Archive | Vacation RSS feed for this section

Den Haag, Sepenggal Kharisma Magistrat

image

Waktu pada jam tangan saya , menunjukkan pukul sembilan pagi. Hari Jum’at, 5 Desember 2014. Baru saja saya berpisah dengan Dila, sahabat saya di Negeri Belanda yang baik hati menemani perjalananan saya di kota hukum ini. Ia bersama rekan-rekan mahasiswa Indonesia  setia menemani dan memberi arahan petunjuk tempat-tempat bersejarah di Den Haag, Netherland (Dilla , Dani & Firdhan cs. Thanks berat atas hospitalitynya) .
image

Saya sendiri begitu menikmati suasana didepan Willemspark, sebuah taman yang indah yang sangat nyaman untuk memandang salah satu sudut kota ini. Menikmati pagi di depan danau dan ditemani kicauan burung-burung yang sedang mencari makan.
image

image

Matahari yang mulai bersinar, sedikit menghangatkan suhu udara yang masih mendekati titik beku yang sudah saya antisipasi dengan pakaian yang tebal, penutup kepala serta telinga untuk menambah kehangatan tubuh ini.

Tiada beban rasanya mengunjungi kota yang menjadi bagian dari sejarah kelam bagi Indonesia dimasa lalu. Saya cukup bersemangat untuk merekomendasikan kota yang baru saya datangi pertama kali ini.

Sebagaimana kota-kota di Jawa seperti Jogjakarta, Disini bersepeda merupakan hal yang jamak. Sepertinya bersepeda merupakan simbol penyatuan warga. Bersepeda lah yang membuat perbedaan warna kulit, ke sukuan, agama, ras dan antar golongan menjadi kabur tak berbekas.

image

Vreidespalais

Kalau ada kesempatan mengunjungi tempat yang dianggap çool yang penuh  penuh kedamaian seperti yang dimaksud diatas itu, boleh jadi datanglah ke Vredespaleis, atau Istana Perdamaian .
image

Di tanah ini, terbangun kota yang kemudian menjadi cikal bakal aturan hukum Indonesia di masa lalu, Den Haag, Negeri Belanda.

Saat ini pun aturan hukum Indonesia masih banyak yang mengacu kepada kitab hukum Belanda dimasa lalu. Tidak heran, karena kita memang pernah dijajah Belanda selama 3.5 abad.

image

Mungkin kalau bukan magistrat / ahli hukum di abad ke 16 Hugo de Groot, rasanya belum tentu ada orang lain yang membuat fondasi hukum semesta yang kemudian menjadikan Belanda menjadi ikon tata hukum dunia termasuk ke Indonesia.

Mengenal lebih jauh dari sebuah sumber, ternyata kota ini juga dijuluki : ‘Widow from Hindie‘ yang berarti Janda dari Hindia Belanda. Sejarah penyebutannya berawal karena banyak pendatang dari Indonesia yang pergi ke Den Haag karena menghindari masalah politik atau pajak zaman kolonial.

Willemspark

Kharisma Den Haag sebenarnya tidak sendirian didominasi oleh Vreidespaleis, karena di sebelah timur gedung bersejarah tersebut berdiri icon Den Haag lainnya. Seperti halnya Jakarta yang memiliki Monumen Nasional di Jakarta Pusat, taman di Den Haag juga memiliki bentangan area yang khas.

Ke Den Haag ini saya sengaja mampir ke Willemspark, taman itu disebutnya. Ditengah bentangan oval taman ini, berdiri sebuah monumen Plein 1813.

image

Saya menatap dengan mesin waktu dan terbang ke tahun 1863, saat berakhirnya pendudukan Napoleon Bonaparte di tahun itu.

Terbayanglah suka citanya masyarakat Belanda saat itu, menyambut kembalinya William I sang raja dari pengasingan. Inilah saat-saat yang dikenang oleh Bangsa Belanda merdeka dari tangan Perancis. Itulah sebabnya taman ini disebut dan dinamai Willemspark.

Belanda bagi saya,  memiliki dua hal yang terngiang dalam kepala. Pertama, sebagai negeri Sepakbola yang hebat. Dan  yang ke dua adalah negeri sejarah dengan beragam suka dukanya, termasuk penjajahan dan segala keputusan internasionalnya bagi Indonesia.

Rasa nasionalisme dan patriotisme untuk mengangkat derajat bangsa seperti mereka, kemudian membangkitkan gairah saya untuk berdiri dari duka koloni penjajahan Belanda walaupun saya tidak mengalaminya secara langsung.
image

Namun siapa sangka, ternyata Istana Perdamaian ini pada akhirnya tidak meninggalkan kenangan manis yang sesungguhnya. Walaupun sejarah sempat berpihak kepada Indonesia saat perundingan ‘Konferensi Meja Bundar’ yang merupakan saat-saat bersejarah penyerahan Indonesia dari Negeri Belanda.

Tempat ini kemudian membawa kisah pahit lagi, lantaran sejarah kembali menyalak dari Vredespalais. Mahkamah Internasional, menorehkan sejarah dengan memutuskan kepulauan Sipadan-Ligitan dihapuskan dari peta Republik Indonesia beberapa tahun yang lalu.

