Archive | Vacation RSS feed for this section

Pekanbaru ID6852

Perjalanan ke luar kota atau luar negeri dengan pesawat buat saya seringkali diawali ritual persiapan yang menyibukkan.
image

Sabtu, 5 April 2014 ini perjalanan saya tertuju ke kota asap Pekanbaru. Tidur lebih lambat untuk packing, bangun lebih awal untuk mengecek ceklist barang sudah menjadi keharusan.

Pekanbaru hari ini adalah kali pertama. Melalui bandar udara Soekarno Hata tmenggunakan maskapai penerbangan Batik Air juga hal pertama buat saya.

Banyak hal ‘pertama’ yg saya hadapi, membuat persiapan dilakukan lebih awal, duduk tenang di ruang tunggu terminal 3  untuk boarding sambil menunggu panggilan flight # ID 6852 tujuan Jakarta-Pekanbaru dipanggil melalui corong pengeras suara.
image

Republik Sudoku

20131128-060343.jpg

Jendela pesawat menampilkan pemandangan awan menggulung diantara hamparan kebiruan langit cerah, saat pesawat yang saya tumpangi mulai mencapai batas ketinggian take off. Wanita paruh baya yang duduk didepan saya bergerak sigap sesaat  tanda mengenakan sabuk pengaman mulai dimatikan .

Gerakannya bahkan lebih sigap dari seorang laki-laki muda, penumpang disebelah kanan saya  yang tidak ingin kehilangan kesempatan pertama menjadi pengguna toilet dalam penerbangan dari Kansai menuju Kuala Lumpur.

20131128-060358.jpg

Kecepatan gerakannya menarik perhatian, namun setelah mata ini memperhatikan sekelilingnya, memperhatikan kertas dan pena yang dikeluarkan dari dalam tas jinjing ala ibu-ibu, aktifitas wanita berbalut sweater orange yang kemudian bertukar kertas dengan seseorang disebelah yang bepergian bersamanya, perlahan-lahan rasa penasaran itu mulai menemukan kejelasannya.

Ditengah gemercik suara beradu logam tanda para penumpang melepaskan safety belt, disusul suara pilot yang menjelaskan untuk tetap mengenakan sabuk pengaman itu, sang wanita itu sudah berhadapan dengan kertas dan meja yang biasanya dikeluarkan saat mendapatkan makanan atau dari kru pesawat.

Kalau ada perlombaan akselerasi antara kedua orang itu, saya tentu menjagokan si wanita tersebut tanpa banyak pertimbangan. Gerakannya tidak diragukan lagi merupakan gerakan yang sangat cepat. Kartun-kartun Jepang sering mendramatisasikannya dalam kelebatan-kelebatan Samurai yang mematikan. Bedanya disini samurai digantikan kertas dan pena.

20131128-060412.jpg

Ia menengok kebelakang, kearah saya  untuk sedikit memundurkan sandaran kursinya,disela waktu ketika jari-jarinya lincah melingkar-lingari angka yang menjadi tantangan soal dari partner yang sejak awal seperti sudah merencanakannya sebelum pesawat lepas landas.

Wanita berkacamata cembung dibalik matanya  yang kecil khas keturunan Jepang itu, menunjukkan  keramahannya  seolah permisi untuk memastikan kegiatannya tidak mengganggu orang yang berada tepat dibelakangnya. Ia menganggukan kepalanya, walaupun tanpa ucapan.

Kini saya mulai memahami kegiatannya tanpa harus bercerita. Aktifitasnya ini adalah kegiatan pengisi waktu yang banyak dilakukan orang-orang saat mereka menggunakan transportasi publik, seperti di kereta, bis, ataupun pesawat. Satu diantara kegiatan pengisi waktu itu adalah bermain game untuk mengasah otak.

Kalau lazimnya di Indonesia kebanyakan orang mengisi Teka-Teki Silang (TTS), orang  Jepang, saya menjumpai mereka bermain Sudoku, sebuah permainan puzzle mirip TTS mengisi angka berbentuk matriks 9×9.

250px-Sudoku-by-L2G-20050714.svg

Menurut  sumber  Wikipedia, permainan asah otak angka yang dipopulerkan di Jepang oleh perusahaan puzzle Nikoli ini sangat popular di tahun 2005 dengan nama Sudoku. Saya menyangka permainan ini diciptakan di Jepang, lantaran minat yang tinggi terhadap game yang mengisikan angka dari 1-9 dalam setiap blok 3×3 nya.

 Kisah permainan blok angka ini ternyata memiliki perjalanan panjang dan unik. Sudoku, berbeda dengan permainan magic square yang muncul pertama kali di harian Le Siecle yang terbit 19 November 1892 karena blok angka setiap row atau kolomnya masih boleh terdapat duplikasi angka.

Sudoku mensyaratkan logika angka yang tidak terjadi pengulangan dalam setiap baris dan kolom berdimensi total 9×9 yang terdiri dari matriks 3×3 itu. Sudoku modern baru dipublikasikan di majalah Dell Magazine pada 1979 yang didesain oleh Howard Garns.

364px-Sudoku-by-L2G-20050714_solution.svg

Permainan Sudoku yang saya temukan pada wanita seperti di pesawat itu, tentu bukan pertama kali dijumpai. Berbagai kesempatan luang di berbagai tempat banyak sekali tua dan muda memainkannya sambil antre, duduk di kereta ataupun bis.

Saking seru dan seringnya saya menjumpai permainan ini jauh setelah era keemasannya di tahun 2005, saya menyebutnya negara ini sebagai Republik Sudoku.

Kaiten Sushi

20131124-195000.jpg
Saya berjalan dilengangnya jalan panjang berliku Ryoan-ji, menyusuri pinggiran jalan sambil berusaha memahami detak kota Kyoto di sore hari.

Meresapi daya tarik kota ini secara perlahan, menikmati sinar keemasan yang membias dibalik bangunan perumahan yang tidak tinggi menjulang.

Satu dua mobil atau bis melintas di jalan, frekuensinya tidak padat, cenderung sepi, menarik nafas panjang pun tetap segar rasanya.

