Tag Archives: Japan

Shinkanshen is a Monument

Shinkanshen (Adelays.com)

Shinkanshen (Adelays.com)

Hati ini cukup dibuat galau, saat waktu menunjukkan pukul 13.15 menit waktu Osaka, padahal keberangkatan Kereta Shinkanshen yang akan saya naiki baru berangkat pukul 13.33 waktu setempat. Menaiki peron dengan sedikit terburu-buru ini bukan tanpa alasan. Hal itu terjadi karena transportasi di Jepang, apapun jenisnya adalah transportasi yang sangat menghargai waktu.

Seorang teman saat dijumpai selepas Sholat Ied di Kyoto International Community House pagi hari , berpesan untuk mencadangkan waktu lebih untuk persiapan sebelum menaiki kereta tercepat di Jepang. Pasalnya, kalau schedule keberangkatan kereta adalah 13.33, maka artinya 13.33:00 kereta itu sudah melesat dari peron. Sudah duduk manis ditempat yang sudah dipesan.

Teman saya itu menyadari sepenuhnya kultur dunia perkereta apian di Indonesia sebagai basis saya, dimana ketepatan waktu masih menjadi barang langka. Kalau berangkatnya tepat waktu, kedatangannya boleh jadi terlambat, tidak terbayang kalau berangkatnya saja sudah terlambat.

Kekhawatiran itu sedikit mereda, manakala terlihat line kereta Shinkansen jenis Nozomi yang akan saya tumpangi di jalur 2, masih belum datang. Nozomi adalah suatu jenis kereta tercepat dari Shinkansen lainnya yaitu, Hikari dan Kodama. Rentang kota Kyoto – Tokyo yang berjarak 513 Km akan ditempuh selama 2 jam 18 menit dengan Nozomi, sudah termasuk pemberhentian di kota Nagoya dan Shin-Yokohama. Sementara dengan Hikari perjalanan ditempuh dengan 2 jam 49 menit.

Shinkanshen Ticket Kyoto - Tokyo (Adelays.com)

Shinkanshen Ticket Kyoto – Tokyo (Adelays.com)

Menunggu kereta datang, saya pandangi tiket yang dibeli beberapa saat yang lalu di kantor JR ticketing, sambil membandingkan harga tiket dan jenis kereta dan layanan yang diberikan. Terbayang harga tiket Nozomi dengan resereved seat dan non reserved, yang hanya selisih tidak begitu significant. Shinkansen menyediakan gerbong khusus untuk non reserved, dengan perbedaan harga yang tidak terlalu jauh dari harga 13.500 Yen (sekitar Rp. 1.660.000). Rasanya layanan tanpa pesan nomor tempat duduk ini cocok bagi orang yang bepergian sendiri tanpa barang bawaan yang banyak.

Serta-merta kamera yang terselip di pinggang ini gatal menunggu perannya mengabadikan moment kereta yang lamat-lamat berganti mengisi peron datang dan pergi. Sinar matahari siang yang menerobos masuk dari langit, sedikit menghangatkan badan dari dingin yang mulai menggigit pagi 9 derajat, dan siang yang 15 derajat Celcius, saat itu. Memudahkan diafragma lensa kamera jenis pocket yang saya pakai dengan hasil maksimal.

Jadwal Shinkanshen (Adelays.com)

Jadwal Shinkanshen (Adelays.com)

Ketika gambar diperoleh, tidak terlihat kerumunan para calon penumpang yang biasa ditemui ala Stasiun Gambir saat saya menaiki kereta terbaik jenis Argo Anggrek jurusan Jakarta – Surabaya. Tidak pula ada juru bantu yang mengumumkan melalui corong “Toa” yang memberikan penjelasan mana gerbong kepala, dan mana gerbong buntut yang begitu penting buat penumpang itu. Laki-perempuan, tua-muda, dewasa-anak-anak, sudah well educated dengan cukup melihat ke lantai, disitulah gerbong akan bersemayam sementara waktu.