Den Haag tetap memiliki kharisma magis sekaligus magistraat bagi saya.

http://adelays.com

Auf Wiedersehn Berlin

image

Perpisahan dengan kota yg tidak mudah dilupakan ini, saya tandai dengan menapaki setiap langkah di pertokoan yang berjajar di sepanjang Freidrichstraße.

Saya memang sengaja turun di pemberhentian Freidrichstraße dan merelakan kaki ini melangkah lagi di daerah yang ramai dikunjungi orang-orang daei mancanegara ini.

Selain jajaran pertokoan, ada pedagang kaki lima yang bertahan untuk menjajakan Sajian Khas Ibu kota.

Siapapun yang bertandang ke Berlin mengenalkawasan ini, demikian juga saya. Karena ada pendapat: belum ke Berlin kalo belum datang ke Malioboronya kota Berlin ini.

Tidak perlu wine buat menghangatkan tubuh yang sedang kedinginan ini, sampai saya berhenti dan menikmati keramaian kota yang dinginnya malam yang mencapai suhu titik beku ini.

Seduhan Chai Tea Latte di sebuah warung kopi menemani malam saya yang tersisa di Freidrichstraße, sebelum keesokan harinya menatap Republik Chezh yg dulunya bernama ChekoSlovakia.

image
image

Rail Europe.

Tidak seperti perjalanan saya dari Amsterdam ke Berlin dengan pesawat, Berlin ke Praha Czech Republic saya tempuh dengan menggunakan kereta. Kalau di tanah air biasa disebut AKAP (Antar Kota Antar Propinsi), disini lebih tepat dikatakan AKAN atau Antar Kota Antar Negara.

Harga tiket perjalanan dengan kereta memang sedikit lebih mahal jika dibandingkan dengan apabila kita menggunakan bis. Tidak itu saja sebenarnya perjalanan dengan bis bisa juga lebih cepat sampai.

Berlin menuju Praha diawali dari salah satu stasiun kota terbesar di Eropa, yaitu Berlin Hauptbahnhof di kota Berlin. Struktur bangunannya yang bertingkat-tingkat membuat kemegahan stasiun kereta bertaraf internasional ini dapat dikatakan sebagai stasiun terbaik di Eropa.

image

Berbagai fasilitas menemani fungsinya yang tidak saja melulu stasiun kereta, tetapi ada juga pusat perbelanjaan dan restoran. Kalau lelah dan hendak sightseeing dalam perjalananan, para pengguna kereta baik itu antar titik transportasi “Bahn” yang merupakan mass rapid transportation dapat sejenak cuci mata atau makan di foodcourt yang tersedia.

Yang hendak buang air juga tersedia fasilitas WC umum yang dikelola sangat apik. Tak pelak biayanya pun menjadi toilet termahal yang pernah saya rasakan, yaitu 1 Euro atau sekitar 15.300 rupiah sekali buang air kecil. Suatu jumlah angka yang mahal jika dibandingkan dengan di tanah air.
image

Perjalanan menuju Praha, ada pengalaman tersendiri mengapa saya menggunakan kereta. Yang pertama karena pengalaman perjalannan dengan kereta di Eropa belum pernah saya rasakan. Inilah pertama kalinya saya menggunakan kereta antar Negara di Eropa.

Perjalanan pertama saya dengan kereta pernah saya lakukan beberapa tahun  yang lalu ketika melintasi Kuala Lumpur menuju Singapore . Saat itu saya sengaja menggunakan Kereta Malam, lebih tepatnya adalah Senandung Malam. Berangkat dari Kuala Lumpur jam 10 malam dan sampai di stasiun Tanjung Pagar jam 6 pagi, berhenti di stasiun Woodland. Woodland merupakan stasiun yang berfungsi sebagai checkpoint.

Di Woodland checkpoint ini bila kita terhambat dengan masalah keimigrasian, kita bisa berhenti disini dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bis atau kereta selanjutnya bila akhirnya urusan beres dan sudah ditinggal kereta.

Rail Europe yang telah saya pesan tiketnya saat masih berada di Jakarta ini, akhirnya meninggalkan Germany . Petugas imigrasi dari kedua negara menanyakan saya ketika saya berada di atas perjalanan dikota Dresdren .

image

Kalau pesawat kita tidak bisa menyaksikan keindahan alam darat yang merupakan ciri kota yang dilewatinya , tidak demikian dengan kereta ini. Kota Dressden yang dilalui boleh jadi menjadi pemandangan yang memanjakan mata kita.

Saya lantas teringat dengan sequel film Twilite yang walaupun bukan diambil di kota ini, tetapi banyak kesamaannya. Sungai luas yang menemani perjalanan kereta sepanjang kota menjadi pemandangan yang tidak boleh dilepaskan begitu saja. Pohon-pohon tinggi yang seolah terpasang diperbukitan yang menjulang.

Kesan sejuk kemudian menjalar saat menyaksikannya, seolah merasakan air sungai yang sejuk saat membasuh muka. Inilah alasan yang tidak dapat ditukar jika kita mwlakukan perjalanan perjalanan Berlin – Praha dengan kereta.

