Archive | Reviews RSS feed for this section

Review: Novel Pulang

sinopsis-novel-pulang-tere-liye

“Pulang” menceritakan kisah Bujang sebagai tokoh sentral. Sesuai dengan judulnya, novel ini berkisah tentang liku-liku Bujang sejak kepergiannya dari kampungnya, malang melintang puluhan tahun dalam “shadow economy” sampai akhirnya kembali ke kampung halaman. Satu lagi terbit novel dari salah satu karya novelis paling produktif di negeri ini.

Continue reading

Advertisements
Fantasy Novel

Review: Novel Fantasy

Judul : Fantasy

Penulis: Novellina Apsari

Editor: Ruth Priscillia Angelina

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman : 312

Cetakan : I, April 2014.

ISBN : 978-602-03-0355-0

Review Fantasy

Review Fantasy

Davina:

‘Awang menatapku, tersenyum. Sepertinya ia sependapat bahwa apa yang ia katakan tidak akan menjadikan perasaannya lebih baik. “Ironisnya, buku nada yang kuminta adalah komposisi Fantasy, milik Mozart, komposisi terakhir yang pernah diajarkan Kakek kepadaku.”   ‘ 

*******

Itu adalah cuplikan isi novel yang menjelaskan makna judul “Fantasy” yang sebenarnya. “Aku” maksudnya adalah Davina. Sebagaimana novel ber-genre Romance (roman) yang paling digemari oleh sebagian besar pembaca perempuan, novel ini saya akui terbilang cukup berhasil mengaduk-aduk perasaan pembacanya. Kisah “Aku” yang unik diperankan bergantian, antara “Aku” sebagai Davina dan “Aku” sebagai Armitha ini, menjadi ciri khas novel roman yang membaca perspektif laki-laki dari sisi perempuan (kedua-duanya dari sudut pandang perempuan).

Sebagaimana layaknya novel roman, konflik pasti terjadi. Awang dan Armitha yang dikemudian hari menjadi pianis sukses dan  memiliki passion yang tinggi terhadap instrument piano, sama-sama memiliki ketertarikan pada musik klasik (karya Beethoven, Mozart, Schubert, Haydn dan lain-lain). Mereka harus terlibat konflik dengan Davina yang diawal cerita menjadi kekasih Awang.

Konflik yang menjadi ciri khas novel roman ini, memberi gambaran kuat betapa konflik mereka bergerak dari satu cerita ke cerita lainnya, dari satu kota ke kota lainnya, seperti Surabaya, Tokyo, Singapura, Paris, Berlin sampai ke Wina. Perjalanan menyambut mimpi dan perasaan hati antara Awang – Armitha dan Awang –Davina, membuncahkan emosi.

Selain itu, konflik yang dibangun oleh penulis terhadap karakter Awang, Davina dan Armitha Wijaya (yang merupakan teman satu sekolah di SMA dan terlibat cinta segitiga itu), sesungguhnya juga tidak mudah ditebak, lantaran penulisnya -Novellina- menggunakan timeline yang tidak berurutan.

Terlebih lagi,  novel yang termasuk aliran novel komersial ini, memiliki alur yang khas dan bergelombang. Dibangun dari pondasi perasaan pemerannya (Davina dan Armitha) yang pada awalnya tidak mengetahui (atau tidak mengakui) bahwa sesungguhnya mereka telah sama-sama menyukai sosok Awang, sang pianis jenius.

Bahwa kemudian sesuatu itu terjadi,  memanglah menjadi bagian penting yang menjadi sorotan dalam kisah ini, yang kemudian sampailah pada klimaks cerita. Kisah cinta mereka akhirnya bisa melewati rintangan dan mencapai happy ending.

Dialog dan penggambaran yang baik, telah menyebabkan novel ini dipandang sebagai novel yang memiliki dialog bagus yang “Shows, instead of Tells”, ciri khas adegan kontemporer dan terkesan tidak menggurui pembacanya.

Novellina memilih dialog yang halus dalam menyalurkan detail percintaan romantis dan lebih memilih kata-kata seperti “dekapan” atau ciuman yang berkarakter lembut. Tidak ada kata-kata vulgar dan tindakan kekerasan yang digambarkan dalam chemistry antara Awang dan kekasihnya.