Tarikan nafas pertama saat pertama kali duduk di kereta ini mengiringi dimulainya perjalanan pukul 13.33:00 detik di jam tangan saya ketika berangkat , hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk menaikkan penumpang, memberi waktu penumpang untuk duduk, meletakkan barang bawaan diatas bagasi yang ada diatas kepala. Perpaduan kedisiplinan penumpang dan ketepatan waktu yang sangat luar biasa menyebabkan semuanya dapat berjalan dengan baik.

Gerbong Shinkanshen (Adelays.com)

Gerbong Shinkanshen (Adelays.com)

Tidak terdengar suara rel berderak-derak tanda tarikan lokomotif yang akrab dengan telinga Made in Indonesia saya. Tidak pula terdengar melodi indah ala sambungan rel yang menjadi trade mark kereta apapun yang pernah saya tumpangi, apatah itu kereta Argo, kereta bisnis, Kereta Rel Diesel (KRD), Kereta Rel Listrik (KRL) ataupun satu lainnya yang pernah menjadi kisah perkeretaapian yang pernah juga saya tumpangi diantara sambungan gerbongnya, yaitu kereta barang.

Kantuk pun mulai menyergap. Tenang bagai air yang mengalir melintas daerah membelah Jepang diantara perjalanan Kyoto menuju Tokyo. Satu-satunya hentakan yang tidak terlalu dominan adalah saat Shinkanshen datang dari arah yang berlawanan. Awalnya saya sempat kaget saat kelebatan itu tapi lama-lama terbiasa juga, terjadi bagai malaikat, berbayang putih dan sangat cepat.

Gerbong Belakang Shinkanshen (Adelays.com)

Gerbong Belakang Shinkanshen (Adelays.com)

Kelebatan itu mengakrabi saya untuk tetap terjaga memperhatikan awak Shinkanshen yang begitu ramah melayani penumpang. Saking ramahnya, setiap seorang awak melalui pintu masuk ataupun hendak melalui gerbong lainnya, mereka selalu menunduk untuk memberikan hormat kepada seluruh penumpang , tidak terkecuali security Shinkanshen, awak yang berjualan makanan atau minuman.

Seolah tidak ingin rugi dengan jasa angkutan ini, saya memutuskan untuk menjelajahi gerbong demi gerbong di belakang saya. Gerbong no. 14 yang saya tumpangi ini adalah dua gerbong terdepan sebelum lokomotif, sehingga kaki ini lebih tertarik untuk melangkah ke belakang, untuk membuktikan informasi yang tertera bahwa digerbong belakang ada rangkaian khusus restorasi, komunikasi dan berbagai fasilitas lainnya. Toilet berbagai jenispun tersedia.

Kagum dengan berbagai fasilitasnya, saya kemudian berdecak kagum, lantaran inilah menurut saya angkutan kereta api ternyaman yang pernah saya rasakan. Bukan saja nyaman, tapi juga mampu menjadi substitusi pendukung angkutan selain pesawat terbang di negara super sibuk dan termahal di dunia ini.

Pramugari Ramah Shinkanshen (Adelays.com)

Pramugari Ramah Shinkanshen (Adelays.com)

Mereka (layanan kereta ini) mampu menempatkan diri diantara kereta lain yang lebih lama, bis dengan jarak sama namun harus ditempuh melalui 8 jam perjalanan, pesawat yang mungkin hanya satu jam sudah sampai namun membutuhkan biaya mencapai 25.000 yen. Tidak sampai istilah kata ‘jeruk makan jeruk’ seperti di Indonesia, yang harga jasa penerbangannya sudah overlaping harga jasa perjalanan dengan kereta api.

Hembusan nafas saya terakhir didalam kereta ini tepat dengan janji kedatangan kereta yang hanya terlambat dalam hitungan detik ini. Kaki kanan saya diiringi dengan ucapan basmalah, menginjakkan kaki di stasiun JR Tokyo untuk melanjutkan perjalanan menuju Shinjuku dan Shin Okubo.