20131124-195035.jpg

Langkah-langkah kecil ini sesungguhnya menyesuaikan denyut kota yang berjalan teratur, sampai akhirnya langkah yang dimulai dari Kinkaku-Ji ini berhenti di sebuah bangunan. Bertingkat dua, bertuliskan  ‘Kaiten Sushi’, sebuah restoran sushi  yang terletak di sisi kiri perjalanan menuju Ryoan-Ji.

Saya kemudian disambut pegawainya yang ramah dalam bahasa yang kurang lebih berarti selamat datang, di lantai 2 setelah menaiki lift. Uniknya, bagian bawah restoran ini bisa dimanfaatkan untuk parkir mobil, sebuah pemikiran efisien yang mulai dicontoh dibeberapa pasar swalayan di Indonesia.

20131124-195103.jpg

Restoran Jepang yang satu ini terbilang pintar dalam memanage restoran dengan melibatkan bantuan pelanggannya. Ada beberapa trik cerdik tanpa membuat pelanggan merasa diperintah untuk membantu.

Di kebanyakan restoran biasa di Indonesia, setelah membayar kita bebas melenggang keluar tanpa perlu membereskan piring kotor bekas makanan, apalagi mengantarnya ke dapur untuk mencuci piring.

Sementara di  Singapura,  di beberapa restoran cepat saji seperti BK atau MD misalnya,  pelanggan meletakkan nampan bekas alas makannya ke suatu meja setelah membuang sampahnya ketempat sampah.

Entah berapa lama mengedukasi  masyarakat agar memiliki kesadaran seperti itu. Positifnya, kegiatan itu mungkin memberi manfaat pada overhead cost  yang berujung pada kompetitifnya harga produk yang ditawarkan lantaran dapat menekan biaya pegawai.

Food court di Jerman bahkan ada yang menerapkan refund charge bagi pelanggannya yang mau mengembalikan peralatan makan yang sudah dipakai.  Pihak restoran mengembalikan sejumlah yang yang sengaja dibebankan pada saat pertama kali membayar dan dikembalikan jika pelanggannya mengembalikan peralatan makannya.

20131124-195332.jpg

20131124-195504.jpg

Resto ini memiliki mekanisme yang terbilang kreatif. Kalau restoran Padang menyajikan makanan yang disajikan dipamerkan di etalase depan, restoran ini menyajikannya etalase di setiap samping meja tamu.

Mereka memiliki  conveyer belt, semacam ban berjalan yang menyajikan sushi yang harganya 100an Y, relatif terjangkau dan siap diambil. Sesuai dengan promo yang terpampang diboard mereka.

Bagi yang tidak familiar dengan tulisan Jepang dan menghendaki sushi yang lebih spesifik, dapat memesan dari layar yang tersedia di setiap meja. Sebaiknya mengecek dulu harganya karena pesanan spesifik biasanya harganya juga berbeda dari standard.

Tidak saja cara penyajiannya yang kreatif, cara membersihkan piringnya pun unik sekaligus cerdik. Karena setiap nampan yang sudah digunakan tersedia sebuah chute box dibawah layar yang siap mengantarkan piring bekasnya ke dapur.

20131124-195541.jpg

Lebih dari itu, mereka melengkapi daya tarik untuk anak-anak untuk membantu meletakkan piring dengan sebuah permainan sederhana tapi interaktif.

Setiap lima piring bekas pakai itu pelanggan berhak memainkan sebuah game pada layarnya. Pemenangnya berhak mendapatkan hadiah kecil-kecilan bagi yang beruntung memilih tiga gambar yang sama pada layar.

Tidak sampai disitu saja, pada saat akan membayar, mereka pun sudah tau berapa banyak makanan sushi yang sudah kita habiskan dan harus kita bayar dari setiap meja. Restoran ini benar-benar memanjakan pengunjung dari sisi harga, pelayanan, khususnya bagi orang-orang yang buta bahasa dan tulisan Jepang sekalipun.

Hmmm…. asal jangan sampai buta angka juga yach… salah-salah bisa berurusan dengan Koban (polisi) karena kurang bayar lantaran nggak ngerti angka….. Nggak sampe segitunya juga siih…

20131124-195614.jpg

Bukan Sepatu Dahlan

20130609-012719.jpg

Matahari belum menampakkan sinarnya yang kuat saat saya melintas diantara jalan-jalan kecil di perumahan sekitar Ryoan Ji, ditemani sepasang sepatu hitam yang belum tergantikan sejak berangkat dari Jakarta. Angin sejuk berhembus menerpa jaket, menusuk melalui sela-sela jari tangan yang tidak dibungkus sarung tangan.

Saya begitu menikmati suasana kedamaian, di kota ini. Jauh berbeda dengan sang ibukota, Kyoto sepi tapi bukan berarti tak berpenghuni, Teratur bukan berarti tidak padat, seperti Tokyo.

20130609-012828.jpg

Orang-orang tua berpapasan saling membungkukkan badannya, menundukkan kepala, memberi hormat kepada setiap yang ditemuinya, begitu pula beberapa orang lain yang saya temui beriktnya, jaraknya hanya seratus meter dari rumah menuju rumah laundry.

Tempat ini kalau di Jakarta mungkin mirip seperti Laundry kiloan, fasilitas untuk mencuci pakaian. Bedanya, di Jepang jasa atas tenaga manusia sudah sangat dihargai alias mahal, sehingga banyak pekerjaan dilakukan secara secara swalayan.

20130609-012917.jpg

Dengan luas ruangan sekitar 6 x 6 meter persegi, ruangan ini tertata dengan baik beberapa mesin pengering cucian yang disusun bertingkat, disebelahnya ada beberapa mesin cuci dengan kapasitas berbeda. Ada pula satu mesin seperti dispenser minuman yang ternyata adalah penukar uang koin Yen. Satu yang menarik perhatian saya adalah mesin cuci kecli yang belum pernah dijumpai di Jakarta, mesin cuci sepatu .