Salut atas terbitnya novel “Fantasy” ini . Satu-satunya yang saya rasakan agak mengganjal adalah penggambaran karakter Awang di bagian pertama.  Pada awalnya, penulis menggiring pembaca membayangkan Awang sebagai sedikit “jagoan” dan dikelilingi beberapa teman-teman laki-lakinya, (seperti pada saat ingin berkenalan dengan Mitha). Tidak ada lagi ditunjukkan kesetiakawanan teman-temannya pada lanjutan ceritanya.

Bagi pembaca yang ingin tau perkembangan buku ini,  silakan follow account Twitter Novellina : @novellinaapsari atau account Twitter penerbit: @gramedia.

Congratulations Ellen, untuk Novel “Fantasy” ini, saya menilai 4 dari 5 bintang.

wpid-20140516_193551.jpg

Tulisan ini diikut sertakan dalam Lomba Resensi Novel Fantasy sebagaimana diumumkan pada Blog penulisnya Novellina http://theflybird.blogspot.com.

IM: Irshad Manji – Dari Sebuah Surat Terbuka Buku Karya IM.

Allah, Liberty and Love

Allah, Liberty and Love

Penggalan judulnya “IM” tapi  bukan IM singkatan dari Instant Messenger, melainkan Irshad Manji (IM). Singkatan IM sendiri terinspirasi acara yang disiarkan oleh salah satu stasiun tv swasta berjudul “Chatting dengan YM”, yang berarti chatting dengan Yusuf Mansur. YM lain, yang berarti Yahoo Messanger merupakan bagian dari IM atau Instant Messenger. Duh.. ribet ya… Singkat cerita IM adalah Irshad Manji.

Nama IM yang berarti Irshad Manji sebenarnya baru terdengar sayup-sayup ketika saya datang ke Toko Buku Gunung Agung. Namun ketertarikan saya, kemudian bertambah seiring dengan tersedianya buku itu di jajaran rak buku dalam kelompok buku baru. Tinggal satu unit buku pula.. Semakin lengkap alasan pendukung saya membeli buku  ini. Alasan utamanya adalah keingintahuan yang tinggi terhadap pola berpikir Irshad atas pikiran-pikirannya yang mengundang kontroversi.

Judul bukunya adalah “Allah Liberty and Love” , tapi sebelum saya sempat membacanya, seorang teman kemudian memforwardkan judul buku karya Irshad sebelumnya, dalam format pdf melalui email keesokan harinya, gratis lagi. Buku tersebut adalah karya Irshad Manji pertama yang berjudul “The Trouble with Islam Today“, namun khusus mulai edisi bahasa Indonesia, Irshad menerbitkannya dengan judul “Beriman Tanpa Rasa Takut”. Softcopy buku “Beriman Tanpa Rasa Takut” ini kemudian yang kemudian saya baca bukunya terlebih dahulu.

Ditolak di Malaysia

Ditolak di Malaysia

Irshad Manji adalah seorang wanita yang dilahirkan di Uganda yang kemudian pindah mengikuti orangtuanya  ke Canada, sejak ia kecil. Seorang yang kemudian ketika dewasanya menjadi penyuka sesama jenis (lesbnisme) ini, sempat dititipkan dan dibesarkan dilingkungan yang berbeda agama, ketika ia baru pindah ke Canada. Ke’ikhlas’annya menerima pendidikan beda keyakinan ini kemudian sering diargumentasikannya dengan agama yang dianutnya sampai saat ini. Pertanyaan-pertanyaannya yang kritis kepada guru, atau ustadz terhadap perbedaan dengan keyakinannya menjadi pembanding yang mencolok  yang dianggap berat sebelah ini, dianggap Irshad tidak mampu meyakinkannya.

Sepak terjang Irshad dikemudian hari menuai pro dan kontra, terutama setelah diterbitkannya buku pertama. Ada yang mendukungnya karena dianggap sebagai pembawa pemikiran-pemikiran baru yang kritis dalam lingkungan Islam. Buku “Allah Liberty and Love” yang diterbitkan dalam Bahasa Indonesia oleh ReneBook dan Komunitas Salihara dianggap sebagai catatan ringan tentang kebebasan perempuan dianggap senada dengan tulisan pertamanya, menuai kritik tajam.

Banyak yang tidak menyukainya, lantaran ia dikenal sebagai seorang tokoh islam yang kontroversial karena pemikiran – pemikiran yang melawan arus. Penganut penghalalan lesbianisme ini , saat melakukan promo buku “Allah Liberty and Love” tanggal 4 Mei 2012 di Gedung Salihara Jakarta, diusir dan dituntut bubar oleh sejumlah ormas (organisasi masyarakat). Hal tersebut tidak saja terjadi di Indonesia, tapi terjadi di beberapa negara termasuk Malaysia.

