus berjalan cepat tapi harus berlari-lari seperti dikejar hantu kesiangan. Alhasil bajunya yang sudah licin dan rapi itu mendadak basah dan  berpeluh ditengah matahari yang mulai meninggi pukul delapan pagi. Iapun datang dengan nafas yang masih terengah-engah sekalipun  ia bukan perokok.

Sambil menunggu lewatnya rombongan pengawal yang membawa Obama dengan “The Beast” – sebutan untuk mobil kepresidenan yang memiliki tingkat maximum security tertinggi dengan pintu yang setara dengan pintu pesawat terbang Boeing 757 itu-, Nirwan masih besemangat menambahkan bahwa mungkin saja jika dirinya tidak lolos untuk menembus proses strerilisasi, mungkin ia masih  termangu-mangu menunggu dan  memandangi keramaian Mobil Obama lewat bersama kerumunan   menuju Masjid Istiqlal.

Penjagaan Ketat; adelays.com

Bukan Obama Presiden Amerika kalau pengamanannya tidak ketat. Bukan hanya jalan raya tempat ia berlalu yang dijaga, tapi juga gedung Hotel Shangri-La tempat menginap , bahkan atap gedung tidak luput dari perhatian penjagaan aparat yang siangnya  berpidato di Universitas Indonesia di Depok.

Obama begitu merasa dekat dengan masa kecilnya ketika ia dibesarkan. Dengan komunikasi verbal yang sangat baik dan meyakinkan, ia mampu ‘menyihir’ tidak saja pemirsa yang hadir mengikuti pidatonya di Kampus Universita Indonesia, tapi juga pemirsa televisi melalui tayangan yang yang berulang kali disiarkan oleh Televisi Nasional. Obama berpidato dengan simpatik dengan dibumbui mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Indonesia, seolah memang ia orang Indonesia. Para pendengarnya langsung  merasa dekat Obama, berdecak kagum seolah melupakan bahwa beberapa waktu yang lalu sebagian besar orang sangat membenci Amerika.

Pujian Demokrasi

Keyboard iPad ini,  selanjutnya  menorehkan kata demi kata buah pikiran pendapat pribadi saya -penulis Blog ini-,  yang merdeka menulis apa saja dari pikiran tentang Pujian Demokrasi yang disampaikan Obama. Ia (iPad) tidak dipengaruhi oleh justifikasi demokrasi ala Amerika versi Obama, karena iPad ini bukanlah iPad-nya Obama.

Untuk kesekian kalinya pemimpin negara adidaya dan kalangan barat pro Amerika memuji penegakan demokrasi yang berjalan di Indonesia. Terima kasih untuk pujiannya, karena ikhtiar kita sebagai bangsa membuahkan hasil setidaknya jika dipandang dari pondasi politik.  Sudah seyogyanya pujian demokrasi tidak melulu datang dari ranah politik karena ia juga harus datang dari ranah ekonomi.

The Beast Melintas; adelays.com

The Beast Melintas; adelays.com

Business News dalam Induk Karangannya  menuliskan bahwa:

“Bagi rakyat, kelezatan buah demokrasi bukan hanya karena buah itu mengandung gizi poliktik yang tinggi tetapi justru karena didalamnya terkandung pula gizi ekonomi dalam jumlah yang cukup dan bisa dinikmati seluruh rakyat “

Inilah kenyataan yang harus kita bangun untuk menyadarkan kita bahwa keberhasilan seharusnya tidak saja harus diindikatori dari pondasi politik saja. Harapannya bisa dari fundamental  yang lainnya…

Ah.. malah ngomong politik…. “Bukan iPad Obama” cukup sampai disini saja….