Tidak lama kereta ini akan memasuki perbatasan dengan Checz Republik dengan skedul kedatangan di Stasiun Hlavni Nadr pukul 13.27. Stasiun kereta kedua di kota yang merupakan salah satu gerbang Eropa timur disamping stasiun lainnya yaitu Helosevice.

Selamat datang Prha, Auf Wiedersehen Berlin.

Www.adelays.com

Ich Bin Ein Berliener

image

Udara dingin menyergap melalui sela sela jaket hangat yang saya pakai. Suhu berkisar 0 derajat memang bukan hal yang biasa bagi ‘orang khatulistiwa’ seperti saya.

Sejenak melepas lelah dan ketegangan manakala ‘rush’ yang memburu karena hampir ketinggalan pesawat dari Amsterdam, saya menikmati satu cup kopi panas dan fries di Bandar udara Schönefeld Jerman.
image

Yang unik saat menunggu kentang goreng adalah saya diberi sebuah alat kecil yang akan berbunyi nyaring dan pada saat itulah saya diminta datang ke kasir untuk mengambil kentang goreng pesanan saya. Unik juga..

Jaket sekelas dinginnya puncak tidak ada yg mempan disini, jaket bulu angsa dilapis dengan long john saja baru masuk kategori lumayan yang mampu menahan tusukan udara dinginnya Berlin.
image

Itu pun sudah yang dilengkapi dilengkapi dengan teknologi ‘HeatTech’ besutan teknologi Jepang terbaru yg saya dapatkan di “Uniqlo”.

Sebagaimana dikatakan teman saya yang saat ini tinggal di Berlin, Nisa teman saya yang juga Blogger asal Indonesia (http://nissabella7.wordpress.com/) menyarankan untuk membeli tiket ‘Bahn’ di bandara atau di mesin tiket.

Dengan pertimbangan yg matang, paket 48 hours seharga 18an Euro untuk area ABC keliling Berlin dengan menggunakan Bahn atau semacam kereta MRT menjadi ketetapan.

Tangan ini terasa membeku dan menusuk diantara ujung-ujung jari kuku tangan.
image

Inilah Berlin.

Kota yang punya sejarah panjang perang dingin antara dua blok, timur dan barat. Kalau saja ada mesin waktu saya ingin berada di Berlin ke tahun 1963 dan menjadi saksi atas salah satu moment kunjungan Presiden Amerika John F Kennedy disini. Di Rathaus Schloveberg.

image

Konon pidato ini adalah salah satu orasi terhebat JFK pada masa perang dingin antara blok barat dan sekutu yang dipimpin Amerika Serikat melawan blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet.

Bukan saja paling hebat, sejarah mencatat konon pidato ini disaksikan berjuta pasang mata yang menandai dukungan Amerika kepada Jerman Barat dan membakar semangat masyarakat yang keluarganya masih tinggal di Berlin Timur.
image

Langkah saya terhenti sesàat ketika berada di depan Brandenburg Gate, ikon kota Berlin dan teringat saat David Hasselhoff yang pernah tenar memerankan serial Knight Rider, membawakan acara untuk National Geographic bertajuk “Hasselhoff Vs Berlin Gate”.

Berlin saat perang dingin dipisahkan oleh dua ideologi seperti yang diorasikan JFK. Jerman Timur dibawah pengaruh Uni Soviet membatasi kota itu. Konflik berkepanjangan akhirnya menyeret ke dua kubu dalam perang dingin berkepanjangan.

Berbagai cara dilakukan orang-orang untuk menyeberang ke Berlin Barat ketika tembok itu masih berdiri, tak peduli nyawa taruhannya.

image

Saya kemudian memandang Gerbang Brandenburg dengan cermat, memperhatikan detil ornamennya lebih seksama.Tembok pembatas antara Berlin timur dan barat itu sudah tiada lagi tahun 1989 menandai berakhirnya era perang dingin.

Two thousand years ago, the proudest boast was civis romanus sum [“I am a Roman citizen”]. Today, in the world of freedom, the proudest boast is”Ich bin ein Berliner!”… All free men, wherever they may live, are citizens of Berlin, and therefore, as a free man, I take pride in the words “Ich bin ein Berliner!”

http://www.adelays.com
image

Schönefeld, Here We Goww…

image

What??????“.. Sudah jam 6.55, saya baru terbangun dari tidur, padahal Pesawat ke Berlin akan take off jam 09.10 pagi dari Bandara Schiphol. Langit memang belum terang sama sekali. Selama musim dingin ini langit gelap cenderung lebih lama dari siang.

Dibutuhkan sedikitnya waktu setengah jam untuk persiapan, yaitu mandi, ganti baju, sholat Subuh dan menjejalkan kedalam tas sisa packing dengan segala pernak perniknya.

Packing ini jadi hotline persiapan penerbangan karena terbang dengan pesawat yang tidak besar, memiliki akses yang terbatas yang perlu untuk disiasati.

Saya sedikit panik. Begitu judulnya.