Petunjuk demi petunjuk yang saya mengerti hanyalah berupa huruf kanji ditemani gambar anime khas Jepang.Tulisan yang saya mengerti pun hanya angka dari bilangan-bilangan 100, 200, dan 300 ongkos layanan dengan koin uang Yen.

Tidak ada penjaga yang saya temui, hanya ada mesin-mesin tanpa manusia bekerja sendiri setelah diorder pemiliknya. Tubuh ini masih mematung berusaha memahami dengan keras bagaimana menaklukan mesin mesin tak bertuan, saat kemudian seorang laki-laki tua bergegas masuk.

20130609-012954.jpg

“Excuse Me” sapa saya ketika ingin bertanya kepada orang tersebut. Petugas yang rambutnya telah beruban memenuhi seluruh kepalanya serta berkulit keriput tampak membungkus wajah dan tangannya ini, hanya menjawab dengan bahasa isyarat. Kebanyakan orang Jepang yang saya temui tetap helpfull walaupun tidak mampu menjawabnya dengan bahasa Inggris.

“Sumimasen” katanya saat undur diri setelah mengepel lantai, memastikan tidak ada sampah berserakan, merapikan properti usaha, mengisi check list. Ia pun berlalu, setelah menundukkan badannya tanda menghormati tamunya, sungguh santun.

Saya lirih memandangi sepatu yang mulai kotor dengan butiran-butiran tanah setelah pulang dari Osaka sehari yang lalu, terbayang beratnya ayunan langkah menuju Osaka Castle yang berpasir.

20130609-013050.jpg

20130609-013114.jpg

Belum lagi kalau teringat penjelajahan ke Tokyo berpindah dari stasiun ke stasiun JR Line (Japan Railway) , melintasi Roppongi saat sepatu ini mengantarkan ke Hard Rock cafe dan beristirahat di sebuah restoran kebab berjudul “Kader Kebab” yang boleh direkomendasikan kepada teman-teman.

Belum selesai lelah itu terurai, kaki sudah mengayun langkah lagi menuju Shinjuku, Shibuya sebuah tempat melankolis sejarah kesetiaan seekor anjing yang selama hayatnya mendampingi Prof. UENO yang diabadikan dalam Hachiko statue.

20130609-013150.jpg

20130609-013234.jpg

Sebentar beristirahat di taman Imperial Palace dekat Yurakucho untuk sholat, sepasang sepatu yang tidak pernah mengeluh ini kemudian menemani kaki yang mulai “trencem-trencem” menggulung langkah menuju Yamanote Line untuk menyaksikan sebuah jembatan bertabur cahaya warna-warni yang dikenal dengan Rainbow Bridge.

Betapa lelahnya perjalanan itu sampai kemudian rencana ke kota pelabuhan di Kobe pun untuk menikmati indahnya temaram lampu kota diurungkan untuk beristirahat.

Episode perjalanan sepatu saya yang selama hidupnya akan selalu diinjak-injak ini, segera memasuki babak baru dalam kehidupannya. Walaupun ia tak dapat disejajarkan dengan kisah sepatu fenomenal sang Dahlan Iskan yang diangkat dalam sebuah buku. Kini ia akan masuk pada tahap perawatan di sebuah mesin cuci.

20130609-013308.jpg

20130609-013323.jpg

Sedikit melayangkan pikiran pada sepatu Dahlan, disuatu masa, mungkin tidak banyak lagi orang ingat, bahwa pernah ada buku yang judulnya “Sepatu Dahlan” laris dipasaran.

Tidak hanya masuk dalam kategori buku laris dijajaran rak toko buku terkenal, tapi sosok sang tokoh juga menginspirasi banyak orang lantaran sepak terjangnya yang unik merambah berbagai lokasi dengan sepasang sepatu kets sederhana, padahal ia adalah seorang tokoh publik, pejabat negara. Bukan sepatu kulit bertali yang digunakan, padahal ia seorang menteri.

Ini bukanlah kisah seputar sepatu kontroversial itu, walau masih seputar sepatu. Sepatu ini bukan ingin menandingi popularitas sepatu dahlan yang fenomenal sekaligus kontroversial pada zamannya.

20130609-013354.jpg
Nasib sepatu ini, mau sedih atau bahagia, begitu bergantung kepada saya yang kemudian ditakdirkan menjadi pemiliknya. Walaupu baru , Ia tidak pernah bersolek di etalase department store mewah walaupun menyandang merek terkenal hasil pabrikan bernama Adidas bertajuk “climacool” karena metode penjualannya yang ala factory outlet.

Deru mesin cuci itu akhirnya menggulung Climacool dalam mesin cuci yang ukurannya tidak lebih besar dari mesin cuci baju 4 kg. Mesinnya ramping disusun bersama dengan pengering sepatu diatasnya untuk kapasitas dua pasang sepatu.

Dengan waktu operasional pencucian hanya 20 menit saja, biaya yang dibutuhkan mesin ini hanyalah 200 yen atau setara dengan Rp. 24.000,- saja. hanya dengan tambahan uang 100 yen atau sekitar Rp. 12.000,- saja kita bisa langsung memakai sepatu itu setelah dikeringkan.

20130609-013407.jpg

Luar biasa. Mesin ini tidak membutuhkan Insinyur Bowo, dagelan ala Warkop DKI yang mencuci didalamnya.

Warkop DKI, grup lawak Warung Kopi beranggotakan Dono, Kasino, Indro pernah merelease lawak berjudul Ir. Bowo, yang mengeluarkan produk pintar pencuci baju dengan biaya murah, listrik yang hanya 25 watt. Saking murahnya, rupanya didalam mesin cuci itu ada Ir. Bowo sedang mencuci didalamnya bersama lampu 25 watt. Grrrr…..

20130609-013430.jpg

Nijo-Jo Mae

20130305-152154.jpg
Saya terkesima dengan sambutan yang diberikan oleh para penjaga Nijojo Castle (Kastil Nijo) . Sesaat setelah membeli karcis seharga 600 Yen, tidak lama seseorang penjaga pintu gerbang yang menggenggam sebuah Handy Talkie menyapa.

