Archive | Vacation RSS feed for this section

Merambah Kharisma Dewata nan Kirana

Merambah Kharisma Dewata nan Kirana. – at Books & Beyond

@ Denpasar, Bali

KLM vs Garuda

KLM vs Garuda.

Dua maskapai ini sama- sama member of Skytrax. Sama-sama bukan budget Air yg serba irit, tapi baru saja onboard sudah terasa perbedaan auranya.

3 perbedaan yang dpt penumpang awam seperti saya rasakan antara lain adalah:
1. Hiburan di setiap kursi sudah available sejak penumpang masuk. Garuda baru on setelah mengudara.

2. KLM, tidak ada petugas yg membantu menunjukkan lokasi tempat duduk, kalaupun ada hanya didepan pintu masuk saat menentukan di row mana kita masuk. Garuda yang ramah, bukan tidak mungkin diantar sampai depan seat.

3. Kompartemen diatas tempat duduk tempat menyimpan barang, tidak harus dibantu pramugari. KLM serba mandiri > 80 persen penumpang menutup kompartemen sendiri.

Selanjutnya.. ?
Itu dulu beda KLM mewakili budaya west yg mengutamakan kemandirian VS Garuda mewakili east yg mengutamakan keramahan.
Penerbangan akan segera dimulai.

Bismillahi majreha wa mursaha.

View on Path

Malu Bertanya, Sesat di Praha

 

2e128451552f4b01a2dedc568008fe06

Caramel Machiato

Secangkir Caramel Machiato , menemani saya menyepi di Václavské náměstí 813/57, lokasi kedai kopi terkenal  yang tak jauh dari Hlavni Nadrazi, stasiun kereta api utama di kota Praha, Republik Ceko.

Thomas, sang manajer toko berbaik hati menawarkan susu panas dengan rasa kopi ringan dan sirup karamel di atasnya, membuai kehangatan kopi-susunya mengajak saya melupakan bekunya udara di luar toko yang kurang bersahabat.
Continue reading

Le Grande Mosquee De Paris

Mencapai lokasi Grande Mosquee de Paris, baik dari stasiun subway Place Monge atau stasiun subway Cansier-Doubenton, kurang lebih sama jaraknya. Dengan peta atau Global Positioning System (GPS) digenggaman saya, jika ditarik garis lurus ketiga titik itu, mirip segitiga sama sisi. Waktu tempuhnya sekitar limabelas menit dengan berjalan kaki menurut perkiraan.

Dibawah langit mendung diselingi kelap kelip bintang gemintang yang mulai redup, saya menyusuri jalan menuju Rue de Coutrefages, untuk sebuah misi yang mungkin tidak terpikirkan banyak orang ketika pertama kali menginjak Perancis, untuk berjamaah Subuh disebuah situs masjid terbesar di kota yang terkenal dengan ikon menara Eiffelnya.

Continue reading

Praha, Antara George dan Charles

image

“George”, begitu dia menyebutkan namanya.

Sebenarnya ia memiliki nama lain (nama keluarganya) yang kurang akrab di telinga saya ketika pengemudi taksi itu memperkenalkan namanya dalam perjalanan saya menuju airport. Saya hendak meninggalkan Praha, ibukota Rep. Czech dan akan bertolak ke Paris, Perancis.

Di dalam taksi yang interiornya terbilang bagus dan bersih ini saya pun kemudian mengetahui bahwa jenis sedan taksi yang saya tumpangi  ini adalah mobil bermerk Skoda, hasil kerjasama pabrikan Czech dan Jerman sebuah kendaraan yang belum pernah saya naiki sebelumnya.

Mengenal taxi driver yang terbilang keren kalau dibandingkan dengan penampilan para sopir di Jakarta, sebenarnya saya sempat menahan diri untuk banyak banyak bicara. Penampilannya dengan kacamata hitam pekat, dibalut jaket warna hitam yang ketat laksana detektif di film besutan eropa “Taxi” membuat pencitraan atas dirinya teramat ‘dingin’.