Obama tidak sampai 24 jam berada di Indonesia, ia kemudian bertolak ke Seoul untuk mengikuti Konferensi G20 di Korea Selatan. Seorang temanku kembali berseloroh pasca membaca pesan dari email mengapa Obama hanya 22 jam saja di Jakarta. “Obama khawatir, karena jika ia lebih dari 24 jam maka ia harus lapor pada RT/RW setempat”.  Hehehee….. 😀

Poster Raksasa Porong

Poster Porong (Adelays.com)

Poster Porong (Adelays.com)

Siapa sangka ternyata tragedi lumpur Porong, Sidoarjo Jawa Timur  yang menorehkan duka bagi penduduk disekitar tragedi Lumpur  kini menjadi lokasi bertenggernya poster raksasa dengan anak-anak poster yang menemaninya. Diatas dam / bendungan darurat lumpur dengan asap membumbung putih ke langit, mewakili hawa panas diatas hamparan lumpur, terpampang tulisan sebagai wujud keprihatinan atas politisasi bencana yang menenggelamkan ribuan rumah beberapa tahun lalu.

Bukan rahasia, bencana banjir lumpur panas Sidoarjo yang dikenal sebagai “Lumpur Lapindo” adalah peristiwa semburan lumpur sejak Mei 2006 pada lokasi pengeboran Lapindo Brantas Inc. di Kecamatan Porong , Sidoarjo Jawa Timur. Ada juga yang mengaitkannya sebagai akibat gempa yang terjadi di Jogja. Semburan panas lumpur dari perut bumi ini kemudian menggenani tiga kecamatan disekitarnya yang mengakibatkan tergenangnya kawasan dan mempengaruhi aktivitas pertanian, perindustrian serta pemukiman di Jawa Timur.

Beberapa kali saya melewati lokasi ini baik sebelum 2006 ketika mudik pulang kampung, jalan tol yang menghubungkan beberapa kota di Jawa Timur ini masih bisa dinikmati aksesnya. Selang beberapa tahun saya masih sempat melalui Jalan Tol Surabaya – Gempol dalam kondisi yang sudah memprihatinkan kalau tidak salah di pertengahan 2008. Sampai kemudian pertengahan Agustus lalu saat mudik lebaran 2012 jalan penghubung Surabaya Malang saya lewati.

Akses jalan yang terputus di beberapa titik ini menjadikan badan dam / bendungan tersebut menjadi sangat strategis dan ‘eye catching‘ bagi pengguna jalan. Tidak heran ketika saya melintas, banyak poster yang memanfaatkan lokasi strategis tersebut menjadi ajang promosi. Poster-poster yang bernafaskan ucapan selamat berpuasa ramadhan, himbauan untuk berhati-hati dijalan dari kepolisian, ucapan lebaran sampai promosi produk rokok, ataupun promosi obat maag menghiasi badan bendungan.

Keprihatinan masyarakat atas berbagai permasalahan yang timbul karena tergenangnya daerah mereka menyebabkan keprihatinan karena musibah ini menjadi ajang politisasi. Tanpa basa-basi poster besar tersebut to the point pada masalah pelunasan pihak terkait. Maraknya pemberitaan diberbagai media rupanya membuat mereka gerah lantaran dibawa ke arah politisasi dan eksploitasi pihak lain.

Siapapunya yang melewati jalan itu menjadi tahu bahwa masyarakat korban lumpur tidak saja ‘panas’ tetapi juga jenuh. Saya saja, yang hanya melewatinya sekali sekali, merasakan hawa panas dan keprihatinan yang melanda, apalagi mereka yang kehilangan lahan tinggal, area pertanian, usaha kecil, industri tempat bekerja dan berbagai kepentingan yang berada diatasnya.

Poster itu seolah mengajak saya ikut merasakan keperihatinan yang dirasakan, sekaligus mengajak belajar bersyukur atas nikmat yang diberikan ketika tidak merasakan secara langsung musibah saudara-saudara kita yang berada disana. Mungkin saja pembaca poster yang lain dapat ikut merasakan hal itu, bahkan dapat menemukan hikmah besar lainnya yang seolah berteriak atas kepedihan musibah yang entah kapan akan berhasil bisa dihentikan, Wallahu ‘alam bissawab

Protected: Selamat Iedul Fitri 1433 H

This content is password protected. To view it please enter your password below:

GUANO…!!!

The Adventure of Tintin

The Adventure of Tintin

Saya teringat kisah lucu Thomson dan Thompson, dalam buku kartun komik seri The Adventure of Tintin karya Herge. Thomson dan Thompson adalah detektif kembar yang narsis dan terkadang sok tahu yang sering kali muncul dalam petualangan Tintin, seorang wartawan yang selalu ditemani anjingnya Snowy.