Gerbong Layanan Shinkanshen (Adelays.com)

Gerbong Layanan Shinkanshen (Adelays.com)

Jepang memang unik, ketika ibukota sebuah negara sibuk berlomba-lomba membangun monumen pencakar langit sebagai icon suatu negara, tidak demikian halnya dengan Jepang. Sebut saja Menara Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia, Menara 101 tertinggi ke dua dunia di Taipei, Taiwan, atau Gedung tertinggi di dunia Burj al Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab. Tokyo boleh jadi “hanya” punya Tokyo Tower yang bentuk bangunannya mirip Menara Eifel itu. Atau menara alam yang tidak dibuat oleh manusia yaitu Gunung Fuji.

Bagi Jepang, Tokyo sebagai ibukota terbilang padat dan sempit tidak perlu mendirikan monumen adu tinggi, walaupun saya yakin teknologi Jepang mampu mewujudkannya. Bandar udara saja, sudah ‘menumpang’ di pinggir laut dengan urukan tanah sebagai dasarnya. Itupun mereka menghadapi masalah penurunan dasar tanah sebagai pijakannya, beberapa cm setiap tahunnya. Belum lagi gempa berkekuatan tinggi dan efek tsunaminya yang bisa dikatakan sering menerpa Jepang.

To me, Shinkanshen (bullet train 275 mph)  is a monument. Shinkanshen is #3 fastest train in the world.

Shinkanshen Fare

Shinkanshen Japan Fares

Advertisements

Landed in Kansai

Welcome to Kansai (Adelays.com)

Welcome to Kansai (Adelays.com)

Yang pernah tau bagaimana canggihnya Bandar Udara HKIA (Hong Kong Internasional Airport) pasti berdecak kagum. Bandara ini adalah bandara papan atas dunia yang telah berkali-kali menjadi bandara nomor satu dunia versi Skytrax, lembaga pemeringkat penerbangan dan bandar udara di dunia. HKIA selalu bersaing dengan Changi di Singapura dan Incheon di Korea dalam peringkat terbaik, dan hanya mereka bertiga yang berada pada kategori bintang lima, sebuah peringkat tertinggi dalam penilaian mereka.

Konsep floating airport yang mengesankan itu, sejatinya diadopsi dari bandar udara di Jepang, Kansai Internasional Airport (KIX). Inilah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Kansai, salah satu bandar udara internasional tersibuk di Jepang. Osaka sebenarnya memiliki Airport internasionalnya di pulau Honshu, pulau utama di Jepang, namun karena perluasan yang tidak memungkinkan lagi, sementara kebutuhan landasan atas penerbangan yang begitu tinggi, dibangunlah bandar udara kedua yang berada di sebuah pulau buatan di selatan kota Osaka .

Kansai Airport (Adelays.com)

Kansai Airport (Adelays.com)

Berbeda dengan Narita atau Haneda di Tokyo yang banyak melayani rute penerbangan di utara Jepang, Osaka lebih banyak diorientasikan untuk melayani selatan Jepang, Inilah menurut saya, bandar udara terbaik yang pernah dibuat manusia. Kesuksesan dibangunnya landasan pesawat ini kemudian menjadi tolok ukur dibuatnya bandar udara lain sejenis yang saat ini seluruhnya ada 4 di Jepang, termasuk Hong Kong di luar Jepang.

Daya tahan bandara ini bukan omong kosong, karena bandara ini sendiri pernah mengalami beberapa uji coba alam yang sangat kental dengan kondisi Jepang yang rentan gempa dan Tsunami, terbutkti ketika tahun 1995 terjadi gempa Kobe yang menewaskan 6500 orang lebih . Pusat gempa yang hanya berjarak 20 km tidak menyebabkan satu jendelapun pecah berkat konstruksi rekayasa gempa yang menggunakan sendi geser yang diarsitekturi oleh Renzo Piano. Lagi di tahun 1998 bandara ini teruji ketika terjadi bencana angin topan tahun 1998 dengan kecepatan 200 km perjam (dari sumber wikipedia).

Kansai Airport Imigration (Adelays.com)

Kansai Airport Imigration (Adelays.com)

Loby Keberangkatan Kansai Airport (Adelays.com)

Loby Keberangkatan Kansai Airport (Adelays.com)

Check In Kansai Airport (Adelays.com)

Check In Kansai Airport (Adelays.com)

Area Kansai Airport (Adelays.com)

Area Kansai Airport (Adelays.com)

Ketika mendarat, sebenarnya saya mewaspadai kata-kata seorang teman yang begitu terinspirasi oleh film yang dibintangi oleh Scarlett Johansson dan Bill Murray tahun 2003, “Lost in Translation”, namun kenyataannya bandara ini sudah cukup dilengkapi dengan petunjuk bahasa Inggris untuk memanjakan para turisnya yang mengunjungi Jepang.