Tetapi setelah beberapa kalimat kami lontarkan, kebekuan itu akhirnya meleleh. George dan saya akhirnya menikmati perbincangan seputar perjalanan saya di Rep. Czech.

image

Sebagaimana layaknya seorang backpackers, sebenarnya saya lebih suka menggunakan transportasi yang lebih merakyat sepeninggal saya dari apartemen budget yang saya tinggali menuju bandar udara. Namun dibawah suhu dingin 2 derajat Celcius, ditambah cuaca mendung dan gerimis sudah mulai turun, akhirnya saya memilih naik taksi plus mengejar waktu yang cukup sempit menuju airport.

Sambil duduk tenang dibelakang pengemudi taksi,  menikmati hangatnya suhu didalam taksi yang memang dibuat hangat,  saya membagi pandangan ke luar jendela. Terbersit kekaguman saya pada kota kecil di belahan Eropa Timur ini.

image
image

George mengiyakan, ketika saya bercerita bahwa Praha adalah kota yang kalau ditelusuri,  cukuplah dengan jalan kaki dan beberapa titik naik trem. Tidak dibutuhkan bus semacam Hop On Hop Off untuk menjelajahinya.

Ia pun kemudian mengomentari  bahkan menjadi penunjuk jalan dadakan di setiap tempat saya lalui , seperti Charles Bridge yang saya sambangi tadi malam, sebuah jembatan  621 M dan lebar 10 M yang melintas diatas sungai Vlatava Praha yang konon dianggap sebagai jembatan ghotic bersejarah terindah di dunia.

image

Kesan eksotis memang sangat dominan jika kita perhatikan Charles Bridge yang sudah dibangun sejak abad ke 14 itu. Sejarah mencatat, sebenarnnya jembatan itu pernah diberi nama lain seperti Kemenny atau Prazsky Bridge, tapi sejak 1870 an akhirnya Charles Bridge lah yang dipakai sebagai nama jembatan, yang menjadi penghubung penting antara Kastil Praha dan Old Town.

image

Tidak berhenti sampai disitu George sang taxy driver bercerita, kota Praha yang terkenal dengan kristal svarovsky nya ini mengandalkan Charles Bridge sebagai salah satu unggulan pariwisata terdepan dengan beberapa catatan spesifik dibawah naungannya.

Saya hanya mem’batin’ dalam hati,  rupanya orang Czech ini mirip-mirip dengan orang Jawa yang percaya dengan primbon-nya untuk merencanakan atau membangun sesuatu dikaitkan dengan tanggal-tanggal yang dianggap baik.  Lantaran jembatan  yang batu pertamanya diletakkan oleh Raja Charles IV dibangun pada waktu yang sangat tertentu dan spesifik, yaitu 9 Juli 1357 tepat pukul 05.31.

image

image

Angka-angka itu dianggap sebagai waktu yang sangat baik dan disukai oleh Kaisar Romawi yang dipercaya membawa kekuatan bagi jembatan ini. Percaya ataupun tidak memang jembatan ini beberapa kali mendapat hantaman banjir yang begitu kuat sampai merusakkan tiga pilarnya di penghujung abad ke 15 (akhir 1490 an).

Bukan itu saja, Masyarakat Czech seakan diberi pembuktian lagi, saat kekuatan Charles Bridge  diuji lagi oleh pemberontakan yang merusakkan beberapa pilarnya. Belum lagi, pendudukan Swedia di sebelah barat sungai Vltava yang juga menyebabkan tidak saja rusaknya jembatan tetapi juga dekorasi patung-patung disekitar jembatan yang sekarang sudah digantikan oleh replika.

image

George sang taxi driver.. rupanya selain pengemudi yang baik, juga guide yang baik dan memiliki pengetahuan yang luas akan sejarah negerinya. Sebelum taksi itu melambat, dia menambahkan bahwa replika patung yang asli itu dipamerkan di Lapidarium, Musium Nasional di Praha.