Terlambat bangun karena kecapean jadi alasan utama, karena semalam baru kembali dari kota Den Haag. Hujan-hujan menambah suasana horor yang membekukan ujung-ujung jari tangan. Saya naik kereta terakhir dari Den Haag jam 1 dini hari, dan baru tidur jam 2. Den Haag, berjarak sekitar 30 – 45 menitan dari Amsterdaam.
image

image

Dengan rasa percaya diri yang tinggi persiapan ala kadarnya, akhirnya siap dalam setengah jam dan langsung meluncur menuju Airport. Tik-tok, tik-tok waktu menunjukkan pk. 7.30 pagi yang kondisinya seperti baru jam setengan enam di Jakarta. Matahari masih malu malu muncul dari peraduannya.

Masalah lain muncul, karena jadwal kereta dari stasiun Centraal tidak sesegera mungkin datang. Setelah membeli tiket dengan rute Centraal – Schiphol, ternyata benar. Tulisan itu manis terpampang di atas board ‘Schiphol Train – 20 min.’ Aduh, terbayang luasnya bandara Schiphol mulai dari arrival platform, naik ke Departure area, Customs …. ups.. ini dia yang paling bikin nervous.

Benar, sesampai di Bandara pihak Customs memeriksa bagpack  yang didalamnya dicurigai berisi cairan-cairan yang menurut aturan penerbangan dilarang untuk dinaikkan ke dalam pesawat untuk alasan keamanan. Saya membawa minyak kayu putih, sabun cair, dan sedikit minyak tawon dalam takaran dibawah 100 ml.

Ada dua orang pihak pemeriksa itu menunjuk-nunjuk ke layar di gambar tas saya untuk memastikan kemungknan “barang haram” menurut SOP penerbangan di dalam tas saya. Tadinya ia hampir membiarkan backpack saya lolos. Tapi ia me ‘rewind’ nya kembali, dan jrengg….. dia menatap mata dengan tajam, “Your bag ???”.

image

Setelah saya mengangguk akhirnya kami kemudian terlihat seperti lebih akrab. Kegiatan bongkar-membongkar ini pun dimulai dengan dinginnya muka petugas keamanan alias customs bandara membongkar barang saya, satu per satu. Dua per dua, tiga per tiga.

Mereka akhirnya mengijinkan barang-barang yang berupa pakaian ala kadarnya, dan berbagai bentuk cairan itu akhirnya disetujui, tidak ada yang diminta atau diturunkan. Jadi juga lancar dari Belanda masuk ke Berlin dalam benak saya. Concern waktu masih menjadi pertimbangan.

Berjalanlah saya dengan riang gembira menyangka segala cobaan telah dilalui. Sambil berjalan melewati eskaltor datar untuk membantu mempercepat langkah.

Gate M2 sebelum masuk ruang tunggu masuk pesawat, bentuknya menurun karena masih berada di lantai dua dan dijaga oleh petugas bandara yang memeriksa passport dan boarding pass. Saya menuruni tangga itu dan ternyata sudah banyak orang mengantri. Tepat seperti perkiraan karena saya hampir terlambat.

Pemandangan keluar ruang tunggu berupa landasan yang foggy itu saya bayangkan dingin menggigil. Kegiatan para calon penumpang yang mengecek dan browsing dari gadgetnya saya copy 100%, sampai akhirnya petugas bandara mengumumkan bahwa Tas yang dibawa kedalam pesawat hanya diizinkan 1 buah.

Tas saya ada 2 buah. Satu backpack dan satu tas sling untuk menyimpan gadget , kamera dan kawan-kawannya.

HHC alias harap-harap cemas, jantung ini berdegup keras ‘dig dug dig’. Tibalah giliran saya. Seorang petugas wanita berambut pirang dengan tegas memisahkan saya dari rombongan untuk menaiki pesawat.
image

Saya kemudian diminta untuk menjadikannya tas yang saya bawa itu menjadi hanya satu bagian atau harus membayar 55 Euro kalau tidak bisa. Dan here we go… “May I pass?”. Ia pun menjawab “Sure“, kali ini dengan sedikit senyum.

Sayangnya rekan saya terpaksa membagasikannya karena keterbatasan ruang dalam tasnya, sejumlah uang yang di ‘annouce‘ saat menunggu tadi, memang betul-betul commit dijalankan.

Sedikit waktu yg masih tersisa onboard diatas pesawat EasyJet sebelum berangkat, membuat saya menyalurkan hobby saya untuk mengambil gambar. Satu saja dan hanya satu gambar saja.

But guess what…..?

Salah satu dari dua pramugara pesawat mendatangi saya dan mengatakan ” You have to Delete It“. Pramugara yang mirip Pique pemain bola asal Barcelona itu menunggu saya menghapusnya.

OK, Pique.

Dengan pertimbangan efisiensi, pesawat ini di awaki oleh pilot dan co pilot dan dua orang awak kabin, yang semuanya laki-laki. Sebelum waktu yang tertera, pintu pesawat ini ditutup jam 09.00 dan mengudara tepat pukul 09.10 menuju bandar udara Schönefeld di kota Berlin, Jerman.