Belum sempat hilang keheranan tersebut, kemudian penjaga gerbang itu menjulurkan lengan kirinya seraya memberikan petunjuk arah ke gedung utama sebuah Kastil yang dibangun tahun 1603 era Tokugawa Ieasu. Tokugawa adalah keluarga keturunan Shogun terakhir sebelum kemudian berakhir pada zaman Restorasi Meiji. Tokugawa Yoshinobu mengumumkan Restorasi Imperial yang berlangsung tahun 1867.

20130305-152302.jpg

Sebenarnya saya hendak berhenti sebentar disebuah titik yang dianggap sebagai tempat yang cukup bagus untuk mengambil gambar dari kamera digital yang sudah dalam genggaman, namun apa yang saya sampaikan kepada petugas dengan bahasa Inggris itu, seolah tidak dipahami olehnya yang menjawab dengan bahasa Jepang.

Belum sampai didepan kastil utama, petugas lain yang tidak kalah sigapnya sudah menerima kedatangan saya, seolah menjadi estafet petugas sebelumnya yang kemudian kembali ke gerbang masuk utama Kastil yang berpagarkan batu tebal ala benteng itu.

20130305-152331.jpg

Saya lalu mulai bertanya-tanya dalam hati, mengapa mereka begitu bergegas mengantarkan saya ke bangunan utama yang disebut sebagai Istana Ninomaru yang berarsitekturkan kayu dan taman berbatu kerikil ini.

Alasan yang saya duga-duga adalah, karena besarnya area Kastil Nijo yang terdiri dari 3 bagian yaitu Honmaru sebagai lingkaran pertahanan kastil, Ninomaru sebagai lingkaran pertahanan kastil kedua dimana terdapat Istana Ninomaru yang akan saya masuki, dan taman besar yang mengelilingi kedua Istana tersebut dengan lingkaran sungai berdinding batu.

20130305-152356.jpg

Ketika saya kemudian tiba di pintu utama Istana Ninomaru barulah saya mulai mengerti. Sebelum sepatu dilepas, karena syaratnya memasuki istana ini harus tanpa sepatu dan kaos kaki, sebuah papan tulisan didepan pintu masuk istana menjelaskan dalam bahasa jepang dan Inggris, bahwa waktu kunjungan khusus kendalam Istana Ninomaru ini dibatasi mulai jam 09.00 AM – 4.00 PM

Rupanya sore itu hanya 12 menit menjelang pukul 4 sore. Saya hampir menjadi orang terakhir yang datang, masih ada 1 orang laki-laki yang hampir berbarengan. Petugas memberikan sign bahwa mengambil foto didalam Istana shogun Tokugawa ini Strictly Prohibited.

20130305-152436.jpg
Setelah dikemudian hari saya amati, dan berusaha mencarinya di mesin pencari google, memang tidak ditemukan gambar situasi dalam istana yang koridor lantainya disebut dengan lantai bulbul. Lantai ini memiliki keunikan karena akan berbunyi mencicit ketika diinjak, yang akan menjadi warning jika ada musuh atau penyusup yang datang tak dikehendaki.

Istana yang menjadi tempat tinggal Tokugawa yang menjadi simbol ke-militeran terakhir bagi kaisar ditahun 1867 ini akhirnya dijadikan sebagai istana kekaisaran untuk sementara waktu, sebelum disumbangkan ke pemerintah Kyoto Perfecture .

20130305-152521.jpg

Sambil menikmati tenggelamnya matahari sore Kyoto dibawah birunya langit menuju kastil kedua Honmaru, saya melihat istana Ninomaru ini sedang berproses ditutup jendelanya dengan pembatas tebal lapis kayu yang memiliki rel-rel. Penutup kayu ini didorong dari tempatnya yang sedemikian rupa kemudian akan menutup keseluruhan jendela.

Perawatan dan perlindungan yang baik dari pengelola Nijo-jo membentuk peninggalan yang sudah sedemikan lama tetap terawat dan terlindungi dari berbagai gangguan cuaca dan tidak lekang oleh waktu walaupun sudah berdiri sejak abad ke 17.

Tidak jauh dari pintu keluar, saya kemudian membeli sebuah minuman botol hangat dari sebuah vending machine minuman seharga 120 Yen. Berbeda dengan di Indonesia yang lebih banyak ATM tersebar diberbagai tempat, Jepang yang penduduknya banyak mobilisasi dengan berjalan kaki dan transportasi massal lebih banyak vending machine minuman.

20130305-152555.jpg

Minuman hangat ini kemudian saya bawa sambil berjalan keluar Kastil gerbang utamanya ini sudah tertutup. Langkah ini kemudian terarah menuju keluar dari sebuah pintu kecil menghadap ke Nijojo Mae.

Dari adik saya yang sudah beberapa tahun tinggal disana, saya ketahui bahwa Nijo adalah nama kastilnya, Jo bisa diartikan sebagai Kastil , bisa juga diartikan sebagai beginning/start. Sedangkan Mae berarti depan. NijoJo Mae, lokasi Kastil Nijo , dapat dicapai hanya 15 menit dengan bus no. 9 atau no. 50 dari Kyoto Station.

Nijo-Jo Mae, Jalan utama didepan Kastil Nijo. Kastil Nijo menjadi situs warisan dunia UNESCO di tahun 1994.

20130305-152632.jpg

Golden Pavilion

20130215-054757.jpg
Wisatawan mancanegara menyebutnya “Golden Pavilion” atau Pavilion Emas, lantaran bangunan kuil sederhana ini lantai 2 dan lantai 3 nya dilapisi oleh lembaran-lembaran tipis emas murni. Ia, menjadi unik karena keemasannya ini. Karena uniknya, saya meletakkannya dalam prioritas tertinggi kunjungan saya di Jepang. Alasan lainnya, karena lokasi saya menetap sementara di Kota Kyoto tidak begitu jauh keberadaannya dengan lokasi Kinkaku Ji berada.

Golden Pavilion dikenal oleh masyarakat Jepang sebagai Kinkaku Ji atau resminya Rokuon Ji. Bangunan kuil dengan lapisan emasnya sendiri baru establish tahun 1955, setelah dibakar oleh biksu fanatiknya tahun 1950. Lapis emasnya terinspirasi oleh bangunan kuil serupa bernama Ginkaku Ji atau dikenal dengan Silver Pavilion.

