Tag Archives: vacation

Bukan Batik Biasa

image

Batik selama ini identik dengan pakaian khas masyarakat Indonesia. Terlepas dari jenisnya yang beragam dari berbagai daerah khas di indonesia, nama batik yang pernah sukses mengisi pameran fashion sampai ke London Eropa  kini menghiasi maskapai penerbangan di Indonesia.

Melalui penerbangan jurusan Jakarta – Pekanbaru dengan nomor penerbangan ID 6852 menjadi saksi awal reputasi salah satu grup penerbangan maskapai Lion Air di mata pelanggan seperti saya.

Pengalaman awam saya di dunia penerbangan mungkin belum cukup menjadi referensi yang lengkap bagi daftar panjang catatan penerbangan di Indonesia.

image

Berangkat dari kacamata  yang sederhana, pengalaman menggunakan Batik Air sebagai burung besi tunggangan saya kali ini terkesan pada satu hal yang dominan menghias khazanah pemikiran orang naik pesawat, yaitu Delay.

image

Bagaimana pembuktian pertama kata-kata “Delay” itu menjadi hiasan para pengguna  mengisi status di sosial media ?

Harus diakui, kata-kata itu tidak tertulis disini. Lantaran jadwal penerbangan yang tertulis seyogyanya berangkat pukul 9.10 pagi ini, sudah boarding pukul 8.40 yang tertera di boarding pass.

image

Pesawat yang menasbihkan diri sebagai penerbangan premium ini mungkin ingin mensejajarkan diri dengan penerbangan “serius” dan berkelas sejajar Garuda Indonesia.

Sambil menikmati sajian gratis yang ditawarkan -nasi goreng sebagai menu favorit saya – kapten pesawat Muhammad Khadafi menyapa penumpang melalui pengeras suara dari ruang kokpit pesawat diatas ketinggian 11.000 meter diatas permukaan laut.

image

Saat yang tidak terlalu lama kapten khadafi menyampaikan bahwa jarak pandang di Pekanbaru cukup baik sejauh 7 km dan penerbangan yang direncanakan ditempuh dalam dua jam kurang 5 menit ini akan tiba lebih cepat 25 menit dari jadwal seharusnya.

Welcome to Sultan Syarif Kasim International Airport Pekanbaru, Adelays….

image

Pekanbaru ID6852

Perjalanan ke luar kota atau luar negeri dengan pesawat buat saya seringkali diawali ritual persiapan yang menyibukkan.
image

Sabtu, 5 April 2014 ini perjalanan saya tertuju ke kota asap Pekanbaru. Tidur lebih lambat untuk packing, bangun lebih awal untuk mengecek ceklist barang sudah menjadi keharusan.

Pekanbaru hari ini adalah kali pertama. Melalui bandar udara Soekarno Hata tmenggunakan maskapai penerbangan Batik Air juga hal pertama buat saya.

Banyak hal ‘pertama’ yg saya hadapi, membuat persiapan dilakukan lebih awal, duduk tenang di ruang tunggu terminal 3  untuk boarding sambil menunggu panggilan flight # ID 6852 tujuan Jakarta-Pekanbaru dipanggil melalui corong pengeras suara.
image

Shinkanshen is a Monument

Shinkanshen (Adelays.com)

Shinkanshen (Adelays.com)

Hati ini cukup dibuat galau, saat waktu menunjukkan pukul 13.15 menit waktu Osaka, padahal keberangkatan Kereta Shinkanshen yang akan saya naiki baru berangkat pukul 13.33 waktu setempat. Menaiki peron dengan sedikit terburu-buru ini bukan tanpa alasan. Hal itu terjadi karena transportasi di Jepang, apapun jenisnya adalah transportasi yang sangat menghargai waktu.

Seorang teman saat dijumpai selepas Sholat Ied di Kyoto International Community House pagi hari , berpesan untuk mencadangkan waktu lebih untuk persiapan sebelum menaiki kereta tercepat di Jepang. Pasalnya, kalau schedule keberangkatan kereta adalah 13.33, maka artinya 13.33:00 kereta itu sudah melesat dari peron. Sudah duduk manis ditempat yang sudah dipesan.