Berlin, I’m coming…..

image

http://www.adelays.com

Zakkenroller !

image

Pagi menjelang siang… Landasan udara yang sedari tadi terlihat basah oleh hujan dipagi hari mulai menguap, mengering lantaran dilalui oleh karet-karet ban pesawat yang lalu lalang. Petunjuk prakiraan cuaca “Rain” dalam gadget yang saya lihat, berangsur-angsur menunjukkan perubahan bersahabat, walaupun suhu diluar airport masih dua digit 10 derajat celcius, cukup untuk menghembuskan kepulan asap dari pernafasan.

Kondisi di ruangan tertutup memang berbeda dengan di luar, karena penghangat ruangan di bandara ini bekerja dengan baik, sehingga suhu dingin itu baru terasa saat berada di luar gedung bandara dan terminal di Schiphol.

image
image

Sambil bertanya ke bagian Information, saya melihat tulisan berbahasa belanda “Werk aan het spoor, werksaamheden rondom Shciphol in het weekend van 22 en 23 November” yang kalau dikira2 secara awam adalah:  Perbaikan kereta dekat Schiphol di weekend ini dari tanggal 22 dan 23 Nopember. Berarti perjalanan saya menuju pusat kota, bisa dilalui melalui platform atas, alias dapat melihat pemandangan jalan kota yang sejuk lantaran selesai diguyur hujan.

Perjalanan yang seharusnya  saya lanjutkan  menuju pusat kota dengan menggunakan train, khusus weekend ini mengalami maintenance, sehingga kami yang bertujuan menuju pusat kota Amsterdam harus dialihkan ke satu titik dengan bis ke Amsterdam Sloterdijk dengan biaya 5 Euro (included) sebelum tiba di Stasiun Amsterdam Central, pusat kota. Perjalanan bis itu memakan waktu 20 menit.

image

image

@ Amsterdam Sloterdijk.

Saya turun dari bis untuk menyambung perjalanan dengan kereta. Amsterdam Sloterdijk, adalah salah satu titik pemberhentian kereta tempat saya melihat gelagat kurang baik. Koper besar dan satu backpack yang terpaksa dijinjing dibelakang yang saya bawa , seolah menjadi pemandangan yang sengaja atau tidak, mempertontonkan kedatangan ‘orang kampung’ yang hendak ke kota, atau orang urban yang hendak menetap sementara.

Platform stasiun yang tidak dilengkapi dengan eskalator saat menunggu kereta, menjadi santapan bagi ‘pengamat dadakan’ yang hendak memangsa burannya, yang lambat bergerak. Orang-orang yang terlihat aneh  terjaga dengan pandangan liarnya, seolah menyiapkan santapan lezat bagi mangsanya. Mirip sekuel Bourne Identity di industri film Hollywood saat memainkan perannya di Eropa (#yang ini agak lebay sih…).

Bapak Achmad, calon penumpang lain yang tidak luput dari aksi pickpocket

Bapak Achmad, calon penumpang yang juga masuk dalam radar  aksi keahlian tangan  pickpocket

Tibalah kereta yang ditunggu-tunggu itu, sekeliling orang disekitar saya seolah bergerak dengan gerakan yang terstruktur dengan mengatur gerakan sedemikan rupa untuk mengurung dan mendorong.

Crowdednya situasi yang kurang lebih mengingatkan saya saat menaiki KRL Jabodetabek itu langsung menyegerakan saya untuk segera pindah ke pintu masuk lainnya yang lebih longgar. Bedanya, kereta ini naiki memiliki dua tingkat seperti bis tingkat.

Barulah situasi crowded saat kereta tiba di Stasiun Amsterdam Central reda, setelah turun kereta dan keluar dari peron, berdesakan memburu keluar peron men-tap kartu kereta, dan menuju gedung Tourist Center.

image

@ Amsterdam Tourist Center.

”YOUR BAG!” Teriak salah seorang yang bermaksud memberi tahu, ketika saya membeli map di sebuah vending machine. Tanpa disadari, ternyata sudah dua resleting tas bagian tas saya terbuka 3/4 bagian. Sambil memeriksa tas yang dibagian yang terbuka isinya adalah buku itu, ia (orang yang memberi tahu saya) berlalu, dan bergumam “Zekkenroller”  yang kemudian saya pahami dari google.translate artinya adalah pencopet.

Mungkin maksudnya, bukan saya yang pencopet, tapi saya lah yang nyaris menjadi  korban pencopetan. (#ya iya lah)

Saya kemudian teringat beberapa teman yang menasehati saya untuk berhati2 di beberapa kota di Eropa yang rawan pencopet. Amsterdam, Paris, dan Madrid adalah kota yang perlu diwaspadai, walaupun memang kewaspadaan itu perlu dimana saja. Saya kemudian tidak henti-hentinya bersyukur. Barang-barang yang dibawa selamat…Alhamdulillaah…

Ke Amsterdam Aku kan Kembali

wpid-img_2073-1.jpg

Masih ingat gubahan lagu dari Koes Plus yang berjudul ‘Ke Jakarta ku kan kembali’ ?

Melodinya begitu kuat mengisi ruang memori saya ketika Pesawat Garuda Indonesia yang saya tumpangi dengan nomor penerbangan GA088 mendarat di Bandara Schiphol ‘Luchthaven Schiphol’, Amsterdam, 23 Nopember 2014.

