Tag Archives: Prague

Praha, Antara George dan Charles

image

“George”, begitu dia menyebutkan namanya.

Sebenarnya ia memiliki nama lain (nama keluarganya) yang kurang akrab di telinga saya ketika pengemudi taksi itu memperkenalkan namanya dalam perjalanan saya menuju airport. Saya hendak meninggalkan Praha, ibukota Rep. Czech dan akan bertolak ke Paris, Perancis.

Di dalam taksi yang interiornya terbilang bagus dan bersih ini saya pun kemudian mengetahui bahwa jenis sedan taksi yang saya tumpangi  ini adalah mobil bermerk Skoda, hasil kerjasama pabrikan Czech dan Jerman sebuah kendaraan yang belum pernah saya naiki sebelumnya.

Mengenal taxi driver yang terbilang keren kalau dibandingkan dengan penampilan para sopir di Jakarta, sebenarnya saya sempat menahan diri untuk banyak banyak bicara. Penampilannya dengan kacamata hitam pekat, dibalut jaket warna hitam yang ketat laksana detektif di film besutan eropa “Taxi” membuat pencitraan atas dirinya teramat ‘dingin’.

Tetapi setelah beberapa kalimat kami lontarkan, kebekuan itu akhirnya meleleh. George dan saya akhirnya menikmati perbincangan seputar perjalanan saya di Rep. Czech.

image

Sebagaimana layaknya seorang backpackers, sebenarnya saya lebih suka menggunakan transportasi yang lebih merakyat sepeninggal saya dari apartemen budget yang saya tinggali menuju bandar udara. Namun dibawah suhu dingin 2 derajat Celcius, ditambah cuaca mendung dan gerimis sudah mulai turun, akhirnya saya memilih naik taksi plus mengejar waktu yang cukup sempit menuju airport.

Sambil duduk tenang dibelakang pengemudi taksi,  menikmati hangatnya suhu didalam taksi yang memang dibuat hangat,  saya membagi pandangan ke luar jendela. Terbersit kekaguman saya pada kota kecil di belahan Eropa Timur ini.

image
image

George mengiyakan, ketika saya bercerita bahwa Praha adalah kota yang kalau ditelusuri,  cukuplah dengan jalan kaki dan beberapa titik naik trem. Tidak dibutuhkan bus semacam Hop On Hop Off untuk menjelajahinya.

Ia pun kemudian mengomentari  bahkan menjadi penunjuk jalan dadakan di setiap tempat saya lalui , seperti Charles Bridge yang saya sambangi tadi malam, sebuah jembatan  621 M dan lebar 10 M yang melintas diatas sungai Vlatava Praha yang konon dianggap sebagai jembatan ghotic bersejarah terindah di dunia.

image

Kesan eksotis memang sangat dominan jika kita perhatikan Charles Bridge yang sudah dibangun sejak abad ke 14 itu. Sejarah mencatat, sebenarnnya jembatan itu pernah diberi nama lain seperti Kemenny atau Prazsky Bridge, tapi sejak 1870 an akhirnya Charles Bridge lah yang dipakai sebagai nama jembatan, yang menjadi penghubung penting antara Kastil Praha dan Old Town.

image

Tidak berhenti sampai disitu George sang taxy driver bercerita, kota Praha yang terkenal dengan kristal svarovsky nya ini mengandalkan Charles Bridge sebagai salah satu unggulan pariwisata terdepan dengan beberapa catatan spesifik dibawah naungannya.

Saya hanya mem’batin’ dalam hati,  rupanya orang Czech ini mirip-mirip dengan orang Jawa yang percaya dengan primbon-nya untuk merencanakan atau membangun sesuatu dikaitkan dengan tanggal-tanggal yang dianggap baik.  Lantaran jembatan  yang batu pertamanya diletakkan oleh Raja Charles IV dibangun pada waktu yang sangat tertentu dan spesifik, yaitu 9 Juli 1357 tepat pukul 05.31.

image

image

Angka-angka itu dianggap sebagai waktu yang sangat baik dan disukai oleh Kaisar Romawi yang dipercaya membawa kekuatan bagi jembatan ini. Percaya ataupun tidak memang jembatan ini beberapa kali mendapat hantaman banjir yang begitu kuat sampai merusakkan tiga pilarnya di penghujung abad ke 15 (akhir 1490 an).

Bukan itu saja, Masyarakat Czech seakan diberi pembuktian lagi, saat kekuatan Charles Bridge  diuji lagi oleh pemberontakan yang merusakkan beberapa pilarnya. Belum lagi, pendudukan Swedia di sebelah barat sungai Vltava yang juga menyebabkan tidak saja rusaknya jembatan tetapi juga dekorasi patung-patung disekitar jembatan yang sekarang sudah digantikan oleh replika.

image

George sang taxi driver.. rupanya selain pengemudi yang baik, juga guide yang baik dan memiliki pengetahuan yang luas akan sejarah negerinya. Sebelum taksi itu melambat, dia menambahkan bahwa replika patung yang asli itu dipamerkan di Lapidarium, Musium Nasional di Praha.

Ceritanya yang panjang lebar selama kurang lebih 30 menitan itu akhirnya diakhiri oleh sampainya saya di Ruzyne, Bandar Udara International satu-satunya di Praha yang diberi nama seorang politisi ternama di Czech , mantan presiden, penulis sekaligus filusuf Vaclav Havel.

image

image

image

Saya sempat berkelakar sebelum membayar ongkos taksi sebesar 30 Euro dengan satu lelucon,  ketenaran Charles Bridge hanya dapat ditandingi oleh Martina Navratilova, seorang petenis kondang yang merupakan mantan ratu tenis dunia yang berasal dari Czeckoslovakia, nama negara ini sebelum ‘bercerai’ masing-masing menjadi Republik Czech dan Slovakia.

George yang ramah itu hanya menjawab dengan senyum, sambil berjabat tangan tanda saya berterima kasih atas keramahannya pada traveler seperti saya. Sayangnya saya lupa menanyakan siapakah nama Charles yang akhirnya menjadi nama Jembatan yang sampai sekarang sudah mendunia itu…

Hmmm.. anyway.. Thanks George…

image

image

image