Jepang, utamanya Kyoto, selalu punya cara unik mengembangkan pariwisata budaya tradisionalnya dengan mengedepankan tradisinya yang kental. Kyoto memiliki ruang yang dikenal luas oleh wisatawan mancanegara dengan keragaman warisan budayanya, tidak saja warisan budaya Jepang, tapi juga warisan budaya dunia.

20130215-090915.jpg
Mungkin bagi yang datang ke Jepang dan mengenal Jepang pertama kali, terlanjur membayangkan modernisasi Tokyo sebagai ibukotanya, tapi tidak dengan Kyoto. Ia seperti telah didaulat menjadi miniatur Jepang yang dipertahankan seperti masa lalu.

Kinkaku Ji menjadi saksi sekaligus bukti otentik kekuatan Jepang masa lalu yang dipertahankan walaupun telah habis dibakar. Jepang bahkan menyulapnya sekaligus membuat mata dunia terbelalak dengan emas yang berkilauan.

Walaupun untuk memasuki area Kinkaku Ji ini perlu untuk membayar sejumlah Yen, ironisnya para pengunjung tidak diperbolehkan memasuki bagian dari kuil yang sangat dijaga ‘keemasan’nya. Di Lantai 1, memang belum memiliki lapisan emas, tetapi didalamnya terpampang patung Shaka Budha dan Shogun Ashikaga Yoshimitsu terpampang dan dapat dilihat langsung dari luar lantai 1. Lantai 2 nya disimpan samurai namun seluruhnya tertutup lembaran emas sampai ke lantai 3.

20130215-093656.jpg

Dipandang dari mana saja, kuil ini memiliki daya tariknya sendiri. Gambar-gambar yang saya capture dari berbagai angle menjadi saksi betapa keindahannya mampu ditangkap dari berbagai sisi. Tidak saja angle favorite dari pintu masuk, bahkan dari sisi belakang tempat pintu keluar ia tetap ‘menyilaukan’.

Tak pelak hal ini menjadikan bangunan kuil ini menjadi sasaran incaran fotografer untuk diabadikan gambarnya. Incaran penikmat seni atas keindahan fisik bangunannya. Juga incaran setiap pengunjung akan keindahan viewnya. Karenanya Kinkaku Ji menjadi top picks papan atas pengunjung mancanegara termasuk saya.

20130215-101925.jpg

Kesan dan Pesan saya setelah mengunjungi kuil ini : Belum ke Kyoto, kalau belum berkunjung ke Kinkaku Ji. Atau versi lebaynya : Belum benar-benar ke Jepang kalau belum tau Kinkaku Ji. Bener nggak ya ???

Buktikan aja sendiri……

20130215-102322.jpg

Shinkanshen is a Monument

Shinkanshen (Adelays.com)

Shinkanshen (Adelays.com)

Hati ini cukup dibuat galau, saat waktu menunjukkan pukul 13.15 menit waktu Osaka, padahal keberangkatan Kereta Shinkanshen yang akan saya naiki baru berangkat pukul 13.33 waktu setempat. Menaiki peron dengan sedikit terburu-buru ini bukan tanpa alasan. Hal itu terjadi karena transportasi di Jepang, apapun jenisnya adalah transportasi yang sangat menghargai waktu.

Seorang teman saat dijumpai selepas Sholat Ied di Kyoto International Community House pagi hari , berpesan untuk mencadangkan waktu lebih untuk persiapan sebelum menaiki kereta tercepat di Jepang. Pasalnya, kalau schedule keberangkatan kereta adalah 13.33, maka artinya 13.33:00 kereta itu sudah melesat dari peron. Sudah duduk manis ditempat yang sudah dipesan.

Teman saya itu menyadari sepenuhnya kultur dunia perkereta apian di Indonesia sebagai basis saya, dimana ketepatan waktu masih menjadi barang langka. Kalau berangkatnya tepat waktu, kedatangannya boleh jadi terlambat, tidak terbayang kalau berangkatnya saja sudah terlambat.

Kekhawatiran itu sedikit mereda, manakala terlihat line kereta Shinkansen jenis Nozomi yang akan saya tumpangi di jalur 2, masih belum datang. Nozomi adalah suatu jenis kereta tercepat dari Shinkansen lainnya yaitu, Hikari dan Kodama. Rentang kota Kyoto – Tokyo yang berjarak 513 Km akan ditempuh selama 2 jam 18 menit dengan Nozomi, sudah termasuk pemberhentian di kota Nagoya dan Shin-Yokohama. Sementara dengan Hikari perjalanan ditempuh dengan 2 jam 49 menit.

Shinkanshen Ticket Kyoto - Tokyo (Adelays.com)

Shinkanshen Ticket Kyoto – Tokyo (Adelays.com)

Menunggu kereta datang, saya pandangi tiket yang dibeli beberapa saat yang lalu di kantor JR ticketing, sambil membandingkan harga tiket dan jenis kereta dan layanan yang diberikan. Terbayang harga tiket Nozomi dengan resereved seat dan non reserved, yang hanya selisih tidak begitu significant. Shinkansen menyediakan gerbong khusus untuk non reserved, dengan perbedaan harga yang tidak terlalu jauh dari harga 13.500 Yen (sekitar Rp. 1.660.000). Rasanya layanan tanpa pesan nomor tempat duduk ini cocok bagi orang yang bepergian sendiri tanpa barang bawaan yang banyak.

Serta-merta kamera yang terselip di pinggang ini gatal menunggu perannya mengabadikan moment kereta yang lamat-lamat berganti mengisi peron datang dan pergi. Sinar matahari siang yang menerobos masuk dari langit, sedikit menghangatkan badan dari dingin yang mulai menggigit pagi 9 derajat, dan siang yang 15 derajat Celcius, saat itu. Memudahkan diafragma lensa kamera jenis pocket yang saya pakai dengan hasil maksimal.