Buku Irshad Manji

Buku Irshad Manji

Saya tidak kemudian terjebak pada mendukung atau membenci tokoh tersebut walaupun saya punya pendapat yang berseberangan dengan Irshad Manji. Hal tersebut didasari latar belakang pendidikan, pengetahuan dan pemahaman mengenai apa yang saya terima sejak kecil sampai dewasa mengenai apa yang saya yakini benar dibandingkan apa yang Irshad Manji percayai , tentunya juga dengan Alqur’an dan Hadist. Siapapun boleh memiliki pandangan  berbeda terkait latar belakang tersebut.

Tulisan ini menyerahkan sepenuhnya keyakinan tersebut berdasarkan pemahaman masing-masing untuk kemudian dipersilakan menilai seperti apa pemikiran IM tersebut, benar atau salah, kritis atau malah dianggap keblinger. Terlampir adalah Surat  pembuka Irshad Manji dalam buku pertamanya yang juga dimuat dalam blognya: https://www.irshadmanji.com/sources-and-notes . Surat Terbuka ini dianggap sebagai gerbang pemikirannya dalam buku yang dibaginya dalam sembilan chapter  yang menuai kontroversi. Buku lengkapnya dapat juga didownload secara gratis.

Surat Terbuka

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah, biarpun terhadap dirimu sendiri ataupun ibu-bapak dan kerabatmu.”
(An-Nisa: 135)

AKU HARUS jujur pada kalian semua. Hubunganku dengan Islam kurang begitu menyenangkan. Hidupku bergantung pada fatwa yang dikeluarkan oleh orang-orang yang mengklaim diri sebagai wakil Allah.

Saat kurenungkan semua fatwa yang dilontarkan oleh para pemikir agama kita, aku merasa sangat malu. Tidakkah Anda juga merasakannya? Aku mendengar dari seorang teman Saudiku bahwa “polisi agama” di negerinya menangkap perempuan yang memakai warna merah pada hari Valentine. Lalu aku berpikir: Sejak kapan Tuhan Yang Maha Pengasih melarang hamba-Nya berbahagia—atau bersenang-senang?* Aku mendengar berita tentang korban perkosaan yang dihukum rajam karena tuduhan zina. Kemudian aku bertanya-tanya: Bagaimana mungkin massa yang kritis di antara kaum muslim kita tetap bungkam mengetahui hal itu?

Ketika kaum non-muslim meminta kita bicara, aku mendengar Anda berkeluh kesah bahwa kita tak perlu menjelaskan perilaku kaum muslim lain. Namun, ketika kita disalahpahami, kita gagal untuk melihat bahwa kesalahpahaman itu terjadi karena kita belum memberikan penjelasan kepada mereka, agar mereka memahami kita dengan cara yang berbeda. Terlepas dari itu semua, saat aku berbicara secara publik tentang kegagalan tersebut, sebagian besar kaum muslim yang sering berpikir secara stereotip, kemudian mencurigaiku sebagai pengkhianat. Pengkhianat terhadap apa? Kemurnian moral? Kesusilaan masyarakat? Atau peradaban?

Ya, aku berbicara apa adanya. Anda hanya harus membiasakan diri dengan keterusterangan ini. Dalam suratku ini, kuajukan pertanyaan-pertanyaan yang tak lagi terhindarkan buat kita. Kenapa pikiran kita semua terpaku pada kejadian yang menimpa orang-orang Palestina dan Israel? Kenapa orang Islam begitu sulit untuk mengubah pandangannya tentang anti-Semitisme? Siapa penjajah kaum muslim yang sesungguhnya—Amerika atau bangsa Arab? Kenapa kita menyia-nyiakan potensi kaum perempuan, yang merupakan separuh dari jumlah makhluk Tuhan? Bagaimana kita bisa begitu yakin bahwa kaum homoseksual patut diasingkan—atau dibunuh—jika Al-Quran

menyatakan bahwa segala sesuatu yang diciptakan Tuhan bersifat “sempurna”? Tentu saja Al-Quran menyatakan lebih dari itu, tetapi apa sebetulnya alasan kita bersikukuh untuk memahami Al-Quran secara harfiah jika cara itu begitu kontradiktif dan ambigu?