Teman saya itu menyadari sepenuhnya kultur dunia perkereta apian di Indonesia sebagai basis saya, dimana ketepatan waktu masih menjadi barang langka. Kalau berangkatnya tepat waktu, kedatangannya boleh jadi terlambat, tidak terbayang kalau berangkatnya saja sudah terlambat.

Kekhawatiran itu sedikit mereda, manakala terlihat line kereta Shinkansen jenis Nozomi yang akan saya tumpangi di jalur 2, masih belum datang. Nozomi adalah suatu jenis kereta tercepat dari Shinkansen lainnya yaitu, Hikari dan Kodama. Rentang kota Kyoto – Tokyo yang berjarak 513 Km akan ditempuh selama 2 jam 18 menit dengan Nozomi, sudah termasuk pemberhentian di kota Nagoya dan Shin-Yokohama. Sementara dengan Hikari perjalanan ditempuh dengan 2 jam 49 menit.

Shinkanshen Ticket Kyoto - Tokyo (Adelays.com)

Shinkanshen Ticket Kyoto – Tokyo (Adelays.com)

Menunggu kereta datang, saya pandangi tiket yang dibeli beberapa saat yang lalu di kantor JR ticketing, sambil membandingkan harga tiket dan jenis kereta dan layanan yang diberikan. Terbayang harga tiket Nozomi dengan resereved seat dan non reserved, yang hanya selisih tidak begitu significant. Shinkansen menyediakan gerbong khusus untuk non reserved, dengan perbedaan harga yang tidak terlalu jauh dari harga 13.500 Yen (sekitar Rp. 1.660.000). Rasanya layanan tanpa pesan nomor tempat duduk ini cocok bagi orang yang bepergian sendiri tanpa barang bawaan yang banyak.

Serta-merta kamera yang terselip di pinggang ini gatal menunggu perannya mengabadikan moment kereta yang lamat-lamat berganti mengisi peron datang dan pergi. Sinar matahari siang yang menerobos masuk dari langit, sedikit menghangatkan badan dari dingin yang mulai menggigit pagi 9 derajat, dan siang yang 15 derajat Celcius, saat itu. Memudahkan diafragma lensa kamera jenis pocket yang saya pakai dengan hasil maksimal.

Jadwal Shinkanshen (Adelays.com)

Jadwal Shinkanshen (Adelays.com)

Ketika gambar diperoleh, tidak terlihat kerumunan para calon penumpang yang biasa ditemui ala Stasiun Gambir saat saya menaiki kereta terbaik jenis Argo Anggrek jurusan Jakarta – Surabaya. Tidak pula ada juru bantu yang mengumumkan melalui corong “Toa” yang memberikan penjelasan mana gerbong kepala, dan mana gerbong buntut yang begitu penting buat penumpang itu. Laki-perempuan, tua-muda, dewasa-anak-anak, sudah well educated dengan cukup melihat ke lantai, disitulah gerbong akan bersemayam sementara waktu.

Tarikan nafas pertama saat pertama kali duduk di kereta ini mengiringi dimulainya perjalanan pukul 13.33:00 detik di jam tangan saya ketika berangkat , hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk menaikkan penumpang, memberi waktu penumpang untuk duduk, meletakkan barang bawaan diatas bagasi yang ada diatas kepala. Perpaduan kedisiplinan penumpang dan ketepatan waktu yang sangat luar biasa menyebabkan semuanya dapat berjalan dengan baik.

Gerbong Shinkanshen (Adelays.com)

Gerbong Shinkanshen (Adelays.com)

Tidak terdengar suara rel berderak-derak tanda tarikan lokomotif yang akrab dengan telinga Made in Indonesia saya. Tidak pula terdengar melodi indah ala sambungan rel yang menjadi trade mark kereta apapun yang pernah saya tumpangi, apatah itu kereta Argo, kereta bisnis, Kereta Rel Diesel (KRD), Kereta Rel Listrik (KRL) ataupun satu lainnya yang pernah menjadi kisah perkeretaapian yang pernah juga saya tumpangi diantara sambungan gerbongnya, yaitu kereta barang.