Ceritanya yang panjang lebar selama kurang lebih 30 menitan itu akhirnya diakhiri oleh sampainya saya di Ruzyne, Bandar Udara International satu-satunya di Praha yang diberi nama seorang politisi ternama di Czech , mantan presiden, penulis sekaligus filusuf Vaclav Havel.

image

image

image

Saya sempat berkelakar sebelum membayar ongkos taksi sebesar 30 Euro dengan satu lelucon,  ketenaran Charles Bridge hanya dapat ditandingi oleh Martina Navratilova, seorang petenis kondang yang merupakan mantan ratu tenis dunia yang berasal dari Czeckoslovakia, nama negara ini sebelum ‘bercerai’ masing-masing menjadi Republik Czech dan Slovakia.

George yang ramah itu hanya menjawab dengan senyum, sambil berjabat tangan tanda saya berterima kasih atas keramahannya pada traveler seperti saya. Sayangnya saya lupa menanyakan siapakah nama Charles yang akhirnya menjadi nama Jembatan yang sampai sekarang sudah mendunia itu…

Hmmm.. anyway.. Thanks George…

image

image

image

Córdoba, Keren Abis

www.adelays.com

Selain Mezquita, di Cordoba Masih Banyak Peninggalan Budaya Lain dari Sejarah Islam dan Kristen

 

Córdoba, tentu tidak hanya berisi tentang Mezquita yang terkenal itu. Sejarah peradabannya menjadi maju, telah melalui jalan panjang. Kekaisaran Romawi pun pernah berkuasa sampai disini sejak abad pertama. Namun setelahnya, Cordoba boleh saya katakan ‘baru’ memulai kebangkitannya ada kebudayaan Islam masuk. Abdurrahman Addakhil atau Khalifah Abdurrahman I Memimpin Cordoba mulai tahun 756 H.

Sebelumnya, Cordoba dikuasai sekte-sekte kecil kaum barbar yang menguasai daerah yang terpecah belah. Kepemimpinan khalifah demi khalifah akhirnya tergantikan kaum Kristen sejak abad ke 15 sampai sekarang. Tak heran, peninggalan budaya Islam dan Kristen menghiasi kekayaan budaya di Córdoba.

Walaupun kota ini ‘hanya’lah bagian kecil dari Andalusia, yang merupakan salah satu Spain region, tetapi warisan budayanya begitu unik karena memiliki perpaduan budaya Eropa yang diwakili oleh Spanyol dan Mediteranian hasil pengaruh Islan di timur tengah.

Masih ada 37 kota lain dibawah wilayah besar Andalusia yang serupa dengan Córdoba, antara lain: Seville, Malaga, Huelva, Almeria dan lain sebagainya. Sungguh, tak terbantahkan Córdoba memiliki begitu kaya peninggalan budayanya di Andalusia ini.

Perjalanan saya yang sederhana dalam lingkup waktu, biaya, fisik dan mental ini, tentu tidaklah dapat dikatakan mewakili sekian keragaman budaya tersebut. Tapi setidaknya para pelancong blog ini, dapat merasakan sebagian kecil jendela dunia melalui perjalanan ini.

Satu kalimat saya tentang kota kecil di Andalucia Spain buatnya adalah : “Córdoba, Keren Abis”.

www.adelays.com

Khalifah Pertama Cordoba adalah Abdurrahman I atau Abdurrahman Addakhil yang mempersatukan Cordoba yang sebelumnya terpecah belah

 

Roman Temple

Romawi Pernah Menguasai Cordoba. Peninggalan Romawi ini merupakan Peninggalan era Kaisar Claudius di abad Pertama (41 – 54) yang didedikasikan untuk kultus kekaisaran di Pusat Kekaisaran Roma.

image

image

Menjadi Traveller di Cordoba, Tidak Ada Salahnya Menggunakan Hop on Hop off. Dengan Biaya 18 Euro, keliling dengan Bis akan terasa lebih efisien. Ada dua macam bis, yaitu bis kecil dan bis tingkat. Rutenya masing-masing berbeda-beda.