Judul lagunya boleh lawas tapi melodinya belum tentu asing ditelinga kita sejak pertama kali dipopulerkan oleh Koes Plus dan masih sering diperdengarkan dalam beberapa acara.

Begitu kuat pengaruhnya, memori saya tentang Moenir aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang secara tragis meninggal dalam penerbangan sebelum mendarat di Schiphol teroverwrite dalam ingatan saya…
image

wpid-img1416892871215.jpg

Bukan tanpa alasan, Amsterdam menjadi awal pijakan saya di beberapa kota sebelum nanti melalui daerah lainnya dan kembali ke kota ini untuk pulang ke tanah air.

Negeri Belanda menjadi salah satu pintu gerbang perjalanan masuk ke Benua Eropa. Visa saya sendiri diterbitkan oleh ‘Ambassade van Het Koninkrijk der Nederlanden‘ atau Kedutaan Besar untuk Kerajaan Belanda, dibawah “Schengener Staaten” yang telah disepakati oleh sejumlah negara-negara Eropa yang dituangkan dalam ‘Perjanjian Schengen’.

Siapapun dengan visa Schengen ini, dapat menjelajahi Eropa yang beranggotakan lebih dari 20 negara yang antara lain terdiri dari Jerman, Belgia, Denmark, Estonia, Finlandia, Perancis, Yunani, Islandia, Italia, Latvia, Lituania, Luxemburg, Malta, Belanda, Norwegia, Austria, Polandia, Portugal, Swedia, Swiss, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Rep. Ceko, dan Hungaria.

wpid-img1416894889787.jpg

Cukup menggunakan 1 Visa Schengen yang saya peroleh   dari Kedutaan Besar Negeri Belanda untuk Indonesia, bertempat di Jl. HR Rasuna Said Jakarta Selatan.

Lelah atas penerbangan direct flight nonstop dengan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor Jakarta-Amsterdam ditempuh selama kurang lebih 14 jam seakan terbayarkan manakala saya menilai betapa terintegrasinya  bandara ini.

Sambil mengantri dan bersenandung, pandangan mata saya berbagi menikmati kemegahan airport yang merupakan kebanggaan warga Belanda.

Bandar udara yang terletak 9,1 km barat daya kota Amsterdam, merupakan salahsatu pintu masuk sekaligus pintu gerbang menuju Eropa yang luas.

Schiphol menjadi yang terpadat ke empat di Eropa dibawah bandara Heathrow London, Charles de Gaulle Paris dan Frankfurt di Jerman dari sisi jumlah penumpang.
image

Sambil mengamati koper-koper yang berdatangan yang secara otomatis bergantian masuk ke antrian, lagu itu telah digubah lagi menjadi “Ke Amsterdam aku, kan kembalii… walaupun apa yang kan terjadi….”

Semoga perjalanan ini tetap diberi kelancaran dan keamanan. Amiin.

Garuda Membelah Angkasa

Inilah Garuda Indonesia, pesawat yang saya tumpangi saat terbang membelah angkasa dari Jakarta menuju Amsterdam, Negeri Belanda.

image

Garuda dengan nomor penerbangan GA-088 ini bertolak dari Jakarta pukul 01.05 menuju London dengan sekali transit di Amsterdam dan direncanakan tiba di Amsterdam pukul 09.25, dengan durasi perjalanan hampir 14 jam. Terdapat pebedaan waktu antara Jakarta dan Amsterdam yaitu 6 jam.

Pesawat yang saya tumpangi ini adalah salah satu dari  6 pesawat terhebat yang dimiliki oleh Maskapai Penerbangan Indonesia, yaitu Boeing 777-300ER.

Betapa tidak, daya jelajahnya yang mencapai 13520 km ini, mampu membelah angkasa berbagai benua non stop dari Jakarta menuju Amsterdam Belanda yang jaraknya lebih dari 11.000 km.

Daya jelajah yang demikian jauh ini hanya dapat didekati oleh pesawat Garuda Indonesia lainnya yang dibeli dari pabrikan lainnya yaitu Airbus 330-200 dengan daya jelajah 13400km dan saat ini dimiliki sebanyak sebelas armada.

Membandingkan keduanya dari sisi kecepatan maksimum, Boeing 777-300ER sedikit unggul diatas Airbus. Kecepatan jelajah diatas Boeing ini mampu melalui 1 Mach atau 1090 km per jam, sedangkan Airbus 330-200 ‘hanya’ 913 km per jam.

Maskapai yang berhasil  yang mendapatkan penghargaan dari SKYTRAX tahun 2013 berupa “World Airline Award“ini memang mulai mendapat hati diantara penumpang mancanegara, dan kini tidak lagi dipandang sebelah mata, karena telah memenuhi berbagai standard dan mampu bersaing dengan maskapai penerbangan dunia lainnya.

image

Saat tulisan ini dibuat, saya sedang berada diatas langit kota Eropa, 38 km di Selatan Bucharest, ibukota Rumania menuju Brasov dan berjarak 1 jam 20 menit dari tujuan penerbangan ini .