Kantuk pun mulai menyergap. Tenang bagai air yang mengalir melintas daerah membelah Jepang diantara perjalanan Kyoto menuju Tokyo. Satu-satunya hentakan yang tidak terlalu dominan adalah saat Shinkanshen datang dari arah yang berlawanan. Awalnya saya sempat kaget saat kelebatan itu tapi lama-lama terbiasa juga, terjadi bagai malaikat, berbayang putih dan sangat cepat.

Gerbong Belakang Shinkanshen (Adelays.com)

Gerbong Belakang Shinkanshen (Adelays.com)

Kelebatan itu mengakrabi saya untuk tetap terjaga memperhatikan awak Shinkanshen yang begitu ramah melayani penumpang. Saking ramahnya, setiap seorang awak melalui pintu masuk ataupun hendak melalui gerbong lainnya, mereka selalu menunduk untuk memberikan hormat kepada seluruh penumpang , tidak terkecuali security Shinkanshen, awak yang berjualan makanan atau minuman.

Seolah tidak ingin rugi dengan jasa angkutan ini, saya memutuskan untuk menjelajahi gerbong demi gerbong di belakang saya. Gerbong no. 14 yang saya tumpangi ini adalah dua gerbong terdepan sebelum lokomotif, sehingga kaki ini lebih tertarik untuk melangkah ke belakang, untuk membuktikan informasi yang tertera bahwa digerbong belakang ada rangkaian khusus restorasi, komunikasi dan berbagai fasilitas lainnya. Toilet berbagai jenispun tersedia.

Kagum dengan berbagai fasilitasnya, saya kemudian berdecak kagum, lantaran inilah menurut saya angkutan kereta api ternyaman yang pernah saya rasakan. Bukan saja nyaman, tapi juga mampu menjadi substitusi pendukung angkutan selain pesawat terbang di negara super sibuk dan termahal di dunia ini.

Pramugari Ramah Shinkanshen (Adelays.com)

Pramugari Ramah Shinkanshen (Adelays.com)

Mereka (layanan kereta ini) mampu menempatkan diri diantara kereta lain yang lebih lama, bis dengan jarak sama namun harus ditempuh melalui 8 jam perjalanan, pesawat yang mungkin hanya satu jam sudah sampai namun membutuhkan biaya mencapai 25.000 yen. Tidak sampai istilah kata ‘jeruk makan jeruk’ seperti di Indonesia, yang harga jasa penerbangannya sudah overlaping harga jasa perjalanan dengan kereta api.

Hembusan nafas saya terakhir didalam kereta ini tepat dengan janji kedatangan kereta yang hanya terlambat dalam hitungan detik ini. Kaki kanan saya diiringi dengan ucapan basmalah, menginjakkan kaki di stasiun JR Tokyo untuk melanjutkan perjalanan menuju Shinjuku dan Shin Okubo.

Gerbong Layanan Shinkanshen (Adelays.com)

Gerbong Layanan Shinkanshen (Adelays.com)

Jepang memang unik, ketika ibukota sebuah negara sibuk berlomba-lomba membangun monumen pencakar langit sebagai icon suatu negara, tidak demikian halnya dengan Jepang. Sebut saja Menara Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia, Menara 101 tertinggi ke dua dunia di Taipei, Taiwan, atau Gedung tertinggi di dunia Burj al Khalifa di Dubai, Uni Emirat Arab. Tokyo boleh jadi “hanya” punya Tokyo Tower yang bentuk bangunannya mirip Menara Eifel itu. Atau menara alam yang tidak dibuat oleh manusia yaitu Gunung Fuji.

Bagi Jepang, Tokyo sebagai ibukota terbilang padat dan sempit tidak perlu mendirikan monumen adu tinggi, walaupun saya yakin teknologi Jepang mampu mewujudkannya. Bandar udara saja, sudah ‘menumpang’ di pinggir laut dengan urukan tanah sebagai dasarnya. Itupun mereka menghadapi masalah penurunan dasar tanah sebagai pijakannya, beberapa cm setiap tahunnya. Belum lagi gempa berkekuatan tinggi dan efek tsunaminya yang bisa dikatakan sering menerpa Jepang.

To me, Shinkanshen (bullet train 275 mph)  is a monument. Shinkanshen is #3 fastest train in the world.

Shinkanshen Fare

Shinkanshen Japan Fares