 

image

adelays.com

Roman Style Bride yang berdiri diatas Sungai Guadalquivir

 

image

Menara Ini dibangun Pada Abad ke 12 untuk melindungi Jembatan Roman yang Berdiri diatas Sungai Guadalquivir. DInyatakan sebagai monumen sejarah pd tahun 1931 dan bersama Jembatan Roman mendapat Hadiah Warisan Budaya Nostra Award dari Uni Eropa tahun ini 2014

 

image

Salah Satu Gereja Tertua di Cordoba yang Dibangun Pada Abad ke 13. Menjadi Monumen Nasional sejak 1931.

 

image

Monumen yang dibangun diatas Sebuah Bangunan Islam Sebelumnya dan Berdiri di Abad 15

 

image

Mozaik Mihrab Mezquita

image

Waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi, matahari pagi belum menyinari jendela Hotel Los Patios, tempat saya menginap. Subuh pun belum tiba, karena Subuh baru masuk pukul 6.44 menit. Saya tak sabar lagi untuk masuk ke dalam Mezquita yang bersejarah itu.

image

Pagi pun menjelang. Mezquita, dibuka untuk umum pukul 08.30 – 09.30. Periode satu jam disesi pertama ini free of charge, namun setelahnya (mulai pkl. 10.00) dikenakan biaya 8 Euro setiap hari kecuali hari Minggu, karena dipergunakan untuk kebaktian.

image

Nama Mezquita yang berarti masjid, tetap dipertahankan walaupun kini berfungsi sebagai cathedral. Di taman kompleks Mezquita, saya melihat kebun pohon jeruk yang berada di sekitar taman sedang berbuah.Walaupun buahnya sudah matang, tidak satu pun penunjung berusaha memetik buah itu.

Kebanyakan dari mereka termasuk saya langsung menuju bangunan utama cathedral. Seorang penjaga memberikan kode untuk melepaskan topi yang saya pakai ketika hendak masuk.Inilah saat-saat yang saya tunggu-tunggu kemarin. Tak percaya rasanya menyaksikan secara langsung, bangunan yang berabad-abad lalu sejak 787 M  sudah difungsikan sebagai masjid.

image

Ketika masuk ke ruangan utama hampir di setiap sudut terdapat benda-benda, lukisan dan peninggalan yang merupakan saksi bisu sejarah peradaban gedung ini saat  pertama kali dibangun berfungsi sebagai gereja. Namanya gereja Visigoth st. Vincent.

image

image

image

Suara alat musik organ membahana seantero ruangan. Sayangnya saat sesi pertama ini dibuka, aktivitas kebersihan dengan mesin-mesin pembersih lantai sedang dilakukan didalam gedung itu,  sehingga tidak semua tempat bebas untuk ditelusuri, sampai saya berjalan menuju tengah bangunan.

Disitulah saya menemukan altar utama cathedral yang megah dan menjadi sumber suara piano yang sejak tadi saya dengar.  Tempat aktivitas gereja dilakukan kembali sejak direbut kembali oleh tentara kristen pada abad ke 16.

image

Tidak puas sampai disitu, saya memandang ke sisi lain bagian yang mempertahankan keaslian ornamen-ornamen khas budaya keislaman dari timur tengah, sambil menyentuh pilar-pilar yang merupakan pengembangan masjid yang dilakukan oleh Khalifah Bani Umayyah Abd Arrahman I.

image

Saya seperti terhubung dengan masa itu.

