Tag Archives: Kyoto

Bukan Sepatu Dahlan

20130609-012719.jpg

Matahari belum menampakkan sinarnya yang kuat saat saya melintas diantara jalan-jalan kecil di perumahan sekitar Ryoan Ji, ditemani sepasang sepatu hitam yang belum tergantikan sejak berangkat dari Jakarta. Angin sejuk berhembus menerpa jaket, menusuk melalui sela-sela jari tangan yang tidak dibungkus sarung tangan.

Saya begitu menikmati suasana kedamaian, di kota ini. Jauh berbeda dengan sang ibukota, Kyoto sepi tapi bukan berarti tak berpenghuni, Teratur bukan berarti tidak padat, seperti Tokyo.

20130609-012828.jpg

Orang-orang tua berpapasan saling membungkukkan badannya, menundukkan kepala, memberi hormat kepada setiap yang ditemuinya, begitu pula beberapa orang lain yang saya temui beriktnya, jaraknya hanya seratus meter dari rumah menuju rumah laundry.

Tempat ini kalau di Jakarta mungkin mirip seperti Laundry kiloan, fasilitas untuk mencuci pakaian. Bedanya, di Jepang jasa atas tenaga manusia sudah sangat dihargai alias mahal, sehingga banyak pekerjaan dilakukan secara secara swalayan.

20130609-012917.jpg

Dengan luas ruangan sekitar 6 x 6 meter persegi, ruangan ini tertata dengan baik beberapa mesin pengering cucian yang disusun bertingkat, disebelahnya ada beberapa mesin cuci dengan kapasitas berbeda. Ada pula satu mesin seperti dispenser minuman yang ternyata adalah penukar uang koin Yen. Satu yang menarik perhatian saya adalah mesin cuci kecli yang belum pernah dijumpai di Jakarta, mesin cuci sepatu .

Petunjuk demi petunjuk yang saya mengerti hanyalah berupa huruf kanji ditemani gambar anime khas Jepang.Tulisan yang saya mengerti pun hanya angka dari bilangan-bilangan 100, 200, dan 300 ongkos layanan dengan koin uang Yen.

Tidak ada penjaga yang saya temui, hanya ada mesin-mesin tanpa manusia bekerja sendiri setelah diorder pemiliknya. Tubuh ini masih mematung berusaha memahami dengan keras bagaimana menaklukan mesin mesin tak bertuan, saat kemudian seorang laki-laki tua bergegas masuk.

20130609-012954.jpg

“Excuse Me” sapa saya ketika ingin bertanya kepada orang tersebut. Petugas yang rambutnya telah beruban memenuhi seluruh kepalanya serta berkulit keriput tampak membungkus wajah dan tangannya ini, hanya menjawab dengan bahasa isyarat. Kebanyakan orang Jepang yang saya temui tetap helpfull walaupun tidak mampu menjawabnya dengan bahasa Inggris.

“Sumimasen” katanya saat undur diri setelah mengepel lantai, memastikan tidak ada sampah berserakan, merapikan properti usaha, mengisi check list. Ia pun berlalu, setelah menundukkan badannya tanda menghormati tamunya, sungguh santun.

Saya lirih memandangi sepatu yang mulai kotor dengan butiran-butiran tanah setelah pulang dari Osaka sehari yang lalu, terbayang beratnya ayunan langkah menuju Osaka Castle yang berpasir.

20130609-013050.jpg

20130609-013114.jpg

Belum lagi kalau teringat penjelajahan ke Tokyo berpindah dari stasiun ke stasiun JR Line (Japan Railway) , melintasi Roppongi saat sepatu ini mengantarkan ke Hard Rock cafe dan beristirahat di sebuah restoran kebab berjudul “Kader Kebab” yang boleh direkomendasikan kepada teman-teman.

Belum selesai lelah itu terurai, kaki sudah mengayun langkah lagi menuju Shinjuku, Shibuya sebuah tempat melankolis sejarah kesetiaan seekor anjing yang selama hayatnya mendampingi Prof. UENO yang diabadikan dalam Hachiko statue.

20130609-013150.jpg

20130609-013234.jpg

Sebentar beristirahat di taman Imperial Palace dekat Yurakucho untuk sholat, sepasang sepatu yang tidak pernah mengeluh ini kemudian menemani kaki yang mulai “trencem-trencem” menggulung langkah menuju Yamanote Line untuk menyaksikan sebuah jembatan bertabur cahaya warna-warni yang dikenal dengan Rainbow Bridge.

Betapa lelahnya perjalanan itu sampai kemudian rencana ke kota pelabuhan di Kobe pun untuk menikmati indahnya temaram lampu kota diurungkan untuk beristirahat.

Episode perjalanan sepatu saya yang selama hidupnya akan selalu diinjak-injak ini, segera memasuki babak baru dalam kehidupannya. Walaupun ia tak dapat disejajarkan dengan kisah sepatu fenomenal sang Dahlan Iskan yang diangkat dalam sebuah buku. Kini ia akan masuk pada tahap perawatan di sebuah mesin cuci.