Membedakan mana Thomson dan Thompson cukup mudah dari lekukan kumisnya, Thomson memiliki lekukan kumis keluar, sementara Thompson kedalam.

Continue reading

Domain Baru: adelays.com

Terhitung mulai 29 Januari 2012, blog adelays.wordpress.com, memiliki domain baru, yaitu: ADELAYS.COM .

Continue reading

Bukan Cuma Faktor X

Rossi Vs Stoner Jerez 2011

Rossi Vs Stoner Jerez 2011; Sumber: Visordown.com

Loh.. kok bukan faktor X ?  Terus.. kalo bukan faktor X, faktor apa dong ? Faktor X sering disebut sebagai faktor lain dari sesuatu yang seharusnya dapat diperoleh menjadi luput / terlepas, padahal secara teori / secara hitung-hitungan normal bisa didapatkan.

Casey Stoner, Pembalap tim Honda Repsol MotoGP yang bertanding dengan rasa percaya diri di Sirkuit Jerez Spanyol 3 April 2011 boleh jadi kecewa. Pasalnya, seri ke dua dari 18 seri Moto GP yang digelar hari Minggu itu,  ketenangan dan kematangan yang ditunjukkannya saat bertanding dibawah lintasan yang basah karena hujan ternyata dicederai oleh Valentino Rossi, dalam usahanya merebut posisi ke dua dari Stoner.

Sebelum bertanding di Jerez ini Stoner pernah berujar bahwa kompetitor yang sesungguhnya adalah diri sendiri. Dan ia akan berusaha mengontrol diri agar tetap fokus pada pertandingan tidak terpancing emosi sesaat untuk kebut-kebutan tanpa strategi balap yang mumpuni.

Continue reading

In Memoriam Anas Lutfi

 

Almarhum Anas Lutfi Semasa Hidupnya a
Almarhum Anas Lutfi Semasa Hidupnya. Foto ini diambil dari Blackberry Contact terakhir yang terpampang distatusnya.

Berita duka itu belum genap satu hari satu malam saya terima melalui sms dari seorang rekan yang sudah lama tidak lama bersua, setelah meninggalnya seorang artis, pemain sinetron, pemain film anggota DPR dari Partai Demokrat dan seorang manajer Tim Nas U-23 yang sedang dipersiapkan menuju Sea Games 2011, Adjie Massaid.

Seorang teman yang pernah senasib seperjuangan ketika masuk perusahaan yang sama beberapa tahun lalu, melalui sms seorang kawan saya baca tidak mudah kupercaya… Pesan pendek dengan tag waktu belum sampai satu jam sejak berita duka itu disampaikan, menunjukkan waktu 23:08 pada 5 Pebruari 2010, sekali lagi tidak kupercaya.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun..telah berpulang ke rahmatullah rekan kita M.Anas Lutfi pd hr Sabtu jam 22.10 di rs global

Continue reading

Hanya Gelar yang Tertunda

 

Hanya Gelar Yang Tertunda

Hanya Gelar Yang Tertunda

Penghujung tahun 2010 dilalui dengan dukungan yang sangat antusias bagi Timnas Indoesia di  Gelanggang Olah Raga (Gelora) Bung Karno di Senayan, Jakarta. Jalan-jalan menjadi sangat padat oleh antrian supporter, suara dukungan berbentuk yel-yel, terompet, riuh rendah membahana didalam maupun diluar stadion. Pendukung memerahkan jalanan, bis, mobil, motor,  angkutan kota, jembatan dan semua space yang tersisa.

Stadion Gelora Bung Karno (GBK) menjadi saksi puluhan ribu orang mendukung tim Garuda bermain. Dukungan supporter tidak saja diserukan saat pemain berlaga. Sebelum berlaga pukul 19.00 pun saat mereka melakukan pemanasan di lapangan suara genderang bertalu-talu. Sorak-sorai supporter mengisi seluruh ruang stadion. Isi stadion merah merona.

Continue reading