Ia sempat mengingatkan untuk hati-hati agar tidak tersesat di hutan kanji, begitulah kira kira pesan yang seorang teman sampaikan kepada saya. Ia sedang membagi pengalamannya, bahwa bacpacker-an di negeri sakura ini memang lebih rumit jika dibandingkan dengan ketika ia melanglang buana sendirian ke berbagai negara asia lainnya. Sebut saja Thailand, Vietnam, Singapore dan Malaysia.

Yang baru pertama kali ke bandara ini, ikuti saja arus orang yang datang dari terminal kedatangan, kemudian menunggu ditempat keberangkatan selanjutnya, karena para penumpang akan dijemput oleh kereta monorail menuju pemeriksaan imigrasi dan pengambilan bagasi.

Check In Kansai Airport (Adelays.com)

Check In Kansai Airport (Adelays.com)

Kansai Toursit Information Center (Adelays.com)

Kansai Toursit Information Center (Adelays.com)

Bagi yang ingin memperoleh informasi tentang apa saja berkaitan dengan pariwisata, ataupun informasi perjalanan, di sebelah kiri pintu Exit, setelah satu prosedur pemeriksaan bagasi atau random check siap membantu melayani pertanyaan kita sebagai wisatawan.

Dari meja petugas informasi yang sangat ramah dan membantu inilah kita dapat mempertimbangkan, akan naik apa menuju tempat yang akan ditempuh, Saya sendiri, yang nota bene bepergian dengan barang bawaan yang cukup banyak memilih transportasi sekali jalan dari sebuah counter bernama “Yasaka”. Jenis bis sekelas ELF dengan bagasi barang yang cukup besar siap mengantarkan saya ke kota tempat tujuan saya di Kyoto, 2 jam dari bandara ini di kota Osaka dengan biaya sekitar 3300 yen per orang.

Yasaka Counter Kansai Airport (Adelays.com)

Yasaka Counter Kansai Airport (Adelays.com)

Yasaka Group Taxi (Adelays.com)

Yasaka Group Taxi (Adelays.com)

Yang mempertimbangkan untuk naik kereta atau bis lantaran barang bawaannya tidak terlalu berat, mungkin saja bisa naik bis atau jenis transportasi lain atas pertimbangan tertentu ke tempat tujuan. Kota Kyoto, Osaka dan Kobe yang termasuk dalam Kansai perfecture menyediakan tiket terusan yang berlaku untuk kereta, dengan biaya relatif murah, hanya dengan 700 Yen untuk satu hari, atau 1200 Yen untuk dua hari dengan Hankyu Railway Pass. Manfaatkan meja informasi dan persiapkan perjalanan ini dengan baik, kalau tidak ingin memulai perjalanan seperti Bill Murray.

Hankyu Tourist 1 day or 2 days Pass (Adelays.com)

Hankyu Tourist 1 day or 2 days Pass (Adelays.com)

Cari Tahu dengan Jarimu

20121016-231623.jpg

Walaupun Lonely Planet menempatkan Kyoto sebagai Top  Picks for Japan, Tokyo sebagai ibu kota Jepang rasanya layak untuk dikunjungi. Ia Berada dalam urutan berkutnya dibawa Kyoto yang merupakan kota dengan beragam budaya. Belum mengunjungi Jepang rasanya kalau belum ke ibukota negaranya. Seperti, belum ke Indonesia rasanya kalau belum ke Jakarta.

“Cari Tahu Dengan Jarimu”, begitulah bunyi tagline Yellow Pages yang sering terdengar. Tagline itu terngiang sejalan dengan keingin tahuan tentang kota yang eksotis dan memiliki sejarah panjang di Jepang, setelah Kyoto. Tokyo, memiliki magnetnya sendiri untuk dikunjungi. Saking mempengaruhinya, beberapa judul film yang mendunia diangkat dari kota ini. Sebut saja Jacky Chan  mengangkat “Tokyo Rush Hour” sebagai film bahkan sampai 3 kali.