Situasi Hening kali ini menjadi pembeda… Suara organ rupanya mengalami jeda. Keheningan menguasai ruang cathedral yang pernah mengalami pengembangan lagi pada masa  Khalifah Al Mansur Ibn Amir (987) dengan membangun penghubung dengan istana Cordoba, Andalusia.

Tidak puas sampai disitu, rasa penasaran tetap menggelitik pikiran, karena  lokasi mihrab masjid yang sangat penting dan menjadi aktivitas utama imam saat solat berjamaah di Masjid Agung Cordoba, (begitu dulu nama masjid ini disebutnya) belum juga ditemukan.

image

Setelah berbalik arah,  barulah dari kejauhan tampak pagar ruangan yang bertujuan untuk tidak didekati dalam jarak tertentu. Disitulah letak mihrab (tempat imam) yang dicari-cari.Itulah tempat sang Imam Masjid Jami’ Cordoba menghadap ke kiblat. Tempat ini menjadi memoir terpenting.

Saya terkesima.. terharu, speechless belasan ribu km jaraknya dari Jakarta, akhirnya sampai juga menyaksikan pusaran energi Islam yang menjadi kejayaan di benua Eropa di masa lalu. Cordoba adalah Ibukota sebuah pemerintahan Islam di Eropa yang terbesar pernah ada di Eropa.

Tempat inilah yang menjadi top destination saya dibawah Pusaran Energi Ka’bah selain haji ataupun umroh.

Saya pun kemudian ‘terbang’ ke masa kejayaan Islam berabad abad yang lalu pernah dilakukan disini. Menerawang dalam  hiruk pikuknya aktifitas ibadah di Masjid Jami’ Cordoba untuk sholat, kegiatan syiar Islam sampai pengadilan syariah selama beberapa abad lamanya.

image

Selanjutnya kejayaan Islam di Andalusia Raya mengalami kemunduran dan kekalahan demi kekalahan sampai kepemimpinan terakhir yang bertahan sampai 1 April 1487 .

Sumber-sumber dari berbagai literatur menyatakan, bahwa hari itu adalah saat-saat dimana  umat Islam yang kalah dari peperangan yang tersisa, diberikan kesempatan untuk meninggalkan Spanyol dengan aman melalui pelabuhan Granada.

image

Namun apa hendak dikata, justru pembohongan yang terjadi. Granada Andalusia menjadi  ladang pembumihangusan bagi siapapun yang hendak pergi. Pelabuhan dibakar, orang-orangnya pun dibantai.

Inilah sebuah tragedi yang peringati dan dijadikan bahan kelakar “April Fool Day” / “April Mop”  yang latarbelakangnya  ternyata begitu tragis.

image

Di abad moderen ini pun, sempat terjadi sebuah tragedi di depan mihrab tahun 2010 lalu, dimana terjadi ketegangan antara pihak keamanan setempat dengan 8 dari 118 orang turis dari Austria  yang menggelar sajadah dan melakukan sujud di depan mihrab ini.

Akhirnya pengadilan pidana Cordoba, tanggal 4 Feb 2013 lalu memutuskan vonis bebas kepada mereka. Tempat ini dianggap sebagai fasilitas publik yang telah menjadi milik bersama dan telah menjadi UNESCO World Heritage.

image

Tak terasa, waktu menunjukkan pukul 09.20 dimana pihak keamanan setempat, telah memberi aba-aba kepada para pengunjung  untuk meninggalkan ruangan.

Sambil melangkah keluar, ingatan  dalam ruang memori saya  terlintas sebuah adegan dalam film: 99 Cahaya di Langit Eropa ketika tokoh utama di film itu yaitu Hanum Salsabiela bersujud di depan mihrab ini,

Hmmmm.. Mihrab Mezquita dalam Memori. Sebuah kilas balik kisah kejayaan dan senja kala bagi sebuah mihrab  di Cordoba, Andalusia.

image

Mezquita itu, Kini Didepan Mata

image

Kereta api Renfe tujuan akhir Sevilla yang saya tumpangi dari Barcelona merapat pk.20.30 di stasiun Cordoba, Andalusia.