Jadwal Shinkanshen (Adelays.com)

Jadwal Shinkanshen (Adelays.com)

Ketika gambar diperoleh, tidak terlihat kerumunan para calon penumpang yang biasa ditemui ala Stasiun Gambir saat saya menaiki kereta terbaik jenis Argo Anggrek jurusan Jakarta – Surabaya. Tidak pula ada juru bantu yang mengumumkan melalui corong “Toa” yang memberikan penjelasan mana gerbong kepala, dan mana gerbong buntut yang begitu penting buat penumpang itu. Laki-perempuan, tua-muda, dewasa-anak-anak, sudah well educated dengan cukup melihat ke lantai, disitulah gerbong akan bersemayam sementara waktu.

Tarikan nafas pertama saat pertama kali duduk di kereta ini mengiringi dimulainya perjalanan pukul 13.33:00 detik di jam tangan saya ketika berangkat , hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk menaikkan penumpang, memberi waktu penumpang untuk duduk, meletakkan barang bawaan diatas bagasi yang ada diatas kepala. Perpaduan kedisiplinan penumpang dan ketepatan waktu yang sangat luar biasa menyebabkan semuanya dapat berjalan dengan baik.

Gerbong Shinkanshen (Adelays.com)

Gerbong Shinkanshen (Adelays.com)

Tidak terdengar suara rel berderak-derak tanda tarikan lokomotif yang akrab dengan telinga Made in Indonesia saya. Tidak pula terdengar melodi indah ala sambungan rel yang menjadi trade mark kereta apapun yang pernah saya tumpangi, apatah itu kereta Argo, kereta bisnis, Kereta Rel Diesel (KRD), Kereta Rel Listrik (KRL) ataupun satu lainnya yang pernah menjadi kisah perkeretaapian yang pernah juga saya tumpangi diantara sambungan gerbongnya, yaitu kereta barang.

Kantuk pun mulai menyergap. Tenang bagai air yang mengalir melintas daerah membelah Jepang diantara perjalanan Kyoto menuju Tokyo. Satu-satunya hentakan yang tidak terlalu dominan adalah saat Shinkanshen datang dari arah yang berlawanan. Awalnya saya sempat kaget saat kelebatan itu tapi lama-lama terbiasa juga, terjadi bagai malaikat, berbayang putih dan sangat cepat.

Gerbong Belakang Shinkanshen (Adelays.com)

Gerbong Belakang Shinkanshen (Adelays.com)

Kelebatan itu mengakrabi saya untuk tetap terjaga memperhatikan awak Shinkanshen yang begitu ramah melayani penumpang. Saking ramahnya, setiap seorang awak melalui pintu masuk ataupun hendak melalui gerbong lainnya, mereka selalu menunduk untuk memberikan hormat kepada seluruh penumpang , tidak terkecuali security Shinkanshen, awak yang berjualan makanan atau minuman.

Seolah tidak ingin rugi dengan jasa angkutan ini, saya memutuskan untuk menjelajahi gerbong demi gerbong di belakang saya. Gerbong no. 14 yang saya tumpangi ini adalah dua gerbong terdepan sebelum lokomotif, sehingga kaki ini lebih tertarik untuk melangkah ke belakang, untuk membuktikan informasi yang tertera bahwa digerbong belakang ada rangkaian khusus restorasi, komunikasi dan berbagai fasilitas lainnya. Toilet berbagai jenispun tersedia.

Kagum dengan berbagai fasilitasnya, saya kemudian berdecak kagum, lantaran inilah menurut saya angkutan kereta api ternyaman yang pernah saya rasakan. Bukan saja nyaman, tapi juga mampu menjadi substitusi pendukung angkutan selain pesawat terbang di negara super sibuk dan termahal di dunia ini.

Pramugari Ramah Shinkanshen (Adelays.com)

Pramugari Ramah Shinkanshen (Adelays.com)

Mereka (layanan kereta ini) mampu menempatkan diri diantara kereta lain yang lebih lama, bis dengan jarak sama namun harus ditempuh melalui 8 jam perjalanan, pesawat yang mungkin hanya satu jam sudah sampai namun membutuhkan biaya mencapai 25.000 yen. Tidak sampai istilah kata ‘jeruk makan jeruk’ seperti di Indonesia, yang harga jasa penerbangannya sudah overlaping harga jasa perjalanan dengan kereta api.

Hembusan nafas saya terakhir didalam kereta ini tepat dengan janji kedatangan kereta yang hanya terlambat dalam hitungan detik ini. Kaki kanan saya diiringi dengan ucapan basmalah, menginjakkan kaki di stasiun JR Tokyo untuk melanjutkan perjalanan menuju Shinjuku dan Shin Okubo.

Gerbong Layanan Shinkanshen (Adelays.com)

Gerbong Layanan Shinkanshen (Adelays.com)

Jepang memang unik, ketika ibukota sebuah negara sibuk berlomba-lomba membangun monumen pencakar langit sebagai icon suatu negara, tidak demikian halnya dengan Jepang. Sebut saja Menara Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia, Menara 101 tertinggi ke dua dunia di Taipei, Taiwan, atau Gedung tertinggi di dunia Burj al Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab. Tokyo boleh jadi “hanya” punya Tokyo Tower yang bentuk bangunannya mirip Menara Eifel itu. Atau menara alam yang tidak dibuat oleh manusia yaitu Gunung Fuji.

Bagi Jepang, Tokyo sebagai ibukota terbilang padat dan sempit tidak perlu mendirikan monumen adu tinggi, walaupun saya yakin teknologi Jepang mampu mewujudkannya. Bandar udara saja, sudah ‘menumpang’ di pinggir laut dengan urukan tanah sebagai dasarnya. Itupun mereka menghadapi masalah penurunan dasar tanah sebagai pijakannya, beberapa cm setiap tahunnya. Belum lagi gempa berkekuatan tinggi dan efek tsunaminya yang bisa dikatakan sering menerpa Jepang.

To me, Shinkanshen (bullet train 275 mph)  is a monument. Shinkanshen is #3 fastest train in the world.