20130609-013308.jpg

20130609-013323.jpg

Sedikit melayangkan pikiran pada sepatu Dahlan, disuatu masa, mungkin tidak banyak lagi orang ingat, bahwa pernah ada buku yang judulnya “Sepatu Dahlan” laris dipasaran.

Tidak hanya masuk dalam kategori buku laris dijajaran rak toko buku terkenal, tapi sosok sang tokoh juga menginspirasi banyak orang lantaran sepak terjangnya yang unik merambah berbagai lokasi dengan sepasang sepatu kets sederhana, padahal ia adalah seorang tokoh publik, pejabat negara. Bukan sepatu kulit bertali yang digunakan, padahal ia seorang menteri.

Ini bukanlah kisah seputar sepatu kontroversial itu, walau masih seputar sepatu. Sepatu ini bukan ingin menandingi popularitas sepatu dahlan yang fenomenal sekaligus kontroversial pada zamannya.

20130609-013354.jpg
Nasib sepatu ini, mau sedih atau bahagia, begitu bergantung kepada saya yang kemudian ditakdirkan menjadi pemiliknya. Walaupu baru , Ia tidak pernah bersolek di etalase department store mewah walaupun menyandang merek terkenal hasil pabrikan bernama Adidas bertajuk “climacool” karena metode penjualannya yang ala factory outlet.

Deru mesin cuci itu akhirnya menggulung Climacool dalam mesin cuci yang ukurannya tidak lebih besar dari mesin cuci baju 4 kg. Mesinnya ramping disusun bersama dengan pengering sepatu diatasnya untuk kapasitas dua pasang sepatu.

Dengan waktu operasional pencucian hanya 20 menit saja, biaya yang dibutuhkan mesin ini hanyalah 200 yen atau setara dengan Rp. 24.000,- saja. hanya dengan tambahan uang 100 yen atau sekitar Rp. 12.000,- saja kita bisa langsung memakai sepatu itu setelah dikeringkan.

20130609-013407.jpg

Luar biasa. Mesin ini tidak membutuhkan Insinyur Bowo, dagelan ala Warkop DKI yang mencuci didalamnya.

Warkop DKI, grup lawak Warung Kopi beranggotakan Dono, Kasino, Indro pernah merelease lawak berjudul Ir. Bowo, yang mengeluarkan produk pintar pencuci baju dengan biaya murah, listrik yang hanya 25 watt. Saking murahnya, rupanya didalam mesin cuci itu ada Ir. Bowo sedang mencuci didalamnya bersama lampu 25 watt. Grrrr…..

20130609-013430.jpg

Advertisements

Cari Tahu dengan Jarimu

20121016-231623.jpg

Walaupun Lonely Planet menempatkan Kyoto sebagai Top  Picks for Japan, Tokyo sebagai ibu kota Jepang rasanya layak untuk dikunjungi. Ia Berada dalam urutan berkutnya dibawa Kyoto yang merupakan kota dengan beragam budaya. Belum mengunjungi Jepang rasanya kalau belum ke ibukota negaranya. Seperti, belum ke Indonesia rasanya kalau belum ke Jakarta.

“Cari Tahu Dengan Jarimu”, begitulah bunyi tagline Yellow Pages yang sering terdengar. Tagline itu terngiang sejalan dengan keingin tahuan tentang kota yang eksotis dan memiliki sejarah panjang di Jepang, setelah Kyoto. Tokyo, memiliki magnetnya sendiri untuk dikunjungi. Saking mempengaruhinya, beberapa judul film yang mendunia diangkat dari kota ini. Sebut saja Jacky Chan  mengangkat “Tokyo Rush Hour” sebagai film bahkan sampai 3 kali.

Shinjuku Insident” masih dari Jacky Chan kemudian mengisahkan tragedi adu jotos antar Yakuza di Jepang. Stasiun kereta Shinjuku itu sendiri saat ini bahkan merupakan  salah satu stasiun tersibuk di kota Tokyo. Belum lagi “Fast and Fourius” yang tema adu balap mobil liar dari kota ini dengan judul “Tokyo Drift“. Kalau mau kisah dari seputar Tokyo yang sedikit melo, ada “Hachiko” yang dibintangi Richard Gere.

Anda yang bermaksud jalan-jalan ke Jepang, boleh jadi perlu mempertimbankan Tokyo walaupun sudah menyusun iterenary ke Sapporo,yang  dinobatkan sebagai kota paling atraktif bagi pariwisata Jepang (sumber: Wikipedia). Kalau masih punya waktu sempatkan ke Tokyo, atau paling tidak tuliskan kota ini dalam lembar iteranary meskipun belum memiliki ‘jiwa’nya untuk benar-benar disambangi.