Kalau dalam penerbangan yang biasa saya tumpangi, segala alat komunikasi harus dibatasi, tidak demikian dengan perjalanan saya kali ini, karena pewawat ini dilengkapi dengan fasilitas WiFi Onboard.

image

Connect to your world, just like you would on the ground“. Tidakkah menjadi pertanyaan para penumpang dan kontradikitif dengan himbauan untuk tidak mengaktifkan telepon seluler atau telepon genggam selama berada di atas pesawat ?

Jawabannya tentu hal ini telah lulus standard dan uji sertifikasi yang yang tidak mengganggu navigasi selama pesawat mengudara. “The system has been thoroghly tested and certified, so it’s safe to be used on the aircraft“.

Tentu saja, fasilitas ini tidak gratis. Terdapat  yang dapat dipilih jika hendak tetap ‘get connected’ selama berada dalam pesawat.

Pilihannya adalah terhubung selama 1 jam dengan biaya 11.95 USD atau terhubung selama 24 jam dengan biaya 21.95 USD.

image

image

Ups… atau setidaknya belum gratis. Mungkin suatu saat nanti kalau persaingan maskapai sudah sedemikan ketatnya, bisa jadi fasilitas ini gratis, ya Garuda Indonesia… hmmm… harapan saya sih… Agar bisa posting tulisan ini ASAP, As Soon As Possible bahkan sebelum landing  di Amsterdam dan tidak membayar 1 dollar pun.

Tips: Travel Photography

image

Yang suka jalan-jalan, pasti tidak akan melewatkan satu hal yang wajib dibawa selama melancong, yaitu Kamera. Apapun jenis kamera mulai dari jenis yang paling berat sekelas DSLR sampai yang paling ringan yaitu kamera telepon selular tetap saja merupakan syarat yang sudah menjadi wajib hukumnya bagi seorang traveler, utamanya bagi seorang Travel Photographer.

Siapapun saat ini dengan keragaman jenis kamera tentu mengambil gambar “saja” adalah perkara yang mudah. Jepret sana jepret sini sudah cukup menjadi saksi selfie bagi kalangan umum traveler. Namun kalau kita hendak mengabadikan momen perjalanan dengan sedikit lebih berkualitas, tentu ada syarat-syarat dan persiapannya.

Apa-apa saja sih sebenarnya yang dapat menjadi pedoman bagi seorang traveler yang hendak mengambil gambar dengan lebih berkualitas itu ? Saya punya jawabannya. Ada sedikitnya tujuh syarat yang harus dipersiapkan dalam mendokumentasikan dengan baik kenangan berharga dari setiap tempat yang dikunjungi.

Tujuh syarat yang saya kutip dari Get Lost Magazine edisi April-Mei 2014 itu adalah :

  1. Lakukan riset tentang tempat yang akan dikunjungi untuk mengetahui objek beserta angle-angle terbaiknya. Bisa dengan browsing internet, membaca brosur wisata, pergi ke toko buku atau perpusatakaan atau mengobrol dengan orang yang pernah ke tempat yang akan didatangi.
  2. Ketahui juga adat dan tradisi setempat. Misalnya jika ingin mendatangi sebuah kuil atau kelenteng, pastikan berpakaian sopan agar diperbolehkan masuk. Hormati juga larangan memotret atau penggunaan flash di area-area tertentu.
  3. Ketika tiba di tujuan, catat impresi pertama yang didapat. Entah itu aroma, suhu, pakaian warga, pemandangan sekitar dan sebagainya. Kesan pertama dapat memberikan ide memotret.
  4. Kenali tempat yang dikunjungi. Tempat-tempat yang bersuhu panas, misalnya masyarakatnya aktif sejak dini hari, melambat di tengah hari dan akan aktif lagi menjelang malam. Bangun sebelum matahari terbituntuk merekam aktivitas warga setempat. Duduk di kafe atau restoran yang didatangi warga lokal, menjauhlah dari spot turis, kemudian buka mata dan telinga lebar-lebar.
  5. Jangan pernah meninggalkan kamera di kamar, sekalipun hanya ingin membeli air minum kemasan di toko kelontong di sebelah hotel. Momen-momen tak terduga dapat terjadi kapan saja!
  6. Bersiaplah untuk menemukan banyak situasi dan objek, sehingga dituntut untuk menguasai teknik-teknik dasar memotret potrait, landscape, macro dan apapun.
  7. Sekali jepret jangan pernah puas. Coba angle lain atau gunakan jenis lensa yang berbeda. Bisa juga memotret objek dalam kondisi perncahayaan yang berbeda-beda. Taj Mahal yang difoto di pagi hari tentu berbeda mood-nya ketika difoto dengan latar langit senja.

Bagaimana, siap memotret ??? Lets Do It….

Mitos Siak

image

Saat tulisan ini dibuat, masyarakat Indonesia sedang hiruk pikuk merayakan pesta demokrasi yang serempak dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia Rabu 9 April 2014. Sementara yang di luar negeri, sudah lebih dulu dilakukan hari minggu yang lalu.

Saya menulis ini bukan untuk menunjukkan ujung jari kelingking yang berwarna keunguunguan sebagai tanda telah melakukan pemilihan umum legislatif, karena tidak memilihpun juga bisa memberi tanda itu.

Buat saya, euphoria itu masih kalah dengan demam saya atas kunjungan saya ke Kota Pekanbaru yang selama saya berada disana, alhamdulillah cerah, tidak terkepung asap.

