Tag Archives: Ich Bin Ein Berliener

Ich Bin Ein Berliener

image

Udara dingin menyergap melalui sela sela jaket hangat yang saya pakai. Suhu berkisar 0 derajat memang bukan hal yang biasa bagi ‘orang khatulistiwa’ seperti saya.

Sejenak melepas lelah dan ketegangan manakala ‘rush’ yang memburu karena hampir ketinggalan pesawat dari Amsterdam, saya menikmati satu cup kopi panas dan fries di Bandar udara Schönefeld Jerman.
image

Yang unik saat menunggu kentang goreng adalah saya diberi sebuah alat kecil yang akan berbunyi nyaring dan pada saat itulah saya diminta datang ke kasir untuk mengambil kentang goreng pesanan saya. Unik juga..

Jaket sekelas dinginnya puncak tidak ada yg mempan disini, jaket bulu angsa dilapis dengan long john saja baru masuk kategori lumayan yang mampu menahan tusukan udara dinginnya Berlin.
image

Itu pun sudah yang dilengkapi dilengkapi dengan teknologi ‘HeatTech’ besutan teknologi Jepang terbaru yg saya dapatkan di “Uniqlo”.

Sebagaimana dikatakan teman saya yang saat ini tinggal di Berlin, Nisa teman saya yang juga Blogger asal Indonesia (http://nissabella7.wordpress.com/) menyarankan untuk membeli tiket ‘Bahn’ di bandara atau di mesin tiket.

Dengan pertimbangan yg matang, paket 48 hours seharga 18an Euro untuk area ABC keliling Berlin dengan menggunakan Bahn atau semacam kereta MRT menjadi ketetapan.

Tangan ini terasa membeku dan menusuk diantara ujung-ujung jari kuku tangan.
image

Inilah Berlin.

Kota yang punya sejarah panjang perang dingin antara dua blok, timur dan barat. Kalau saja ada mesin waktu saya ingin berada di Berlin ke tahun 1963 dan menjadi saksi atas salah satu moment kunjungan Presiden Amerika John F Kennedy disini. Di Rathaus Schloveberg.

image

Konon pidato ini adalah salah satu orasi terhebat JFK pada masa perang dingin antara blok barat dan sekutu yang dipimpin Amerika Serikat melawan blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet.

Bukan saja paling hebat, sejarah mencatat konon pidato ini disaksikan berjuta pasang mata yang menandai dukungan Amerika kepada Jerman Barat dan membakar semangat masyarakat yang keluarganya masih tinggal di Berlin Timur.
image

Langkah saya terhenti sesàat ketika berada di depan Brandenburg Gate, ikon kota Berlin dan teringat saat David Hasselhoff yang pernah tenar memerankan serial Knight Rider, membawakan acara untuk National Geographic bertajuk “Hasselhoff Vs Berlin Gate”.

Berlin saat perang dingin dipisahkan oleh dua ideologi seperti yang diorasikan JFK. Jerman Timur dibawah pengaruh Uni Soviet membatasi kota itu. Konflik berkepanjangan akhirnya menyeret ke dua kubu dalam perang dingin berkepanjangan.

Berbagai cara dilakukan orang-orang untuk menyeberang ke Berlin Barat ketika tembok itu masih berdiri, tak peduli nyawa taruhannya.

image

Saya kemudian memandang Gerbang Brandenburg dengan cermat, memperhatikan detil ornamennya lebih seksama.Tembok pembatas antara Berlin timur dan barat itu sudah tiada lagi tahun 1989 menandai berakhirnya era perang dingin.

Two thousand years ago, the proudest boast was civis romanus sum [“I am a Roman citizen”]. Today, in the world of freedom, the proudest boast is”Ich bin ein Berliner!”… All free men, wherever they may live, are citizens of Berlin, and therefore, as a free man, I take pride in the words “Ich bin ein Berliner!”

http://www.adelays.com
image

Advertisements