Shinkanshen Fare

Shinkanshen Japan Fares

Landed in Kansai

Welcome to Kansai (Adelays.com)

Welcome to Kansai (Adelays.com)

Yang pernah tau bagaimana canggihnya Bandar Udara HKIA (Hong Kong Internasional Airport) pasti berdecak kagum. Bandara ini adalah bandara papan atas dunia yang telah berkali-kali menjadi bandara nomor satu dunia versi Skytrax, lembaga pemeringkat penerbangan dan bandar udara di dunia. HKIA selalu bersaing dengan Changi di Singapura dan Incheon di Korea dalam peringkat terbaik, dan hanya mereka bertiga yang berada pada kategori bintang lima, sebuah peringkat tertinggi dalam penilaian mereka.

Konsep floating airport yang mengesankan itu, sejatinya diadopsi dari bandar udara di Jepang, Kansai Internasional Airport (KIX). Inilah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Kansai, salah satu bandar udara internasional tersibuk di Jepang. Osaka sebenarnya memiliki Airport internasionalnya di pulau Honshu, pulau utama di Jepang, namun karena perluasan yang tidak memungkinkan lagi, sementara kebutuhan landasan atas penerbangan yang begitu tinggi, dibangunlah bandar udara kedua yang berada di sebuah pulau buatan di selatan kota Osaka .

Kansai Airport (Adelays.com)

Kansai Airport (Adelays.com)

Berbeda dengan Narita atau Haneda di Tokyo yang banyak melayani rute penerbangan di utara Jepang, Osaka lebih banyak diorientasikan untuk melayani selatan Jepang, Inilah menurut saya, bandar udara terbaik yang pernah dibuat manusia. Kesuksesan dibangunnya landasan pesawat ini kemudian menjadi tolok ukur dibuatnya bandar udara lain sejenis yang saat ini seluruhnya ada 4 di Jepang, termasuk Hong Kong di luar Jepang.

Daya tahan bandara ini bukan omong kosong, karena bandara ini sendiri pernah mengalami beberapa uji coba alam yang sangat kental dengan kondisi Jepang yang rentan gempa dan Tsunami, terbutkti ketika tahun 1995 terjadi gempa Kobe yang menewaskan 6500 orang lebih . Pusat gempa yang hanya berjarak 20 km tidak menyebabkan satu jendelapun pecah berkat konstruksi rekayasa gempa yang menggunakan sendi geser yang diarsitekturi oleh Renzo Piano. Lagi di tahun 1998 bandara ini teruji ketika terjadi bencana angin topan tahun 1998 dengan kecepatan 200 km perjam (dari sumber wikipedia).

Kansai Airport Imigration (Adelays.com)

Kansai Airport Imigration (Adelays.com)

Loby Keberangkatan Kansai Airport (Adelays.com)

Loby Keberangkatan Kansai Airport (Adelays.com)

Check In Kansai Airport (Adelays.com)

Check In Kansai Airport (Adelays.com)

Area Kansai Airport (Adelays.com)

Area Kansai Airport (Adelays.com)

Ketika mendarat, sebenarnya saya mewaspadai kata-kata seorang teman yang begitu terinspirasi oleh film yang dibintangi oleh Scarlett Johansson dan Bill Murray tahun 2003, “Lost in Translation”, namun kenyataannya bandara ini sudah cukup dilengkapi dengan petunjuk bahasa Inggris untuk memanjakan para turisnya yang mengunjungi Jepang.

Ia sempat mengingatkan untuk hati-hati agar tidak tersesat di hutan kanji, begitulah kira kira pesan yang seorang teman sampaikan kepada saya. Ia sedang membagi pengalamannya, bahwa bacpacker-an di negeri sakura ini memang lebih rumit jika dibandingkan dengan ketika ia melanglang buana sendirian ke berbagai negara asia lainnya. Sebut saja Thailand, Vietnam, Singapore dan Malaysia.

Yang baru pertama kali ke bandara ini, ikuti saja arus orang yang datang dari terminal kedatangan, kemudian menunggu ditempat keberangkatan selanjutnya, karena para penumpang akan dijemput oleh kereta monorail menuju pemeriksaan imigrasi dan pengambilan bagasi.

Check In Kansai Airport (Adelays.com)

Check In Kansai Airport (Adelays.com)

Kansai Toursit Information Center (Adelays.com)

Kansai Toursit Information Center (Adelays.com)

Bagi yang ingin memperoleh informasi tentang apa saja berkaitan dengan pariwisata, ataupun informasi perjalanan, di sebelah kiri pintu Exit, setelah satu prosedur pemeriksaan bagasi atau random check siap membantu melayani pertanyaan kita sebagai wisatawan.

Dari meja petugas informasi yang sangat ramah dan membantu inilah kita dapat mempertimbangkan, akan naik apa menuju tempat yang akan ditempuh, Saya sendiri, yang nota bene bepergian dengan barang bawaan yang cukup banyak memilih transportasi sekali jalan dari sebuah counter bernama “Yasaka”. Jenis bis sekelas ELF dengan bagasi barang yang cukup besar siap mengantarkan saya ke kota tempat tujuan saya di Kyoto, 2 jam dari bandara ini di kota Osaka dengan biaya sekitar 3300 yen per orang.

Yasaka Counter Kansai Airport (Adelays.com)

Yasaka Counter Kansai Airport (Adelays.com)

Yasaka Group Taxi (Adelays.com)

Yasaka Group Taxi (Adelays.com)

Yang mempertimbangkan untuk naik kereta atau bis lantaran barang bawaannya tidak terlalu berat, mungkin saja bisa naik bis atau jenis transportasi lain atas pertimbangan tertentu ke tempat tujuan. Kota Kyoto, Osaka dan Kobe yang termasuk dalam Kansai perfecture menyediakan tiket terusan yang berlaku untuk kereta, dengan biaya relatif murah, hanya dengan 700 Yen untuk satu hari, atau 1200 Yen untuk dua hari dengan Hankyu Railway Pass. Manfaatkan meja informasi dan persiapkan perjalanan ini dengan baik, kalau tidak ingin memulai perjalanan seperti Bill Murray.