Sudah cukup malam untuk Eropa di musim dingin pada umumnya. Suasana penerangan stasiun yang temaram membuat saya sedikit ragu untuk melanjutkan perjalanan dengan bis umum..

Tetapi setelah menanyakan ke bagian informasi, dan mendapat kepastian masih adanya kendaraan umum, akhirnya saya mantap untuk menumpang bis no.3 dan turun di San Fernando, sebuah pemberhentian terdekat dengan Cardinal Herero, tempat saya akan bermalam. Hanya dibutuhkan 1.2 Euro untuk menumpang bis ini. Jauh dekat tarifnya sama.

Kota kecil ini terletak di Tenggara Madrid ibu kota Spanyol. Secara geografis Cordoba berada di kaki bukit Siera de Montena sangat apik, dan tidak terlalu ramai.  Lalu lintas nya tidak terlalu padat, orang-orangnya lalu lalang dengan santai tidak terlihat kesibukan yang berlebihan, seperti di kota-kota besar pada umumnya. 
image

Menuju San Fernando ternyata diluar dugaan saya. Jalan-jalan besar yang sedari tadi menghiasi perjalanan bis yang saya tumpangi ini menuju jalan satu arah mulai memasuki lorong jalan-jalan berbatu. Relatif sempit untuk ukuran bis kebanyakan. Jalan-jalan berblok batu yang tertata rapi menjadi pemandangan unik yang semakin mencengangkan perjalanan saya.

Beberapa daerah sempit itu ternyata tidak sepi, tetapi dipadati oleh banyak orang yang memadati bar-bar dan tempat hang-out yang tersebar di beberapa lokasi. Tidak ada mall-mall besar atau gedung-gedung menuju San Fernando.
image

GPS dari gadget yang saya pegang akhirnya menunjukkan lokasi tersebut dan saya turun berjalan kaki. Suhu sejuk 13 derajat celcius tidak membuat langkah menjadi berat karena ketika turun dari bis memanggul barang.

Saya kembali melihat beberapa orang melintas di tengah temaramnya kota kecil disamping sebuah sungai kota ,  sambil berolahraga.  hal ini kemudian mememberikan kepada saya kesan kehidupan yang memiliki  work life balance, yaitu keseimbangan pekerjaan dan kehidupan pribadi yg baik.
image

Rasa aman menyelimuti perjalanan di kota ini. Cordoba segera menjadi favorit saya dalam sekejap.

Sesaat kemudian tibalah saya pada sebuah gerbang yang bermandikan cahaya kuning keemasan mengakhiri remang-remang jalan yang sedari tadi menghiasi ibu kota.

Saya mematung diri, terdiam tak percaya.

image

image

Bahkan setelah melihat GPS di gadget saya sekalipun. Inilah rupanya jalan penghubung menuju Cardinal Herero yang saya tuju. Di depan saya telah berdiri tembok bangunan megah Gerbang The Mezquita yang ditayangkan dalam film 99 Cahaya di Langit Eropa. 

Subhanallah !!! Salah satu bagian Kisah film yang inspiratif itu, sebuah gedung yang memiliki perjalanan sejarah panjang sejak abad ke 8 itu kini berada langsung tepat didepan mata saya.

Sesaat kemudian terdengar lonceng dari menara. Waktu kini telah menunjukkan pukul 22.00. Tak sabar rasanya menunggu esok saat dibukanya pintu gerbang utama kompleks Mezquita dan memasuki bangunan utama pukul 08.30.

Mezquita… Adelays coming.
image

Renfe vs Shinkanshen

image

Senyum simpul terkulum dibibir saat teringat masa kecil saya naik kereta api bersama orang tua, untuk pertama kalinya.

Jangan membandingkan hal-hal yang berlebihan tentang kereta masa lalu itu, karena kondisinya jauh jika dibandingkan dengan kereta masa kini.