Apakah Anda jantungan membaca komentarku ini? Lanjutkan saja, tak usah ragu-ragu. Karena jika kita tidak bersuara melawan para imperialis dalam Islam, mereka akan terus berjalan dengan aksi dan pertunjukan mereka. Dan usaha mereka akan mengakibatkan hal-hal yang mematikan: kerusakan, kekerasan, kemiskinan, dan keterkungkungan. Keadilan seperti inikah yang kita cari dalam dunia yang diamanatkan Tuhan pada kita? Kalau bukan, lalu kenapa tidak lebih banyak dari kita yang mengajukan keberatan?

Yang kudengar dari Anda adalah, kaum muslim menjadi target serangan-reaktif. Di Prancis, kelompok muslim mengajukan seorang penulis ke pengadilan karena menyebut Islam sebagai “agama paling bodoh”. Kelihatannya penulis itu mempropagandakan kebencian. Lantas kita menuntut hak kita—sesuatu yang jarang kita dapatkan di negara-negara Islam. Tetapi, apakah penulis Prancis itu salah ketika menulis bahwa Islam harus menjadi lebih dewasa? Bagaimana dengan seruan Al-Quran untuk membenci kaum Yahudi? Bukankah muslim yang mengutip Al-Quran untuk membenarkan anti-Semitisme juga patut diajukan ke pengadilan? Tidak bisakah tindakan itu dikategorikan sebagai “serangan-reaktif”? Apa yang membuat kita bisa dibilang bijak, sementara yang lain rasis?

Melalui jeritan mengasihani-diri-sendiri dan kebungkaman yang tak tertanggungkan, kita kaum muslim tengah berkonspirasi melawan diri kita sendiri. Kita berada dalam krisis. Dan kita menyeret seluruh dunia turut serta di dalamnya. Kalaulah ada momen bagi reformasi Islam, maka sekaranglah saatnya. Demi kasih Tuhan, apa yang bisa kita lakukan untuk itu?

Anda mungkin bertanya-tanya, aku ini siapa, kok berani bicara seperti ini. Aku adalah Muslim Refusenik. Itu tidak berarti aku menolak menjadi seorang muslim. Itu berarti aku menolak untuk bergabung dengan pasukan “robot” yang mudah dimobilisasi secara otomatis untuk melakukan tindakan atas nama Allah. Aku mengambil istilah ini dari kelompok refusenik permulaan: kaum Yahudi Soviet yang memperjuangkan kebebasan beragama dan kebebasan pribadi. Tuan-tuan mereka yang komunis tidak memperbolehkan mereka pindah ke Israel. Karena usaha-usaha mereka untuk meninggalkan Uni Soviet, banyak kaum refusenik harus membayar dengan kerja paksa dan kadang dengan nyawa. Seiring waktu, penolakan mereka yang tiada henti untuk patuh pada mekanisme kontrol- pikiran dan pembunuhan-karakter turut membantu mengakhiri sistem totalitarian di negara itu.

Demikian halnya, aku mengangkat topi pada kaum refusenik yang lebih baru—para tentara Israel yang menentang pendudukan militer di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Dalam spirit yang sama, kita pun mesti menentang penjajahan ideologis terhadap pikiran kaum muslim.

Anda pasti ingin meyakinkanku bahwa apa yang kujelaskan di surat terbuka ini bukan Islam yang “sesungguhnya”. Kuharap Anda benar. Itulah sebabnya aku menulis surat terbuka ini. Karena aku yakin kita mampu menjadi lebih bijak dan humanis ketimbang sebagian besar pemimpin agama kita. Tapi, demi diskusi yang jujur, aku harus menantang Anda untuk bersikap jujur terhadap Islam yang Anda pertahankan secara refleksif. Islam dalam bentuknya yang riil atau yang ideal? Segala sesuatu tampak luar biasa sebagai sebuah ideal. Kapitalisme tampak hebat sebagai sebuah ideal. Sebagai sebuah ideal, Konstitusi Amerika Serikat menggaransi kebebasan dan keadilan bagi segenap orang. Kaum muslim tahu bahwa kenyataan sangatlah berbeda dengan sebuah ideal. Sebagai masyarakat yang berhati nurani, kita juga mesti memperhatikan realitas-realitas yang terjadi dalam Islam.