Shinjuku Insident” masih dari Jacky Chan kemudian mengisahkan tragedi adu jotos antar Yakuza di Jepang. Stasiun kereta Shinjuku itu sendiri saat ini bahkan merupakan  salah satu stasiun tersibuk di kota Tokyo. Belum lagi “Fast and Fourius” yang tema adu balap mobil liar dari kota ini dengan judul “Tokyo Drift“. Kalau mau kisah dari seputar Tokyo yang sedikit melo, ada “Hachiko” yang dibintangi Richard Gere.

Anda yang bermaksud jalan-jalan ke Jepang, boleh jadi perlu mempertimbankan Tokyo walaupun sudah menyusun iterenary ke Sapporo,yang  dinobatkan sebagai kota paling atraktif bagi pariwisata Jepang (sumber: Wikipedia). Kalau masih punya waktu sempatkan ke Tokyo, atau paling tidak tuliskan kota ini dalam lembar iteranary meskipun belum memiliki ‘jiwa’nya untuk benar-benar disambangi.

Untuk memiliki jiwanya sendiri, Tokyo tentu perlu observasi. Beberapa cara bisa ditempuh untuk mengobservasi kota ini seperti:

  1. Browsing di Internet,
  2. Membeli buku-buku pariwisata, ataupun
  3. Menginstal aplikasi tentang informasi kota ini di gadget .

Saya sendiri menempuh ketiga jalur tersebut secara paralel. perjalanan dari selatan Jepang merambah ke utara akhirnya menemukan magnetnya untuk diwujudkan. Rasa ingin tahu mulai menggerakkan tangan ini membuka lembaran informasi tentang Tokyo mengalir deras. “Cari tahu dengan jarimu” menemukan daya ‘sihir’nya.

Bagi yang bermaksud membeli buku-buku pariwisata tentang Tokyo, ada baiknya mempertimbangkan beberapa buku yang pernah menjadi “Learning Partner” saya ‘mengisi sihir’ tentang daya tarik kota ini. Buku-buku tersebut memiliki keunggulan komparatif yang kuat sehingga perlu dipertimbangkan. Buku tersebut adalah :

2,5 Juta Keliling Jepang by Claudia Kaunang (Adelays.com)

2,5 Juta Keliling Jepang by Claudia Kaunang (Adelays.com)

  1. 2,5 Juta Keliling Jepang .
    Membaca 208 halaman buku karya Claudia Kaunang ini memberikan motivasi dan merubah mitos yang sementara ini berkembang, bahwa Tokyo sangat mahal untuk dikunjungi. Penulisnya pandai menyiasati kepergiannya ke Jepang dengan tips dan trik yang baik untuk travelling secara cerdas ala backpackers. Tidak tanggung-tanggung hanya 2,5 juta Rupiah dalam 5 hari tiga kota Jepang yaitu Tokyo, Kyoto dan Osaka menjadi pokok bahasan. Didalamnya sudah termasuk Rute transportasi di Jepang, Perincian biaya keseluruhan, info penginapan, kuliner dan belanja Hemat ! Harga buku ini pun cukup hemat Rp. 37.500

    Tokyo by Lonely Planet (Adelays.com)

    Tokyo by Lonely Planet (Adelays.com)

  2. Tokyo
    Lonely Planet, lagi-lagi menjadi ‘jajanan’ buku yang tidak kalah penting. Saat-saat tertentu menjelang liburan buku ini sengaja saya cari di toko buku yang saya anggap sebagai “mbah google-nya” Jepang, Kinokuniya. Ternyata Sold Out .Dari Customer Servicenya pun saya temukan jawaban di beberapa cabangnya sudah habis, padahal beberapa waktu yang lalu buku ini masih terpampang di Kinokuniya Grand Indonesia. Di Gramedia, saya temukan satu buku Tokyo ini, tapi sayangnya itu buku sample dan sudah cukup out of date, tahun 2010.
    Akhirnya penjelajahan buku ini berakhir di Periplus, diskon lagi.. hmmm.. kesabaran ternyata membuahkan kebaikan, masih fresh Agustus 2012 !  Buku ini mengetengahkan 125 restoran terbaik, 67 museum dan galeries, 29 soothing hot spring, 2 tempat untuk melihat sumo dan 19 halaman map berwarna. Sangat baik diantarkan oleh Timothy Hornyak penulis Lonely Planet, bagi yang menginginkan highlight tentang Tokyo dari basic sampai advance. Harga, diatas Rp. 250.000.