Hankyu Tourist 1 day or 2 days Pass (Adelays.com)

Hankyu Tourist 1 day or 2 days Pass (Adelays.com)

Chiyo @ Fushimi Inari (Source iMdb)

Don’t Tell my Mom, I’m in Fushimi

Chiyo in Fushimi Inari (source iMdb)

Chiyo in Fushimi Inari (source iMdb)

Kekaguman Chiyo semakin kuat kepadanya, saat cita-citanya menjadi seorang Geisha didukung oleh seorang chairman yang selama ini ia idolakan. Hati Chiyo yang begitu gembira terlihat dari semangatnya yang menggebu-gebu. Larinya yang kencang dan bersemangat melintasi deretan rumpun kayu berwarna oranye yang bersusun menjadi atapnya di Fushimi Inari. Ia seperti mendapatkan tenaga extra luar biasa setelah seorang yang telah idam-idamkan selama ini, ternyata ‘merestui’ nya, membelikannya ice cream bahkan memberinya sejumlah uang.

Chiyo n Chairman (Source iMdb) Adelays.com

Chiyo n Chairman (Source iMdb) Adelays.com

Sebenernya kekuatan ekstra berlari Chiyo di Fushimi itu datang lebih dari kebesaran dan kebanggaan hatinya. Disebuah tempat yang tinggi setelah melewati deretan gapura kayu Fushimi ia kemudian berdoa, mengharapkan cita-citanya semakin menjadi kenyataan. Uang yang diberikan, seluruhnya ia sumbangkan.

Chiyo (Source iMdb)

Chiyo (Source iMdb)

Kisah Chiyo yang begitu kuat menggambarkan perjalanan seorang anak kecil yang sejak berumur 9 tahun ketika ia dijual ke rumah Geisha di Giyon District Kyoto sampai akhirnya menjadi Geisha bernama Nitta Sayuri itu, digarap dengan sangat baik oleh sutradara Rob Marshall. Film ini bukan saja bagus secara alur cerita, tetapi juga membuktikan telah memenangkan 3 Academy Award tahun 2006. Buku karya Arthur Golden yang difilmkan dan diperankan oleh Zang Zhiyi, Michelle Yeoh, Ken Watanabe dan Gong Li ini banyak diangkat dari sebuah kota yang sangat kaya akan budaya Jepang, Kyoto.

Fushimi Inari adalah suatu tempat yang berada di sebelah Tenggara kota Kyoto. Saat ini lokasinya relatif tidak terlalu jauh dari Kyoto Station pusat transportasi terbesar di kota ini, dan merupakan satu peninggalan budaya Jepang yang ramai dikunjungi. Ciri khas Fushimi Inari adalah deretan kayu yang menjadi gapura-gapura bersusun berwarna orange dan hitam . Dalam film itu digambarkan Chiyo berlari melewatinya.

20121109-144130.jpg

Ibu (dan juga Ayah) saya pernah bertanya mengenai tempat ini di Kyoto, tapi sayang ia tidak sempat menyaksikannya sendiri ketika berada di sana. Keinginannya menyaksikan langsung salah satu tempat yang menjadi daya tarik wisata di Jepang khususnya Kyoto ini, terlewatkan. Padahal keberadaaannya saat itu bertepatan dengan mekarnya bunga Sakura, sekitar bulan April dan Mei.

Saya sempat mendatangi tempat ini pagi hari dalam keadaan hujan. Berangkat dalam keadaan gerimis dengan menumpang kereta dari Kyoto Station dengan ongkos tidak lebih dari 130 140 Yen sekali jalan, relatif murah setara dengan Rp. 18.000. Beruntung, hujan tidak terlalu lama membasahi Kyoto. Payung khas Jepang yang transparan sempat saya beli disebuah mini market yang terletak berhadapan dengan gapura pertama di Fushimi. Gambar gerbang Fushimi Inari saya ambil dari depan toko itu dekat sekali dengan JR Inari Station. Transparansi payung ini membuat pandangan ke arah vertikal hampir tanpa halangan.

Kontur tanah yang berbukit memang menjadi ciri khas semakin kedalam area, semakin menanjak. Terbayang Chiyo kecil berlari mencapai lokasi tertinggi, saya pun melaluinya. Bedanya, ia melintas dengan berlari, saya menikmati pemandangan dengan mensyukuri betapa pemandangan berbukit yang tenang dengan kesejukan sekitar 15 derajat celcius di akhir bulan Oktober  menjelang Nopember Autumn ini begitu mempesona.

Kesejukan udara yang bersih, hijaunya pepohonan yang mulai kuning dan memerah pertanda musim gugur ini semakin memperkaya pemandangan yang tentu saja akan sulit kita peroleh di tanah air. Ada sepersekian cuil surga yang Allah SWT turunkan disini bagi siapa saja yang menyadari betapa ciptaannya begitu indah, subhanallah.

20121109-151722.jpg

Fushimi Inari menjadi satu diantara 10 terbaik top sight Kyoto disamping beberapa unggulan tempat yang sangat pantas dikunjungi, misalnya Kyomizu Dera, Chion In, Kinkaku Ji, Ginkaku Ji dan lain lain. Pantas, kalau ibu saya selalu bertanya-tanya berbagai cerita Fushimi Inari yang muncul dalam bagian film Memoirs of Geisha, film yang memenangkan penghargaan dalam Art Direction, Cinematography dan Costume Design itu.

Saat saya datang, berbondong-bondong orang menelusuri tempat ini, padahal saat itu masih terhitung awal / cukup pagi, sekitar pukul 9.30 di hari Minggu pagi. Agak sulit menemukan jeda untuk berfoto tanpa orang lain menghalangi kamera saya sepanjang pandangan, walaupun akhirnya saya dapatkan, itupun orang lain yang mengerti kemauan saya menunggu saya mengambil satu atau dua take

20121109-164250.jpg

Kalau saja ibu saya tahu.. bahwa saya sendiri sudah membuktikan betapa tempat ini memang pantas dikunjungi, mungkin ia akan berpikir untuk kembali lagi ke Kyoto untuk mengeksplorasi betapa tempat ini memang pantas dibanggakan.

20121109-164751.jpg