Kupikir Nabi Muhammad akan menyatukan perbedaan antara yang riil dan yang ideal. Ketika beliau ditanya tentang definisi agama, beliau menjawab: Agama adalah cara kita bersikap terhadap orang lain. Sederhana, tanpa harus menyederhanakan! Dengan definisi itu, cara muslim bersikap—bukan dalam teori tapi dalam kenyataan—itulah sesungguhnya Islam. Perasaan puas terhadap diri sendiri (qanaah— Peny.) adalah Islam. Itu juga berarti bahwa kita mesti memperhatikan hak asasi perempuan dan kelompok minoritas. Untuk melakukan itu, kita harus mentas dari sikap kita yang terus menolak. Dengan menekankan bahwa tidak ada masalah dengan Islam saat ini, kita menyembunyikan “kenyataan agama” kita di balik “ideal agama” kita, yang berarti membebaskan diri kita dari tanggung jawab terhadap umat manusia, termasuk saudara kita sesama muslim.

Dengan menulis surat terbuka ini, aku tidak bermaksud menyatakan bahwa agama lain bebas dari masalah. Sungguh. Perbedaannya adalah, perpustakaan-perpustakaan berjubal dengan buku-buku tentang permasalahan dalam agama Kristen. Demikian pula dengan agama Yahudi. Kita kaum muslim bisa melakukan itu.

Apa yang mesti ditakuti?

Xinran’s Book

Melilitkan tali pusarnya dua kali ke leher, lalu begitu kepalanya keluar, cekik bayinya. Jika yang keluar kepala terlebih dulu bisa menyebabkan bayi itu menelan air ketuban, kemudian si bayi tidak bisa menarik napas. Atau anda bisa menaruh bayinya di baskom, memegang kertas ‘kotoran kuda’ basah di wajahnya, dan dalam beberapa detik saja kakinya kan berhenti menendang, Dan untuk perempuan yang tak pernah melahirkan bayi laki-laki, hanya perempuan lagi dan lagi, hingga keluarganya bosan, cukup sederhana untuk meninggalkan bayinya di ember air kotor…”

Continue reading

MBA, is …

MacBook Air. Source : Apple.com

MacBook Air. Source : Apple.com

Ada-ada saja cara setiap orang menemukan jalan memutuskan sesuatu, untuk memilih suatu produk. Saya tidak pernah membayangkan suatu saat akan menggunakan produk Mac dari Apple. Tulisan ini bukan ditujukan untuk memanaskan persaingan antara fanatisme pengguna Mac dan PC lainnya, tapi ini murni karena pendapat sederhana saya setelah dua minggu menggunakannya.

Continue reading

Mulai ‘Menulis’, Kenapa Tidak ?

Reading Writing Donuts

Reading Writing Donuts

Tentu tidak sulit untuk bereskpresi bagi wartawan atau penulis senior menuangkan pikirannya dalam bentuk tulisan, tapi bagi seorang pemula atau amatir, hal ini menjadi momok tersendiri. Ia dapat termangu memandangi screen tanpa ada reaksi tangan mengetik pada keyboard, padahal sejumlah ide sudah menari-nari diatas kepala.  Jari ini seolah ingin mengetikkan sesuatu yang spektakuler, tetapi tidak sampai beberapa kata atau kalimat , tombol backspace memberangus semua tulisan itu dengan alasan-alasan sederhana: tidak pantas, kurang bagus, tidak sreg,  malu dengan ide sendiri dan lain lain.

Continue reading

Travelling ke Langit. Bagaimana Mungkin? (2)

TSM

Dalam pandangan tradisional, langit diilustrasikan bertingkat dalam tujuh lapis langit,  seperti kue lapis.  Tetapi dalam pandangan Agus Mustofa (AM), langit merupakan sebuah tingkatan dimensi.  Langit pertama, yang dihuni oleh  manusia dan alam semesta seisinya,  memiliki tingkat dimensi sebanyak 3.

Demikian ia menuturkan dalam bukunya “Terpesona di Sidratul Muntaha”, terbitan Padma Press 2004.

Continue reading

Travelling ke Langit. Bagaimana Mungkin?

Aliimran190

Kalau travelling keluar negeri, sudah banyak backpackers melakukannya. Keluar planet bumi pun, sudah banyak astronot melakukannya. Tetapi diperjalankan ke langit, apalagi ke langit ke tujuh dan kembali lagi dengan selamat ke bumi?  Hanya satu orang yang pernah melakukannya.

Continue reading