    Getting Around Tokyo by Tuttle (Adelays.com)

    Getting Around Tokyo by Tuttle (Adelays.com)


  3. Map Guide “Tetting Around Tokyo”
    Buku ini tampil beda dibanding 2 buku diatas. Sangat advance dalam mengupas jaringan transportasi Jepang yang sangat “menggurita” dan merupakan jaringan transportasi terkompleks di dunia. Buku 194 halaman terbitan Tuttle ini lengkap menjadi transportastion guide bagi yang ingin jalan sendiri tanpa tour guide. Harga buku, masih dibawah Lonely Planet ,Rp. 165.000.
  4. Japanese Pharesbook
    Jepang memiliki huruf dan bahasa yang unik dan membutuhkan waktu tersendiri untuk menguasainya dibandingkan dengan mengunjungi negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Mendownload aplikasi ini untuk iPad atau iPod touch cukup saya rekomendasikan, karena tidak saja tulisan yang ditampilkan untuk dibaca, tetapi juga dapat di play untuk diucapkan. Harga download < $10.

Itu hanya sekelumit tentang ‘Cari Tahu tentang Jarimu” tentang Tokyo, diluar itu tentu masih banyak buku / tour guide book yang dapat menjadi guidance yang membantu menemukan ‘jiwa’  Tokyo. Hmm.. kalau begitu.. benar rasanya kata Moslih Eddin Saadi : “A Traveller Without Observation is a Bird Without Wings“.

日本へのビザ (Visa Jepang)

Kedutaan Jepang RI, di Jakarta (Adelays.com)

Kedutaan Jepang RI, di Jakarta (Adelays.com)

Yang pernah mengurus Visa di Kedutaan Jepang pasti merasakan, mengurus visa Jepang tidak sesulit mengurus visa di Kedutaan Amerika Serikat. Asal data yang diminta sudah lengkap, datang, tunjukkan dan serahkan urusan selesai dalam tiga atau empat hari. Namun demikian, persiapan demi persiapan  juga dibutuhkan agar sejak penyerahan dokumen sampai dengan penyerahan visa berjalan dengan sukses.

Kalau kita memiliki waktu yang cukup, rasanya mengurus visa Jepang sendiri lebih saya sarankan jika dibandingkan dengan melalui agen. Syarat yang diajukan oleh Kedutaan Besar Jepang di Jakarta melalui webnya cukup jelas dan tidak sulit. Untuk yang berlokasi di Jakarta dan sekitarnya, pengajuan dapat datang langsung ke :

Bagian Konsuler Kedutaan Besar Jepang di Jakarta

Jl. M.H. Thamrin No. 24, Jakarta 10350, INDONESIA
Telephone: (021) 3192-4308
FAX : (021) 315-7156

Jika tidak di Jakarta dan sekitarnya, Kedutaan Jepang memiliki empat perwakilannya di Indonesia dan masing-masing memiliki wilayah kerjanya sendiri-sendiri sesuai KTP pemohon, yaitu :

  1. Medan (061) 457-5193
  2. Surabaya (031) 503-0008
  3. Denpasar (0361) 227-628
  4. Makassar (0411) 871-030, 872-323
Visa Jepang (Adelays.com)

Visa Jepang (Adelays.com)

Berdasarkan pengalaman saya, ada beberapa tips yang mungkin bermanfaat bagi siapa saja yang akan mengajukan visa Jepang, yaitu:

