Tag Archives: Mudik

Malang, I’m Coming

image

Musim mudik lebaran tahun ini saya tandai dengan terbang menuju kota Malang  Jawa Timur pada  hari H minus 1 lebaran. Tidak diragukan lagi kepergian mudik ini,  sangat akrab dengan lautan manusia yang memadati Bandar Udara Soekarno Hatta Jakarta.

Walaupun  dilakukan pagi hari dengan berangkat awal waktu setelah sahur, pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ250 tujuan Jakarta menuju Malang Jawa Timur yang diskedulkan jam 6.40 sudah dipadati antrian mengular untuk boarding di terminal 1B.

Begitu juga  kondisinya dengan saat check in. walaupun sudah begitu banyak gate untuk check ini dibuka, tidak mempengaruhi lancarnya antrian dimanapun gate itu dibuka, semua penuh.

Saya begitu menikmati crowdednya perjalanan ini, karena kondisi sepert ini tentu merupakan fenomena tersendiri. Senang … Karena saya berangkat sendirian, tidak terlalu terbebani dengan beratnya barang bawaan yang biasanya harus saya urus ketika bepergian dengan rombongan,  yang biasanya cukup banyak barang bawaan yang saya urus.

image

Senang jilid dua, karena apa yang saya lakukan ini masih jauh lebih baik jika saya harus berjalan menuju Malang dari Jakarta yang selama ini , tepatnya beberapa tahun yang lalu saya lakukan dengan kendaraaan Mobil.

Saya masih ingat beberapa tahun yang lalu, mudik ke Jawa Timur dengan mobil ‘hanya’ membutuhkan waktu kurang dari 20 jam, itu pun sudah termasuk santai.

Setelahnya, mudik lebaran dari tahun ke tahun mulai bertambah padat. Pemudik semakin ramai. Angka perjalanan mulai melambat diatas 20 jam. Berbagai titik menjadi penyebab perlambatan itu, dari mulai pasar tumpah, kondisi jalan yang buruk karena belum diperbaiki, jembatan ambles, kecelakaan lalu lintas dll.menjadikan mudik dengan mobil menjadi alasan tersendiri yang saya pertimbangkan, bila dikaitkan dengan waktu cuti  kerja yang terbatas.

Itulah alasannya saya memilih pesawat udara dengan waktu pemesanan jauh-jauh hari sebelumnya…

Sekarang, hari ini Minggu 27 Juli 2014 bertepatan dengan hari terakhir puasa saya menyaksikan banyak kepala dengan berbagai tujuan mudiknya memenuhi bandar udara untuk pulang menuju kampung halamannya masing-masing.

Ada-ada saja telinga ini mendengar orang komplain ke maskapai penerbangan udara yang melayaninya, ketika saya check in. Seorang wanita paruh baya menekan petugas untuk dapat melayani penerbangannya karena terlambat datang sekaligus meminta excuse atas keterlambatannya datang. Komplain itu, kalau tidak mendengarnya sejak awal, dikira tuntutan itu terjadi atas lalainya maskapai yang menelantarkan dirinya.

Fuih… ada ya yang seperti itu….

image

Langit di bumi Cengkareng belum beranjak terang.. saya berlalu menuju gate B7 yang seperti yang tertulis didalam tiket boarding. Tiga jalur antrian panjang kembali memperlambat langkah ini menuju ruang tunggu.

Dua orang bergegas melampau langkah saya yang lambat, diikuti seorang yang sepertinya pengasuh anak yang sedang menggendong anak kecil mengikuti dibelakangnya.

Empat orang berlalu menerobos antrian, yang saya heran diizinkan oleh petugas bandara yang bertugas memeriksa tiket. Humfff… antara rela dan tidak membiarkan mereka lewat, sementara saya masih sabar menunggu dibalik belasan punggung orang tetap sabar, menuju ruang tunggu.