Tidak saja fisik keretanya, tetapi juga suasananya yang hiruk pikuk saat naik kereta menjelang lebaran, berdesak desakan dengan peluh, berebutan tempat duduk sampai berlebihan muatan.

Berpuluh tahun kemudian, saya beruntung menikmati kemajuan teknologi perkereta apian di negeri orang. Saat posting ini ditulis saya berada dalam kereta api cepat bernama Renfe.
image

Renfe AVE (Alta Velocidad Española) atau berarti Spanish High Speed dimiliki oleh 100 persen pemerintah Spanyol. Spanyol memiliki satu lagi maskapai kereta api yang diperasikan oleh swasta, yaitu Alvia.

Beberapa tahun sebelumnya, saya juga beruntung pernah merasakan kereta super cepat buatan Jepang, dalam perjalanan selama dua jam antara Osaka – Tokyo, Shinkansen .

Hal yang menarik bagi saya untuk tidak tidur dalam kereta Renfe yang saya tumpangi dari Barcelona menuju Cordoba ini, adalah mencermati berapa kecepatan terbaik yang dapat ditempuh oleh kereta ini.
image

Waktu tempuh perjalanan dari Barcelona Sants sampai stasiun Cordoba memakan waktu 4 jam 40 menit.

Kecepatan tertinggi yang dicapai menuju Camp de Tarragona (pemberhentian pertama) adalah 294 km/ jam. Kecepatan 300 km/jam baru dapat ditembus antara Lleida  menuju Zaragoza.
image

image

image

Kecepatan ini tentu tidak dipertahankan terus, namun disesuaikan dengan situasi dan kondisi rel yang boleh jadi memang sudah sedemikian baiknya sampai kota itu.

Selepas Zaragoza kereta mulai sedikit bergetar. Kecepatan kereta yang demikian tinggi ini membuat telinga menjadi tersumbat karena tekanan udara yang tidak cukup kedap dari luar.
Tak Heran pihak Refne menyediakan fasilitas handsfree gratis untuk mendengarkan berbagai channel yang disediakan untuk memanjakan telinga.

image

Rupanya handsfree ini menjadi kebutuhan yang cukup penting, karena perjalanan kereta kecepatan tinggi ini ditandai dengan kejadian-kejadian tekanan tinggi berikutnya.Begitu pula dengan getaran-getaran kereta yang terbilang cukup dominan.
Tahun 2013 yang lalu, kereta Renfe Jurusan Madrid mengalami anjlok dan menimbulkan puluhan korban jiwa.
image

Membandingkannya dengan Shinkansen (yang dalam bahasa Jepang berarti peluru), hal tersebut terasa berbeda karena Kereta Jepang berlalu tanpa hal-hal yang saya sebutkan itu. Sementara dari sisi kecepatan, Shinkansen mampu mencapat top speed di 443 km/jam. Selama puluhan tahun beroperasi, walaupun dari sisi top speed Shinkansen masih dapat ditandingi oleh kereta buatan China, namun Shinkansen belum sekalipun mengalami kecelakaan berarti.

Getaran berarti tidak terasa dalam Shinkansen, begitu juga tekanan udara yang memekakkan telinga. Kenyamanan perjalanan lebih banyak diperoleh disini.
image

Jepang dan Eropa diikuti oleh China dan Korea menjadi kompetitor utama perlombaan adu mumpuni kecepatan kereta yang dikembangkan oleh masing-masing negara.

Teknologi yang dikembangkannya pun tidak lagi melulu menggunakan rel konvensional. Ada juga kereta yang dikembangkan Jerman yang menggunakan teknologi Maglev atau Magnetic Levitation.

Bagi konsumen seperti saya, keselamatan dan kenyamanan menggunakan transportasi publik seperti kereta, adalah hal yang berada paling diatas hal-hal lainnya.

Renfe 0 – Shinkansen 1.
image