I. Sebelum datang ke Kedutaan:

  1. Keep update informasi pengurusan visa diweb http://www.id.emb-japan.go.jp/visa.html. Saya pernah mengisi form aplikasi dengan format lama, padahal belum lama berselang, form tersebut digunakan oleh orang tua saya untuk tujuan yang sama (kunjungan keluarga) ke Jepang. Dengan tetap update ke web tersebut, akhirnya saya bisa melengkapi dokumen dengan form terbaru dengan baik tanpa harus tertunda lebih lama lagi. Selain form aplikasi, ada form iterenary yang dapat di download dialamat tersebut, sebagai salah satu syarat kelengkapan dokumen.
  2. Pastikan mempersiapkan dokumen asli, in case diminta oleh petugas yang memeriksa dokumen, kita dapat menunjukkan kebenaran dan kejelasan dokumen fotokopi yang diserahkan.
  3. Cetak Foto yang dibutuhkan untuk ditempel di form aplikasi sebenarnya hanya satu lembar, tetapi persiapkan foto tersebut lebih dari satu. Kalaupun foto ukuran 4,5 x 4,5 cm itu berlebih, pasti pihak kedutaan akan mengembalikannya.

II. Ketika Datang ke Kedutaan Jepang

  1. Datang lebih awal dari waktu layanan . Untuk sessi permohonan visa dibuka pukul 08.30 – 12.00 , sedangkan pengambilan visa dan paspor dibuka pukul 13.30 – 15.00. Waktu tersebut adalah waktu layanan, pemohon dapat datang lebih awal untuk mengambil nomor antrian. Makin cepat nomor antrian diperoleh, maka lebih dahulu anda akan memperoleh pelayanan.
  2. Penjagaan Kedutaan cukup ketat, security di pos utama akan menanyakan keperluan pemohon saat datang. Sebenarnya inti jawaban berupa “Permohonan” atau “Pengambilan Visa” lah yang sangat diharapkan oleh petugas. Pengantar tidak diperkenankan mendampingi. Pemohon akan memasuki sedikitnya tiga pintu, yaitu :
    – Pos security pertama, pemohon diminta untuk menyerahkan ID Card, berupa KTP.
    – Pintu kedua yaitu pemeriksaan barang bawaan, benda tajam dan berbahaya tidak diperkenankan dibawa masuk.
    – Pintu ketiga merupakan pintu ruangan visa yang dijaga oleh 1 orang petugas.
  3. Ambil nomor antrian . Untuk permohonan visa, antrian dapat diambil di mesin yang berada di sebelah kiri (mesin A) dari dua mesin antrian. Untuk memperpendek akses menuju loket Pelayanan Antrian A berada di sebelah kiri yaitu loket 1 – loket 3, duduk lah menunggu ditempat duduk tunggu sebelah kiri, atau tengah didepan loket 2 atau loket 3. Loket 1 adalah loket khusus agen pelayanan.
  4. Selama berada di lingkungan ruangan pelayanan: Dilarang untuk menerima/ melakukan panggilan telpon dan melakukan pengambilan gambar (memotret).
  5. Setelah dokumen diserahkan, simpan tanda bukti pengambilan paspor dengan baik. Tanda bukti itu akan menjadi dokumen yang sah pengambilan paspor dalam waktu 3 atau 4 hari. Siap-siap dihubungi petugas pelayanan visa apabila ada dokumen yang masih perlu dilengkapi.
Tanda Terima dan Pengambilan Dokumen (adelays.com)

Tanda Terima dan Pengambilan Dokumen (adelays.com)

III. Saat pengambilan Paspor / Visa.

  1. Pastikan membawa dokumen tanda bukti pengambilan paspor yang diserahkan oleh petugas paspor
  2. Siapkan uang sesuai ketentuan pengurusan paspor, saat saya mengurus @ Rp. 325.000 untuk satu lembar visa.
  3. Ambillah visa / pasport sesuai waktu yang ditentukan, tidak terlambat lebih dari satu hari kerja, karena visa dapat saja dibatalkan diluar waktu pengambilan yang ditetapkan.
  4. Izin visa tertera pada sudut kanan atas, dan hanya berlaku pada waktu yang telah ditentukan. Pastikan waktu  rencana keberangkatan telah sesuai dengan rencana dan berada dalam range izin yang diberikan.