Di ruang tunggu yang kacanya berembun ini ternyata tidak mudah  menemukan tempat duduk yang kosong. Bukan karena semua orang menempati satu tempat duduk, tetapi banyak kursi yang diduduki bukan oleh orang melainkan tas-tas bawaan mereka.

Walaupun dalam masih jarak pandang , ada seorang anak, yang berbaring di tempat duduk panjang menguasai dua tempat yang berdekatan. Sebuah cara memangkas lagi peluang untuk duduk bagi yang baru tiba. Saya akhirnya bisa juga menemukan tempat kosong untuk ditempati, sampai panggilan penerbangan terdengar.

Terlihat awak kabin tenggelam dalam kesibukan membantu penumpang menempati tempat duduk sesuai nomornya, membantu menempatkan tas-tas didalam ruang penimpanan diatas kepala, sampai kemudian saya mendengar Tiga wanita manula yang duduk dibelakang saya meiminta bantuan menempatkan barang bawaannya yang ternyata tidak cukup.

Uniknya, sejak awal saya yang tidak mengerti apa isi barang bawaannya menjadi faham apa isi barang yang berada dalam sebuah tas tikar berisi tiga kotak kue tart yang sengaja mereka bawa untuk sanak keluarga yang akan dikunjunginya di Malang nanti.

Tiga tumpuk box kue itu akhirnya gagal dimasukkan ke ruang penyimpanan diatas ruang diatas kepala karena tidak cukup  Dalam pengamatan saya petugas yang tugas utamanya bukan pramugara itu, akhirnya baru berhasil membantu ketika ia dibantu oleh rekannya pramugari .

Mbak pramugari yang ramah memberikan solusi dengan menyarankan kotak kue yang dimensinya sekitar kotak lapis legit berisi kue tart itu, akhirnya disarankan disimpan dipisah dan masing-masing ditempatkan
dibawah kaki.

image

Sebuah drama-drama kecil yang saya nikmati sampai penerbangan menuju Kota Malang  dengan jarak tempuh 1 jam 20 menit sampai Airport Abdul Rahman Saleh, saya nikmati dengan tertidur. Buah hasil kelelahan atas persiapan terbang yang sudah saya jalani sejak pukul 03 dinihari, berbalut senyum mengingat kejadian-kejadian dalam perjalanan menuju pesawat ini.

Malang I’m Coming….

image

Mudik ‘e’xplorer

Mudik

Akhirnya liburan mudik 2009 telah usai !

Mudik dengan berbagai suka-citanya  mampu menjadi refreshing dari kesibukan dari aktifitas harian berupa dering telpon, tenggat deadline, e-mail, training, meeting, relationship dengan vendor, dan berbagai kegiatan yang mungkin saja meningkatkan stres.

Berikut ini adalah catatan dari beberapa tempat yang saya kunjungi ketika mudik di beberapa kota di Jawa Timur, yaitu Malang, Pasuruan, Surabaya (dan Madura). Tiga kota menjadi bagian dari eksplorasi Mudik  pada liburan Iedul Fitri 1430 H. Saya menyebutnya “Mudik ‘e’xplorer” yang berisi wisata kuliner, silaturahmi keluarga dan jalan-jalan.  Here they are…

Continue reading

Mudik ‘Rasa’ Noordin M Top

Tulisan Noordin

Mudik selalu menjadi ritual tahunan yang dilakukan jutaan orang di Indonesia. Setiap kali melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman, ada saja bahan perbincangan hangat yang menjadi topik utama. Tahun 2009 ini, Noordin M. Top lah rasanya yang paling banyak diperbincangkan pada topik mudik kali.

Tulisan ini tidaklah bermaksud mengulas perilaku Noordin dan kawan-kawan. Tidak juga bermaksud mendeskreditkan dasar gerakan ‘jihad’nya. Ini hanyalah tulisan atas perjalanan mudik  saya ke Jawa Timur, yang secara kebetulan melalui lokasi tempat penyergapan Noordin di Solo Jawa Tengah, ketika ia bersama dengan Urwah, Aji dan Susilo.

Continue reading