Untuk memiliki jiwanya sendiri, Tokyo tentu perlu observasi. Beberapa cara bisa ditempuh untuk mengobservasi kota ini seperti:

  1. Browsing di Internet,
  2. Membeli buku-buku pariwisata, ataupun
  3. Menginstal aplikasi tentang informasi kota ini di gadget .

Saya sendiri menempuh ketiga jalur tersebut secara paralel. perjalanan dari selatan Jepang merambah ke utara akhirnya menemukan magnetnya untuk diwujudkan. Rasa ingin tahu mulai menggerakkan tangan ini membuka lembaran informasi tentang Tokyo mengalir deras. “Cari tahu dengan jarimu” menemukan daya ‘sihir’nya.

Bagi yang bermaksud membeli buku-buku pariwisata tentang Tokyo, ada baiknya mempertimbangkan beberapa buku yang pernah menjadi “Learning Partner” saya ‘mengisi sihir’ tentang daya tarik kota ini. Buku-buku tersebut memiliki keunggulan komparatif yang kuat sehingga perlu dipertimbangkan. Buku tersebut adalah :

2,5 Juta Keliling Jepang by Claudia Kaunang (Adelays.com)

2,5 Juta Keliling Jepang by Claudia Kaunang (Adelays.com)

  1. 2,5 Juta Keliling Jepang .
    Membaca 208 halaman buku karya Claudia Kaunang ini memberikan motivasi dan merubah mitos yang sementara ini berkembang, bahwa Tokyo sangat mahal untuk dikunjungi. Penulisnya pandai menyiasati kepergiannya ke Jepang dengan tips dan trik yang baik untuk travelling secara cerdas ala backpackers. Tidak tanggung-tanggung hanya 2,5 juta Rupiah dalam 5 hari tiga kota Jepang yaitu Tokyo, Kyoto dan Osaka menjadi pokok bahasan. Didalamnya sudah termasuk Rute transportasi di Jepang, Perincian biaya keseluruhan, info penginapan, kuliner dan belanja Hemat ! Harga buku ini pun cukup hemat Rp. 37.500

    Tokyo by Lonely Planet (Adelays.com)

    Tokyo by Lonely Planet (Adelays.com)

  2. Tokyo
    Lonely Planet, lagi-lagi menjadi ‘jajanan’ buku yang tidak kalah penting. Saat-saat tertentu menjelang liburan buku ini sengaja saya cari di toko buku yang saya anggap sebagai “mbah google-nya” Jepang, Kinokuniya. Ternyata Sold Out .Dari Customer Servicenya pun saya temukan jawaban di beberapa cabangnya sudah habis, padahal beberapa waktu yang lalu buku ini masih terpampang di Kinokuniya Grand Indonesia. Di Gramedia, saya temukan satu buku Tokyo ini, tapi sayangnya itu buku sample dan sudah cukup out of date, tahun 2010.
    Akhirnya penjelajahan buku ini berakhir di Periplus, diskon lagi.. hmmm.. kesabaran ternyata membuahkan kebaikan, masih fresh Agustus 2012 !  Buku ini mengetengahkan 125 restoran terbaik, 67 museum dan galeries, 29 soothing hot spring, 2 tempat untuk melihat sumo dan 19 halaman map berwarna. Sangat baik diantarkan oleh Timothy Hornyak penulis Lonely Planet, bagi yang menginginkan highlight tentang Tokyo dari basic sampai advance. Harga, diatas Rp. 250.000.

    Getting Around Tokyo by Tuttle (Adelays.com)

    Getting Around Tokyo by Tuttle (Adelays.com)


  3. Map Guide “Tetting Around Tokyo”
    Buku ini tampil beda dibanding 2 buku diatas. Sangat advance dalam mengupas jaringan transportasi Jepang yang sangat “menggurita” dan merupakan jaringan transportasi terkompleks di dunia. Buku 194 halaman terbitan Tuttle ini lengkap menjadi transportastion guide bagi yang ingin jalan sendiri tanpa tour guide. Harga buku, masih dibawah Lonely Planet ,Rp. 165.000.
  4. Japanese Pharesbook
    Jepang memiliki huruf dan bahasa yang unik dan membutuhkan waktu tersendiri untuk menguasainya dibandingkan dengan mengunjungi negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Mendownload aplikasi ini untuk iPad atau iPod touch cukup saya rekomendasikan, karena tidak saja tulisan yang ditampilkan untuk dibaca, tetapi juga dapat di play untuk diucapkan. Harga download < $10.

Itu hanya sekelumit tentang ‘Cari Tahu tentang Jarimu” tentang Tokyo, diluar itu tentu masih banyak buku / tour guide book yang dapat menjadi guidance yang membantu menemukan ‘jiwa’  Tokyo. Hmm.. kalau begitu.. benar rasanya kata Moslih Eddin Saadi : “A Traveller Without Observation is a Bird Without Wings“.