Sebelum masuk pada topik posting, saya coba cerita sedikit hal lucu yang dialami, saat salah seorang yg bersama saya dan telah berdinas disana selama lebih dari dua tahun, mengagumi keindahan lagit Pekanbaru. Padahal buat saya, hal itu rata-rata saja seperti di Jakarta.

Sejenak kemudian baru bisa dimengerti, keindahan langit itu adalah barang `mewah` disana, lantaran berminggu-minggu yang lalu Pekanbaru selalu diliputi asap, sampai wabah penyakit ISPA (Infeksi Saluran Akut Pernafasan) membuncah.

Hmmm…ya ya ya….

image

Tidak ada hubungannya dengan hal itu, tetapi mulai masuk ke topik utama. Sehari setelah kunjungan, tidur malam yang belum pernah ketemu dengan kualitas tinggi karena kesibukan-kesibukan kerja, terganggu lagi oleh mimpi buruk.

Waktu sudah menunjukkan pukul 00.05, Kepala yang sudah beralaskan bantal belum genap 5 menit menghuni kasur tiba-tiba seperti diguncang seperti gempa kuat yang mampu membuat badan ini  bergetar.

Seuatu seperti hendak masuk kedalam tubuh, tidak terlihat apapun kecuali hal abstrak berdurasi sekitar 1 menit yang nampak dominan berwarna hitam putih dan kuning berbentuk garis lurus dan lengkung tak berpola.

Kepala ini seperti dipaksakan memakai helm yang kecil dan ditekan dengan keras dan diguncang-guncang, sampai saya berteriak ‘Keluar!, Keluar!” Dan serta merta membaca ayat Kursyi sampai selesai.

Sesaat kemudian saya terbangun, mengucap istighfar, membaca surah Annas dan Alfalaq, meminum segelas air putih dan membaca Alfatihah sebelumnya.

Ketika hal itu menjadi bahan diskusi saya dengan orang-orang terdekat, banyak spekulasi bermunculan.
Ada yang bilang kalau mimpi buruk juga bunga tidur.

Teori ini segera saya sanggah, bunga kok nggak enak, biasanya bunga kan indah dan wangi tapi yang terjadi kali ini bunganya buruk dan tidak sedap, setidaknya membuat kaget.

Sang pengusul teori lincah menjawab, kan ada bunga bangkai rafflesia arnoldi yang bentuknya tak beraturan dan baunya tidak sedap. Mimpimu ini adalah mimpi buruk itu, sanggahnya.
Hahahaahh…. tawa memecah diskusi.

Pendapat kedua, mengungkap kalau saya mungkin belum berdoa sebelum tidur. Pendapat ini pun saya sanggah, karena Doa Bismikallahumma ahya wa bismika amuut , telah membingkai tidur saya yang kelelahan karena perjalanan saya ke Pekanbaru sebelumnya.

Pendapat ketiga, mengungkap adanya Mitos Siak.  Pengungkap teori ini menceritakan angkernya Sungai Siak yang membelah kota Pekanbaru lantaran tayangan Dunia Lain di salah satu televisi swasta di Indonesia, Trans7.

Sungai Siak adalah salah satu sungai terdalam di Indonesia, yang dapat dilayari kapal-kapal besar seperti kapal tangker. Panjangnya lebih dari 500 km, dan memiliki lebar 100 – 150 m.

image

Tidak hanya itu, sungai ini memiliki bahaya yang cukup perlu diwaspadai terutama ketika muncul pusaran air tiba-tiba yang kekuatannya dapat menenggelamkan perahu.

Terlebih lagi ada mitos yang beredar bahwa ketika pusaran air Sungai Siak menenggelamkan korbannya muncul penampakan buaya putih di sekitar pusaran tersebut. Keangkerannya membawa sebuah petunjuk akan betapa banyaknya makluk-makhluk halus yang mengganggu manusia.

Wallahu A’lam bissawab.

Saya kemudian bertanya apa hubungannya mitos itu dengan saya, jawabannya makhluk-makhluk itu ada yang ikut pulang bersama dan mengganggu saya kemudian hari.

Freeze…

Pikiran ini melayang sejenak… pikiran ini kemudian melayang pada ikutnya makhluk itu pada penerbangan saya yang biayanya tentu tidak murah, saya membayar sejumlah uang sementara ‘ia’ dengan enaknya nebeng saya sampai Jakarta.

Tawa saya kemudian meledak kembali membayangkan penerbangan gratis yang dilakukannya…. hahahahaaa…..

Audzubillahiminasysyaitonirrojiim…
Saya berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk…..

Hmmm dibandingkan dengan mitos yg menyeramkan seperti itu, secara pribadi saya lebih setuju dengan pendapat adik saya bahwa mitos Siak Inderapura -nama lengkap sungai yang diambil dari sebuah kerajaan Siak Inderapura yg juga masih dicari kebenarannya- adalah barang siapa meminum air Siak, niscaya ia akan kembali suatu saat nanti.Entah untuk urusan kantor, kunjungan pariwisata, atau bisnis lainnya.

Hmmmm… benarkah?